BROK3N

BROK3N
Bab 82 Cobaan Datang Lagi



Setelah meninggal nya Ibu Yumna memberi ku cuti selama tujuh hari untuk menenangkan diri. Kantor juga memberi ku uang belasungkawa sebesar 10 juta sekalian bonus kenaikan jabatan ku kemarin. Uang itu aku gunakan untuk pemakaman Ibu dan kirim doa sisanya aku tabung untuk kebutuhan lainnya.


Aku juga harus cari pengasuh untuk Misela karna aku harus bekerja pagi hingga sore terkadang aku juga harus lembur karna tuntutan kerja.


Hanan sendiri tak bisa mengasuh Misela bsendirian karna dia juga masih banyak yang harus di bereskan belum lagi mempersiapkan berkas-berkas untuk pernikahan kita.


"Aku temenin ya ke rumah Pak RT?"


"Gak perlu Nan kamu di rumah aja kamu harus bener-bener istirahat dulu."


Hanan memang terlihat sehat tapi walau bagaimanapun dia telah koma selama enam bulan lamanya. Jadi aku menyuruh untuk istirahat full paling tidak selama dua minggu ke depan.


Aku pun ke rumah Pak RT untuk bertanya siapa yang bisa mengasuh Misela.


Tak perlu banyak basa-basi Bu Retno istri Pak RT sendiri yang mengajukan diri untuk mengasuh Misela karna cucu satu-satunya tinggal di Bandung.


Bahkan Bu Retno tak minta imbalan apapun pada ku. Dia dengan senang hati akan mengasuh Misela dan menganggap nya sebagai cucunya sendiri.


Tentu saja aku senang karna ada yang begitu menyayangi Misela jadi aku tak perlu begitu khawatir untuk meninggalkan di tangan Bu Retno. Tapi aku tak mau merepotkan nya begitu saja, tentu aku membayar Bu Retno layaknya seorang pengasuh.


***


Dua minggu berlalu.


Hanan tinggal di asrama Asep dan menuruti perkataan ku untuk Istirahat full. Sedangkan Bu Selly ibu Hanan kembali ke kampung halamannya karna sudah terlalu lama meninggalkan rumahnya. Dan aku sendiri sudah beraktivitas seperti biasa. Bahkan semua pekerjaan ku menjadi sangat banyak dan menyibukkan ku.


Di tengah sibuk nya aku bekerja ponsel ku terus saja bergetar. Aku yang penasaran langsung membuka pesan WhatsApp ku. Hanya ada nama Hanan disana. Tentu saja memang siapa lagi yang membuat ponsel ku berisikin selain dia.


"Sayang ku pulang jam berapa?"


"Masih sibuk ya?"


"Yah aku di cuekin?"


"Nanti mau di jemput gak?"


"Duhh sibuknya calon istri ku."


"Masih belum di bales juga aku mau nangis aja deh."


Aku hanya tersenyum menanggapi chat Hanan. Saat aku akan membalas chat nya aku di panggil oleh Yumna.


"Ka Adel besok kita pergi ke Tanggerang ya. Ada rapat penting tentang promosi kosmetik terbaru kita. Tolong siapkan semua berkasnya."


"Baik Bu Yumna."


"Hari ini juga harus beres ya supaya besok kita tinggal berangkat."


"Iya Bu akan saya siapkan."


Aku pun melupakan untuk membalas chat Hanan. Jari jemari ku sibuk mengetik untuk presentasi besok.


Pekerjaan ku selesai tepat setelah aku menyelesaikan semua laporan ku.


Aku pun mengambil ponsel ku dan menelpon Hanan.


Tut


Tut


"Duhh baru di telpon sedihnya aku di cuekin seharian." Jawab Hanan.


"Belum juga aku ngomong udah cemberut aja."


"Udah selesai sayang ku kerjanya?"


"Udah kok aku naik ojol aja ya. Kamu tunggu aja di rumah. Sekalian ambil Misela ya di rumah Pak RT terus mandiin nanti aku mau aja dia ke Timezone."


"Siap laksanakan."


"Baiklah aku tutup ya telponnya."


"Iya sayang emuah."


"Iihh genit amat sih."


Hanan menutup telpon sepihak.


Sesampainya dirumah.


"Ndaa…" Misela langsung menghampiri ku.


"Duh putri Bunda udah cantik udah wangi."


"Ya iyalah kan Papi nya pinter."


"Makasi ya Nan."


Hanan hanya mengangguk.


"Bunda mandi dulu ya sayang abis itu kita pergi ke Timezone sama Papi Hanan."


"Ye ye ye….!" Misela bersorak riang.


"Sini main dulu sama Papi bunda bau kecut tuh."


"Bau juga gak papa kamu tetep suka kan sama aku?"


"Bagaimana bisa aku tak menyukai wanita secantik dan sebaik kamu sayang."


"Jangan gombal. Udah ah aku mau mandi."


Setelah selesai mandi aku bersiap-siap lalu memesan taxi online.


Sesampainya di Timezone Misela tak sabar untuk bermain. Di berlari kecil dan menikmati permainan nya. Aku dan Hanan hanya melihatnya dari kejauhan karna di sana sudah ada pengawas anak-anak.


Sambil memperhatikan Misela main aku dan Hanan mengobrol di sudut ruang.


"Aku sudah konsultasi dengan Pakde masalah pernikahan kita Del."


"Terus kata Pakde gimana?"


"Tentu saja Pakde setuju tapi Pakde maunya kita nikahnya di kampung."


"Berarti aku harus ijin cuti lagi dong."


"Iya gak papa lah demi nikah hehe."


"Bagaimana dengan keluarga mu?"


"Baiklah wali nikah kita wakilkan ke penghulu ya."


"Iya kamu atur saja Nan. Aku cuma punya kamu saat ini."


Aku pun memeluk lengan Hanan dan menyandarkan kepalaku di bahunya. Hanan pun mencium tangan ku.


"Bagaimana setelah menikah nanti Nan. Kita akan tinggal dimana?"


"Tentu kita akan tinggal disini. Aku tau kamu tak akan mau melepaskan pekerjaan mu. Biarlah nanti aku yang mencari pekerjaan disini."


Hanan begitu pengertian pada ku.


"Kenapa kamu begitu baik sih Nan. Aku jadi makin menyukai mu."


"Memang kemaren kamu gak suka sama aku?"


"Maksudnya cinta ku makin bertambah banyak."


"Oo jadi kemaren cinta mu cuma sedikit?"


"Idih kamu ngeledek terus males ah."


Aku pun mencubit pinggang Hanan beberapa kali hingga akhirnya dia minta ampun.


"Nanti kamu mau mahar apa sayang?"


"Terserah kamu aja Nan. Aku tak minta apapun. Aku cuma minta kebahagiaan untuk keluarga kita nantinya."


"Terima kasih ya kamu mau menerima laki-laki miskin seperti ku ini."


"Jangan berkata seperti itu. Harga bisa dicari sama-sama. Rejeki itu akan datang pada hamba yang mau berusaha."


"Kenapa Adelia jadi sedewasa ini sih?"


"Aku hanya terlalu banyak menerima kepahitan dari pada kebahagiaan. Nan aku berharap kita bisa terus bahagia seperti ini."


"Iya Adel sayang. Semua masa sulit mu "sudah kamu lewati dengan baik. Calon istri ku memang hebat."


Hanan mencubit kedua pipi ku.


"Sakit tau."


"Aku merindukan pipi mu yang cabi ini. Eh bukan nya kamu berjanji akan diet jika kita menikah nanti?"


"Loh kamu sebenarnya denger aku ngomong sama kamu?"


"Iya aku terkadang mendengar nya. Tapi aku tak tau kenapa tubuh ku tak bisa ku gerakan dan mata ku tak bisa ku buka."


"Iya aneh ya orang koma bisa denger tapi gx bisa apa-apa."


"Aku juga denger kamu mau traktir aku makan enak loh."


Aku pun jadi tersipu malu karna ucapan Hanan.


"Jadi kapan?"


"Em terserah kamu aja."


"Iya uang mu banyak ya sekarang kan asisten manajer."


"Hahaha iri? Bilang boss…!"


"Hahaha dasar bisa aja buat ku gemes."


"Em besok aku mau ke Tanggerang. Kalau aku pulang larut malam temenin Misela dulu ya di rumah sampe aku pulang?"


"Gak sekalian temenin kamu juga?"


"Itu sih maunya kamu."


"Aku udah gak sabar pengen manja-manja sama kamu sayang."


"Idih geli ah jangan bahas itu."


"Kenapa kan kita udah mau nikah."


"Udah diem aja telinga ku geli tau."


"Haha baiklah. Tapi….!"


"Sstt… Ku cubit lagi nih."


"Iya iya ampun haha."


Hingga pukul 9 pm Misela belum mau pulang. Tapi Hanan berhasil membujuk nya dan kami pun pulang.


Satu bulan berlalu.


Semua pekerjaan ku berjalan lancar. Persiapan pernikahan juga sudah matang. Semua di atur oleh Pakde nya Hanan yang akan menjadi Pakde ku juga nantinya.


Pernikahan akan dilakukan dua Minggu lagi. Aku hanya perlu mempersiapkan diri ku untuk menjadi istri Hanan. Semuanya sudah di siapkan disana termasuk baju pengantin dan lainnya.


Aku pun sudah minta ijin cuti dari jauh-jauh hari. Aku minta ijin cuti satu minggu untuk pernikahan ku pada Yumna dan Yumna pun ikut bahagia dengan kabar ini. Walau Yumna tak bisa hadir nantinya karna dia tak bisa libur lebih dari dua hari. Sedangkan perjalanan pulang pergi paling tidak butuh waktu tiga hari.


Hari ini aku bekerja lembur dan pulang larut malam. Hanan berulang kali ingin menjemput ku dan menunggu ku di depan kantor tapi aku tak mau merepotkan nya. Ahirnya Hanan menunggu ku di rumah bersama Misela.


Aku pun berdiri dengan dua teman ku di depan kantor untuk memesan ojol. Kedua teman ku sudah pergi sedangkan ojol yang ku pesan masih terkendala di jalan.


Aku pun berjalan menuju pinggir jalan raya. Aku melihat sekeliling. Suasana disana tak begitu macet malah jalanan terlihat longgar tapi entah kenapa ojol itu begitu lama.


Byuurr…


Tiba-tiba wajah ku terasa sangat panas. Entah apa dan siapa yang menyiram ku dengan air yang membuat wajah ku terasa melepuh. Aku pun berteriak dan kehilangan arah langkah kaki ku.


"Aacckkk… Tolong…"


Siiiiitttt…. brugg.


Semua menjadi gelap untuk ku.


################################


...Hallo Reader yang budiman. Mohon dukungannya ya dengan tinggalin jejak kalian setelah membaca novel ini 😁🙏...


...Kalau kalian mau tanya seputar novel ini bisa langsung follow ig ku @deliss_aa1...


...Terimakasih banyak dukungannya terutama kepada para author yang baik hati selalu memberikan jempol dan komentar nya 😘...