BROK3N

BROK3N
14. Awal Kebahagiaan Zaki



Malam semakin larut. Tapi bulan dan bintang tak melihatkan keindahan mereka.


Sementara dirumah Zaki Mamahnya sibuk mengetuk pintu karna sedari pagi tak keluar kamar. Ini sudah lewat jam makan malam tapi Zaki tak menampakan wajahnya yang memar akibat perkelahiannya dengan Paman Dirga.


"Zaki....Nak buka pintunya. Kamu belum makan." Bu Dian terus saja memanggil Zaki. Akhirnya Zaki yang tahan mengusir Mamahnya.


"Zaki gak laper Mah. Udah Mamah jangan khawatir Zaki gak papa." Jawab Zaki yang masih mengunci diri di kamarnya.


"Tapi Nak Mamah belum liat kamu makan dari pagi tadi." Bu Dian kekeh menyuruh Zaki makan malam.


"Udah Zaki bilang Zaki gak laper Mah. Udah Mamah berhenti ngetuk pintu. Jangan ganggu Zaki mau tidur." Teriak Zaki makin menjadi. Tentu saja dia tak mau kalau orang tuanya khawatir dengan wajah tampannya yang terluka.


Akhirnya Bu Dian pergi dengan kesedihan meninggalkan kamar Zaki dengan nampan yang berisi beberapa piring untuk anaknya.


"Aku harus bagaimana ini. Wajah ku sudah aku kompres bulak balik tapi masih terlihat biru. Kalau Papah tau bisa kacau. Iya kalau Adelia mau melaporkan masalah ini. Kalau engga aku harus bilang apa?" Zaki berbicara sendiri. Dia harus menyembunyikan luka di kedua sisi bibirnya yang lebam biru.


"Aku akan tidur saja semoga besok bisa diakalin." Zaki masih ngelantur sendirian dikamar.


Walau sudah lama memejamkan mata Zaki tak kunjung mengantuk. Dia terus memikirkan Adelia.


Ting


Ting


Suara handphone Zaki berbunyi. Sebenarnya berat untuk dia mengambil Handphone yang dia cas dimeja belajar nya.


"hah...? Adelia?" Zaki sangat terkejut melihat pesan WhatsApp yang bertuliskan nama wanita yang dia sukai. Sesegera mungkin dia membuka pesan itu.


//Zaki aku minta maaf jika aku belum mengucapkan terimakasih. aku terlalu syok untuk melihat dan menatapmu apalagi mengucapkan terimakasih.semoga mimpi indah Zaki. sampai bertemu besok di sekolah.//


Zaki tak langsung membalas pesan dari Adelia. Tentu saja dia memeluk dan menciumi handphone nya saking hatinya terlalu senang karna mendapatkan pesan dari yang terkasih.


"Oh aku harus membalasnya. Aku terlalu senang dengan pesan dari mu Del."


Zaki menatap layar ponselnya dan menggerakkan kedua jempol tangannya.


//Iya Del aku mengerti keadaan mu. Mimpi indah juga untuk mu. Aku mencintaimu.//


"Ahh lebay gak sih ini hahaha Tapi udah terlanjur aku kirim." Zaki tertawa sendiri bak orang gila baru. Dia terlalu senang karna dibutakan cintanya pada Adelia.


Zaki pun menaruh handphone nya yang terus dia tatap karna menunggu balasan dari Adelia lagi. Tapi sudah lewat dari 10 menit handphone tak berbunyi. Akhirnya Zaki menaruh handphone nya disisi bantal tempat Zaki tidur lalu menarik selimut.


'Sampai besok Adelia sayang.' gumam Zaki dengan senyum bahagia.


.


.


.


Pagi telah menjelma. Cahaya matahari pagi ini begitu hangat. Ditemani suara burung yang sibuk berkicau terlihat Zaki di depan kaca sedang menyisir rambutnya.


"Bagaimana aku harus menyembunyikan luka ini dari Papah dan Mamah." Zaki sedang memandangi luka memarnya yang semakin terlihat jelas. Dia memikirkan sebuah ide.


"Aku tau aku akan pakai masker dan berdalih sedang kurang enak badan. Yak betul itu ide brilian Zaki." Zaki mengentikan jarinya lalu membuka sebuah laci dan mengambil masker berwarna hijau muda. "Wahh ini sempurna sekali." Zaki tersenyum licik dibalik maskernya.


Zaki pun membuka pintu kamarnya. Dengan wajah berbunga-bunga Zaki melangkah menuruni sebuah tangga. Tentu saja Zaki sangat senang karna pesan dari Adelia semalam. Zaki melihat Papah dan Mamah nya sedang menunggunya di meja makan.


"Pagi Pah Mah Zaki langsung berangkat aja ya nanti sarapan disekolah. Zaki buru-buru sekali."


Zaki mencium kedua tangan orang tuanya dia segera pergi karna tak mau mereka mengintrogasi nya yang sedang memakai masker. Alhasil Pak Ibnu dan Bu Dian hanya terdiam melihat Zaki yang sudah berlari menuju mobil.


"Iya Mah gak biasanya Zaki bertingkah seperti itu. Apa jangan-jangan dia sedang jatuh cinta Mah. iya bener pasti bocah itu sedang buru-buru pengen ketemu dengan wanita yang dia sukai." Pak Ibnu menyambung.


"Iya persis saat Papah menembak Mamah dulu kan?" Bu Dian menggoda Pak Ibnu.


"ahh Mamah bisa aja. Yasudah Papah berangkat dulu ya Mah." Pak Ibnu menyodorkan tangan kanannya lalu di cium oleh Bu Dian. Pak Ibnu pun berangkat ke kantor.


***


Sementara Disekolah.


.


.


.


Zaki sudah menungguku di depan gerbang sekolah. Aku menghentikan langkahku karna melihat sosok laki-laki sedang mondar-mandir di depan gerbang. iya itu Zaki walau dia memakai masker aku tau kalau itu adalah Zaki. Aku teringan dengan kalimat terakhir nya di WhatsApp. //Aku mencintaimu// Dia memang sosok yang baik bahkan dia menyelamatkan kehormatan ku.


Langkah yang tadinya ragu kini berjalan menuju pria yang sedang memakai masker itu.


"Hai Zak." Sapa ku pada Zaki yang tidak sadar dengan kedatangan ku.


"Del udah dateng. Ayo masuk ke kelas bareng." mata Zaki terlihat mengerut menandakan dia sedang tersenyum dibalik maskernya.


"Yuk." Jawab ku singkat sambil tersenyum menatap nya sebentar dan akhirnya kami melangkah memasuki gerbang sekolah bersama.


"Gimana keadaan mu Zak. Kamu pakai masker pasti luka mu sakit sekali ya? Udah diobatin? Bagaimana dengan orang tua mu pasti khawatir melihat keadaan mu." Aku nyerocos mengajukan beberapa pertanyaan ku pada Zaki sambil tetap berjalan menuju kelas.


Tapi Zaki hanya tertawa.


"Kok kamu malah ketawa sih. Aku serius. Coba sini aku liat." Ku coba membuka masker Zaki. Tapi dengan postur tubuh yang tinggi hanya dengan mengangkat kakinya Zaki jadi semakin tinggi dan aku tak bisa meraih masker yang Zaki kenakan.


"Udah gak papa kok. Kamu gak perlu khawatir." Zaki memegang tangan ku. Mata kami saling mengunci untuk beberapa saat. Aku tersadar duluan dan menundukkan pandangan ku. Ku lepaskan tangan Zaki yang memegang pergelangan tangan ku dengan lembut itu.


"Terimakasih ya Zak untuk semuanya." Kata ku yang masih tertunduk malu.


"Apa kamu sudah benar-benar merasa baikan Del? Aku sangat mengkhawatirkan keadaan ku kemarin." Langkah ku terhenti mendengar perkataan kemarin. Iya tentu saja aku langsung teringat dengan peristiwa yang sudah susah payah aku lupakan.


Zaki pun menghentikan langkahnya. kini kami sedang berhadapan tapi aku masih dengan mata yang menatap lantai.


"Tolong jangan pernah membahas masalah itu lagi karna aku takut untuk mengingatnya." Kataku lirih.


"Maaf Del aku tak bermaksud mengingat kan mu dengan kejadian itu." Zaki meraih tangan ku dan menggenggamnya dengan kedua tangannya.


Aku hanya mengangguk. Aku tersadar jika kami terlalu lama berpegangan tangan maka akan ada mata yang marah dengan hal ini. ku lepaskan tangan Zaki dengan perlahan.


"Ayo kita masuk kelas." ku angkat kepala ku dan mencoba memberikan senyuman termanis ku untuk Zaki. Zaki hanya mengangguk. Kami melanjutkan langkah kaki kami. Untung lah saat itu suasana sekolah masih sepi jadi aku rasa tak kan banyak mata yang melihat kami berdua.


*****


...Terimakasih masih setia membaca kisah Adelia 😊🙏...


...Jangan lupa tinggalkan like dan 🌷...


...menerima segala jenis masukan 😘...


...mohon maaf jika masih ada typo ya 😀...


.........