BROK3N

BROK3N
Bab 72 Bertemu Zaki



Sudah seminggu berlalu. Aku rindu sekali pada Hanan. Bu Jamilah gak bolehin aku buat menjenguk nya. Ahirnya aku menyibukkan diri di kantor yang kebetulan memang sedang banyak pekerjaan supaya aku tak terlalu memikirkan Hanan.


Hari ini aku pulang larut malam karna pekerjaan ku harus segera selesai jadi aku lembur.


Karna aku takut mengantuk jika naik motor akhir nya aku memesan taxi online.


"Mbak Adel maaf saya ada di sebrang jalan, jika harus muter jauh nantinya, bisa mbak nyebrang saja?"


Pesan dari driver membuat ku memutarkan bola mata. Memang ini malam Minggu jadi jalanan sedikit macet dan kalau puter balik harus tunggu lebih lama lagi ahirnya aku mengalah.


Ku tunggu lampu penyeberangan berwarna hijau untuk melewati zebra cross.


Ting


Lampu menyala hijau. Aku yang melamun melewatkan beberapa detik. Saat tersadar lampu sudah kuning aku yang tak sabar akhir nya berlari untuk segera menyebrangi zebra cross itu.


Siiiiitttt….


"Aaacckkkkk….!"


Sebuah mobil Pajero hampir saja menabrak ku.


Orang-orang berkerumun ingin menolong ku.


"Mbak gak papa mbak?" Kata seorang pejalan kaki dan hendak membantu ku untuk bangun.


Seorang laki-laki yang hampir menabrak ku pun turun dari mobilnya.


"Adel?"


"Zaki?"


"Maaf-maaf aku gak fokus tadi. Kamu gak papa? Ayo aku antar ke rumah sakit." Kata Zaki sambil memapah ku masuk ke mobil. "Maaf ya Pak Bu saya akan bertanggung jawab. Saya kenal dengan wanita ini. Permisi." Kata Zaki pada segerombolan orang-orang yang hendak menolong ku tadi. Lalu mereka pun bubar.


Aku pun duduk di mobil yang Zaki bawa lalu Zaki membantu ku memasang kan save belt. Wajah Zaki sangat dekat dengan ku tapi aku mencium aroma tak enak saat itu.


"Zak kamu mabuk?"


"Engga aku cuma minum sedikit tadi."


"Zak aku udah pesen taxi online tadi Zak. Ada di sebrang sana."


"Udah batalin aja."


"Tapi aku gak papa Zak gak perlu ke rumah sakit."


"Kalau gitu ke rumah ku saja?"


"Apa?"


"Sudah nurut aja."


"Baiklah."


Aku hanya bisa pasrah.


"Zak kamu tinggal di sekitar sini?"


"Iya udah deket tuh. Mampir dulu ya ke apartemen gue. Mau cuci muka dulu. Tar aku anter kamu pulang."


"Jadi kita beneran mau ke...."


"Sudahlah cuma sebentar."


Tiba di apartemen Zaki mengajak ku naik ke lantai 10. Apartemen itu sangat mewah. Aku yakin hanya orang-orang berduit yang tinggal disini.


"Loe duduk dulu Del. Tunggu gue mau ke toilet dulu."


Aku hanya mengangguk dan melihat setiap sudut ruang apartemen itu. Benar-benar tempat tinggal orang kaya. Tapi Zaki memang orang kaya.


Brug…


Aku terkejut. Sepertinya suara orang terjatuh. Aku berlari menghampiri Zaki.


"Zak kamu gak papa?"


"Gue pusing Del. Tolong bantu gue berdiri."


"Iya ayo aku bantu kamu."


Aku pun memapah Zaki ke sebuah sofa tempat aku duduk tadi. Zaki menyandarkan badan dan kepala nya di sofa lalu memejamkan matanya.


"Kamu mau minum Zak aku ambilin."


"Gue butuh elo Del."


Zaki memegang pergelangan tangan ku yang hendak bangun untuk mengambil minum. Aku pun duduk kembali.


"Aku bisa bantu apa Zak?"


Zaki bangun dari sandarannya lalu mendekati wajah ku hingga hidung kami saling menempel. Kini aku merasakan hangatnya nafas Zaki dan bau alkohol yang pekat. Mata kami saling menatap satu sama lain. Zaki pun mendekati bibir ku dan memejamkan matanya. Mencium dengan lembut bagian bawah bibir ku. Entah kenapa aku hanya diam dengan permainan Zaki.


Tangan Zaki mulai meraba tak tentu arah. Kini Zaki sedang menelusuri bagian leher ku. Zaki membuka kancing kemeja ku. Satu dua dan tiga dia buka. Aku terlena dengan permainan itu. Aku seperti merindukan semua ini dari Zaki.


Aku makin terbuai saat Zaki memberikan ku sebuah kecupan di bagian leher. Terus dan terus dia lakukan.


Ku lihat tangan ku yang sedang melingkar di tengkuk Zaki. Ada sebuah cincin yang melingkar di jari manis ku. Sontak membuat ku mendorong tubuh Zaki hingga jatuh ke lantai.


"Zak, apa yang sedang kita lakukan?"


"Sorry Del gue mabuk. Sorry gue suruh ajudan gue buat nganter loe pulang." Zaki mengambil handphone nya dan terlihat memanggil seseorang. Ku rapihkan pakaian dan rambut ku yang acak-acakan di buat Zaki.


Zaki mengantarkan ku sampai parkiran mobil. Disana udah ada seorang laki-laki yang sudah menunggu.


Zaki langsung saja pergi meninggalkan ku.


"Sebenernya bukan kesalahan Zaki sepenuhnya, aku juga bodoh kenapa diam saja saat Zaki berbuat seperti itu."


Aku pun pulang dengan di antar oleh ajudan Zaki.


Esok nya saat aku pulang dari kantor Zaki sudah menunggu di depan kantor. Tampangnya yang cool dengan setelah jas berwarna navy mix abu.


Zaki membuka pintu mobilnya mengisyaratkan aku untuk masuk. Sontak semua teman di kantor ku saling berbisik membicarakan ku. Biarlah aku cuma pegawai remahan rengginang yang gak akan ngaruh ke pekerjaan ku.


"Kenapa kamu disini Zak?"


"Del kenapa loe pindah gak ada kabar sama sekali? Dan ternyata selama ini loe di Jakarta?"


"Iya Zak. Aku udah satu tahun lebih disini."


"Paket terakhir yang gue kirim di balikin ke gue karna katanya loe udah gak tinggal disitu lagi. Gue frustasi sejak saat itu. Gue gak misa mantau kalian. Terlebih loe pergi gara-gara Pak Hanif. Gue pikir loe bakal bahagia sama Hanan tapi gue salah justru Hanan buat loe kecewa."


"Zak aku yang memutuskan meninggalkan Hanan. Bukan salah dia dengan apa yang aku putuskan."


"Tapi Del Hanan itu…"


"Zak Hanan sekarang sedang koma."


"Apa?"


"Dia di rawat di rumah sakit. Sudah tiga Minggu ini dia belum juga bangun dari koma nya itu."


"Jadi Hanan udah tau loe disini?"


"Kami bertemu tanpa sengaja. Malamnya aku ingin sekali makan nasi goreng dan Hanan membelikannya untuk ku. Tapi takdir berkata lain Zak, Hanan tertabrak mobil dan koma sampai hari ini."


"Sorry gue gak tau?"


"Zak kamu bilang kamu akan melepaskan ku dengan Hanan. Tapi aku sekarang takut bertemu dengan mu setelah kejadian semalam. Zak Hanan udah kasih aku cincin ini lagi. Dia berjanji akan segera menikahi ku. Tolong Zak jangan masuk lagi dalam kehidupan ku."


"Tapi…"


"Zak, jika kamu mau bertemu dengan putri mu Misela aku tak kan pernah melarang nya sama sekali."


"Baiklah."


"Bagaimana kabar Sinta? Bukankah di surat itu kamu bilang kalau Sinta baik?"


"Sinta melanjutkannya kuliahnya di Singapura. Sedangkan gue harus tinggal disini mengurus perusahaan Papah."


"Apa Papah mu belum sembuh Zak?"


"Papah sudah meninggal Del."


"Apa? Innalilahi. Kapan?"


"Seminggu sejak kepergian mu. Papah sempat sadar dan meminta maaf pada ku. Sejak saat itu aku memendam rasa bersalah ku. Bahkan aku makin frustasi karna tak tau keberadaan mu."


"Maaf Zak."


"Gue yang minta maaf. Harusnya gue emang harus bener-bener merelakan mu dengan Hanan. Tapi setiap gue inget perbuatan gue sama loe penyesalan gue buat batin gue tersiksa Del."


"Hiduplah dengan bahagia Zak. Jangan mabuk-mabukan lagi itu hanya akan merusak kesehatan mu."


"Gue tau Del. Tapi gue udah terlanjur terbiasa."


"Kamu pasti bisa melewati semua ini Zak. Kamu juga berhak untuk bahagia. Aku bahagia kok dengan Hanan jadi kamu juga harus bahagia dengan Sinta. Aku pulang dengan ojol aja ya. Inget kamu harus jaga kesehatan mu. Kamu masih punya Mama yang harus kamu jaga dan kamu rawat. Aku pergi dulu."


Aku pun keluar dari mobil Zaki yang sejak tadi terparkir di depan kantor ku bekerja. Aku langsung memesan ojek online untuk pulang karna hari sudah makin sore.


***


Ttrrrr


Ttrrrr


Ponsel ku bergetar. Ada nama Asep disana.


"Hallo Sep ada kabar apa?"


"Ka Adel besok bisa kesini?"


"Hanan udah sadar Sep?"


"Belum Ka tapi Bapak mau ngobrol katanya."


"Kalau gitu sepulang kerja aku mampir ya."


"Iya Ka sampai besok."


Tut


Tut


Telepon terputus.


"Ada apa Pak Iskandar tiba-tiba ingin bicara pada ku?"


###############################


...Hallo Reader yang budiman. Mohon dukungannya ya dengan tinggalin jejak kalian setelah membaca novel ini 😁🙏...


...Kalau kalian mau tanya seputar novel ini bisa langsung follow ig ku @deliss_aa1...


...Terimakasih banyak dukungannya terutama kepada para author yang baik hati selalu memberikan jempol dan komentar nya 😘...