
Ibu yang sudah dinyatakan meninggal di pindahkan ke ruangan lain untuk dimandikan dan di kafani oleh petugas rumah sakit itu.
Waktu sudah menunjukkan pukul 2 am. Sudah lewat tengah malam artinya sudah lumayan lama aku pingsan. Saat bangun sudah ada Yumna, Asep dan Putri di samping ku. Aku mencoba bangun dari tidur ku untuk duduk dan di bantu oleh Putri.
Mereka semua menerima kabar buruk ini dari Bu Selly lalu bergegas menyusul ku ke rumah sakit.
Putri yang tak kuasa menahan rasa sedihnya memeluk ku dengan erat. Lagi-lagi Putri harus melihat ku menangis tak berdaya.
Aku mencoba mengucapkan kata demi kata walau rasanya lidah ku susah untuk ku gerakan.
"Put aku mimpi buruk Put. Aku mimpi kalau Ibu meninggal Put. Aku takut sekali. Mimpi itu terasa sangat nyata. Put aku gak mau kehilangan Ibu. Kamu tau kan keluarga ku cuma tinggal Ibu. Tolong Put panggi Ibu. Suruh ibu kesini. Aku ingin di peluk Ibu Put. Cepat Put."
Aku menangis dalam pelukan Putri. Begitu juga sebaliknya. Putri malah makin memperkuat pelukannya mencoba menenangkan ku yang belum bisa menerima kenyataan ini.
"Sabar ya Del sabar. Cobaan mu begitu berat tapi aku yakin kamu kuat."
Putri menepuk-nepuk punggung ku. Aku melepaskan pelukan Putri.
"Maksud kamu apa Put bilang begitu? Aku sudah terlalu banyak menerima cobaan hidup. Bahkan kamu tau aku tadi hampir di perko** di kantor ku? Dan sekarang cobaan apalagi yang kamu maksud?"
Aku malah meneriaki Putri yang mencoba memberi ku semangat.
"Adel kamu gak mimpi. Kamu ada dirumah sakit sekarang. Kamu harus sabar. Ini semua ujian untuk mu hiks hiks…!" Putri memegang kedua bahu ku. Menatap ku dengan tetesan air mata.
Bukan hanya Putri aku melihat Yumna juga menangis di pelukan Asep.
"Kalian kenapa? Kenapa kalian menangis? Apa yang terjadi? Cepat katakan apa yang terjadi?" Aku melepaskan tangan Putri dengan paksa. Aku berteriak dengan kedua tangan ku memegang kepala.
"Adel kamu yang sabar ya. Ibu sudah bertemu dengan Ayah mu."
Putri kembali memeluk ku. Erat dan semakin erat Putri memeluk ku.
"Adel kamu pasti bisa melewati semua ini. Aku mohon kamu harus sabar Del."
Aku tak berdaya dalam pelukan Putri.
Aku tak kuasa berkata lagi. Bahkan lidah ku kaku dan tubuh ku lemas. Aku ingin berteriak tapi sudah tapi bisa aku lakukan. Hanya tetesan air mata yang mengalir di pipi ku. Mata ku menatap kosong. Mulut ku bergetar. Putri tak mau melepaskan pelukan. Dia masih terus menangis sesenggukan. Begitu juga Yumna yang makin sedih melihat keadaan ku.
Tak lama kemudian aku pingsan kembali.
"Adel bangun Del. Adelia? Hiks…!" Putri menidurkan ku. Menggenggam erat tangan ku. Yumna juga melakukan hal yang sama.
"Kalian disini dulu aku akan urus pemakaman Tante Renita dulu." Kata Asep dan berlalu.
Putri mencoba memberi ku minyak kayu putih di bagian kaki dan leher. Sesekali botolnya di ciumkan ke hidung ku agar aku segera bangun. Tapi semuanya nihil.
Pagi telah menjelma. Anehnya bukan pagi yang indah seperti yang aku rasakan setiap pagi. Cuaca pagi ini pun terlihat awan putih menyelimuti matahari. Seperti hujan deras akan turun.
Aku bangun dari tidurku. Aku mencoba mengingat kembali apa yang telah terjadi. Air mata pun kembali mengalir dengan deras.
Asep menghampiri ku. Meletakkan tangannya di bahu ku. Asep sedang mencoba memberikan dukungan batin untuk ku.
"Ka Adel kuat kan jalan kaki? Kalau gak kuat Asep gendong ya." Asep mencoba menghibur ku tapi percuma ingatan ku sangat kuat jika Ibu ku telah meninggal.
"Dimana Ibu Sep?" Tanya ku pada Asep dengan suara yang sangat berat untuk di ucapkan.
Aku mendongak menatap Asep. Lagi-lagi air mata ku tak terbendung mendengar ucapan Asep. Aku berharap ini mimpi tapi bukan ini sebuah kenyataan pahit. Ini sebuah takdir yang tak adil untuk ku.
"Del kuatkan diri mu. Kami semua akan menemani mu ke pemakaman." Kata Putri dengan menggenggam erat tangan ku. "Ayo Del kita jalan. Kamu bisa kan? Atau aku ambilkan kursi roda?"
Aku menggeleng kan kepala ku.
Aku mencoba menguatkan kembali tulang-tulang ku yang telah rapuh. Aku menghela nafas panjang. Memejamkan mata lalu menghela nafas lagi. Kuturun kan kedua kaki ku dari tempat tidur ku tadi. Aku berusaha berdiri. Ku tatap pintu ruangan itu tapi seakan pintu itu sangat jauh dari pandangan ku.
Yumna dan Putri menuntun ku menuju ambulan yang membawa jenazah ibu ku.
Pintu terbuka. Aku melihat tubuh yang sudah terbalut kain kafan. Aku menaiki mobil ambulance bersama Yumna Putri dan Asep menuju TPU.
Ku tatap tubuh yang sudah kaku itu. Tak kuasa aku menahan perasaan sakit di dada ku. Ahirnya ku peluk tubuh ibu untuk yang terakhir kalinya. Aku memeluk Ibu sampai kami tiba di TPU.
Hanya ada beberapa warga disana yang ikut memakamkan Ibu. Tubuh ibu pun di masukan ke dalam lubang sempit dan ditutup oleh papan. Gundukan tanah pun menutupi lubang itu. Batu nisan tertancap kokoh disana.
Aku pun teringat pesan ibu untuk tak terlarut dalam kesedihan ku. Tapi mustahil itu bisa aku lakukan. Anak mana yang tak sedih kehilangan satu-satunya keluarga yang dia punya. Aku hanya menangis tanpa suara. Memeluk batu nisan yang menjadi identitas Ibu ku saat ini.
Ku taburkan Bunga tujuh rupa di atas tanah yang mengubur Ibu ku lalu ku kirimkan doa terbaik untuknya. Setelah pemakaman selesai semua orang pun pergi. Aku juga meminta Asep Yumna dan Putri untuk meninggalkan ku.
Aku tak ingin beranjak dari kuburan ini. Aku masih memeluk erat batu nisan Ibu ku. Tak begitu lama hujan pun turun. Seolah langit pun ikut merasakan kesedihan yang aku rasakan saat ini.
Tangis dan teriakan ku pecah di ikuti gemuruh petir di atas sana. Aku masih tak percaya Tuhan mengambil satu persatu orang yang aku sayang. Bahkan Hanan pun belum Tuhan kembalikan pada ku.
"Aaacckkkkk... aacckkk…!"
Aku berteriak beberapa kali. Aku mendongak kan kepala ku. Menatap langit hitam dan rintikan hujan. Tubuhku sudah basah. Tapi anehnya aku tak merasakan dingin sedikit pun.
"Tuhan… Kenapa Kau berikan hamba mu ini takdir yang buruk. Bukankan takdir yang ku terima tak adil? Apa aku tak pantas untuk bahagia? Kenapa kau ambil satu demi satu orang yang ku sayangi? Apa Kau juga akan mengambil Hanan?"
Hanya ada gemuruh petir di atas langit. Seolah Tuhan marah karna aku telah menyalahkan apa yang telah terjadi.
Hingga hujan reda aku masih memeluk erat batu nisan Ibu ku.
Suara langkah kaki sedang mendekati ku. Aku tak peduli dengan hal itu. Aku masih ingin memeluk batu nisan Ibu ku.
Seseorang itu makin mendekati ku. Dipeluknya erat tubuh ku dengan balutan jas hitam. Ku coba membuka mata yang bengkak ini. Menatap dalam siapa yang memeluk ku.
"Hanan? Benarkah kamu Hanan?"
Bukan jawaban yang aku dapatkan tapi sebuah ciuman di bibir yang begitu hangat aku rasakan. Tubuh ku terasa kedinginan dan berhasil di hangatkan oleh pelukan dan ciuman laki-laki itu.
Entah ini nyata atau tidak tapi aku tak mau membuka mata ku untuk waktu yang lama.
###############################
...Hallo Reader yang budiman. Mohon dukungannya ya dengan tinggalin jejak kalian setelah membaca novel ini 😁🙏...
...Kalau kalian mau tanya seputar novel ini bisa langsung follow ig ku @deliss_aa1...
...Terimakasih banyak dukungannya terutama kepada para author yang baik hati selalu memberikan jempol dan komentar nya 😘...