BROK3N

BROK3N
24. Semakin Dekat



Ku buka gorden jendela kamarku. Kulihat jam dinding ternyata sudah pukul 5.45 tapi Matahari belum terlihat sinar hangatnya. Itu pasti karna awan hitam yang menyelimutinya. Aku bahkan ragu untuk jalan pagi tapi demi kesehatan dan menjaga berat badan aku harus melakukannya.


Ku buka lemari baju ku. Berganti pakaian dari piama ke celana training hitam dan kaos merah panjang polos. Ku ikat kucir kuda rambut ku lalu memakai bando merah supaya saat berkeringat rambut ku tak mengusik mata. Tak lupa sepatu sneaker hitam ku ikat talinya dengan kokoh supaya tak mudah lepas.


Sebelum ku langkahkan kaki keluar kamar aku mengambil handphone terlebih dahulu untuk memastikan ada pesan dari Zaki atau tidak. Tapi nyatanya zonk. Ahirnya ku mengirimkan pesan terlebih dulu.


//Zak, apa kamu baik-baik saja? Seharian kemarin tak ada kabar aku menunggu pesan mu. Aku mau lari pagi dulu tolong hubungi aku jangan buat aku khawatir.//


Setelah selesai mengetik ku letakkan handphone ku di kasur lalu keluar kamar.


"Eh Ibu dikira Adel belum bangun ya?" Ternyata Ibu ku sudah didepan pintu kamar. "Bu Adel lari pagi dulu ya."


"Tapi cuacanya kayaknya gak bagus Del."


"Gak papa Bu biar kenal sama tetangga juga kan hmm."


"Iya udah hati-hati ya."


"Okey."


Ku buka pintu rumah ku. Masih remang-remang pandangan ku tapi tak membuat ku tak mengenali sosok yang sudah berdiri di depan pintu. Dengan setelan serba putih dan sepatu olahraga nya dia membelakangi pintu rumah ku.


"Hanan? Kamu udah lama disini?"


"Del kamu nih cewek bangunnya siang amat sih aku sampe pegel nungguin kamu."


Wajah Hanan memang terlihat agak bete.


"Kenapa kamu gak ketuk pintu atau ketuk jendela kamar ku itu."


"Ya aku gak enak hehe."


"Terus ngapain kamu sepagi ini nungguin aku?"


"Ya mau ngajak lari pagilah masak pagi-pagi buta mau ngajak kecan."


"Hah?"


"Udah ayo jalan kesiangan tar."


Akhirnya kami berlari bersama.


"Si Asep kok gak ikut?"


"Masih ngorok dia dibangunin gak bersuara ya aku tinggalin."


"Jahat banget kamu."


"Emang."


"Hah?"


"Del walau aku jahat atau keluarga ku jahat apa kamu masih mau berlari bersama kayak gini?"


"Maksudnya?"


"Ya siapa tau aja suatu saat nanti aku jahatin kamu apa kamu mau maafin aku?" Pertanyaan Hanan sedari tadi terasa aneh. "Del sejujurnya aku seneng Lo bisa ketemu kamu disini padahal tadinya aku kesini cuma karna kesel sama orang tua ku. Eh ketemu kamu." Ahirnya ku hentikan langkah kaki ku.


"Kamu kenapa sih Nan? Emang kamu punya niat jahat sama aku? Atau salah minum obat? Kok dari tadi ngelantur gak jelas sih? Atau jangan-jangan kamu lagi sakit parah? Coba sini jidat mu!" Ku pegang kepala Hanan tapi gak merasakan hawa panas. "Gak panas sih." Hanan tersenyum tapi raut wajahnya menandakan dia sedang sedih.


"Kamu doain aku sakit sih." Hanan menepis tangan ku yang masih memegang kepalanya.


"Lagian kamu ngaco gitu."


"Ya kali aja kan namanya orang bisa hilaf."


"Jangan ngadi-ngadi."


"Haloo semuanya." Asep tiba-tiba muncul dari arah belakang kami yang ahirnya menghentikan pembicaraan kami yang belum selesai. "Tega banget sih nemuin Ka Adel gak ajak-ajak." Asep merangkul bahu Hanan dan Wajah Asep sedikit kesal tapi tetap terlihat cool.


"Pala loe mau gangguin gue." Hanan menyikut pinggang Asep.


"Aduhh... Ka Adel tolong dong. Aku teraniaya." Asep berlindung di belakang badan ku.


"Ya elah dasar manja. Sini gue timpuk pala loe." Hanan mengangkat tangan kanannya bersiap untuk memukul Asep tapi ku hentikan pertengkaran mereka karna aku masih mau menikmati udara dingin pagi ini.


"Sudah-sudah ayo lari." Aku pun berlari mendahului mereka.


Tak ada gurauan antara Hanan dan Asep. Akhirnya ku putuskan membuka suara.


"Ah hujan memecahkan masa-masa indah ku." Gerutu Asep.


"Indah dari hongkong gara-gara loe nih jadi hujan." Kata Hanan mengumpat.


"Nah hujan yang ngatur Tuhan kok jadi gue yang disalahin.?" Protes Asep.


"Iya karna loe terlalu bawel jadi cowok." Sambung Hanan.


"Dari pada loe pengecut." Balas Asep.


"Ape loe sekate-kate." Hanan siap baku hantam dengan Asep dan aku lagi yang menengahi mereka.


"Aduh kalian nih apaan sih bocil banget deh sumpah. Berisik udah stop diem okey." Aku mulai kesal dengan tingkah mereka tapi mereka sangat menghibur ku. Aku memang kesal tapi aku sedang menahan tawa. Selama ini aku menutup mata untuk tidak terlalu banyak bergaul. Aku hanya fokus belajar dan belajar. Sepertinya akan asyik jika punya banyak teman.


"Gara-gara loe." Sambung Hanan masih melanjutkan.


"Enak aja, loe tu." Ujar Asep.


"Udah ya please." Ku hentakan kaki ku dan akhirnya membuat mereka terdiam menatap lurus hujan yang semakin deras mengguyur tanah.


"Gimana nih makin deres aja Ibu pasti khawatir."


"Udah kan nanti aku anterin pulang." Kata Asep.


"Enak aja gue yang jemput dia tadi." Protes Hanan.


"Situ oke?" ledek Asep.


"Mulai kan mulai." Ku lipat kedua tangan ku di dada.


"Sia*." Umpat Hanan lirih.


"Wekkk...." Ledek Asep sambil menjulurkan lidahnya.


Aku hanya bisa memutarkan kedua bola mataku melihat tingkah mereka.


'enak punya sodara ada teman bertengkar dan bercanda. Andai adik ku hidup.'


***


Zaki bangun kesiangan. Pikirannya yang kacau membuat dia susah untuk tidur semalam. Zaki yang melihat jam dinding sudah pukul 7 am kaget kenapa Mamah tak membangunkan nya.


Zaki bergegas ke kamar mandi.


Usai mandi dan berpakaian Zaki teringat kembali akan sosok Adelia.


tok


tok


tok


"Den, Sudah ditunggu sama tuan dan nyonya dibawah." Kata Bi Manah salah satu ART di rumah Zaki


"Iya Bi bentar lagi."


"Baik Den."


Sebelum turun Zaki membuka handphone nya. Dia sungguh terkejut melihat pesan dari Adelia.


//Zak, apa kamu baik-baik saja? Seharian kemarin tak ada kabar aku menunggu pesan mu. Aku mau lari pagi dulu tolong hubungi aku jangan buat aku khawatir.//


//Maafkan aku Del, sejak kemarin aku gak enak badan. Aku baru mau sarapan dan nanti mau ke rumah mu. Tunggu aku ya. Aku merindukan mu.//


Zaki pun menuruni anak tangga dengan tatapan penuh tanda tanya pada Papahnya. Tapi ada yang sedang tersenyum hangat tak sabar menunggu kehadiran nya. Tentu saja itu Mamah Zaki. Bu Dian khawatir karna semalam Zaki tak makan malam.


"Cepet Nak sini." Bu Dian menarik kursi untuk Zaki duduk. Tak ada senyuman di wajah Zaki dan Papahnya hanya tertunduk menikmati sarapannya.


*****


.


.


.