
Setahun sudah berlalu. Aku dan Hanan menjalin hubungan dengan baik. Bahkan dalam waktu dekat ini Hanan dan Pak Iskandar Pakde nya itu akan kerumah untuk melamar ku. Hanan juga berkata kedua orangtuanya akan hadir dalam acara lamaran itu. Aku masih tak percaya akan datangnya hari bahagia ini.
Wanita mana yang tak bahagia dengan kabar baik itu. Akhirnya setelah perjalanan panjang kami akan hidup bersama sebentar lagi. Hal sangat di tunggu-tunggu oleh semua wanita yaitu saat namanya di sebut dalam janji suci ijab qobul nanti.
Beberapa hari yang lalu Asep datang menemui ku. Asep tiba-tiba mengungkapkan perasaannya kalau selama ini Asep menyukai ku diam-diam. Aku pikir dia memang baik karna tulus jadi selama ini dia baik dan meledek ku itu adalah hal yang membenarkan perasaannya.
Aku sempat syok sih dengan pernyataan Asep yang tiba-tiba bahkan mendekati pertunangan ku dengan sepupunya sendiri tapi ternyata Asep mendukung penuh hubungan ku dengan Hanan. Asep hanya mengutarakan apa yang dia rasakan. Asep juga akan fokus kuliah di Jakarta. Mungkin juga itu alasan untuk lari dari ku. Aku hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk Asep nantinya.
Aku dan Hanan masih bekerja di toko Bu Dania sampai saat ini. Bagaimana tidak Bu Dania sudah sangat baik pada ku dan Hanan. Tapi ada yang berbeda kali ini. Tentu saja sekarang Hanan sudah di angkat menjadi chief dan kepala devisi sejak 6 bulan lalu. Sedangkan aku di beri tanggung jawab penuh semua yang berhubungan dengan toko roti Global bakery milik Bu Dania itu. Bu Dania hanya terima beres dan penghasilan ahir saja bahkan sekarang jarang sekali mengunjungi toko. Jadi sekarang aku sedikit sibuk di toko dan lebih banyak lembur.
Baby Misela sudah mulai aktif berjalan dan belajar bicara. Dia tumbuh jadi anak yang pintar dan penurut. Terutama kepada Hanan. Dia selalu mengikuti apa yang Hanan katakan padanya. Aku sebagai Bundanya bahkan kadang iri dengan Hanan karna Misela lebih menuruti perkataan Hanan.
Sedangkan keluarga Zaki tak ada kabarnya sama sekali. Selama setahun ini Zaki dan keluarga nya menghilangkan tiada kabar. Sama persis seperti tempo dulu. Tapi aku lega karna tak kan ada yang mengganggu pikiran ku lagi jika Zaki tak sering menemui ku.
Yang jelas aku tak berpikir panjang masalah Zaki. Tak jadi masalah untuk ku tentang Zaki. Hanya saja setiap bulan selalu ada kiriman paket berisi sembako dan kebutuhan Misela bahkan selalu terselip uang tunai 5 juta disana. Antara bahagia dan heran aja sih.
Uang itu tak pernah aku pakai. Karna uang dari gaji ku udah lebih dari cukup sekarang. Bahkan aku bisa menyumbangkan sebagian ke mushola yang tak jauh dari rumah ku. Aku selalu menyimpan uang kiriman itu di Bank. Aku sangat bersyukur hidup ku kini berkecukupan.
Tapi ada hal yang mengganjal akhir-akhir ini. Paket terakhir yang aku dapat ada sepucuk surat disana. Aku belum sempat membacanya. Aku menyelipkan surat itu di sebuah tumpukan buku-buku novel yang biasa aku baca. Setiap aku akan membacanya ada saja hal yang mengganggu ku.
***
Hari lamaran pun tiba. Aku dan Ibu sudah bersiap diri untuk menyambut kedatangan Hanan dan rombongan nya. Tadinya aku tak percaya kalau orang tua Hanan terutama Bapak nya akan datang. Tapi ternyata mereka benar-benar datang dan merestui hubungan kami.
Aku pikir Pak Hanif tak akan pernah menemui kami lagi setelah pertemuan waktu itu.
Tak banyak orang yang mengikuti resepsi lamaran itu. Hanya kedua orang tua Hanan, Pak Iskandar dan istrinya, begitu juga Asep dan 4 orang lainnya yang tak ku kenali seperti nya mereka adalah tetua di desa ini.
Putri sahabat ku yang sibuk kuliah di Jakarta juga menyempatkan untuk hadir di acara lamaran ku dengan Hanan.
"Duh cantik banget kamu Del dengan balutan hijab ini. Aku seneng deh ahirnya kalian mengikat janji satu sama lain. Semoga hubungan ini bisa sampai ke pelaminan ya sahabat ku tersayang." Putri memeluk ku erat.
"Terimakasih ya Put udah rela jauh-jauh cuma demi aku." Aku membalas pelukan Putri.
"Kamu ngomong apa sih udah ah jadi melow nih nanti make up nya luntur. Ayo keluar mereka sudah menunggu mu."
Aku dan Putri keluar dari kamar ku. Dan benar saja semuanya sudah berkumpul. Aku duduk bersanding dengan Hanan lalu acara pun di mulai.
Lama para orang tua saling bicara satu sama lain. Sesekali bertanya juga pada ku. Mereka juga langsung menentukan hari pernikahan yang akan di gelar tiga bulan dari sekarang.
Antara bahagia dan haru dan apalah aku tak bisa mengungkapkan perasaan ku saat ini.
Setelah semua yang aku lalui ahir aku bisa bahagia dengan pria yang benar-benar mencintai ku dan menjadi ayah dari putri ku.
Setelah itu aku dan Hanan bertukar cincin lalu berfoto bersama.
Acara berlangsung dengan lancar. Setelah nya dilanjutkan dengan makan bersama.
"Papi…!" Misela memanggil Hanan.
"Anak Papi cantik sekali. Udah makan belum sayang?" Tanya Hanan sambil menggendong Misela.
"Eyum Pi." Jawab Misela.
"Ayo Papi suapin mau ya?"
"Heem."
Hanan pun makan bersama dengan Misela. Mereka terlihat sangat akrab. Mereka sudah benar-benar seperti seorang anak dan Ayah.
Acara makan-makan pun selesai. Saat keluarga Hanan akan berpamitan pulang tiba-tiba ada empat orang polisi yang datang ke rumah ku.
"Permisi apa benar ini kediaman Bu Renita istri dari almarhum Bapak Tomo?" Salah seorang polisi itu bertanya pada Pak RT.
"Benar Pak sebentar saya panggilkan dulu beliau." Pak RT pun pergi ke dapur untuk memanggil Ibu.
"Bu ada yang nyari."
"Siapa Pak?"
Mereka yang masih sibuk mengobrol tak menyadari kalau ada polisi diluar rumah. Ibu pun buru-buru keluar melihat siapa yang datang.
Melihat Ibu dan Pak Iskandar yang buru-buru aku ikut penasaran. Bahkan semua orang yang tadinya sibuk dengan obrolan masing-masing ikut terheran melihat Ibu dan Pak RT.
"Apa? Nggak mungkin. Itu pasti gak mungkin kan Pak?" Teriakan Ibu memancing semua orang yang di dalam rumah ikut keluar.
Hanan pun berjalan keluar dan menggendong Misela.
"Ada apa Bu." Tanya ku. Tapi Ibu terduduk lemas di depan rumah sementara Pak RT mencoba menguatkan Ibu.
"Maaf Pak ada apa?" Aku bertanya pada salah seorang polisi yang posisinya disebelah aku berdiri.
"Kami harus menangkap Bapak Hanif atas tuduhan pembunuhan berencana kepada Bapak Tomo Candra Winata.
"Permisi." Dua orang polisi itu masuk dan memborgol Pak Hanif.
"Bapak dari calon suamiku adalah pembunuh Ayah ku." Aku menatap Hanan penuh Amarah.
Pak Hanif pasrah dan tertunduk mengikuti langkah polisi itu dan masuk ke dalam mobil.
"Pak…. Bapak…." Teriakkan dan tangisan Bu Selly membuat suasana dirumah ku berubah menyeramkan.
Aku berjalan mendekati Hanan. Merebut Misela yang sedang ia gendong. Aku pun menangis tanpa suara.
"Sekarang aku mulai paham akan maksud dari perkataan mu dulu Nan. Kamu tau sudah tau Bapak mu yang membunuh Ayah ku kan?" Aku berbicara dengan datar tanpa expresi apapun.
"Del maafin aku. Bukan begitu maksudnya. Aku bisa jelaskan" Hanan mencoba mencoba memegang kedua lengan ku tapi aku berjalan mundur menjauhi nya.
Lalu Aku pun berjalan mendekati Pak RT yang menatap ku dengan mata berkaca-kaca. Walau kaki ku sudah tak kuat untuk melangkah tapi aku harus memaksakan diri mengatakan apa yang ingin aku katakan.
"Sekarang saya juga tau maksud dari pembicaraan Pak RT waktu tiba-tiba menanyakan tentang seseorang yang menabrak Ayah saya."
"Nak Adel maafin Bapak Nak. Bapak bukan bermaksud menyakiti Nak Adel." Pak Iskandar mencoba berbicara juga tapi tak ku tanggapi.
Aku berbalik badan hendak masuk ke rumah. Ingin rasanya aku marah sebisa mungkin tapi aku tak berdaya.
Semua terdiam kecuali Bu Selly masih sesenggukan di pelukan Hanan. Tak ada satu pun di antara mereka yang berani bicara.
"Sebenarnya kalian semua tau apa yang terjadi pada Ayah saya kan? Tapi kalian menyembunyikan semua ini bahkan kalian berani-beraninya melamar ku? Bu ayo masuk."
Aku memberikan Misela pada Ibu. Ibu berjalan menuju kamar tidur ku.
"Kalian semua orang jahat kalian semua brengs**." Teriak ku pada mereka semua yang ada di luar rumah.
Dengan isak tangis ku lepaskan cincin yang melingkar di jari manis ku. Cicin yang baru saja Hanan kenakan. Ku kelempar ke hadapan Hanan. Lalu menutup dengan keras pintu rumah ku itu.
Aku pun terduduk lemas dengan air mata.
"Hanan tak benar-benar mencintai ku. Huu huu...aaacckkkk…!" Ku pukul pintu rumah ku sekeras mungkin hingga aku tak menyadari ada aliran darah segar.
"Ayahhh…. Adel harus bagaimana Yah."
Ku peluk kedua kaki ku dan menundukkan kepalaku. Terisak sendirian di depan pintu yang tertutup itu. Aku tak tau apa yang bisa aku lakukan sekarang. Aku tak bisa berpikir secara jernih. Rasanya aku ingin menyusul Ayah dan menanyakan apa yang sebenarnya terjadi.
Baru beberapa menit yang lalu aku berbahagia akan menemukan kehidupan yang baru tapi kali ini aku hancur kembali.
*****
...Hallo Reader yang budiman. Mohon dukungannya ya dengan tinggalin jejak kalian setelah membaca novel ini 😁🙏...
...Terimakasih banyak untuk para author yang selalu mendukung dan mensuport aku kalian the best 😘🙏...
...Kalau kalian mau tanya seputar novel ini bisa langsung follow ig ku @deliss_aa1...
...Terimakasih banyak dukungan 😘...
.