BROK3N

BROK3N
28. Zaki yang sesungguhnya



Zaki sudah mandi. Sebenernya dia berat sekali untuk pergi ke acara itu. Tapi Zaki tak bisa menolak. Zaki keluar kamar mandi dengan balutan anduk disetengah badannya. Dia berdiri di depan kaca besar dan menyemprotkan parfum ditubuhnya lalu memakai setelan kemeja warna grey.


"Gue pasti bisa dapetin elo Del. Gue bakal balas apa yang udah Ayah loe lakuin ke gue."


#3 Tahun lalu.


"Maaf Nak Bapak gak sengaja" Seorang anak tersungkur jatuh karna ditabrak mobil. Dahi dan tangan kanannya bercucur darah segar. Sedang kakinya hampir patah karna benturan keras mobil. Bapak itu pun membawanya masuk ke dalam mobil. "Bertahanlah Bapak akan bawa kamu ke rumah sakit." Iya Bapak itu adalah Ayahnya Adelia.


Pak Tono.


Dan anak yang di tabrak adalah Zaki.


Mobil pun melaju dengan kencang menuju rumah sakit. Setelah tiba dirumah sakit Pak Tono langsung membopong Zaki ke UGD. Akhirnya Zaki pun ditangani.


Tapi dari kejadian itu Zaki menyimpan dendam yang amat dalam kepada Pak Tono. Karna kakinya mengalami keretakan tulang dia tak bisa ikut kejuaraan lomba maraton di Jepang. Saat itu Zaki adalah perwakilan sekolahnya ke Jepang tapi akibat kejadian itu Hanan lah yang berangkat dan mendapatkan medali emas.


Zaki sangat antusias dalam perlombaan itu karna dia juga sangat ingin ke Jepang. Dia rajin berlatih setiap hari hingga pertandingan tingkat provinsi dan ahirnya jadi juara satu dan Hanan juara dua.


Tapi akibat kecelakaan Zaki harus memendam keinginan nya. Sebenernya Zaki bukan tidak bisa untuk ke Jepang. Zaki hanya tinggal minta uang Papah nya saja. Hanya saat itu Zaki ingin sekali menunjukan pada Papahnya tentang prestasi nya. Itu juga jadi alasan kenapa Zaki selalu jadi juara satu di kelasnya.


Sejak Zaki di sekolah dasar Papah Zaki orang yang gila akan kerja. Karna perusahaan nya masih merintis. Bahkan dia tak peduli Zaki mau bagaimana pun. Untuk itu Zaki selalu mencari cara agar Papahnya memberikan perhatian dan kasih sayang. Terbukti saat Zaki mendapatkan juara satu pertama dia saat bangku SMP Papah nya begitu gembira.


Dendam Zaki makin memuncak saat tau Pak Tono bekerja di perusahaan Papah dan meminta untuk memecatnya tapi Pak Ibnu menolaknya karna pekerjaan Pak Tono saat itu tak bisa tergantikan siapa pun.


End.


Dari bawah Bu Dian sudah memanggil-manggil namanya tapi Zaki tak mendengarkan karna Zaki terbawa lamunan hingga akhir Bu Dian menyusulnya ke kamar.


"Zaki kamu dandan kayak cewek mau kondangan aja sih lama banget."


Zaki tersadar dari alam bawah sadarnya dan dia pun bergegas membuka pintu.


"Iya Mah ayo jalan." Zaki memegang tangan Bu Dian dan menuruni tangga lalu berjalan menuju mobil yang sudah terparkir sedari tadi menunggu mereka. Bahkan Pak Ibnu sampai kesal dibuatnya tapi lebih memilih diam dalam perjalanan mereka.


"Pah kita mau ketemu siapa sih sampai Zaki ikut segala." Zaki yang bosan dengan kesunyian di dalam mobilnya ahirnya memutuskan untuk membuka pembicaraan.


"Dinner sama keluarga Pak Bromo." Sahut Pak Ibnu.


"Hah? Maksudnya keluarga Sinta."


"Iya. Papah sudah sepakat mau jodohkan kalian berdua." Lanjut Pak Ibnu.


"Gak bisa gitu dong Pah Zaki baru juga mau lulus sekolah kok udah jodoh-jodohin sih ini kan bukan jaman siti Nurbaya Pah."


"Dan setelah pengumuman kelulusan kami juga sepakat untuk mengirim kalian sekolah bisnis ke Singapura." Pak Ibnu tak mempedulikan protesnya Zaki. Sedangkan Bu Dian Dian tak bisa berkata apapun.


"Kok Papah buat keputusan sepihak sih." Zaki kekeh dengan protesnya.


"Ikutin saja kata Papah Nak." Ujar Bu Dian mengusap punggung Zaki.


Pembicaraan pun berhenti. Tak lama mobil Pajero yang mereka kendarai sampai di sebuah restoran bintang lima yang mewah dan hanya kalangan atas yang kemari.


"Bersikaplah yang sopan jika kamu tidak mau Ayah mu bangkrut dan kamu jadi gelandangan." Ancam Pak Ibnu sebelum turun dari mobil.


Tak ada jawaban dari Zaki. Dia hanya menekuk wajahnya dan tanpa expresi.


Keluarga Pak Ibnu keluar dari mobil. Mereka berjalan memasuki sebuah restoran dengan banyak lampu terang dan pelayan yang berseragam rapih.


"Maaf Pak kami terlambat." Pak Ibnu menyapa Pak Bromo dan saling berjabat tangan.


Seorang pelayan pun memberikan daftar menu dan siap mencatat pesanan mereka.


"Oke sudah cukup Pak?" Tanya Pak Bromo


"Sudah tidak perlu banyak-banyak nanti gemuk haha..." Kata Pak Ibnu


"Zaki tidak nambah?" Tak ada jawaban. "Nak Zaki?" Ulang Pak Bromo. Masih tak dijawab oleh Zaki. Ahirnya Pak Ibnu yang geram menginjak kaki Zaki.


"Ah maaf kepikiran pelajaran sekolah Om besok masih ujian."


Jawaban Zaki sontak membuat Pak Ibnu dan Pak Bromo tertawa.


"Hahahaha."


"Kamu memang anak yang rajin dan cerdas, tak salah aku memilih mu jadi menantu ku haha." Kata Pak Bromo sambil tertawa bangga. "Bagaimana Sinta kau suka dengan Zaki?" Tanya Pak Bromo kepada anaknya Sinta.


"Tentu saja Pah Sinta udah suka Ka Zaki sejak lama." Sahut Sinta dengan tersenyum malu.


"Hahaha kita benar-benar akan jadi besan Pak Bromo." Kata Pak Ibnu yang ikut bahagia mendengar jawaban Sinta. Berbeda dengan Zaki dia hanya tersenyum masam.


Pembicaraan pun sedikit terganggu dengan datangnya makanan yang mereka pesan. Pelayan silih berganti menata makanan dimeja makan keluarga kaya itu. Tapi ada dua mata yang tak suka dengan kebahagiaan mereka.


Setelah makanan siap obrolan kembali berlanjut sambil menikmati hidangan yang sudah rapi di meja.


"Jadi Nak nanti kamu sama Zaki akan Ayah kirim ke Singapura untuk ambil kuliah bisnis disana." Pak Bromo menjelaskan maksud dari makan malam itu kepada Sinta karna dia belum tau apa-apa.


"Hah? Yang bener Yah?" Sinta hampir tersedak dia menelan makanan nya dan minum sedikit agar bisa melanjutkan bicaranya. Dan Pak Bromo menganggukkan kepala. "Jadi kita bakal sama-sama terus Ka Zaki ya ampun Sinta seneng banget Ka. Makasi ya Pah." Sinta kegirangan dengan kabar yang ia terima tapi tidak dengan Zaki dia hanya tersenyum tak ikhlas.


"Kalian harus belajar dengan sungguh-sungguh disana supaya bisnis kita tetap berjaya." Sambung Pak Ibnu.


"Iya Om. Iya kan Ka?" Sinta memegang tangan Zaki tanda agar dia menjawab pernyataan Papahnya.


"Eh iya Pah kami akan belajar yang rajin." Jawab Zaki.


"Ayo mari dihabiskan makannya." Kata Pak Bromo bahagia.


Sedangkan Bu Dian dan Bu Selly hanya mendengarkan pembicaraan para suaminya. Sesekali saling tersenyum ikut bahagia juga. Mereka menghargai apapun keputusan suami masing-masing.


Makan malam berangsur lama sekali karna Pak Ibnu dan Pak Bromo juga membahas bisnis dan perusahaan mereka.


***


Sementara itu Hanan sedang melamun di sebuah taman yang membuatnya memikirkan Adelia.


"Aku tau Zaki itu brengs** tapi ternyata Adelia lebih menyukainya. Bahkan mereka sekarang sudah pacaran. Bagaimana caranya aku bisa merebut Adelia?"


Hanan sedang bertengkar dengan pikirannya. Dia begitu mencintai Adelia. Dia tak mau wanita yang ia kagumi itu disakiti oleh Zaki. Hanan tau betul Zaki seperti apa. Hanan sangat khawatir dengan Adelia.


Tapi disisi lain orang yang membunuh Ayah Adel adalah Ayah nya.


"Tidak mungkin dia menerima ku dengan keadaan seperti ini. Walaupun aku tulus untuknya tapi kesalahan Bapak tak kan ia maafkan. Apalagi kalau Adel tau Bapak dengan sengaja menabrak mobil Ayahnya. Apa yang bisa aku lakukan jika dia tau hal ini. Ya Tuhan."


Hanan masih termenung menatap bulan yang bersinar dan bintang yang berkedip bergantian.


*****