BROK3N

BROK3N
Bab 45 Asep Mencintai Adelia



Adelia POV


Semakin lama perut ku semakin membesar dan baju yang aku pakai sudah banyak yang tak muat di badan ku karna bukan hanya perut yang membesar tapi juga tubuh ku.


Aku mulai kebingungan memakai baju untuk kerja di toko Bu Dania. Untung saja Bu Dania bermurah hati masih mau menerima ku bahkan biaya di klinik juga tak sepeser pun gaji ku terpotong.


Aku juga bingung untuk menutupi perut ku dari Ibu-ibu kompleks kalau-kalau aku ada perlu ke warung.


Memang mereka selalu melihat ku dengan sinis tapi aku tak begitu peduli yang penting aku dan Ibu tak di usir dari sini itu udah cukup.


Tapi tak semuanya begitu. Banyak juga yang masih ramah dan baik sama kami. Bahkan Ibu juga masih kerja dipasar. Walau kerap dapat omongan yang tak sedap Ibu tetap sabar dan membiarkan mereka toh nanti juga capek sendiri.


Aku memang sudah bersemangat untuk hidup yang baru. Hidup dengan status ibu muda. Hanya tinggal empat bulan lagi akan ada suara tangisan bayi dirumah ku. Ibu selalu menantikan hal itu karna ini adalah cucu pertama untuknya.


Aku tak begitu peduli dengan Zaki lagi. Aku sudah sedikit melupakan dan memendam rasa cinta ini. Aku berharap dia juga bahagia bersama Sinta di Singapura.


Hanya saja kemarin polisi datang menemui ku dan Ibu yang mengatakan kalau insiden yang terjadi pada Ayah adalah unsur kesengajaan jadi Ayah meninggal bukan karna kecelakaan tapi karna ada yang sengaja menabrak nya dan menginginkan Ayah meninggal.


Aku dan ibu terkejut karna setau kami Ayah tak pernah punya musuh Ayah selalu minta maaf jika salah dan Ayah selalu ramah pada semua orang. Kami hanya pasrah pada Pak polisi. Walau polisi sudah menjelaskan jika kemungkinan besar tersangka sudah kabur ke luar negeri tapi kami tetap berpositif thingking. Semoga yang membunuh Ayah bisa meminta maaf padanya.


Hari ini kebetulan aku masuk sif siang jadi aku inisiatif untuk ke pasar beli beberapa baju keperluan ku. Aku juga ingin beli es cendol yang selalu aku lewati saat akan berangkat kerja. Padahal sebelum aku tak suka dengan minuman seperti itu.


Aku belum beli apapun untuk keperluan anak ku nanti kata Ibu pamali katanya nanti saja kalau sudah masuk usia sembilan bulan jadi aku menurut saja.


Belum aku melangkah keluar rumah Asep sudah ada di depan pintu.


"Hai Ka Adel, hai Dede diperut!" Asep melambaikan tangannya di dekat perut ku.


"Apaan sih kayak kamu Ayah nya aja." Sambil ku tutup pintu rumah ku dan menguncinya.


"Aku mau jadi Ayah nya kalau ibunya mau!"


Terkejut dong aku. Asep memang sering mengungkapkan perasaannya mau ini mau itu tapi aku anggap itu cuma gombalan karna Asep juga masih sekolah. Tapi kali ini berbeda karna gaya bicara Asep seperti orang dewasa dan juga sangat lembut.


"Jangan main-main bocil fokus belajar okey." Asep mengangguk.


"Tapi ka Adel mau kemana?" Tanya Asep heran karna pintu rumah aku kunci.


"Mau ke pasar beli baju." Jawab ku.


"Ayo Asep anterin."


Sebenernya aku tak mau merepotkan dia lagi. Tapi dia sama seperti Hanan selalu memaksa.


"Baiklah."


Kami pun ke pasar dengan motor matic milik Asep yang mana dulu juga pernah membawa ku ke klinik.


"Kamu pulang aja Sep nanti aku bisa pulang sendiri kok."


"Engga Ka aku anter aja kan Kaka juga lagi hamil harus dijaga." Lagi-lagi Asep memaksa ku untuk tak menolak apa yang dia katakan. Akhirnya aku pun berkeliling pasar bersama Asep.


"Ya ampun ganteng Emak ngapain sih selalu sama dia. Nanti kamu kenak sial Nak." Bu Jamilah yang kebetulan bertemu kami berhasil membuat heboh di pasar dan semua mata tertuju pada ku.


"Mak jangan begitu gak enak di dengar orang-orang."


"Biarin orang tau kalau dia hamil di luar nikah dan pembawa sial."


"Mak cukup."


"Udah cepet kita pulang aja jangan ngurusin wanita itu."


Asep pun terpaksa ikut dengan Ibu nya karna tangannya ditarik paksa. Aku terdiam sejenak dan menarik nafas dalam-dalam untuk menenangkan pikiran ku lalu pergi mencari apa yang aku butuhkan.


Aku berjalan menembus kerumunan ibu-ibu yang sibuk berkomat-kamit dan saling melirik tapi aku tak peduli. Aku sengaja tak mampir ke tempat Ibu bekerja supaya kejadian tak makin buruk.


Lama aku berjalan rasa lelah dan pegel di kaki mulai datang. Perubahan fisik itu terjadi setiap usia kandungan ku naik bulan. Bahkan selera makan ku pun sekarang berbeda. Aku lebih suka makan buah-buahan atau sayuran dari pada makan daging-dagingan. Aku juga jadi tak suka nasi goreng ati ampela karna menurut ku baunya gak enak. Pasti nanti akan lebih sulit untuk bekerja jika perut ku semakin besar.


Setelah semuanya terbeli aku bergegas pulang karna aku takut terlalu lelah bisa mengganggu kondisi bayi ku. Aku pun naik ojek untuk pulang.


***


Saatnya berangkat kerja, biasanya aku lebih suka jalan kaki tapi kali ini aku memilih naik ojek karna cuaca begitu terik dan aku juga harus benar-benar menjaga tubuhku.


Hari ini jatah sif ku dengan Ka Hesti. Entah kenapa sejak semuanya tau kalau aku hamil Yumna tak pernah mau satu sif dengan Ku. Sepertinya dia begitu tak mau bertemu dengan ku karna setiap aku datang Yumna pasti sudah pulang.


Seperti biasa Hanan selalu menunggu ku walau jam kerja dia udah selesai. Hanan begitu tekun belajar dengan chief nya.


***


Waktu terus berlalu kandungan ku sudah memasuki usia 9 bulan. Kaki ku mulai bengkak dan susah untuk berjalan bahkan sandal swalow favorit ku pun sudah tak cukup dipakai kaki ku. Bidan menyarankan ku untuk sering berjalan dipagi hari tanpa sandal dan menginjak bebatuan besar. Katanya itu bisa membantu proses melahirkan dengan normal dan lancar.


Bu Dania menyarankan ku untuk cuti dan aku diperbolehkan kerja lagi setelah masa nifas selesai. Betapa baiknya Bu Dania. Entah karna hasutan Putri entah karna memang Bu Dania iba pada ku tapi aku bersyukur punya seorang Bos seperti beliau.


Sedangkan Hanan sudah selayaknya seorang Ayah yang sering bulak-balik kerumah untuk menanyakan kondisi ku. Dia siap 24 jam jika aku sudah akan melahirkan.


Aku tau Hanan pasti sangat menyayangi bayi ini padahal Bude nya sangat melarangnya untuk mendekati ku karna satu kampung sibuk membicarakan keburukan ku. Dan entah sudah berapa kali Hanan juga bersikeras untuk menikahi ku agar aku bisa lepas dari gunjingan dan anak yang aku kandung ini mempunyai Ayah. Tapi seberapa kali pun dia bertanya aku tetap menjawab tidak. Bukan karna aku mencintai Zaki tapi karna aku merasa tak pantas untuknya karna aku sudah kotor karna tak bisa menjaga kehormatan ku.


Jika Zaki suatu saat menemui kami aku pun tak akan melarang nya untuk bertemu.


*****