BROK3N

BROK3N
16. Pindahan



Ini adalah hari penenangan. Seminggu lagi Ujian Nasional dan entah apa yang akan aku lakukan kedepannya. Ataukah lanjut kuliah ataukah kerja. Kuliah juga siapa yang akan membiayai. Daftar beasiswa adanya di kota dan harus meninggalkan Ibu.


Mata ku masih saja enggan terbuka. Aku ingin menikmati masa libur ku. Apalagi tamu bulanan belum pulang juga. Barang yang akan di angkut nanti juga udah siap semua sejak tadi malam. Mobil buat ngangkut barang juga masih nanti sore datangnya jadi sebaiknya aku lanjutkan saja tidurnya.


"Adel.... ayo sarapan."


Suara Ibu memanggil ku mengajak sarapan tapi aku masih malas untuk bangun pukul 7 am.


"Adelia masih ngantuk Bu. Nanti aja direkap makan siang sarapannya." teriak ku pada ibu yang sedang menunggu ku dibalik pintu kamar yang masih terkunci.


"Ya udah Ibu mau ke rumah pak RT dulu ya mau pamit."


'Tunggu, itu artinya aku dirumah sendiri dan...'


"Ibu....." ceklek... ku buka pintu kamar ku. kupeluk Ibu dari belakang. "Adel ikut aja Adel gak mau sendiri dirumah." Rajuk ku.


"Makanya cepet mandi sana, dandan terus sarapan baru kita ke rumah Pak RT."


Aku hanya menganggukan kepala ku dan masih memeluk Ibu. ibu melepaskan tangan ku lalu mencubit pipi ku.


"Aduhh Ibu sakit tau." Manja ku pada Ibu sambil memegang pipi yang habis dicubit Ibu.


"Cepet sana mandi." Ibu mencolek pinggang ku. Aku hanya tersenyum. "Cepet sanaaaa...." Lalu Ibu mendorong badan ku masuk lagi ke kamar dan menutup pintu.


kling kling kling


Suara handphone ku. Aku buru-buru berlari menghampirinya.


"Pasti dari Zaki."


Sesaat ku tatap layar ponsel ku dan membaca isi pesan WhatsApp.


//Pacar ku yang cantik udah bangun belum?//


Benar saja ini pesan dari Zaki. Aku langsung buru-buru membalasnya.


//Udah dong ini mau mandi. Mau ikut Ibu ke Pak RT mau pamit katanya.//


Ku tinggalkan handphone ku setelah membalas pesan Zaki lalu mandi. Sudah 3 hari berlalu sejak kami memutuskan untuk pacaran. Zaki orang yang sangat baik. Dia sopan bahkan enggan untuk memegang tangan ku. Aku juga memintanya untuk tidak melakukan hal yang tak sewajarnya seperti layaknya orang mes*m.


Aku tak tau mungkin ini karna masih baru pacaran atau gimana. Tapi aku hanya berharap tak ada laki-laki yang menyakiti ku lagi.


***


"Assalamu'alaikum." Ada yang mengucapkan salam di depan rumah.


"Wa'alaikumsalam." Jawab ibu yang kebetulan sedang diruang tamu membereskan barang-barang. Sedangkan aku masih dikamar.


"Eh Nak, kamu yang nolong Adel waktu itu kan?" Tanya Ibu dengan wajah sumringah menatap Zaki.


"Iya Tante." Jawab Zaki.


"Ayo masuk. Mau cari Adelia ya? Dia masih dikamar tunggu sebentar ya duduk dulu Tante buatkan minum."


"Gak perlu Tante. Bukannya Tante mau pindahan ya?" Kata Zaki mencegah Ibu membuat minuman. Dia bukan tipe orang yang suka dengan minuman sembarangan. Zaki hanya minum air mineral dan jus buah saja. Itu juga tak semua buah Dia suka.


"Kok kamu tau?" Tanya ibu heran.


"emh ini kan barangnya pada di kardusin." Sambil menunjuk ke arah tumpukan kardus di hadapan nya.


"oiya Tante lupa." Ibu tersenyum-senyum.


Aku yang penasaran mendengar suara obrolan langsung keluar kamar dan turun.


"Zaki? Kok kamu kesini gak bilang-bilang dulu." Kata ku menyapa Zaki yang memang tanpa memberitahu ku dia datang ke rumah begitu saja. Sambil menuruni tangga tatapan ku tak lepas dari Zaki.


"Tadinya mau dari pagi tapi katanya kamu ke Pak RT jadi aku dateng sekarang." Zaki tersenyum sambil menggaruk kepalanya yang gak gatel.


"Oh ini yang namanya Nak Zaki?" Ibu menyela dan baru sadar kalau itu adalah Zaki orang yang sering aku sebut namanya tanpa Ibu tau wajahnya.


"Wah kamu tampan ya?" Kata ibu memuji Zaki.


uhukk uhukk ehemm....


Aku langsung tersedak mendengar pertanyaan Ibu pada Zaki. Ibu langsung menghampiri ku.


"Adel kamu minumnya pelan-pelan dong." Tangan ibu menepuk-nepuk punggungku.


"Lagian Ibu ni pertanyaan bikin Adel malu." Bisik ku di telinga Ibu. Ibu hanya tersenyum mendengar perkataan ku. Aku kembali membuka kulkas dan mengambil satu air mineral untuk Zaki.


"Assalamu'alaikum." Ada seseorang didepan mengucapkan salam.


"Wa'alaikumsalam." Jawab kami bersama.


"Mungkin mobil yang ngangkut barang udah Dateng Bu." Kata ku.


"Oh iya coba Ibu lihat dulu." Ibu berjalan ke depan rumah.


Benar saja ada dua orang laki-laki dengan usia sekitar 30-an berdiri di depan pintu.


"Oh silahkan masuk." Ibu mempersilahkan mereka berdua masuk. "Ini semua tolong di angkat ya. Adel barang mu yang kecil-kecil bawa turun sendiri ya nanti yang besar biar di bantu sama Mas nya."


"Boleh saya bantu Tan?" Zaki menawarkan diri.


"Tentu boleh. Kamu bantu Adelia bawa barangnya di atas ya." Kata Ibu.


"Iya Tan." Zaki segera menyusul ku ke atas.


tok


tok


Zaki mengetuk pintu sebelum masuk kamar.


"Kamu mau bantuin?" Goda ku pada Zaki.


"engga jadi deh." Zaki membalas.


"Oh jadi gitu ya udah." Jawab ku ngambek.


"Gitu aja cemberut nona manis ku." Rayu Zaki.


Aku tak membalas perkataan nya. Aku hanya tersenyum-senyum mendengar kata nona manis. Kami pun menurun kan barang satu persatu.


Hampir 2 jam waktu yang dibutuhkan untuk menaikan semua barang kami ke sebuah mobil Truk berukuran besar dan sebuah mobil pickup. Kata Ibu jaraknya lumayan jauh. Bahkan aku sekolah harus naik Bus. Aku tak apa karna sekolah ku hanya tinggal sebentar lagi.


Ahirnya semua barang sudah beres. Ibu mengunci pintu dan memasukan kunci ke dalam tasnya. Nanti akan diberikan kepada pak Rudi. Katanya kita akan bertemu di rumah baru nanti.


"Nak Zaki apa mau ikut kami ke rumah baru kami?" Tanya ibu pada Zaki.


"Tentu saja Bu kalau boleh." kata Zaki.


"Bolehlah. ayo naik ke mobil yang kecil itu kalian di belakang ya masih ada tempat sedikit untuk duduk. Ibu di depan sama supir." Kata Ibu mengatur.


"Iya Bu." Jawab ku dan Zaki kompak.


Ibu kembali tersenyum mendengar jawaban ku dan Zaki lalu berbalik badan dan naik ke mobil. Aku dan Zaki duduk di belakang sambil berhadapan karna memang tempatnya sempit tak bisa duduk sejajar.


Lama perjalanan kami sekitar 40 menit dan waktu sudah menunjukan sun set yang indah. Kami semua turun dari mobil. Memandang sebuah rumah kecil hanya ukuran 6x8 M. Aku belum fokus dengan rumahnya. Aku masih sibuk menatap matahari yang yang hampir terbenam. Ku lihat di sekeliling masih banyak pohon besar yang rindang. Suasana begitu asri. Rumahnya pun tak begitu padat. Masih berbau pedesaan.


"Adel ayo masuk kita lihat rumahnya." Ajak ibu.


Aku pun berbalik dan menatap Zaki tepat dibelakang ku. Rupanya dia sedari tadi melihat ku yang begitu menikmati pemandangan disini. Zaki hanya tersenyum. Zaki menggeleng kan kepalanya tanda menyuruhku masuk rumah. Aku hanya mengangkat jempol ku dan berjalan mengikuti Ibu untuk masuk dan melihat keadaan di dalam.


*****


...Terimakasih sekali yang setia membaca novel ini 🙏...


...Mohon untuk selalu meninggalkan jejak like, komen dan vote sebagai dukungan Author 😘...


..................