BROK3N

BROK3N
Bab 37 Adel Lulusan terbaik



Sudah seminggu berlalu sejak kejadian dirumah Zaki waktu itu. Zaki tak ada kabar sama sekali. Bahkan beberapa kali ku coba telpon tak bisa dihubungi. Aku mulai gelisah dan pikiran ku tak karuan.


Aku dan Hanan sudah berkerja di sebuah toko cake & bakery yang jaraknya 20 menit dengan berjalan kaki. Karna kami tak punya kendaraan dan harus berhemat dari pada naik Bus.


Tempat kerja ku pun letaknya tak jauh dari pasar tempat Ibu bekerja. Aku menjadi kasir dan Hanan team produksi. Gaji kami memang tak banyak tapi cukup buat sehari-hari dan sedikit menabung. Apalagi setiap pulang selalu dibekali kue oleh bos kami.


Pemilik tokonya sangat baik dan ramah, Bu Dania namanya masih tantenya Putri. Seorang janda seperti Ibu ku juga.


Toko tempat ku bekerja tak terlalu besar. Hanya ada 4 kasir dengan tugas 2 sif untuk melayani pelanggan. Sif pertama masuk pukul 7 am sampai pukul 2 pm. Sedangkan sif kedua pukul 2 pm sampai pukul 10 pm. Dan yang laki-laki ada 4 orang tapi tugasnya di belakang sebagai team produksi termasuk Hanan.


Teman kasir ku juga baik-baik. Ada Yumna umurnya 21 tahun sudah setahun kerja disini, lalu Hesti umur 23 tahun sudah 5 tahun kerja disini atau sejak toko ini buka. Sedangkan Gita 19 tahun baru lulus sekolah dan masuk kerja 3 bulan lalu.


"Gimana Del apa kamu betah disini?" Tanya Bu Dania.


"Betah dong Bu, dikelilingi orang-orang baik seperti ini mana mungkin saya gak betah." Jawab ku dengan tersenyum.


"Alhamdulillah kalau begitu saya mau pergi dulu. Yumna yang akur ya dengan Adelia kalian baru ketemu sif ini kan?" Tanya Bu Dania pada Yumna.


"Iya Bu Ka Adel ramah kok orangnya, Yumna suka." Sahut Yumna Sambil memeluk pinggang ku.


"Saya pergi dulu ya assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumsalam."


***


Hari-hari ku pun berlalu begitu saja bersama dengan lingkungan baru.


Ini adalah hari pengumuman kelulusan sekolah, kebetulan aku masuk sif siang dan Hanan libur jadi kami pergi ke sekolah untuk mengetahui hasil pengumuman.


Sampai disekolah aku tak mendapati Zaki disana. Bahkan aku mencari Sinta dan menanyakan pada Devi dan Rossi tapi kata mereka juga tak tau keberadaan Sinta.


Hati ku mulai khawatir, aku berfikir kalau mereka sudah pergi ke Singapura seperti kata Sinta waktu itu. Bahkan Zaki belum menjelaskan pada ku. Tapi kenapa Zaki tak memberi ku kabar sama sekali.


"Gimana Zaki ada?" Tanya Hanan.


Aku hanya menggeleng kan kepala ku.


"Terus gue bisa bantu apa?"


"Entahlah Nan. Ayo kita liat papan pengumuman dulu. Udah jam 9 harusnya udah ditempel kan?"


"Okey."


Kami berjalan menuju papan pengumuman.


Sudah banyak tawa bahagia di sana. Artinya mereka lulus. Dan betapa terkejutnya aku melihat nama ku ada diurutan pertama dengan nilai sempurna. Dari 65 siswa kelas 3 SMA TARUNA BANGSA nama Adelia Putri Winata ada diurutan pertama dan mendapatkan beasiswa penuh di Universitas Indonesia. Lalu Zaki diurutan ke tiga. Sedangkan Hanan diurutan ke 11.


"Selamat ya Del." Kata Hanan dengan menjabat tangan ku.


"Ya ampun Hanan aku bahagia banget." Reflek dari kebahagiaan ku bukan menerima tangan Hanan melainkan malah memeluknya.


Lama ku peluk tubuh Hanan karna masih tak percaya dengan pengumuman ini. Tapi ada beberapa teman sekolah yang mengucapkan selamat pada ku akhirnya menyadarkan ku dan melepaskan pelukan ku dari Hanan.


"Sorry Nan aku terlalu bahagia." Aku meminta maaf dengan rasa malu bercampur aduk tanpa menatap Hanan.


"Gue juga bahagia kok liat loe begini." Jawab Hanan.


"Selamat ya Del."


"Selamat Adelia."


"Selamat ya."


"Sukses selalu ya Del."


"Loe hebat banget Del."


Banyak tangan yang menjabat ku dan aku menerimanya.


"Tuhan terima kasih. Tolong jangan ambil kebahagiaan yang sempurna ini. Ayah pasti juga sangat bahagia kan melihat Adel berhasil seperti ini? Sebaiknya aku bicarakan dulu dengan Ibu dirumah nanti tentang rencana ku kedepannya." Ku tatap langit biru yang cerah dengan awan putih yang berjalan sangat pelan. Memang ada sedikit kebingungan atas apa yang aku dapatkan ini karna aku harus meninggalkan Ibu.


"Adel loe dipanggil kepala sekolah di ruangannya." Kata salah seorang yang tak ku kenal namanya.


"Nan aku ke ruang kepsek dulu ya. Kamu tunggu aja aku di bawah."


"Okey."


Dirumah kepala sekolah.


tok tok


"Baik Pak."


"Selamat atas pencapaian yang kamu terima."


"Terimakasih banyak Pak semua ini juga atas jasa dari Bapak Ibu guru."


"Jadi ini persyaratan yang harus kamu kempul kan untuk pengajuan beasiswa mu di UI." Pak Kepala sekolah memberikan selebaran pada ku.


"Nanti akan saya baca dirumah Pak, saya harus bicara dulu dengan Ibu saya karna saya harus meninggalkan Ibu saya sendiri nantinya."


"Oh tentu saja. Setelah kamu pikirkan kamu bisa kembali ke ruangan saya ya setiap jam kerja."


"Baik Pak saya permisi dulu kalau begitu. Assalamu'alaikum." Aku mencium punggung tangan Pak Kepala sekolah dan meninggalkan ruangannya.


Ku turuni anak tangga dengan pikiran entah kemana. Aku masih dilanda kebingungan.


Hanan melambaikan tangannya dari kejauhan saat melihat ku sudah menuruni tangga. Tapi saat ini kenapa wajah Hanan berbeda. Aku tak tau apa bedanya tapi ku tetap berjalan dengan terus menatap Hanan.


"Gue tau gue ganteng tapi loe jangan liatin gue terus gue jadi salting nih diliatin cewek cantik."


"Mulai kan!"


"Hahaha ayo ke halte ntar loe telat lagi masuk kerjanya. Eh btw gimana diruang kepsek apa ada yang salah kok loe gak keliatan sebahagia tadi sih?"


"Engga ada yang salah Nan, aku dikasih selembaran syarat untuk pengajuan beasiswa ku. Itu doang."


"Terus ngapa muka loe begitu?"


"Aku bingung Nan."


"Kan loe beasiswa full apa yg buat loe bingung?"


"Aku harus ninggalin Ibu Nan karna Ibu udah betah dirumah ini masak harus aku tinggal."


"Gue rasa Ibu loe bakal seneng dan pasti nyuruh loe buat lanjut."


"Ya udah kita balik dulu aja."


Bus pun datang lalu kami masuk bersama dan duduk bersebelahan.


Tak ada pembicaraan selama di perjalanan kami.


Sesampainya nya di halte deket rumah dan hendak turun dari Bus tiba-tiba aku merasa pusing kliyengan bahkan hampir jatuh. Hanan yang sigap menangkap tubuh ku dan menuntun ku sampai rumah.


Kami pun duduk di sofa ruang tamu.


"Kenapa tiba-tiba loe pusing? Loe sakit?"


"Gak tau Nan sejak tadi pagi aku gak enak banget naik Bus, berasa bau aja terus mual. Tapi masih bisa ku tahan sih."


"Loe mabok kali? Emang loe gak sarapan? Biasanya kan gak begitu?"


"Udah dua hari ini aku gak terlalu ***** makan Nan."


"Di dapur ada makanan gak? gue ambilin."


"Gak tau coba kamu liat aja."


Hanan pun berjalan ke dapur. Lalu kembali dengan sepiring nasi dengan sayur sop dan segelas air.


"Nih loe makan dulu takutnya loe tambah sakit."


"Thanks ya Nan."


Ku makan sedikit demi sedikit nasi dan ayam gorengnya. Tapi seberapa aku memaksa makanan masuk mulut ku hanya rasa mual yang ku dapat. Ahirnya aku makan tanpa mengunyah karna begitu masuk mulut aku langsung minum agar makanan ku sampai ke perut.


"Gimana udah enakan? Tapi baru dikit sih makan loe." Hanan masih mencemaskan ku. Matanya menandakan rasa khawatir yang dalam.


"Udah ah Nan aku bener-bener gak kuat. Aku mau tidur sebentar kamu bisa pulang aja."


"Engga gue temenin loe disini. Loe tidur aja disitu gue duduk disini. Kalau loe mau kerja gue bangunin nanti gue anterin."


Aku hanya mengiyakan perkataan Hanan.


*****


...Hai Reader bantu aku dong kasih like, komen dan dukungan vote nya ya 😊🙏...