BROK3N

BROK3N
Bab 81 Kembalinya Hanan



"unda...angun unda…!"


"unda...anguunn…!"


Aku mendengar suara Misela yang sedang menggoyangkan badan ku. Tapi kepala ku masih sedikit pusing. Mata ku masih terasa berat untuk terbuka. Tapi aku memaksa diri untuk membuka mata ku.


Perlahan ku buka mata ku dan masih silau dengan cahaya matahari yang begitu terang masuk dari sela jendela kamar ku. Aku mencoba mengusap kedua mata ku dan membuka nya perlahan.


Aku sedikit terkejut melihat langit-langit dihadapan ku. Langit-langit ini sangat familiar bagi ku. Aku pun menoleh ke arah Misela. Aku sedang terbaring di tempat tidur ku.


"Bagaimana bisa aku berada disini? Bukannya aku sedang ada di pemakaman?"


Ku coba ingat kembali apa yang telah terjadi. Aku sangat ingat jika aku sedang memeluk batu nisan Ibu ku saat hujan begitu deras mengguyur tubuh ku. Aku sangat ingat kalau aku tak berteduh saat dipemakaman Ibu.


"Dan lagi pria itu yang berciuman di pemakaman itu bukankah itu...Tapi laki-laki yang mencium bibirku saat itu aku yakin itu Hanan! Iya dia Hanan aku yakin aku tak mimpi. Aku merasakan betul hangatnya bibir Hanan saat mencium ku." Aku terperanjat.


Aku langsung turun dari tempat tidur ku. Aku berjalan ke ruang tamu. Tak ada satu orang pun disana. Aku pun berjalan ke dapur masih tak ada orang. Ku buka pintu kamar mandi. Juga tak ada seorang pun disana.


"Lalu kenapa aku hanya bersama Misela di rumah ini? Tidak mungkin. Apa semua ini benar-benar hanya mimpi?"


"Ibu… Ibu dimana?" Aku berteriak memanggil-manggil ibu. Tapi tak ada satu orang pun kecuali Misela.


Aku pun kembali ke kamar ku dan mencoba bicara pada putri ku.


"Misela sayang siapa yang bawa bunda pulang ke rumah ini Nak?"


Misela hanya menggeleng. Bagaimana bisa anak yang umurnya belum genap tiga tahun itu mengerti apa yang aku katakan.


"Misela dimana Oma? Misela tau?"


Misela kembali menggelengkan kepalanya.


"Kalau Papi Hanan apa Misela juga gak tau dimana Papi Hanan sekarang?"


"Api Nan au ndong."


(Papi Hanan mau gendong.)


Aku menghela nafas panjang. Percuma aku bertanya pada anak sekecil ini. Aku tak kan menemukan sebuah jawaban yang aku cari.


Aku pun duduk di bibir tempat tidur ku. Ku coba mengingat lagi apa yang telah ku alami. Tapi aku sangat yakin semua itu nyata. Semuanya begitu terasa. Mustahil ini mimpi untuk ku.


"Mustahiiiilllll.....! aacckkk.....!


"Apa Ibu sedang ke pasar? Atau ke warung?Atau ke rumah Bu Romlah? Tapi aku yakin aku menitipkan Misela pada Bu Romlah malam itu tapi kenapa cuma ada aku dan Misela di rumah ini? Atau ada seseorang yang membawa ku pulang dari TPU? terus kenapa baju ku bisa ganti piama begini?."


Aku kebingungan sekarang. Aku ini sedang mimpi atau tidak Tuhan...!


Ku lipat kedua kaki ku dan kupeluk erat dengan kedua tangan ku. Ku tundukkan kepala ku dan menempel di kaki. Aku merenungi kembali. Tapi lagi-lagi aku masih tak percaya ini mimpi atau nyata.


Aku sudah tak bisa menangis. Aku hanya bingung kenapa aku bisa ada di kamar ini. Itu saja sedangkan aku yakin semua yang kulewati itu nyata.


Tibalah dua tangan memelukku dari belakang. Dia ikut memeluk kedua kaki yang ke peluk. Aku terkejut dan mencoba melepas paksa tangan itu lalu berdiri. Dan berjalan menjauhi nya.


Ada seorang pria tanpa dihadapan ku saat ini. Dia tersenyum dan membentangkan kedua tangannya dengan lebar. Mengisyaratkan untuk memeluk nya.


Aku tak percaya dia nyata atau tidak. Tapi aku yang tadi tak bisa menangis tiba-tiba tetesan air bening mengalir di pipi ku. Aku berjalan perlahan. Langkah demi langkah mendekati pria itu dan mendekapnya. Kini tubuh ku mulai berenergi kembali. Pelukan yang aku rindukan kini berhasil ku dapatkan lagi. Hangat nya tubuh ini sangat aku rindukan.


"Hanan apa kau sungguh Hanan? Aku tak sedang bermimpi kan? Jangan bangunkan aku dari mimpi ku jika semua ini hanya mimpi. Aku sangat merindukanmu. Kenapa kamu tidur begitu lama Hanan?"


"Tentu saja ini nyata sayang. Ini aku Hanan. Hanan mu yang kau rindukan. Aku datang untuk menghapus air mata mu sayang. Sudah terlalu banyak air mata yang kau keluar kan. Aku tak akan membuat nya kembali keluar sayang. Maafkan aku jika kedatangan ku terlambat."


Hanan pun merasa tidak ingin melepaskan ku. Tak bisa di pungkiri Hanan juga sangat merindukan ku.


Asep dan Yumna yang melihat ku bisa tersenyum ikut bahagia merasakannya. Ahirnya mereka keluar dari kamar bersama Misela. Aku tak sadar jika mereka sedang menonton adegan kemesraan ini.


Aku tak mempedulikan siapa pun di sekitar ku. Aku hanya ingin Hanan saat ini.


Perlahan Hanan melepaskan pelukannya. Kami duduk di bibir tempat tidur. Hanan menatap ku dan memegang kedua bahu ku.


"Maafkan aku Del. Aku janji tak akan pernah meninggalkan mu lagi sayang. Aku janji akan selalu bersama mu dan Misela putri kita"


Aku hanya mengangguk mengiyakan ucapan Hanan. Hanan pun mendekati bibir ku. Mencium ku dengan lembut. Lalu kembali menatap ku dan tersenyum. Aku memegang tengkuk Hanan dan hendak membalas ciuman nya. Kami pun terbuai menikmati hangatnya ciuman kami.


Setelah rasa rindu yang begitu mendalam kami lepaskan aku pun memulai percakapan dengan Hanan. Banyak pertanyaan yang ingin ku tanyakan padanya.


"Kapan kamu bangun Nan?" Aku mengusap pipi Hanan. Aku ingin memastikan kembali kalau dia memang nyata.


"Aku bangun saat pemakaman Ibu sudah selesai. Ibu ku memberitahu ku kalau Ibu mu meninggal dan baru saja pergi dengan ambulance. Tapi aku belum boleh pergi saat itu. Aku harus menjalani beberapa pemeriksaan dokter. Setelah pemeriksaan selesai aku meminta ijin untuk segera menyusul mu ke TPU. Tapi aku tak langsung di ijinkan pergi karna saat itu sedang hujan deras. Aku begitu khawatir dengan keadaan mu. Aku mencoba menelpon Asep tapi dia sudah pulang dan dia bilang kamu tak mau pulang dari pemakaman ibu mu."


"Jadi kondisi mu saat ini sudah pulih seutuhnya?"


"Dokter bilang semuanya baik-baik saja sayang."


Hanan mengusap kedua pipiku. Lalu kembali mencium ku.


"Kamu benar-benar tak merasa kan rasa sakit sedikit pun?"


"Lihatlah aku begitu sehat kan? Aku siap menjaga mu selama 24 jam. Aku juga siap menikahi mu sayang Aku janji tak akan membiarkan mu meneteskan air mata lagi."


"Hanan. Kenapa kamu malah bercanda." Aku memeluk Hanan. Aku masih tak percaya dengan semua ini.


"Sudahlah semuanya sudah berlalu. Ibu juga sudah tenang bersama Ayah disana. Kamu harus ikhlas dengan semua ini kenyataan ini ya sayang?. Sekarang ada aku yang akan menemani mu. Aku akan segera menikahi mu sesuai dengan janji. Kamu siapkan jadi istri ku?"


"Benarkah? Benarkah kamu aka segera menikahi ku?"


"Tentu saja. Mana bisa aku menjaga mu selama dua puluh empat jam kalau aku tak segera menikahi mu sayang? Bagaimana kalau di grebek warga?"


"Kenapa kamu bercanda lagi?"


"Ini bukan candaan. Hanya ini yang bisa aku lakukan untuk membuat mu bahagia sayang. Kamu harus bahagia. Kata apa yang harus aku ucapkan sekarang jika bukan sebuah candaan dan gurauan?"


"Terima kasih Hanan. Dengan kamu disini aku sudah sangat bahagian. Kamu bangun dari tidur panjang mu untuk ku. Dengan waktu yang sangat tepat Nan. Terima kasih banyak Hanan sudah memeluk ku kembali."


"Untuk apa berterima kasih terus?"


"Pokoknya terima kasih telah kembali dalam hidup ku. Aku hampir saja putus asa Nan. Aku hampir saja meninggal kan Misela jadi anak yatim. Tapi kamu melepaskan keputusaan itu. Terima kasih Hanan. Sekarang aku benar tak perlu bulak-balik ke rumah sakit lagi kan?"


"Kamu bisa juga bercanda sayang? Aku menyayangimu Adelia. Jangan mengucapkan banyak terima kasih ya. Aku akan merasa jadi orang lain untuk mu jika kamu terus menerus mengatakan terima kasih."


"Aku juga sangat menyayangi mu Hanan."


###############################


...Hallo Reader yang budiman. Mohon dukungannya ya dengan tinggalin jejak kalian setelah membaca novel ini 😁🙏...


...Kalau kalian mau tanya seputar novel ini bisa langsung follow ig ku @deliss_aa1...


...Terimakasih banyak dukungannya terutama kepada para author yang baik hati selalu memberikan jempol dan komentar nya 😘...