
Hanan melajukan motornya dengan kecepatan sangat pelan. Sekitar 20/km. Mungkin dia sedang memikirkan sesuatu. Aku tak tau apa yang sedang dia pikirkan, mungkin tentang kejadian tadi.
Tapi yang jelas dia pasti sangat bersedih sekarang. Bagaimana pun kami membutuhkan restu dari mereka saat ini. Walau orang tua Hanan tadi menyakiti hati ku aku yakin hati Hanan lah yang lebih sakit saat ini. Aku tak mau ambil pusing dan tak mau terlalu memikirkan hal semacam itu.
Ku lingkar kan kedua tangan ku di perut Hanan dan menyandarkan kepala ku di punggung Hanan. Aku mencoba membuat pikiran sedikit lebih tenang. Hanan pun membalasnya pelukan ku dengan mengusap tangan ku yang ada diperut Hanan.
"Sudah seperti adegan di FTV ini mah."
Lama aku memeluk Hanan dan Hanan juga masih memegang tangan ku dan menyetir dengan satu tangan. Aku merasakan Hanan menarik nafas dalam. Sepertinya mau mengatakan sesuatu.
"Jangan terlalu di ambil hati ya ucapan Bapak ku tadi? Bapak emang orangnya keras kepala. Dia sering berteriak begitu pada ku waktu aku masih kecil." Aku hanya mengangguk-angguk dengan kepala masih di punggung Hanan.
"Mungkin Bapak lagi banyak kerjaan atau lagi banyak pikiran jadi bilang yang enggak-enggak kayak tadi. Maaf ya kalau kamu tersinggung. Tolong jangan marah sama Bapak. Apapun kesalahan Bapak tolong maafkan ya. Kamu bisa kan?"
"Iya. Aku engga marah kok. Udah jalan aja fokus ke depan jangan banyak bicara."
"Iya makasih ya Del."
"Iya tapi apa gak bahaya kamu nyetir tangan satu gitu? Biarlah aku saja yang memeluk mu supaya kamu lebih tenang Nan."
Hanan pun melepaskan tangannya dari tangan ku dan fokus dengan pandangan nya ke depan.
Tapi ada yang salah dengan perkataan Hanan tadi. Kenapa dia mengatakan apapun kesalahan Bapak nya. Bukankah aku baru saja bertemu dengan banyaknya. Atau ada sesuatu yang Hanan belum ceritakan kepada ku. Mungkin iya. Kalau tidak gak mungkin kan aku yang baru bertemu dengannya tapi sudah dapat makian seperti itu. Belum lagi Hanan malah dikatain anak pembangkang. Bukannya Hanan sangat baik.
Aku masih dalam lamunanku memikirkan ucapan Hanan tadi.
Semakin aku memikirkan ucapan Hanan semakin membuat kepalaku makin pusing. Ahirnya ku putuskan untuk tak terlarut dalam ucapan Hanan.
Hanan pun berhenti di sebuah taman hiburan. Sepertinya taman hiburan musiman. Tapi sangat ramai pengunjung. Aku yang sedari tadi menikmati bau tubuh Hanan beranjak dari duduk ku dan turun dari motor. Aku masih celingukan menatap indahnya pemandangan disini.
"Mau ngapain kita kesini Nan?" Tanya ku pada Hanan yang belum turun dari motor. Dia masih menatap lurus ke arah taman hiburan di depan kami. Sepertinya hati Hanan masih gelisah hingga ia terlihat beberapa kali melamun.
"Sebenernya apa yang sedang kamu pikirkan Nan seperti nya ada yang sangat menggangu pikiran mu saat ini sampai-sampai kamu melamun terus."
"Entah lah. Mau coba masuk siapa tau asik kan?"
"Kok gitu."
"Ya siapa tau permainan disini bisa menghibur kita kan? Lagian banyak pengunjung pasti menyenangkan. Aku juga udah lama gak main-main sibuk kerja terus kan sama kamu hehe." Dia pun segera memarkirkan motornya. "Ayo masuk takut kehabisan tiketnya." Ajak Hanan. "Eh tunggu sini aja aku beli tiket masuknya dulu antriannya panjang banget tuh nanti kamu capek berdiri." Hanan mendudukkan ku di sebuah kursi yang tak jauh dari antrian.
"Iya hati-hati ya."
"Cuma disitu lo kan kamu bisa liat."
"Ya gak ada salahnya kan hati-hati."
"Iya iya cantik." Hanan mencubit sebelah pipi ku dan berlalu menuju antrian tiket.
Aku pun kembali celingukan memandangi setiap sudut ruang taman hiburan itu. Disini nyaman dan tempatnya bagus. Tempatnya juga tak begitu jorok walau kelihatanya ini hanya taman hiburan musiman. Biasanya yang seperti itu banyak sampah berserakan.
Kalau dipikir aku juga sudah sangat lama sekali gak ketempat seperti ini. Terakhir waktu kelulusan SD itu juga Ayah harus ambil cuti dengan terpaksa karna sibuk kerja terus. Itulah saat terakhir aku menikmati wahana-wahana di taman hiburan.
"Tiba-tiba jadi kangen sama Ayah."
Hanan pun sudah mendapatkan tiket masuknya. Kami pun berjalan masuk menelusuri setiap wahana. Aku dan Hanan mencoba beberapa wahana disana. Kami tertawa bersama menghibur diri dan mencoba melupakan kejadian tadi. Aku melihat tawa Hanan yang begitu lepas. Di tampan dengan rambut belah tengahnya. Aku tak pernah menatap nya begitu dalam. Aku baru sadar laki-laki di depan ku ini sedang berjuang untuk ku.
Aku yakin aku bisa mencintai nya kelak. Ketulusan Hanan akan membuat hati ku meleleh pastinya.
Aku hanya bisa berdoa yang terbaik untuk hubungan kita.
Kami hampir mencoba semua wahana disini.
"Aduh capek banget nih." Keluh ku pada Hanan.
"Em mau es krim?" Tanya Hanan.
"Ihh mau banget yang rasa macha atau green tea ya. Pasti seger."
"Okey tunggu sini aku cari es krim nya dulu."
Hanan pun pergi.
Aku melihat-lihat sekeliling banyak sekali pasangan yang sedang berkencan disana. Tak sedikit juga anak-anak dengan kedua orang tuannya. Begitu bahagia melihat kebersamaan mereka.
Jauh dari kerumunan disana ada sosok yang aku kenal. Ku perjelas penglihatan ku dan tak percaya dengan apa yang aku lihat.
"Bukankah itu Sinta? Tapi dia bukan dengan Zaki. Dia sedang saling menyuapi makanan. Pria itu sepertinya jauh lebih tua dari kami. Apakah mungkin Sinta selingkuh dari Zaki? Ahh bukan urusan ku."
"Hei lihat apa sih kok serius banget." Hanan mengagetkan ku dan memberikan sebuah es krim berwarna hijau dengan rasa macha.
"Engga kok cuma liat disini tempatnya enak rame terus banyak yang bikin bucin haha."
"Mau aku buat bucin gak?"
"Paan sih ayo jalan lagi. em ke arah sana yuk."
Kami berjalan menuju wahana kincir angin.
"Kayaknya seru deh naik itu kita bisa liat semuanya disini dari atas sana Nan?"
"Mau coba?"
"Boleh tapi aku abisin dulu es krim nya takut jatuh heeee."
"Aku mau coba dong rasa es krim kamu." Hanan meraih tangan ku yang sedang memegang es krim lalu mengarahkan pada mulutnya. "Emh enak juga ternyata. Kamu mau coba punya ku?" Hanan mengulurkan tangannya dan mendekatkan es krimnya pada ku.
"aaakkk...?"
aku pun membuka mulut ku.
"Gimana kamu suka?"
"Punya mu gak enak, masih enakan punya ku."
"ini enak kok rasa terfavorit aku. Kamu harus inget ya?"
"Kenapa harus di inget?"
"Siapa tau kamu mau traktir aku es krim kan?"
Setelah es krim ku habis aku dan Hanan menaiki wahana kincir angin. Aku melihat semuanya di sekeliling. Tapi ada pemandangan yang tak mengenakan yang aku lihat dari atas sana. Aku melihat Sinta sedang berciuman bibir dengan laki-laki yang bersamaan nya tadi.
"Nan! Lihat deh ke bawah sana."
"Em. Kemana?"
"Itu loh masak kamu gak liat sih cewek baju merah dan cowok kemeja salur itu loh. Liat itu Sinta kan? Bukannya dia sama Zaki sudah tunangan. Tapi mereka kok sedang begituan sih."
"Hah? Sudahlah biarkan saja bukan urusan kita. Pura-pura aja gak tau. Kamu masih peduli aja sih sama Zaki. Aku kan jadi cemburu."
"Hahaha Iya iya maaf. Kan bukan begitu maksudnya. Aku kan cuma ngasih tau aja."
"Aku ngambek aja deh."
"idih kayak anak kecil aja ngambekan."
"biarin aja abis kamu buat aku cemburu gitu."
"Hahaha kamu lucu banget sih Nan."
Hanan pun kembali tersenyum melihat ku yang sedang tertawa terbahak-bahak.
Setelah melewati lima putaran kami pun turun. Jam makan siang sudah lewat tapi aku belum merasa lapar.
"Mau keliling lagi gak?"
"Udah yuk pulang aja aku capek nih. Kaki ku pegel banget deh."
"Mau aku pijitin dulu? Yuk duduk disana."
"Ihh jangan ah gak enak di liat sama orang."
"Ya gak papa kan biar lebih enakan jalannya."
"Udah gak papa ayo kita pulang aja."
"Siap Ratu ku."
Kami berjalan menuju parkiran motor kami. Tak disangka kami bertemu dengan Sinta dan laki-laki yang bersamaan nya tadi.
"Eh ada pasangan baru ya. Kalian memang sangat serasi sekali." Kata Sinta menyapa kami.
"Bukannya loe yang pasangan baru. Kalian juga terlihat sangat serasi. Kapan kawinnya?" Hanan malah meledek Sinta.
"Masa sih haha. Kalau gue kawin gue bakal undang kalian kok tenang aja. Eh ya udah ya gue jalan dulu panas banget nih daahhh." Sinta pun masuk ke dalam mobil mewah merek BMW.
"Sudah biarkan saja jangan di bawa pusing." Kata Hanan sambil menghidupkan motornya. "Mau makan siang apa nih?"
"Terserah deh."
"Nasi padang?"
"Gak selera!"
"Em sate mau?"
"Males makan daging."
"Terus apa dong?"
"Ya terserah kamu Nan."
"Emang ya cewek tuh ribet."
"Ribet gimana?"
"Ya itu tadi."
"Apa sih?"
"Udah ayo naik."
"Jadinya makan apa?"
"Terserah."
"Ihh kamu kok gitu sih."
"Udah buruan naik."
"Iya iya."
Hanan pun menghidupkan mesin motor. Aku tak bertanya lagi kemana kita akan makan. Tapi tak lama Hanan menghentikan motornya depan tukang mie ayam bakso.
"Makan ini?" Tanya ku.
"Kan terserah." Jawab Hanan
"Tapi kan aku belum iyain mau gak makan bakso."
"Kan tadi katanya terserah."
"Iihh kamu terserah mulu ah." Aku mencubit pinggang Hanan.
"Aw udah ayo makan bakso disini enak baksonya."
"Serius?"
"Iya ayo cobain."
Ahirnya kami makan siang dengan bakso. Setelah itu kami pulang.
*****
...TERIMAKASIH READER ATAS DUKUNGAN NYA. TERUS BANTU AKU DENGAN TINGGALIN LIKE KOMEN DAN VOTE NYA SUPAYA AKU LEBIH SEMANGAT UP NYA 😍...