
Hanan dan Asep sudah tiba di Jakarta pagi hari. Mereka pun turun dari bus dan takjub melihat terminal bus DAMRI di Jakarta yang begitu luas dan sangat ramai. Ini memang pengalaman pertama mereka jadi wajar kalau wajah ndeso nya masih terlihat.
Waktu sudah menunjukkan pukul 8.35 am artinya mereka saat ini sangat kelaparan saat ini.
"Kita cari sarapan dulu Sep gue laper banget nih." Keluh Hanan sambil memegangi perutnya dengan kedua tangannya.
"Sama gue juga. Kita cari warteg aja dulu. Coba ke arah sana yuk."
Dan mereka pun pergi mencari warteg untuk sarapan.
Tak jauh dari terminal itu akhir hanya ada sebuah rumah makan Padang yang mereka temui.
"Tak ada warteg yang ada aja deh udah leper banget gue. kayaknya gak sanggup buat jalan lagi." Kata Hanan sambil masuk dan langsung duduk di kursi. Masih sepi pengunjung saat itu.
"Dasar loe mah aneh terlalu lebay, gaya aja kemarin gak selera makan gara-gara Ka Adel sekarang mah laper laper laper teros...huuhh…!" Asep memang tak pernah bisa untuk tak meledek Hanan.
"Jangan mulai deh loe tenaga gue belum sempurna sekarang. Tar abis makan kalau mau berantem tuh ada lapangan di sana aja gimana tempatnya luas cocok sekali untuk menghajar loe."
"Mau pesen apa Mas?" Tiba seorang pelayan cantik menyapa mereka, dengan rambut terikat ke belakang dan memakai celemek khas rumah makan tersebut.
"Hai mba cantik aku mau makan rendang ya. Loe pesen apa Nan?" Kata Asep sambil tersenyum manis dengan lesung pipinya.
"Gue ayam bakar aja mbak sama teh anget ya jangan manis-manis."
"Karna saya udah manis kan mas?" Ledek seorang pelayan itu.
"Hahaha." Hanan dan Asep tertawa keras hingga menjadi pusat perhatian.
"Tunggu sebentar ya mas saya siapkan dulu." Pelayan cantik itu pun pergi untuk menyiapkan pesanan mereka.
"Di kota harus pandai ngegombal kayaknya Nan. Gue mau belajar ah." Kata Asep sambil menopang kan kaki kanannya di atas kaki kirinya.
"Loe belajar yang bener lulus dengan predikat tertinggi bukan malah belajar gombalin cewek."
"Kan Emak juga butuh mantu nanti haha."
"Jangan aneh-aneh gue aduin ke Pakde loe nanti."
"Ah elo mah dikit-dikit ngadu dasar tukang adu domba."
"Enak aja loe bilang."
Mereka lalu terdiam melihat pesanan mereka datang. Tak pikir panjang mereka yang sedang kelaparan langsung melahap makanan yang mereka pesan.
Setelah sarapan Hanan memesan sebuah ojek online dengan alamat tujuan asrama Asep nantinya.
Asep kuliah di Jakarta atas rekomendasi dari gurunya di sekolah. Semua informasi yang didapat atas saran dari gurunya jadi Asep hanya tinggal bilang sama Hanan yang umurnya lebih tua dia.
Tak sampai lima menit mobil yang Hanan pesan tiba di titik lokasi mereka. Hanan dan Asep pun masuk mobil dan mobil pun melaju.
Tertera di handphone Hanan kalau perjalanan mereka akan memakan waktu 1 jam lebih. Itu kalau gak macet karna lampu merah. Hanan yang terlalu kenyang merasa bosan dan mengantuk Ahir menyandarkan kepala di kursi mobil lalu tidur.
Berbeda dengan Asep. Dia memasang earphone nya dan memainkan game online nya. Dia berpikir setelah kuliah nanti mungkin dia tak akan sering bisa main game online.
Hanan terlelap selama lebih dari 45 menit di mobil taxi online itu.
Hanan terbangun dan memfokuskan pandangannya. Hanan menatap keluar jendela. Melihat bangunan gedung tinggi menjulang. Hanan melirik-lirik pandangan menikmati indahnya kota Jakarta.
"Hah itu sepertinya aku kenal?" Gunam Hanan melihat seorang gadis di bonceng oleh ojek online di sebuah jalan yang sedang berhenti karna lampu merah. Gadis itu memakai hijab Lilac dengan gamis berwarna abu tua. Dia memakai sebuah ransel di belakang nya. Dia ingat itu ransel yang sering di pakai Adelia.
Tapi saat Hanan mau membuka jendela kacanya wanita yang dia anggap itu Adel sudah berjalan karna lampu sudah merah.
"Aku berhalusinasi atau itu memang Adel? Tapi masak Adel di Jakarta?" Hanan menggaruk bagian belakang kepalanya yang tak gatal. Rasa rindunya pada Adelia membuat nya melihat setiap wanita yang dia temui adalah Adel. Hanan pun mengusap wajahnya dengan kasar lalu pandangan terfokus ke depan.
"Masih jauh ini pak?" Tanya Hanan pada supir taxi itu.
"Sebenernya udah deket mas tapi jalannya macet ada perbaikan jalan tol di depan sana jadi macet." Ujar supir taxi itu.
"Oke deh."
Hanan bosan sedari kemarin duduk di sebuah mobil. Hanan merasa pantatnya panas mungkin sekarang sedikit tepos.
"Loe gelisah banget sih Nan ganggu konsentrasi gue aja loe." Kata Asep yang kesal karna Hanan terus saja merubah posisi duduknya.
"Bawel amat sih loe jadi laki. Jadi bancinaja deh loe kesel gue."
"Lagian loe duduk gak mau diem kan gue keganggu mainnya."
"Loe udah kayak emak gue Nan haha. Jangan-jangan karna loe bucin loe jadi sedikit dewasa haha."
"Reseh loe."
Hanan membuang muka lalu membelakangi tubuh Asep. Hanan menatap kembali bagian samping mobil. Yang Hanan lihat sekarang ada gedung-gedung mewah dan mobil yang sedang melintas.
Setelah perjalanan panjang ahirnya Hanan dan Asep tiba di asrama yang di tuju. Hanan membayar supir taxi online itu lalu mereka mencoba masuk dan mencari bagian administrasi.
"Selamat siang mbak." Sapa Hanan pada seorang gadis cantik berhijab yang sedang duduk di depan komputer.
"Iya siang mas ada yang bisa di bantu." Jawab gadis itu
"Mau daftar ulang mbak atas nama Asep Iskandar mbak."
"Ada bukti pendaftaran online nya mas?"
"Ada mbak ini."
Hanan memberikan sebuah screen shot bukti pendaftaran online kebagian administrasi itu.
"Saya cek dulu ya mas. Silahkan duduk di sebelah sana untuk menunggu." Gadis itu menunjukkan kursi tunggu yang tak jauh dari tempat mereka berdiri.
Sekitar 10 menit mereka menunggu ahirnya mereka di panggil kembali
"Mas Asep dengan kuliah fakultas ekonomi ya. Ini tanda terima nya dan ini nomor ruang asramanya. Silahkan di cek dulu.
Asep dan Hanan membaca selembar kertas yang di berikan gadis itu lalu mengangguk.
"Terimakasih mbak." Kata Hanan sambil menundukkan sedikit badannya.
"Sama-sama mas semoga betah ya tinggal di asrama."
"Iya mba mari kami permisi dulu."
"Silahkan."
Hanan dan Asep menuju sebuah asrama kusus pria. Dua gedung berhadapan dengan tinggi empat lantai dan nuansa cet dominan hijau itu membuat Hanan dan Asep menganga.
"Keren nih tempatnya. Gue pasti betah disini haha."
"Yang penting itu belajar dan prestasi nya. Ayo cepet cari kamar mu."
"Kamar lantai tiga nomor 98."
Hanan dan Asep menaiki tangga yang ada di bagian tengah gedung tersebut.
"Gila nih gak ada lift nya. Kasian yang di lantai atas ini mah."
"Gak usah bawel loe."
Mereka pun tiba di kamar yang di tuju. Ternyata disana sudah ada dua laki-laki yang merebahkan tubuh mereka di tempat tidur mereka.
"Wah gue udah punya temen baru nih." Ucapnya berbisik di dekat telingan Hanan.
"Halo semua nama gue Asep." Asep dengan pede nya langsung bersalaman dengan mereka.
"Gue Yosef."
"Gue Akmal."
Mereka pun mengobrol saling memperkenalkan diri dan membahas fakultas yang mereka ambil. Sedangkan Hanan sudah tertidur pulas di kasur yang cukup empuk untuk beristirahat.
Hanan masih harus menemani sepupunya Asep untuk beberapa hari kedepan. Dia harus memastikan segala keperluan Asep terpenuhi disana. Dia harus menemani Asep berbelanja dan melihat semua jadwal kuliahnya nanti.
Paling tidak Hanan bisa sedikit melonggarkan pikirannya tentang Adelia karna kesibukan dengan Asep.
##############################
...Hallo Reader yang budiman. Mohon dukungannya ya dengan tinggalin jejak kalian setelah membaca novel ini 😁🙏...
...Kalau kalian mau tanya seputar novel ini bisa langsung follow ig ku @deliss_aa1...
...Terimakasih banyak dukungan 😘...