
Flashback on Yumna.
Beberapa hari setelah Yumna di usir Bu Dania dari tempat kerjanya Yumna memutuskan untuk kembali ke Jakarta bersama Ibu Ayah dan keluarga lainnya.
Sebelum nya Yumna pergi dari rumah karna tak mau di jodohkan oleh Ayah nya. Yumna ingin kuliah dan berkarir dulu setelah lulus sekolah tapi Ayah nya terus memaksa nya untuk menikah akhir nya Yumna pergi dari rumah.
Saat Yumna pulang ke Jakarta Ayah nya masih bersikeras untuk menjodohkan nya dengan Om-om. Yumna putus asa karna merasa tertekan dengan sikap Ayahnya padahal Yumna masih berumur 19 tahun saat itu hingga suatu saat Yumna memutuskan untuk bunuh diri supaya Ayah tak memaksa kan kehendak nya lagi.
Keadaan Yumna sangat kritis hingga membuat Ayah syok dan terkena serangan jantung lalu stroke karna merasa bersalah pada Yumna.
Setelah Yumna sembuh Yumna mencoba mencari pekerjaan karna Ayah stroke dan Yumna anak satu-satunya yang harus menjadi tulang punggung keluarga nya tapi dalam perjalanan Yumna bertemu dengan seorang kakek yang kelaparan dan pikun. Yumna pun menolong kakek tersebut dan memberi makan kakek itu. Ternyata di leher kakek itu terdapat kalung dan sebuah nomor handphone.
Yumna memutuskan untuk menelpon nomor tersebut.
Singkatnya kakek itu adalah Ayah dari seorang CEO perusahaan kosmetik. Untuk membalas budi Yumna CEO tersebut mengangkat Yumna menjadi manager di perusahaan plus biaya kuliah malamnya.
Bahkan Yumna di angkat anak oleh CEO tersebut. Biaya perawatan Ayah nya yang stroke dan hidupnya di tanggung oleh CEO tersebut. Kehidupan Yumna sangat berubah.
Sejak kejadian itu Yumna merasa sangat bersalah pada Adelia. Yumna bisa mendapatkan keberuntungan karna sedikit perbuatan baik padahal dia sudah melukai hati Adelia bahkan membawa nama Misela.
Ahirnya Yumna bertekad untuk selalu berbuat baik agar selalu mendapat kan keberuntungan. Karna yang dia harapkan hanyalah keberuntungan terutama untuk Ayah nya yang masih stroke dan terbaring di kamar dalam jangka waktu yang sudah lama.
Flashback off.
*****
Sejak pertemuan nya dengan Yumna Asep mulai bucin. Yumna memang tergolong cantik dan anggun. Apalagi dia mandiri sudah sejak lama. Asep selalu memikirkan Yumna.
Asep selalu memikirkan perkataan Adelia untuk melupakan nya. Asep berpikir untuk mencoba menyukai wanita lain selain Adelia. Ahirnya Asep memutuskan untuk mencoba mendekati Yumna. Asep merasa Yumna wanita yang baik. Sudah bisa di lihat dari gaya bicara dan caranya merawat ibunya.
Tentu saja sebelum semua itu terlaksana Asep meminta pendapat Adelia terlebih dahulu.
"Tuh kan kamu suka sama Yumna? Aduhh kok aku yang seneng ya ini. Cie cie Asep bucin loh. Hanan liat deh muka Asep merah tuh. Iih lucu tau Nan Asep sekarang. Ternyata muka jatuh cinta begitu ya Nan. Eh tapi kamu dulu juga persis begitu kan Nan? hahaha Asep bucin Asep bucin....!"
"Ka Adel aku kan minta pendapat ka Adel malah meledek ku. Ka Adel jahat sekali. Gak jadi lah. Asep pergi aja."
"Hehe iya maaf maaf. Tapi aku yakin Yumna belum punya kekasih. karna Yumna bilang di dulu mau di jodohkan oleh ayahnya dengan laki-laki yang belum pernah dia tau dan dia ahirnya kabur. Kamu mending tiap hari kesini soalnya Yumna tiap hari nemenin ibunya disini. Ibunya masih butuh perawatan."
"Beneran? Tapi keliatan banget kalau aku modus dong. "
"Yah masak iya aku bohong. Tapi kan iya kamu mau modus hahaha."
"Ka Adel?"
"Hehe iya coba aja sih dari pada penasaran. Tapi aku yakin kok masalah Yumna udah punya pacar atau belum. Aku lihat juga dia suka salting kalau ada kamu. Siapa tau kan cocok. Kan lumayan aku juga jadi ada temennya nya nanti. Eh bukan temen ya lebih tepatnya jadi obat nyamuk kalian hahhaha."
"Ka Adel udah stop ketawanya tar gigi nya kering."
"Hahahaha."
Mulai saat itu Asep setiap hari pergi ke rumah sakit alasannya untuk menjenguk Hanan padahal untuk mencuri perhatian Yumna.
Asep juga beberapa kali menemani Yumna dan Ibu nya yang masih di rawat di rumah sakit. Tentu saja itu juga untuk mencari perhatian Yumna. Asep ingin mengenal Yumna lebih dalam lagi. Setiap hari Asep selalu pergi ke rumah sakit bahkan Asep rela bolos kuliah.
"Oo jadi gitu pertemuan mu dengan Ka Adel. Padahal golongan darah ku juga A lo. Aku juga sehat dan tidak merokok."
"Benarkah."
"Iya dulu Ka Adel juga butuh golongan darah A terus aku dan Hanan mendonorkan darah kami."
"Beruntung sekali saat itu Ka Adel bisa langsung dapet darah yang sama."
"Iya andai kita kenal lebih awal aku juga pasti akan mendonorkan darah ku pada Tante. Bukan cuma Ka Adel aja hehe."
Ibu Yumna hanya tersenyum mendengar obrolan mereka. Sedangkan Yumna malah terlihat tersipu malu.
Asep dan Yumna pun semakin dekat. Mereka merasa cocok satu sama lain.
Jika ada kesempatan Asep juga mengajak Yumna jalan-jalan ke sebuah taman kecil di dekat rumah sakit..
"Katanya mau jenguk Ka Hanan kok malah ngajak aku jalan kesini sih Sep?" Ujar Yumna sambil berjalan di samping Asep.
"Ka Hanan kan udah ada Ka Adel yang jagain. Jadi ngapain di temenin.
"Jadi selama ini kamu ke rumah sakit ngapain dong?"
"Ya jenguk Hanan lah. Hanan udah di jagain sama Ka Adel dan ibunya sekarang aku mau jagain kamu aja lah." Jawab Asep.
"Kamu pinter gombal ya."
"Engga juga sih. Cuma dikit baru belajar biar bisa deketin kamu."
"Pasti banyak ya yang suka sama kamu di kampus?"
"Ya banyak lah kan aku ganteng apalagi dengan lesung pipi ini." Asep menunjukkan lesung pipinya pada Yumna.
"Iihh kamu. Berarti kamu play boy dong?"
"Kamu cemburu ya?"
"Tenang aku bukan play boy kok bahkan aku belum pernah pacaran sama sekali?"
"Kamu serius?"
"Iya serius lah masak bohong sih sama cewek cantik kayak kamu."
"Masak iya cowok seganteng kamu belum pernah pacaran sama sekali? Pasti bohong kan?"
"Jadi aku di mata mu ganteng ya?"
Yumna jadi salah tingkah karna ucapan Asep.
"Engga kamu jelek dan nyebelin dan tukang gombal juga."
"Iihh gemes banget sih kamu?" Asep mencubit kedua pipi Yumna hingga membuat pipi Yumna merona.
"Iihh sakit tau."
"Masak sih mau aku cium biar gak sakit?"
Yumna makin tersipu malu dan mempercepat langkah kaki nya.
"Loh kok malah menghindari sih. Yumna tunggu dong." Asep berteriak memanggil Yumna yang berada jauh di depannya.
"Males ah."
Asep pun mengejar Yumna.
"Kamu marah?"
"Iya."
"Kenapa marah?"
"Gak tau deh."
"Kan aku belum bener-bener cium kamu."
Yumna membuang muka.
"Tuh kok malah tambah marah sih."
Yumna semakin cepat melangkahkan kakinya.
"Tunggu Yumna." Asep meraih pergelangan tangan Yumna. "Apa salah ku?"
Yumna diam dan menundukkan kepalanya.
"Maafkan aku jika aku punya salah."
Yumna masih diam.
"Kenapa kamu diam aja sih kan aku jadi bingung."
"Lagian kamu siapa sih kok mau cium aku? Kamu kan bukan pacar ku!" Yumna pun membentak Asep.
"Jadi kamu gak mau jadi pacar ku?"
"Raut wajah Yumna berubah yang tadinya marah menjadi tersipu malu.
"Bagaimana kamu mau kan jadi pacar ku?"
Yumna pun mengangguk dengan malu-malu.
"Jawab dong masak cuma begitu?" Asep mendongak kan kepala Yumna agak menatap wajahnya. "Gimana apa mulai malam ini kita pacaran?"
"Iya Asep aku mau jadi pacar mu." Jawab Yumna dengan senyuman bahagia.
Asep pun mencium bibir Yumna.
Cup.
"Terimakasih."
Yumna pun memeluk Asep.
Ahirnya Asep pun bisa move on dari Adelia.
###############################
...Hallo Reader yang budiman. Mohon dukungannya ya dengan tinggalin jejak kalian setelah membaca novel ini 😁🙏...
...Kalau kalian mau tanya seputar novel ini bisa langsung follow ig ku @deliss_aa1...
...Terimakasih banyak dukungannya terutama kepada para author yang baik hati selalu memberikan jempol dan komentar nya 😘...