
Jam makan siang telah tiba. Hanan merasa kehausan dan kelelahan karna masih mengitari kota Jakarta dengan cuaca yang terik dan penuh dengan polusi. Hanan pun mengusap keringat dengan tangannya.
Hanan mencari sebuah warteg untuk beristirahat dan makan siang. Sembari menikmati makan siangnya Hanan mencoret sebuah daftar nama yang dia tulis di selembar kertas. Masih ada lima tempat lagi yang harus dia kunjungi.
Setelah mengabiskan makanannya Hanan melanjutkan perjalanannya demi sebuah pekerjaan. Jika tempat yang akan dia kunjungi jauh Hanan memesan ojek online untuk mendatangi nya tapi jika masih terjangkau dengan kaki Hanan pun berjalan demi menghemat uangnya.
(Sungguh pria idaman ini mah)
Hingga pukul 2 pm Hanan masih melangkah kan kakinya dan beberapa kali mengusap keringat di keningnya. Kini tinggal satu tempat lagi.
"Bismillahirrahmanirrahim semoga disini keterima."
Hanan pun masuk ke sebuah kantor berukuran besar. Bahkan lebih besar dari kontrakannya.
Hanan melangkah menghampiri seorang resepsionis wanita yang sedang berdiri disana.
"Permisi Mbak apa masih ada lowongan pekerjaan disini? Saya dapet infonya dari internet." Hanan bertanya dengan sangat sopan.
"Iya masih Mas. Kebetulan sedang ada interview juga di dalam. Bisa lihat berkasnya Mas?"
Hanan pun menyerahkan surat lamaran kerja nya pada wanita tersebut. Setelah membaca nya wanita itu membawa berkas itu masuk ke sebuah ruangan.
"Tunggu saja ya Mas nanti di panggil namanya. Silahkan duduk dulu Mas."
"Iya Mbak terima kasih."
Hanan pun duduk di ruang tunggu.
"Sodara Hanan?"
Seorang pria gagah keluar dari ruangan dan memanggil namanya.
"Iya saya Pak."
"Mari silahkan masuk."
Ada dua orang di dalam ruangan yang sedang duduk membaca biodata Hanan.
"Itu jurinya ya. Atau apa sih namanya." Bathin Hanan.
"Jadi anda pernah menjadi chief juga selama hampir dua tahun?"
"Iya benar Pak."
"Baiklah coba gambar sesuatu di kertas ini yang berhubungan dengan desain kue ulang tahun."
Hanan pun menerima selembar kertas dan pulpen. Lalu memikirkan sebuah ide untuk isi dari kertas itu.
Dengan telaten dan hati-hati Hanan menggambar sebuah desain yang biasa dia buat di toko Bu Dania. Tak hanya satu tapi Hanan menggambar tiga sekaligus dengan cepat dan rapi.
Para juri pun terpukau dengan gaya Hanan. Apalagi dengan hasil gambar Hanan.
"Bagus. Baiklah anda akan bekerja dalam masa percobaan selama satu bulan. Jika karya anda dalam satu bulan itu bagus maka anda akan kami kontrak untuk jadi pegawai tetap."
"Terimakasih Pak. Apa penempatan kerja akan berpindah-pindah Pak?"
"Itu tergantung kondisi."
"Maaf apa boleh saya bertanya berapa gaji saya jika sudah jadi pegawai tetap Pak, soalnya saya harus membaginya nanti?"
"Boleh-boleh. Gaji minimal pegawai tetap disini lima juta. Itu belum bonus lembur dan bonus omset. Bahkan akan ada bonus untuk karyawan teladan."
"Baiklah terima kasih banyak Pak."
"Mulai besok anda sudah bisa bekerja. Nanti alamat toko tempat anda bekerja dan ketentuan lainnya akan di share lewat WhatsApp."
"Baik Pak saya mengerti. Terima kasih banyak."
"Baiklah selamat datang di Holland Bakery."
"Terima kasih sekali lagi Pak saya permisi dulu."
Hanan pun keluar dari ruangan itu dengan perasaan sangat bahagia. Tentu saja gajinya itu sudah sangat cukup untuk kebutuhan sehari-hari. Jika ada bonus akan dia tabung untuk biaya tak terduga. Hanan sejak dulu gemar menabung makanya Hanan masih saja punya uang bahkan setelah pernikahan nya dengan Adelia.
"Adelia pasti senang sekali aku mendapat pekerjaan ini. Walau gaji ku tak lebih banyak darinya tapi sudah cukup jika untuk kita bertiga."
Hanan pun memesan ojek online untuk perjalanan pulangnya.
Waktu masih pukul 3 pm. Hanan ingin sekali membelikan Adelia cemilan.
"Pak kalau liat tukang martabak Bangka berhenti dulu ya saya mau beli." Katanya sedikit teriak karna angin kencang takut supir ojek nya gak denger.
Tak jauh dari tempat jemputan nya tadi ada sebuah kedai martabak yang terkenal disana. Ojek itu pun berhenti.
"Tunggu ya pak saya kesana dulu beli martabak nya."
"Iya Mas silahkan."
Hanan berjalan menuju kedai itu lalu memesan martabak.
"Mas satu bungkus rasa pandan toping keju spesial plus kacang ya. Satu lagi rasa original toping mix terus kantong plastik nya pisah ya mas."
"Okey ditunggu ya Mas."
Hanan pun duduk di sebuah kursi sambil menunggu pesanan nya ia sibuk memainkan ponselnya. Hanan dan Adelia bukanlah orang sosialita makanya mereka jarang bermain ponsel. Hanya seperlunya saja.
Sudah lima belas menit Hanan menunggu ahirnya pesanan nya selesai.
"Jadi totalnya berapa Mas?"
"Semuanya jadi seratus tujuh belas ribu Mas."
Hanan mengeluarkan uang dua lembar warna merah. Dan setelah menerima kembalian Hanan pun berjalan menuju ojol yang sudah menunggu dari tadi.
"Maaf ya Pak lama."
"Iya Mas gak papa."
Hanan pun naik.
"Ayo jalan Pak."
Setelah tiga puluh menit berlalu Hanan pun sampai di gang kontrakan nya.
"Ini Pak ongkosnya dan ini martabak untuk keluarga bapak dirumah ya."
Hanan memberikan uang lima puluh ribu rupiah dan kantong plastik yang berisi martabak yang ia pesan tadi.
"Terima kasih Mas. Kembali nya ini…!"
Hanan menahan tangan ojol itu untuk memberi kembalian.
"Gak usah Pak ambil aja cuma segitu. Saya permisi dulu ya."
"Terima kasih sekali lagi Mas."
"Iya Pak sama-sama."
(Duhh Hanan bener-bener suami idaman)
*****
"Assalamu'alaikum istri ku. Mas pulang nih."
Hanan langsung masuk ke rumah karna pintunya terbuka.
"Wa'alaikumsalam Mas tolong…"
Hanan langsung melempar kantong plastik yang dia bawa dan mecari Adelia karna ucapan tolong ya membuatnya dia panik.
"Sayang…! Kamu jatuh?"
Hanan kaget melihat Adelia tergeletak di lantai dan kesakitan. Hanan langsung mengangkat tubuh Adelia dan di baringkan di tempat tidur.
"Kamu kenapa bisa jatuh begitu. Aku kan udah bilang jangan terlalu mandiri kejadian kan apa yang aku takutkan kan?" Hanan terlihat marah melihat Adelia istrinya kesakitan. Hanan pun memijat perlahan kaki Adelia. "Bagian mana yang sakit sayang?"
"Maaf Mas tadi kaki ku pegel banget aku mau beranjak ke tempat tidur eh malah kepleset."
"Iya tapi kan Mas jadi khawatir mau ninggalin kamu sendiri. Emang Bu Retno gak kesini?"
Hanan masih terus memijat kaki Adelia walau terus mengomel.
"Tadi kesini cuma kan ini udah sore katanya mau masak terus Misela gak mau di tinggal juga jadi ikut kesana."
"Besok jangan coba-coba hal yang membahayakan ya?"
"Iya Mas maaf ya buat mu khawatir."
"Iya, gimana masih sakit kakinya?"
"Sedikit."
"Kapan waktunya cek up?"
"Masih bulan depan Mas."
"Mas tadi beli martabak sebentar Mas ambil dulu tadi Mas lempar soalnya kamu teriak minta tolong."
"Hehe."
Hanan pun berjalan menuju ruang tamu dan mengambil apa yang telah ia lempar tadi dan kembali ke kamar.
"Yah berantakan nih martabak ya here abis tak lempar gitu aja."
"Gak papa Mas gak akan mengurangi rasanya."
"Aaakk sini Mas suapin."
"Emh enak banget sih Mas."
"Iya martabak mahal ini."
"Emang berapa harganya?"
"Yah pokoknya mahal deh. Biasa beli cuma yang gocengan sih hahhaha."
"Kamu bisa aja Mas. Oiya gimana hasilnya dari berpetualang seharian Mas?"
"Oiya sampe lupa loh mau ngabarin haha gara-gara kamu sih jatuh segala."
"Emang ngabarin apa sih?"
"Mas udah dapet kerjaan sayang."
"Benarkah? Alhamdulillah dimana?"
"Belum tau penempatan nya dimana. Tapi Mas tetep bekerja di bagian perkuean di Holland Bakery sayang gajinya juga lumayan banget kalau udah jadi pegawai tetap."
"Syukurlah Mas. Berapa lama masa percobaan nya Mas?"
"Cuma satu bulan kok. Itu juga dapet gaji nanti."
"Alhamdulillah Mas. Selamat ya."
"Iya sayang terima kasih kamu selalu mendukung ku."
Hanan dan Adel pun saling berpelukan.
#################################
...Hallo Reader yang budiman....
...Mohon dukungannya ya dengan tinggalin jejak kalian setelah membaca novel ini 😁🙏...
...Jangan lupa dong like, komentar, favorit dan vote-nya ya.😊...
...Kalau kalian mau tanya seputar novel ini atau mau berteman bisa langsung follow ig ku @deliss_aa1...
...Terimakasih banyak dukungannya terutama kepada para author yang baik hati selalu memberikan jempol dan komentar nya 😘...