BROK3N

BROK3N
Bab 71 Tamparan untuk Adelia



Waktu sudah menunjukkan hampir tengah malam. Belum ada kabar dari dokter di ruang ICU.


Setelah dua jam Hanan mendapatkan perawatan intensif dokter pun keluar dari ruang ICU itu.


"Mbak Mas seperti pasien akan mengalami koma yang cukup lama." Kata sang dokter.


"Koma dok?"


"Pasien tak ada respon apapun. Dan detak jantung nya juga sangat lemah. Tolong sering di ajak bicara ya jika ada respon segera hubungi kami. Kami sudah berusaha sebisa mungkin tapi kesembuhan hanya kuasa yang di atas. Saya permisi dulu."


"Terima kasih Dok."


Dokter pun pergi. Aku dan Asep masuk ke ruang rawat Hanan.


Ku tatap dari ujung ke ujung tubuh Hanan. Banyak terpasang alat dan perban menyelimuti beberapa bagian tubuh Hanan. Ku duduk di sebelah tempat tidur Hanan dan menggenggam tangan nya.


"Nan kamu harus bangun kamu harus tepati janji mu okey."


Cup.


Ku cium kening Hanan.


"Ka tidurlah, istirahat biar Asep yang jagain Hanan. Ini udah larut malam."


"Kita jaga bersama Sep."


Saat aku dan Asep bertukar cerita tentang selama ini tiba-tiba ada polisi yang sedang mencari ku.


Tok


Tok


"Siapa Sep?" Tanya ku heran kenapa gak langsung masuk aja kenapa cuma mengetuk pintu.


"Entahlah ayo kita keluar aja Ka." Ajak Asep.


"Ada apa ya Pak?" Tanya ku pada kedua orang yang berseragam polisi itu.


"Dengan sodara Adel?" Tanya salah satu polisi itu.


"Iya Pak saya Adelia. Ada yang bisa saya bantu pak?"


"Kami sudah mengintrogasi pelaku yang menabrak sodara Hanan. Pelaku ternyata sedang mabuk saat itu. Apakah sodara Adel bersedia untuk menjadi saksi di persidangan nanti?"


"Maaf Pak saya menyerahkan semuanya pada pihak berwajib. Saya harus menjaga Hanan jadi saya tidak ada waktu untuk menjadi saksi. Kira-kira berapa lama hukuman yang akan dia terima Pak?" Tanya ku penasaran.


"Pelaku mengendarai mobil dengan keadaan mabuk hingga mengancam nyawa bisa sampai 20 tahun dan denda puluhan juta."


"Apa pelaku juga bertanggung jawab atas biaya rumah sakit Hanan Pak?"


"Tentu saja pelaku akan bertanggung jawab atas biaya perawatan sodara Hanan hingga sembuh. Kami akan mengurus nya nanti."


"Terima kasih Pak, maaf saya tidak bisa menjadi saksi karna korban tidak punya siapa pun disini sedangkan sekarang korban sedang koma. Butuh seseorang yang selalu ada di samping nya."


"Baiklah sodara Adel Terima Kasih atas kerja samanya kami permisi dulu."


"Sama-sama Pak. Terima kasih juga atas kerjasama nya pak"


Kedua polisi itu pun pergi. Aku dan Asep kembali masuk dan menemani Hanan.


"Kaka kenapa gak mau jadi saksi?"


"Males ribet Sep. Nanti di suruh bolak-balik ke pengadilan males ah capek. Biarin aja polisi yang menangani kasus ini. Kalau pun pelaku gak dapet hukuman setimpal di dunia pasti Tuhan akan menghukum nya kelak."


"Ka Adel jadi bener-bener sabar ya?"


"Hmm hanya di luarnya saja Sep. Dalem ya mah rapuh. Oiya Sep besok kamu ada kuliah gak?"


"Besok ada kuliah siang Ka. Kenapa emang?"


"Aku mau kerja dulu paginya terus aku mau minta cuti kalau boleh. Biar aku bisa fokus jaga Hanan."


"Aku bolos aja kuliah besok Ka. Jadi Ka Adel bisa kerja dulu."


"Baiklah kalau begitu aku tidur disana ya."


"Iya Ka."


Aku berjalan ke sebuah sofa berukuran kecil yang tak jauh dari tempat Hanan berbaring. Ku rebahkan tubuh ku dan mencoba memejamkan mata.


"Aku harus sehat aku harus kuat. Hanan butuh aku di sampingnya."


*****


Pagi-pagi sekali aku berpamitan pada Asep karna aku harus mengurus keperluan Misela dulu baru berangkat kerja. Ibu akhir-akhir ini sering kelelahan karna kewalahan dengan tingkah Misela yang semakin aktif bermain.


"Sep aku pulang dulu ya. Kalau ada apa-apa kamu langsung telpon aku."


"Iya Ka hati-hati ya."


"Heem."


Aku pun keluar dari rumah sakit dan memesan ojek online.


Waktu masih menunjukkan pukul 5 am. Aku sampai dirumah kontrakan ku.


"Assalamu'alaikum Bu."


"Wa'alaikumsalam Adel kamu kok baru pulang kemana aja nomor mu juga gak bisa di hubungi."


"Maaf Bu baterei nya lowbet."


"Terus kamu dari mana?"


"Hanan semalam kecelakaan Bu."


"Apa? Terus sekarang gimana? Kenapa malah kamu tinggal?"


"Hanan masih koma Bu. Adel harus kerja. kalau memungkinkan nanti Adel mau minta cuti. Doakan ya Bu supaya Hanan cepet pulih. Hanan berjanji akan segera menikahi Adel Bu."


"Iya sayang kamu yang sabar ya."


Aku langsung bergegas mempersiapkan apa yang harus tersedia hari ini. Aku pun bersiap-siap untuk berangkat ke kantor. Setelah semua beres aku memesan kembali ojek online untuk perjalanan ke kantor.


Hari ini kulalui dengan sibuk. Karna banyak nya komplain dari pelanggan aku jadi gak berani untuk ijin cuti.


Sore pun tiba. Semua pekerjaan ku lakukan dengan cepat agar bisa buru-buru pulang dan menjenguk Hanan. Aku hampir tak fokus karna memikirkan keadaan Hanan.


Di kontrakan.


"Bu Adel berangkat ke rumah sakit dulu ya."


"Nda nda itut."


(Bunda ikut).


"Misela sayang anak kecil gak boleh ke rumah sakit. Nanti Misela di suntik sama dokter mau?"


"Ndak."


"Nah Misela putri bunda kan pinter. Jadi di rumah aja ya. Gak boleh nakal gak boleh merepotkan Oma okey?"


"Iya."


"Dahh sayang…!"


Dirumah sakit.


"Assalamu'alaikum Sep."


"Wa'alaikumsalam."


"Maaf ya kesorean. Kamu istirahat aja pasti capek jagain Hanan dari pagi."


"Iya Ka capek aku ngomong seharian ini sama dia tapi gak di respon kan kesel Ka."


"Hehe kamu ada-ada aja."


"Kan katanya suruh di ajak ngobrol terus Ka ya aku ajak di berantem lah."


"Kamu gimana sih Sep orang sakit di ajak berantem."


"Ya gimana Ka udah satu tahun aku gak berantem sama dia. Aku jadi kangen deh."


"Ya udah kamu istirahat sana makan dulu. Aku udah bawa bekal itu. Sayur sop, ayam goreng sama sambel terasi."


"Wah enak itu Ka, aku makan dulu deh."


Asep pun menuju sofa dan makan dengan lahap.


Sementara aku mengambil air untuk membersihkan badan Hanan yang tak di bungkus perban supaya Hanan tetap segar. Bahkan ada beberapa dibagian tubuh Hanan yang terdapat darah yang sudah kering.


"Hanan calon suami ku kamu harus segera sadar ya. Lihatlah aku yang berpura-pura untuk tegar dan sabar tapi sebenarnya hati ku hancur melihat mu terbaring tanpa bersuara."


Aku mengajak Hanan berbicara seperti saran dokter tapi tetap saja tak ada respon dari nya. Aku pun mengusap tubuh Hanan dengan lembut menggunakan handuk setengah basah.


Hari demi hari berlalu begitu saja. Aku Asep dan Putri bergantian menjaga Hanan sesuai jam. Sudah sepuluh hari dan Hanan belum juga bangun.


Hari ini Pak RT dan keluarga akan datang berkunjung. Walau mungkin aku tak bisa berada lebih lama di samping nya setidaknya akan ada yang menemani Hanan sepanjang waktunya.


Pak Iskandar, Bu Jamilah dan Bu Selly sudah tiba di Jakarta. Mereka semua bergegas mencari ruang rawat Hanan.


Terlihat isak tangis Bu Selly dan Bu Jamilah menyesali keadaan Hanan.


Bu Jamilah menghampiri ku.


Plakkk


Sebuah tamparan mendarat di pipi ku. Aku tak tau apa sebabnya tiba-tiba Bu Jamilah menampar ku. Semua yang melihat kejadian itu pun kaget. Bu Jamilah langsung di seret menjauh dari ku oleh Pak Iskandar.


"Bu apa-apa sih. Adel salah apa Bu?"


"Pak dia itu yang udah buat Hanan kita jadi begini Pak, dia itu pembawa sial. Kalau saja Hanan tak bersama nya Hanan tak mungkin berbaring disana." Bu Jamilah menunjuk Hanan lalu menatap ku dengan amarah.


"Bu ini sudah takdir. Gak ada yang bisa di salahkan." Kata Pak Iskandar.


"Maaf Bu. Maaf jika saya salah." Kata ku dengan suara lirih dan tertunduk. Putri memeluk sebelah lengan ku untuk menenangkan ku.


"Kamu kenapa sih muncul lagi? Udah bagus kamu itu pergi malah menggoda Hanan lagi. Sekarang lihat kondisi Hanan." Bu Jamilah kembali marah dan sudah siap menampar ku lagi tapi di hentikan oleh Pak Iskandar.


"Bu hentikan ini rumah sakit jangan buat keributan disini kalau ibu gak mau di usir. Lihat Ibu nya saja diam. Kenapa ibu begitu menyalakan Adel. Bapak udah bilang ini itu takdir Hanan." Pak Iskandar mengajak istrinya itu duduk di sofa.


Sebenernya aku sedikit membenarkan apa yang Bu Jamilah katakan. Kalau saja Hanan gak bertemu dengan ku aku yakin dia tak akan terbaring kesakitan seperti itu.


"Maaf Nak Adel atas perlakuan istri saya, sebaiknya pulang. Biar kami yang merawat Hanan sekarang. Nak Adel bisa istirahat."


"Baik Pak permisi assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumsalam.


Aku dan Putri pergi keluar di ikuti oleh Asep.


"Ka maafin Mak ku ya Ka."


"Iya Sep gak papa. Perkataan Mak mu ada benarnya. Andai Hanan…!"


"Sudahlah Ka jangan lagi menyalakan diri Kaka. Ini semua sudah ada yang mengatur. Tuhan memberikan semua ini juga pasti ada tujuannya. Kaka harus sabar jangan terus menyalakan diri Kaka okey?"


"Akan aku coba. Kalau gitu aku pulang dulu ya."


"Iya Ka hati-hati ya."


Aku dan Putri pulang.


################################


...Hallo Reader yang budiman. Mohon dukungannya ya dengan tinggalin jejak kalian setelah membaca novel ini 😁🙏...


...Kalau kalian mau tanya seputar novel ini bisa langsung follow ig ku @deliss_aa1...


...Terimakasih banyak dukungannya terutama kepada para author yang baik hati selalu memberikan jempol dan komentar nya 😘...