
"Tidaaaakkkk Hanan… Hanan."
Aku berteriak histeris melihat kejadian itu.
Aku pun berlari menghampiri Hanan. Hanan bersimbah darah dibagian kepala dan kakinya. Tubuhnya tak ada gerakan sama sekali. Matanya pun terpejam.
"Haa-haanan Hanaaaannn tidak Hanan... hiks hiks aku mohon Hanan bertahanlah demi aku." Tubuh ku tiba-tiba kaku. Aku tak berani menyentuh nya. Aku takut semakin membuat nya sakit.
"To-tolong Pak telponkan ambulance." Aku mendongak kan kepala ku mengarah ke bapak yang sedang berdiri disamping ku hendak melihat keadaan Hanan.
Bapak tersebut langsung mengambil ponselnya.
Tak butuh waktu lama ambulance pun tiba. Dengan hati-hati para petugas ambulance itu mengangkat tubuh Hanan lalu menaikkannya ke dalam mobil, aku pun ikut masuk ke dalam mobil ambulance itu.
Suara sirine ini mengingatkan kan ku pada Ayah.
"Kenapa aku harus berada dalam ambulance bersama mu Nan. Aku mohon bertahanlah jangan pernah tinggalin aku. Aku gak mau nasib mu sama dengan Ayah Nan. Bangunlah Nan aku mohon."
Dalam perjalanan terlihat seorang petugas sibuk memeriksa denyut nadi Hanan. Lalu memang infus dan regulator oksigen pada Hanan.
Petugas itu menelpon seseorang untuk menyiapkan ruangan.
"Bagaimana keadaan nya Pak?" Tanya ku pada petugas itu sambil ku genggam dengan erat dan mencium tangan Hanan yang bersimbah darah. Aku sungguh tak sanggup melihatnya begini.
"Keadaannya sangat kritis Mbak. Sepertinya kepalanya terbentur terlalu keras. Karna di bagian telinga keluar darah segar. Saya takut dia gegar otak. Itu akan sangat membahayakan nyawanya. Semoga dia bisa bertahan." Jelas petugas yang sedari tadi memeriksa Hanan. Aku hanya bisa menangis tanpa suara.
"Tuhan tolong selamatkan Hanan. Jangan Kau ambil dia dari ku. Aku mohon Tuhan hiks."
Mobil ambulance pun tiba di rumah sakit. Dengan sigap para petugas itu mendorong brankar menuju UGD.
"Tunggu disini saja ya Mbak biar dokter yang menangani pasien." Seorang perawatan menahan ku untuk ikut masuk dan pintu pun tertutup.
Waktu terus berjalan. Satu jam dua jam tiga jam dokter yang menangani Hanan tak kunjung keluar. Malam semakin larut. Aku ketakutan disini sendirian.
"Aku mohon Tuhan beri aku kabar baik. Aku mohon jangan ambil Hanan."
Ponsel Hanan sedari tadi bergetar. Aku bahkan lupa untuk menghubungi Asep. Secara kebetulan panggilan dari ponsel Hanan adalah Asep.
"Loe dimana sih Nan cepet balik perasaan gue dari tadi gak enak banget udah malem nih."
Deg
Aku harus bilang apa pada Asep.
"Hallo Hanan loe kenapa diem aja sih." Terdengar Asep menekankan suaranya. Ahirnya aku pun mencoba berbicara.
"Ha-halo Asep hik hiks ini aku Adelia."
"Hah? Ka Adel? Hanan mana? Kenapa Ka Adel terdengar seperti sedang menangis?"
"A-A-Asep Hanan Sep Hanan hiksss."
"Iya Ka Hanan kenapa? Ka Adel tenang dulu Ka tarik nafas Ka pelan-pelan iya cerita kan Hanan kemana Ka?"
"Hanan kecelakaan Sep hikss…"
"Apa? Sekarang Ka Adel dimana?"
"Aku di rumah sakit Mulya Indah Sep."
"Oke Ka Adel tunggu disitu. Ka Adel tenang ya Asep akan segera ke situ."
Tut
Tut
Aku hanya bisa terisak disini. Aku tak bisa berbuat apapun selain menangis. Bahkan melihat kondisi Hanan sekarang seperti apa aku tak bisa. Hati ku gelisah tak menentu.
Asep pun datang. Nafasnya terengah-engah karna berlarian.
"Ka Adel?" Asep berdiri di depan ku dan aku langsung memeluknya.
"Tenang Ka tenang Hanan pasti kuat. Ayo duduk cerita kan apa yang terjadi? Kenapa Hanan bisa kecelakaan?"
"Tadi Hanan beli nasi goreng. Saat menyeberang jalan Hanan gak liat kanan kiri dan hiks dan Hanan tertabrak hiks…!"
"Sudah Ka kita tunggu dokter ya Kaka jangan menangis."
Asep menghapus air mata ku lalu kembali memeluk ku. Aku tau Asep sedih melihat keadaan ku. Aku merasa Asep masih menyimpan perasaan suka pada ku. Itu kenapa dia sangat lembut pada ku.
Dokter pun keluar dari ruang UGD dengan raut wajah aneh.
"Dokter bagaimana keadaan Hanan?" Tanya ku pada dokter yang menangani Hanan tadi.
"Maaf mbak mas kami sudah berusaha semaksimal mungkin tapi takdir berkata lain, pasien telah meninggal. Kami turut berduka cita."
Bagai di sambar petir. Hati ku sangat hancur berkeping-keping mencerna tiap kata yang keluar dari mulut dokter itu. Tubuh ku seperti tak bertulang lagi. Lemas tak berdaya di lantai. Aku ingin menjerit tapi tak bisa. Aku bahkan tak kan sanggup melihat mayat Hanan.
"Ka Adel ayo kita lihat Hanan." Hanan memegang kedua bahu ku hendak membantu ku bangun.
"Aku gak akan bisa sanggup melihatnya Sep."
Aku menggeleng kan kepala ku beberapa kali. Aku gak akan sanggup. Gak mungkin kenapa kejadian yang sama terulang.
Aku pun mencoba bangun dari duduk ku. Asep mencoba memapah ku masuk ke ruang di mana Hanan sudah tak bernyawa lagi. Sedangkan para dokter dan perawat itu terlihat menyesal karna tak bisa menyelamatkan Hanan.
Aku memberanikan diri untuk melihat Hanan yang sedang terbaring dan masih terpasang EKG di dadanya.
Aku pun tertatih melangkah mendekati tubuh Hanan.
"Nan, bukankah kamu berjanji akan menikahi ku secepat mungkin? Tapi kenapa kamu masih tidur disini. Misela pasti menunggu mu juga dirumah Nan. Ayo bangun Nan kita pulang sekarang kamu harus menepati janji mu Nan. Jangan tinggalin aku Nan aku mohon bangun, bangun Nan. Aku mohooonn Nan bangun nikahi aku Nan nikahi aku."
Ku peluk tubuh Hanan. Tapi tak ada respon. Ku goyangkan tubuhnya tetap tak ada respon.
"Hanan. Bangun Hanan… bangun Nan."
Aku pun pingsan.
"Ka Adel…!" Asep menahan tubuhku yang akan jatuh di lantai. "Tolong Dok!"
Asep pun membaringkan tubuh ku di brankar yang ada di sebelah Hanan.
Dokter pun memeriksa ku.
"Mbak nya seperti nya belum makan. Terlebih lagi dia syok." Kata dokter itu.
Tiba-tiba EKG Hanan berbunyi. Seorang perawat memeriksa denyut nadi dan jantungnya.
"Dok denyut jantung pasien kembali." Kata seorang suster.
Dokter pun bertindak secepatnya memeriksa semua kondisi Hanan. Dokter pun memasang kembali regulator oksigen pada Hanan. Lalu menghela nafas.
"Pasien telah melewati masa kritis. Tapi pasien harus melakukan pemeriksaan lebih lanjut di bagian kepalanya. Pasien akan kami pindah ke ruang ICU."
"Baik Dok lakukan yang terbaik untuk Hanan."
"Saya permisi dulu."
Dokter itu pun pergi. Dan seorang perawat menghampiri Asep.
"Silahkan ke bagian resepsionis untuk mengurus administrasi nya." Kata seorang suster lalu membawa brankar milik Hanan untuk di pindahkan ke ruang ICU.
Asep mencoba untuk membangun kan ku. Mengusap-usap telapak tangan ku dengan lembut. Asep terlihat sedih melihat kondisi ku.
"Ka Adel bangun Ka."
Aku tersadar dari pingsan ku. Aku mencoba memfokuskan pandangan ku dan menoleh ke arah Hanan. Aku terkejut karna Hanan dan ada di ruangan itu.
"Hanan dimana Sep? Jangan bilang di kamar mayat hiks hiks…"
"Tenang Ka, Hanan baik-baik saja Hanan kembali Ka dia dipindahkan ke ruang ICU."
"Kami gak mencoba menghibur ku kan Sep?"
"Engga Ka. Untuk apa aku berbohong. Hanan benar-benar melewati masa-masa kritisnya. Kita tinggal tunggu dia siuman."
Ahirnya aku bisa tersenyum mendengar kabar dari Hanan. Aku menghela nafas panjang. Ku hapus air mataku. Aku hendak bangun dari tidur ku tapi Asep menahan nya.
"Ka tunggu disini dulu. Kaka istirahat dulu ya. Asep mau ke bagian administrasi. Kaka juga masih lemas. Sekalian nanti aku carikan Kaka makan."
"Aku gak lapar Sep aku cuma mau lihat Hanan."
"Ka bagaimana Kaka bisa kuat berjalan melihat Hanan nanti kalau Kaka gak punya tenaga begini. Tunggu saja disini. Jangan bandel okey."
Aku pun hanya mengangguk kan kepala menuruti perkataan Asep.
"Tapi Sep apa kamu udah bilang sama Pak RT dan ibunya Hanan?"
"Udah Ka."
"Terus mereka akan kesini?"
"Belum Ka, nenek Asep juga baru saja meninggal sore tadi."
"Innalillahi."
"Tante Selly gak berani ke Jakarta sendiri, sedang Bapak harus mengurus pemakaman nenek dulu. Makanya aku tadi terus menelpon Hanan Ka."
"Maaf ya Sep semua gara-gara aku. Andai aku tak minta nasi goreng pasti Hanan gak akan begini."
Asep menggenggam tangan ku.
"Ka ini takdir. Jangan menyalahkan diri sendiri. Istirahat lah Ka Asep tinggal dulu ya."
"Heem."
Asep pun keluar.
###############################
...Hallo Reader yang budiman. Mohon dukungannya ya dengan tinggalin jejak kalian setelah membaca novel ini 😁🙏...
...Kalau kalian mau tanya seputar novel ini bisa langsung follow ig ku @deliss_aa1...
...Terimakasih banyak dukungannya terutama kepada para author yang baik hati selalu memberikan jempol dan komentar nya 😘...