BROK3N

BROK3N
Bab 30 Zaki Berhasil Balas dendam



"Del tunggu, Adel…!"


Zaki terus memanggil ku. Bukannya berhenti aku malah mempercepat langkah ku.


"Del." Zaki berhasil meraih tangan ku dan memaksa ku berhenti berjalan. " Loe kenapa ngindarin gue terus sih?"


"Apa kamu menyembunyikan sesuatu dari ku?"


"Maksudnya?"


"Jawab aja!"


"Ya tapi masalah apa?"


Akhirnya ku lanjutkan langkah ku menuju halte bus.


"Del tunggu." Zaki masih mengikuti ku.


Bus yang ku tunggu tiba. Aku pun buru-buru menaikinya dan meninggalkan Zaki yang masih berjalan jauh dibelakang ku tadi karna Zaki sempat dihentikan Pak Tarjo supirnya.


"Tunggu Pak supir." Zaki melambaikan tangannya.


Supir bus hendak berhenti tapi aku mencegahnya.


"Lanjut aja Pak dia cuma mau gangguin saya." Supir pun mengangguk.


"Sial**" umpat Zaki.


Zaki pun kembali ke mobilnya.


"Pak ayo kita ke rumah Adel."


"Tapi Den nanti nyonya marah lagi."


"Udah nurut aja kalau Bapak gak mau dipecat."


"Baik Den."


Pak Tarjo pun menghidupkan mesin mobil dan menginjak pedal gas melaju mengikuti bus yang aku naiki.


Tapi siang ini ada sebuah kecelakaan di jalan utama hingga membuat lalu lintas sedikit macet. Bus yang aku naiki tak bisa berjalan lebih cepat. Berbeda dengan mobil sedan yang Zaki kendarai mampu menyelinap hingga akhir Zaki tiba dirumah ku lebih dulu.


"Assalamu'alaikum." Zaki mengetuk pintu rumah ku.


"Wa'alaikumsalam. Loh nak Zaki Adel belum pulang tuh."


"Iya Tan kayaknya kejebak macet soalnya ada kecelakaan. Adel gak mau di ajak naik mobil saya."


"Kalau gitu tunggu aja di dalam. Aduh tapi Tante mau pengajian ke mushola kamu gak papa tunggu sendiri dirumah?"


"Gak papa Tante pergi aja." Dengan sopannya Zaki membungkuk sedikit badannya mengiyakan kepergian Ibu.


"Pak Tarjo keliling aja dulu ngopi atau kemana sana. Risih diliatin Pak Tarjo."


"Tapi Den…?"


"Udah buruan sana."


Zaki mengusir supirnya.


Setelah menunggu dengan lamanya ahirnya bus pun melewati kemacetan dan berjalan dengan normal. Tak lama aku pun sampai di halte deket rumah ku. Aku celingukan selalu keheranan Hanan tak pernah muncul di jam pulang sekolah. Sama seperti kemarin.


Aku yang lelah langsung berjalan menuju rumah.


"Loh itu bukannya mobil Zaki? Eh iya plat nya mobil Zaki. Jangan-jangan Zaki habis dari rumah ku. Tapi kan ibu hari ini pengajian. Mungkin Zaki pulang lagi."


Akuu pun melanjutkan langkah setelah melihat mobil Zaki semakin jauh.


"Loh pintunya kok buka bukanya ibu pengajian."


"Assa…."


Aku terkejut karna Zaki sedang duduk manis di sofa ruang tamu dengan sebotol air mineral yang ia pegang.


"Zaki? Bukannya kamu barusan pulang?" Ku tunjuk arah ke luar rumah.


"Itu tadi cuma Pak Tarjo, aku nungguin elo. Loe kenapa sih ngindarin gue?"


"Aku ganti baju dulu." Aku pun masuk ke kamar dan melepaskan semua yang ku pakai karna bau keringat akibat macet Susana di bus sedikit gerah. Ku buka lemari pakaian ku. Menggambil kaos oblong pendek warna putih polos dan kolor navy motif bunga. Ku ikat rambut ku jadi satu persis ekor kuda. Aku keluar dari kamar. "Bentar ya aku cuci muka dulu."


Dan aku pun mencuci wajah ku yang sangat lelah dengan kemacetan tadi maupun Ujian Nasional hari ini.


Selesai mencuci wajah ku ambil handuk yang menggantung di kamar mandi dan mengeringkan wajahku. Setelah itu aku masih berjalan menuju dapur dan membuka kulkas untuk mengambil air mineral. Cuacanya tak begitu panas. Malah seperti nya akan turun hujan tapi perjalanan tadi membuat tenggorokan ku kering.


"Sikap seperti apa yang harus aku gambarkan untuk menemui Zaki. Huftt…! Aku sedikit kesal dan kecewa sama kamu Zaki." Ahirnya setelah berperang antar hati dan otak aku memilih berjalan menuju ruang tamu.


Zaki dan aku saling duduk berlawanan. Belum ada kata yang keluar dari mulut Zaki. Dia masih menatap ku dengan senyuman aneh. Tertiba hujan deras pun datang. Aku buru-buru menutup pintu rumah ku karna kalau tidak airnya akan masuk ke dalam. Secara rumah ku belum punya teras. Akupun duduk di hadapan Zaki kembali.


"Del." Panggilan singkat Zaki. Suaranya tak begitu keras karna derasnya air hujan meredam suara Zaki.


"Hmm."


"Kok loe jadi jutek sih, kan cakepnya ilang."


Tak ku jawab. Zaki pun tak langsung melanjutkan ucapannya. Hanya suara air hujan yang terdengar. Zaki bangkit dari duduknya. Dia berjalan mendekati ku dan duduk persis di samping ku. Zaki duduk dengan posisi miring menghadap ku.


"Adelia sayang." Zaki mencolek dagu ku dengan telunjuknya. Aku hanya diam dengan tangan melipat di dada dan duduk bersandar di kursi.


"Zak kamu di jodohkan sama Sinta dan akan ke Singapura setelah kelulusan kan?"


Zaki sangat terkejut. Zaki yang tadinya duduk miring bersandar sekarang jadi duduk tegak tapi masih menatap ku.


"Tau dari mana?" Jawab Zaki sedikit gugup.


"Sinta sendiri yang bilang. Dan dia ngancam aku."


"Jadi karna ini loe diem aja Del? Aku tau pasti cemburu kan kan kan?" Zaki malah menggoda ku.


"Jawab Zak?" Dengan nada sedikit keras Zaki memposisikan duduknya dengan benar dan menatap ke arah sofa yang dia duduki tadi.


"Iya gue emang dijodohkan sama Papah dan akan sekolah bisnis bersama Sinta di Singapura. Tapi sungguh Del gue gak mau. Gue masih bernegosiasi sama Papah." Zaki menjelaskan dengan wajah melas tapi penuh kesungguhan. "Gue gak mau jauh-jauh dari loe setelah sekolah selesai. Gue pengen dampingi loe terus Del. Gue pengen ada terus di saat loe butuh sosok Ayah."


Jlep


Kata-kata Zaki bener-bener meluluhkan hati ku. Wajahnya sungguh tulus mengucapkan hal itu. Mata ku hampir berkaca-kaca.


"Del, loe sayang kan sama gue.?" Tanya Zaki seraya menggenggam kedua tangan ku.


"Heem." Aku hanya mengangguk.


"Loe percayakan sama gue, gue suka dan sayang sama loe doang bahkan gue gak pacaran sejak kenal elo Del. Gue gak suka dengan Sinta yang sangat manja. Gue suka elo yang mandiri dan pastinya lebih cantik dari Sinta." Ucapan Zaki berhasil membuat hati ku luluh.


"Tapi Zak…" Telunjuk Zaki menempel di bibir ku. Zaki tak mau alasan apapun. Yang Zaki inginkan aku percaya padanya kalau dia benar-benar tulus. Usia ku memang masih 18 belas tahun dan bisa dibilang masih bau kencur tapi Zaki adalah cinta pertama ku.


Zaki menganggukan kepalanya. Aku pun diam tak melanjutkan perkataan ku. Zaki menurunkan jarinya. Kembali menggenggam tangan ku.


"I love you Adelia."


Zaki mendekatkan wajahnya. Dan mulut kami pun saling beradu. Kehangatan mulai menyelimuti tubuh ku. Tangan kanan Zaki kini berada di tengkuk ku sedangkan tangan kirinya memegang sofa. Zaki sedikit mendorong tubuh ku lembut. Mulut Zaki mulai terbuka dan memainkan ***** nya.


"Emh." Aku sedikit ******* merasakan kehangatan yang Zaki buat. Tak sampai disitu Zaki mencoba memasukkan tangannya ke dalam kaos putih yang ku kenakan dan ingin merasakan gundukan ********.


"Zak apa ini gak berlebihan." Aku menarik tangan Zaki yang sudah di dalam kaos yang ku pakai.


"Percayalah pada ku. Ini akan membuatmu bahagia. Aku sangat mencintaimu Del. Sangat…." Zaki kembali mencium ku. Kali ini lebih *****. Tangan Zaki benar-benar menyelinap masuk di antara ** yang ku pakai. Gerakannya membuat ku semakin melayang merasakan kehangatan yang Zaki ciptakan.


Hujan semakin deras dan dingin membuat kenyamanan lebih untuk kami.


*****


...Tolong bantu aku dong dengan tinggalin jejak like, komen dan vote nya. Aku bakal rajin update nih kalau banyak dukungan 😍...