
Hari ini hari ku berjalan seperti biasanya. Aku bekerja dan pulang lalu aku dan Hanan bermain dengan baby Misela. Tapi saat sif malam Hanan tak pernah bisa bertemu dengan baby Misela karna pasti dia sudah tertidur pulas.
Sore ini ada yang berbeda. Aku dibuat terkejut dengan kedatangan Zaki kerumah. Zaki tiba-tiba saja muncul saat aku dan Hanan sedang bermain dengan baby Misela di ruang tamu. Aku lupa kalau Zaki dulu ikut membantu kami pindah rumah jadi dia tau dengan rumah ini.
"Za-Zaki?" Aku menganga melihat Zaki yang memakai kaos navy belang-belang dengan celana coklat selutut dan topi berwarna hitam dipadu tas selempang warna coklat ke emasan itu berdiri tegak di depan pintu rumah ku yang memang kedua sisinya terbuka.
Zaki tersenyum hangat menatap wajah Misela yang kebetulan sedang membuka matanya dan tersenyum-senyum sendiri. Pancaran mata Zaki seolah-olah ingin sekali memeluk dan mencium putrinya itu.
Hanan menghampiri Zaki yang masih di depan pintu dan menutupi pandang Zaki pada Misela.
"Loe mau ngapain kesini hah? Bisa-bisanya loe masih punya muka buat dateng kesini." Hanan berdiri di hadapan Zaki dan menahan nya untuk masuk ke rumah.
"Gue mau ketemu anak gue lah. Apa masalah nya sama loe?" Zaki membusungkan dadanya ke hadapan Hanan dengan tatapan melotot. Aku melihat Zaki yang sangat ingin bertemu dengan Misela.
"Apa loe bilang anak elo? hah jangan mimpi deh! Disini gak ada anak loe. Setelah apa yang loe lakuin sama Adel sekarang loe bilang mau ketemu anak loe?" Hanan menunjuk ke wajah Zaki. "Del bawa masuk Misela. Jangan biarin dia ketemu dengan laki-laki bejat seperti ini. Gue gak akan biarin dia menyentuh Misela." Hanan begitu amarah menatap Zaki.
Aku pun mengikuti apa kata Hanan. Aku memberikan Misela pada Ibu di yang sedang memasak di dapur.
"Ada apa Del?" ibu bertanya karna aku terburu-buru memberikan Misela pada ibu.
"Bu tunggu sini aja ya jangan keluar dulu ada Zaki di depan."
"Apa? Zaki?" Ibu juga ikut terkejut mendengar nama Zaki.
"Ssttt.....!" Ku tempelkan jari ku di mulut ibuku sebagai isyarat untuk Ibu diam dulu.
Aku pun bergegas kembali ke ruang tamu. Melihat Hanan dan Zaki yang saling bertatapan aku mengkhawatirkan kalau terjadi sesuatu di antara mereka.
"Jadi nama anak ku Misela. Namanya bagus sekali." Kata Zaki.
"Tolong pergi Zak. jangan buat keributan disini Zak. Aku mohon. Aku sudah bilang aku belum siap mempertemukan kalian." Perintah ku pada Zaki sembari menatap nya dengan memelas.
"Denger kan loe Adelia juga gak mau liat loe ada disini. Jadi segera lah pergi loe dari sini sebelum gue hancurin muka loe yang busuk itu." Hanan mengancam Zaki tapi Zaki ngotot untuk masuk ke dalam. Tentu saja Hanan pun ngotot untuk menahan.
Ahirnya Zaki mengalah dan pergi menaiki sebuah mobil Pajero milik Papah nya.
Aku lega melihat Zaki berlalu menjauhi rumah ku. Aku menutup sebelum sisi pintu rumah ku.
"Kamu gak papa kan Nan?" Tanya ku setelah kepergian Zaki.
"Engga papa tenang aja. Sekarang dia pergi begitu saja tapi dia pasti bakal balik lagi buat cari Misela." Kata Hanan lalu duduk di kursi. Hanan terlihat gelisah.
"Nan bagaimana kalau kita biarkan Zaki menemui putrinya."
"Kenapa begitu?"
"Nan mereka juga punya ikatan. Zaki Ayah biologis Misela. Aku gak mau Misela kekurangan kasih sayang seorang Ayah Nan."
"Kan ada aku Del. Aku siap sepenuh jadi Papi nya. Akan aku berikan segalanya. Aku akan mengagapnya seperti anak ku sendiri. Aku sangat menyayanginya Del. apakah itu masih kurang untuknya?"
"Aku tau Nan. Aku tau kamu sangat menyayangi putri ku. Tapi tentu saja berbeda Nan. Walau pun kamu memberikan kasih sayang sebesar apapun kamu bukanlah Ayah biologis nya. Kamu tak sedarah dengannya Nan."
Hanan diam. Tapi aku pikir Hanan membenarkan ucapan ku. Selama ini Hanan memang selalu menghabiskan waktunya untuk Misela. Aku yakin dia juga cemburu pada Zaki. Pasti dia berpikir Misela akan dijadikan alat untuk membuat ku kembali padanya.
"Baiklah. Aku juga gak berhak buat melarang dia. Maaf aku terlalu sayang pada Misela." Hanan memegang kedua kepalanya sambil tertunduk.
Aku menghampiri Hanan dan menggenggam tangannya.
"Justru aku sangat berterima kasih kamu mau menyayanginya dengan sepenuh hati. Padahal dia bukanlah anak mu. Aku sangat bersyukur punya seseorang yang sangat berharga seperti mu Nan." Hanan pun tersenyum.
"Terimakasih kamu sudah mau menerima ku." Kata Hanan sendu.
"Terimakasih juga kamu sudah mau menunggu ku." Jawab ku.
"Aku tidak akan lagi melarang Zaki menemui Misela. Asalkan kamu akan tetap menjaga hati mu untuk ku Del." Aku mengiyakan perkataan Hanan.
"Aku sangat tau maksud mu Nan. Aku sudah menerima mu. Dan kamu sudah mendapatkan hati ku. Apa itu masih kurang meyakinkan mu?"
Hanan diam.
Saat ini aku memang sudah sangat nyaman dengan Hanan. Jadi dengan Hanan bertingkah seperti itu bagi ku itu wajar.
*****
Author POV
Satu bulan yang lalu Pak Ibnu jatuh dari kamar mandi yang ahirnya membuat nya koma selama ini. Zaki yang masih libur kuliah di Singapura memutuskan untuk pulang ke Indonesia begitu mendengar kabar Papah sakit. Begitu juga dengan Sinta yang selalu mengekor kemana pun Zaki pergi ahirnya ikut pulang.
Setelah memasuki kawasan rumah sakit Zaki memarkirkan mobilnya. Tapi disana Zaki bertemu dengan Sinta. Zaki yang keluar dari mobil nya langsung di sambut oleh Sinta.
"Ka Zaki loe abis ke rumah Adelia kan?" Tanya Sinta dengan wajah sinis dan kesal.
"Loe ngikutin gue?" Bukannya menjawab Zaki malah kembali bertanya pada Sinta.
"Ya jelas lah gue ngikutin elo Ka. Lagian loe ngindarin gue terus beberapa hari ini. Gue kesepian sendirian tau gak sih. Loe masih ngarepin si Adelia itu Ka? Ka loe harus inget gue yang selama ini ada buat loe Ka." Sinta menggerutu pada Zaki.
"Loe ngikutin gue tapi loe gak tau apa yang terjadi antara gue dan Adel kan?" Zaki melebarkan sisi bibir nya. Dia tersenyum sinis.
"Maksudnya terjadi apa?" Sinta terkejut. Sinta bertanya-tanya pada dirinya sendiri. Apa yang dia lewatkan sampai Zaki berkata seperti itu. Sinta belum tau kalau Zaki dan Adel sudah mempunyai seorang putri.
"Sudahlah gue mau jenguk nyokap gue. Sebaiknya loe pergi aja loe bebas mau ngapain aja tapi jangan ikutin gue." Zaki pun masuk ke dalam rumah sakit dengan langkah tercepat nya. Tapi Sinta tak diam begitu saja. Sinta butuh jawaban. Sinta pun mengejar Zaki.
"Ka jawab gue Ka. Apa yang kalian lakukan?" Sinta mencoba menyeimbangkan jalannya agar tetap sejajar dengan Zaki.
Sayangnya langkah Zaki yang begitu cepat membuat nya segera berada di ruang VVIP tempat Papahnya dirawat.
"Mah." Zaki memanggil Mamahnya yang sedang tidur sambil duduk di samping Papah itu.
"Kamu dateng Nak. Papah mu belum juga bangun hiks hiks...!" Bu Dian bangun dari duduknya dan memeluk Zaki anak semata wayangnya itu.
"Sabar mah kita berdoa yang terbaik buat Papah." Zaki menepuk-nepuk punggung Bu Dian berusaha menenangkan nya karena terus saja menangis.
Bu Dian yang sudah sedikit tenang lalu duduk kembali dan baru menyadari ada kehadiran Sinta di sana.
"Maaf Nak Sinta Tante baru sadar ada kamu disini. Kamu kesini bareng sama Zaki kan?"
"Iya Tan tadi Ka Zaki ngajak Sinta jenguk Oom." Kata Sinta berbohong. Tentu saja Sinta hanya mencari muka dihadapan Bu Dian.
"Baguslah kalian memang harus selalu bersama ya." Bu Dian menepuk lengan Sinta.
"Sin gue mau ngomong berdua dulu loe bisa keluar sekarang?" Kata Zaki mengusir Sinta secara halus.
"Harus ya Ka?" Zaki malah menatap nya dengan sinis. "Sinta keluar dulu ya Tan." Sinta pun dengan terpaksa keluar dari ruangan tempat Pak Ibnu di rawat.
"Jangan terlalu sinis dengan Sinta Nak. Memang nya mau bicara apa sih Nak kayaknya serius banget?" Bu Dian penasaran. Zaki pun mengambil satu kursi dan duduk berhadapan dengan Mamah nya.
"Mah Zaki habis ketemu dengan Adelia." Zaki berkata dengan suara yang lirih.
"Apa?" Bu Dian terkejut.
"Ssttt...jangan terkejut dulu Mah. Zaki belum selesai."
"Kamu tau kan resikonya kalau kamu maksa bertemu dengannya?"
" Iya Mah Zaki tau itu Mah. Tapi Zaki pengen ketemu dengan anak Zaki Mah."
Pernyataan Zaki membuat Bu Dian menutup mulutnya yang menganga terkejut mendengar apa yang dikatakan putranya itu.
"Anak kamu bilang?" Bu Dian sedikit meninggi kan suaranya.
"Sstt... nanti Sinta denger Mah. Iya Zaki punya anak Mah dia cewek namanya Misela."
"Jadi Mamah udah punya cucu Nak?"
Zaki mengangguk bahagia melihat expresi Mamah nya yang juga sangat bahagia.
"Dan Mah pasti Mamah gak percaya anak Zaki sangat mirip dengan Donita saat kecil. Mirip sekali Mah. Itu artinya dia benar-benar putri Zaki."
Bu Dian tiba-tiba meneteskan air matanya.
"Ajak Mamah bertemu dengan cucu Mamah Nak. Mamah sangat ingin melihat nya. Bagaimana bisa dia begitu mirip dengan Donita hiks hiks..." Air mata Bu Dian semakin deras membasahi pipi nya yang mulai keriput itu.
"Iya Mah tunggu saja. Nanti pasti Zaki ajak Mamah bertemu dengannya. Tadi Zaki hanya memastikan saja Mah. Kita akan secepatnya bertemu dengan Misela. Mamah tenang ya jangan nangis lagi. Tunggu sebentar lagi. Tapi Mamah jangan bilang dulu sama Papah ya." Zaki kembali memeluk Bu Dian. Bu Dian hanya mengangguk kan kepalanya.
Suasana di ruangan itu jadi sedikit haru. Zaki memang salah. Zaki menggunakan dendamnya pada Ayah Adek untuk mendekati Adel tapi Zaki sendiri terjebak dalam dendamnya dan berubah menjadi cinta yang sesungguhnya.
*****
...TERIMAKASIH READER ATAS DUKUNGAN NYA. TERUS BANTU AKU DENGAN TINGGALIN LIKE KOMEN DAN VOTE NYA SUPAYA AKU LEBIH SEMANGAT UP NYA 😍...