
Mata pelajaran pertama selesai. Aku membereskan peralatan menulis ku dan harus bisa bicara dengan Zaki agar pikiran ku tenang. Tapi ternyata Zaki malah sudah berdiri di sisi meja ku.
"Ke taman sekolah yuk." Ajak Zaki. Aku hanya mengangguk mengiyakan.
"Put aku duluan ya." Ku tepuk bahu Putri dan mengedipkan mata.
"Oke yang akur ya." Putri pun tersenyum.
Perjalanan ke taman tak ada sepatah katapun yang keluar dari mulut Zaki. Aku berharap Zaki tak marah.
"Zak, kok diem aja?"
"Cari tempat duduk yuk disana." Zaki menunjuk tempat duduk di bawah pohon.
"Zak kamu masih marah?" Zaki hanya menggelengkan kepalanya. "Terus kenapa kamu gak nungguin aku di depan gerbang? Terus kenapa kamu gak hubungi aku setelah kamu pulang."
"Gue malu sama loe Del." Pandangan Zaki menatap lurus ke arah lapangan basket.
"Loh kenapa?"
"Ya malu aja."
"Udah gak usah malu. Aku aja gak malu sama kamu.hehe" Aku mencoba meledek Zaki.
"iya loe malu-maluin."
Hahaha
Kami saling tertawa bersama.
"Maaf ya Del."
"Iya Zak gak papa."
"loe masih suka sama gue?"
"Ya iya lah emang cinta bisa secepat itu perginya?"
"Ya ampun emes banget sih pacar gue." Zaki mencubit kedua pipi ku.
"Iihh sakit tau."
"Mau ke kantin?"
"Bentar lagi kan masuk."
"Kalo gitu gue beliin minum aja ya."
"Heem."
Zaki berlari ke kantin lalu membeli air mineral. Aku tak menyangka bisa baikan dengan Zaki.
***
Jam pulang sekolah pun tiba. Ada mata yang sedang marah menatap ku dari jendela. Sesekali dia melihat handphone yang dia genggam.
Itu adalah Sinta. Mungkin ada yang melaporkan kejadian di taman saat aku dan Zaki sedang duduk berdua.
"Del gue duluan ya. Loe bisa pulang bareng Hanan jangan sendirian."
"Iya Zak."
Begitu Zaki keluar dari kelas Sinta pun masuk. Putri begitu gugup melihat Sinta masuk ke kelas kami.
"Heh kalian keluar kecuali Adelia." Teman sekelas ku yang masih membereskan mejanya langsung buru-buru dan keluar kelas. "Cepeeettt gue bilang." Teriak Sinta membuat Putri makin gugup.
"Put loe keluar aja deh cepet sana... Aku bakal baik-baik aja."
"Heh Loe gak denger gue suruh keluar?" Sinta mengarahkan kepalan tinju ke arah Putri lalu Putri bergegas pergi.
Aku masih duduk di kursi ku. Dan Sinta menghampiri ku. Berdiri tepat di depan ku di ikuti ke dua temannya.
Brakkk...
Sinta memukul meja di depan ku.
"Loe tu ya jadi cewek songong banget ya. Udah gue bilang jauh-jauh loe dari jodoh gue."
plaakkk...
Sinta menampar ku. Aku langsung berdiri dan ingin menampar balik tapi tangan ku di tahan oleh Tiara.
Sinta memegang pipiku dengan satu tangannya lalu menekannya hingga terasa sakit sementara kedua tangan ku masih di tahan oleh kedua teman Sinta.
"Loe mau mukul gue hah? Berani ya anak yatim kayak loe ngelawan gue?"
Plaakkk...
Sinta kembali menampar wajah ku hingga ada darah segar di bagian ujung bibir ku.
"Denger ya sampe loe deketin Zaki lagi urusannya bakal fatal. Dasar anak sama Ayah nya sama-sama gak berguna."
Deg...
Sinta mengumpat Ayah ku. Seketika amarah yang ku pendam pun memuncak. Ku dorong kedua teman Sinta Tiara dan Rosi lalu menampar pipi Sinta dan mendorongnya hingga jatuh ke lantai.
"Loe boleh hina gue Sin tapi inget jangan bawa-bawa ortu gue apalagi Ayah gue yang udah meninggal. Dan asal loe tau gue dan Zaki itu udah pacaran hampir satu bulan. Gue udah dapetin hati Zaki berbeda sama ***** kayak loe. Gue gak takut loe bawa temen satu sekolah buat keroyok gue asal loe gak bawa-bawa nama ortu gue atau loe bakal gue bikin minta maaf sama Ayah gue."
Gak ada salahnya dulu di SMP aku berlatih silat. Dan sekarang berguna. Ku ambil tas ku dan pergi meninggalkan mereka.
"Hei Del tunggu."
Ku balik kan badan ku dan Hanan terkejut dengan luka di bibir ku.
"Loe kenapa Del bisa luka begini?" Hanan memegang bibir ku.
"aw sakit."
"Ayo kita ke UKS dulu. Dari pada Ibu lebih khawatir nanti." Aku hanya mengiyakan ajakan Hanan. Dan kita berjalan menuju UKS di lantai 3.
Hanan mengambil kotak P3K lalu mengambil obat dan mengoleskan di bibir ku. Perlahan Hanan mengolesnya. Tapi pandangan kita terlalu dekat hingga mata ku dan Hanan saling bertemu. Lama kita saling bertatapan dan tanpa sengaja Hanan mengolesi bibir ku terlalu keras dan menyadarkan kita dari lamunan.
"aduh."
"Eh sorry. Gue terlalu terpesona dengan gadis cantik di depan gue."
"Mulai deh. Udah kan balik yuk takut ketinggalan Bus. Harus nunggu jam 4 kan kalau ketinggalan yang sekarang." Aku turun dari tempat tidur yang ku duduki dan keluar dari ruang UKS sedangkan masih membereskan kotak P3K.
"Del loe cepet banget sih jalannya."
"Bukan aku yang cepet tapi kamu yang siput."
"Terimakasih kek udah gue obatin malah jutek gitu sih."
"Iya iya terimakasih Hanan udah ngobatin luka aku."
"Gak gue terima ucapan terimakasih nya."
"Iihh bodo amat penting udah Terimakasih." Aku berlari menuju gerbang sekolah dan Hanan pun mengejar ku.
"Dasar loe Del awas ya gue cubit tu pipi."
"Gak bakal kenak weekk..."
"hahaha kenak loe sini gue kelitikin juga nih."
"haha geli nan sumpah ampun ampun."
Entah kenapa saat ini aku begitu bahagia dengan Hanan. Bahkan aku bisa tertawa seperti aku tertawa dengan Ayah. Hanan begitu manis dan sangat baik dimata ku.
"Udah lewat 10 menit Nan kayaknya Busnya udah lewat ini."
"Bagus dong."
"Apanya yang bagus."
"Kita bisa main dulu."
"Main aja pikiran mu serius kenapa sih."
"Aku serius gak tau lagi kan gue bisa main berdua aja bareng loe."
"Kan kamu tau rumah ku tinggal main aja apa susahnya."
"engga susah kalau main ke rumah loe yang susah itu kalau pas Zaki sama loe."
"Cemburu ya.....ciee...!"
"Emang gue cemburu dan cemburu banget."
Aku terkejut dengan ucapan Hanan padahal aku hanya bercanda padanya.
"Hah?"
"Itu bus nya datang buruan."
Kita pun masuk ke dalam Bus. Tapi suasana di bus tak ramai Ahir nya Hanan memilih tempat berbeda.
"Heh kamu kenapa sih malah duduk disitu?"
Hanan malah mengambil earphone di tas dan memasangnya ditelinga lalu menyandarkan badannya dikursi dan memejamkan mata.
"Hanan... Nan?" Masih tak ada jawaban Ahir aku yang menghampiri nya.
Ku pukul lengan Hanan dengan keras sontak membuatnya membuka mata dan melepaskan earphone nya.
"Sakit tau." protes Hanan.
"Lagian kamu cuekin aku."
"Gue gak mau deket-deket sama pacar orang."
"Lebay banget sih kamu. Awas geser aku yang duduk di deket jendela."
Hanan pun menuruti kemauan ku. Tapi dia kembali memakai earphone nya dan tidur. Aku yang kesal dan melipat kedua tangan ku lalu menyandarkan badan ku di kursi kemudian tak lama mata ku pun ikut terpejam.
*****
...Thanks banget yang selalu kasih aku support...
...🙏...
...jangan lupa tengok story' ku...
...CINTA SUCI ANAYA...
...😁...