BROK3N

BROK3N
Bab 54 Kedatangan Tamu



Author POV.


Suasana sore ini sedang hujan walaupun tak begitu deras. Tapi cuaca yang seperti itu tak menyurutkan semangat Bu Dian untuk bertemu dengan cucunya.


Bu Dian terus saja membujuk Zaki untuk sesegera mungkin mengantarnya ke rumah Adelia. Sore ini juga mereka berangkat menuju rumah Adelia sesuai janji Zaki pada Ibu. Ini juga jadi kesempatan Zaki karna hari ini Sinta tak mengikuti nya.


Zaki juga harus tau jadwal kerja Adelia agar mereka bisa berkumpul nantinya. Kebetulan Adelia sudah pulang. Dia kerja sif pagi dan Hanan tak sedang bersamanya. Zaki tau karna Zaki memerintahkan seseorang untuk mengintai rumah Adelia.


Tak butuh waktu lama untuk Zaki sampai di sebuah rumah kecil bernuansa kuning mix hijau itu. Dia mengendarai mobil Pajero nya dengan kecepatan cepat padahal sedang turun hujan tapi Bu Dian sangatlah tidak sabaran jadi memintanya udah sesegera mungkin. Ahirnya Zaki memarkirkan mobilnya tepat di depan pintu rumah Adelia. Pintu rumah itu terlihat terbuka di sebelah sisinya.


Zaki pun keluar dari mobil dengan sebuah payung bercorak bunga-bunga dan berlari ke sisi sebelah mobil untuk membukakan pintu Bu Dian.


Belum mereka mengucapkan salam ternyata Adelia sedang duduk bersama baby Misela di lantai sudut ruang tamu.


Buk Dian langsung mengucapkan salam.


"Assalamu'alaikum Adelia."


Suara itu berhasil membuat Adelia terperanjat kaget karna dia tak pernah menyangka sama sekali Bu Dian akan berkunjung kerumah yang tak ada istimewa itu dibandingkan rumah mewah mereka.


"Wa- wa- wa'alaikumsalam. Tante Dian? Zaki? Ka-kalian kesini?" Terlihat Adelia yang gugup dengan kehadiran mereka. "Ma-masuk. Maaf rumahnya berantakan. Ayo sini duduk. Bu...Ibu... kesini dulu." Bu Dian tersenyum senang melihat wajah Adelia dan melihat perilaku nya yang salah tingkah. Ada sebuah penyesalan di hatinya karna tak membela Zaki di depan Pak Ibnu dulu.


Bu Dian pun melirik baby Misela yang sedang dalam ayunan mengangkat-angkat kan kakinya sambil dipegang oleh tangannya sendiri dan tersenyum-senyum.


"Em Tante sudah tau semuanya dari Zaki. Tante ingin sekali menggendong Misela, apakah boleh?" Bu Dian sedikit memohon. Ahirnya Adel pun mengangkat baby Misela dari ayunannya dan memberikan pada Bu Dian.


Air mata Bu Dian menetes begitu saja. Benar yang Zaki ucapan kan kemarin kalau baby Misela sangat mirip dengan Donita saat kecil dulu. Semuanya nyaris sama. Bu Dian tak tahan menatapnya. Bu Dian pun mencium kedua pipi baby Misela. Lalu menempelkan pipinya dengan pipi Bu Dian.


Aku begitu terbuai melihat Bu Dian sangat menyayangi cucunya. Padahal sebelumnya aku berfikir kalau Bu Dian tak akan menerima kehadiran baby Misela.


"Nak kamu benar-benar sangat mirip Tante Donita Nak. Jika dia ada disini pasti Oma akan berebut menggendong mu nak hiks hiks..." Bu dia sangat terharu. Dia mencium dengan lembut pipi baby Misela. Dan saling menempel kan pipi. Bu Dian terlihat sangat menyayangi baby Misela.


"Siapa Donita Tante?" Adelia penasaran kenapa anaknya di samakan dengan orang yang bernama Donita.


"Dia adik gue yang hilang Del. Wajah Misela benar-benar mirip dengan Donita. Tadinya gue juga kaget makanya gue ajak Mamah kemari untuk memastikan." Jawab Zaki.


Iya aku baru ingat kalau adik Zaki hilang karna korban penculikan saat itu. Aku jadi merasa kasian dengan Bu Dian yang kehilangan anak perempuan nya. Pantas saja Bu Dian begitu memanjakan baby Misela.


"Liat Zak dia tersenyum pada Mamah Zak, Hati Mamah sangat bahagia melihat senyumnya. Mamah seolah sedang menggendong Donita hiks hiks..." Bu Dian kembali menangis.


"Siapa Del?" Tanya Bu Renita. " Hah? Zaki?" Zaki pun langsung mencium punggung tangan Bu Renita yang sedari tadi sibuk di belakang.


"Sore Tan, apa kabar Tante sekarang?" Zaki menyapa Bu Renita yang masih kaget dengan kedatangan apalagi bersama dengan Bu Dian.


"Di-Dian kan? Iya kamu Dian kan?" Kata Bu Renita.


"Hah? Renita? Iya aku Dian. Jadi kamu Ibu nya Adelia?" Bu Dian pun ikut terkejut.


Bu Renita pun duduk di sebelah Bu Dian. Mereka saling menatap dan tersenyum satu sama lain. Sepertinya sebuah reoni.


"Kok bisa-bisanya kita bertemu dalam keadaan seperti ini." Kata Bu Renita.


"Inilah takdir Tuhan Ren. Ternyata anak kita saling mengenal malah sudah buat cucu semanis ini." Kata Bu Dian sembari mengusap pipi baby Misela.


"Ibu kenal dengan Mamahnya Zaki?" Tanya Adelia yang sangat penasaran kenapa mereka bisa saling menyebutkan nama. Begitu juga dengan Zaki yang tak menyangka Mamahnya mengenal Ibu Adelia.


"Iya Nak Bu Dian dulu adalah teman baik Ibu saat kami di sekolah SMA di Malang. Tapi saat kelulusan Bu Dian tak ada kabarnya. Hanya ada gosip kalau Bu Dian di jodohkan oleh orang tuanya. Itu saja setelah itu..." Bu Renita belum selesai bicara lalu di potong oleh Bu Dian.


"Setelah itu kami tak pernah bertemu lagi. Tante bahkan tak bisa menemui Ibu mu kata Om Ibnu tak pernah ijinkan Tante buat pergi. Tapi sekarang kami di pertemuan karna baby mungil ini." Bu Dian mengelus pipi baby Misela dengan jari telunjuknya.


"Bukan aneh Zak. Ini adalah Takdir Nak." Ucap Bu Dian pada Zaki.


"Yan kamu masih suka minum teh tanpa gula?" Tanya Bu Renita.


"Iya buatin aja Ren. Kebetulan suasananya cocok sekali." Kata Bu Dian.


Suasana di ruang tamu itu terlihat seperti sebuah keluarga yang lama tak bertemu. Adel pikir bakal terjadi sebuah pertengkaran dan perdebatan tapi ternyata malah sebaliknya.


"Tan, Apa Tante dan Zaki kesini untuk mengambil Misela?" Tanya Adel dengan kepala tertunduk dan takut.


"Engga Adel. Mana mungkin Tante setega itu memisahkan anak dari ibunya. Tante hanya ingin melihat nya karna kata Zaki dia sangat mirip Donita. Ternyata benar. Tante sangat merindukan Donita." Kata Bu Dian.


"Terimakasih Tan. Maaf tapi Adel sangat takut kalian mengambil anak ku." Kata Adel yang ternyata menitikkan air mata dalam tunduknya. Zaki menghampiri Adel dan duduk di sebelahnya.


"Gue gak akan setega itu Del. Gue tau semua yang udah loe laluin sangat berat. Loe bertahan karna Putri kita kan, jadi tak mungkin kami memisahkan kalian. Kami hanya ingin menggendong dan bermain dengan nya." Zaki menegakkan badanku dan memegang kedua bahu ku.


"Maafin Tante ya Del saat Zaki dipaksa ke Singapura Tante tak bisa membelanya sama sekali. Bahkan Zaki di tampar beberapa kali karna membela mu. Tapi Zaki juga tak mau kamu kenapa-kenapa jadi Zaki harus mengikuti aturan Papah nya." Penjelasan Bu Dian membuat hati Adel goyah.


"Benarkah seperti itu. Apakah Zaki benar-benar tak ada niat mencampakkan ku. Tuhan perasaan apa ini. Tiba-tiba ada setelah mengetahui yang sebenarnya." Adel hanya membatin mencerna setiap kata yang Bu Dian ucapkan.


"Ini minumnya. Kok tegang amat." Bu Renita datang dengan secangkir teh pait dan air putih hangat karna Zaki tak biasa minum aneh-aneh.


"Ini Ren anak-anak bagaimana kalau mereka kita nikahan saja. Supaya aku bisa bersama dengan baby Misela."


Deg


Jantung Adel seakan berhenti. Bagaimana bisa Bu Dian berkata seperti itu. Sedangkan ada cinta yang sudah menunggu nya sangat lama.


"Itu bukan hal yang bisa aku putuskan. Hanya Adel yang bisa memutuskan hal itu. Kita sebagai orang tua hanya bisa mendoakan yang terbaik." Kata Bu Renita.


"Bagaimana Del apa kamu mau menikah dengan Zaki?" Tanya Bu Dian pada Adel.


"Zaki sangat mau Bu. Zaki memang mengharapkan Adel jadi istri Zaki. Del...!" Zaki menyela pembicaraan Mama nya lalu menggenggam sebelah tangan Adel dan meletakkan nya di atas paha Zaki. Zaki menatap Adel dengan penuh kehangatan.


Adel masih diam. Matanya tertuju pada putrinya Misela.


"Del jangan melamun. Mamah sedang melamar mu untuk ku." Kata Zaki yang menyadarkan Adelia dalam lamunannya.


"Maaf Tan itu hal yang sulit untuk di putuskan sekarang. Beri Adel waktu untuk memikirkan nya." Adelia pergi dari ruang tamu. Adelia seperti akan menangis.


Zaki akan menyusul nya. Tapi di tahan oleh Bu Dian.


"Biarkan Zak. Adel memang perlu memikirkan hal sebesar ini. Dia pasti masih merasakan sakit di hatinya." Kata Bu Dian.


"Maaf ya Nak Zaki. Selama ini Adel memang mengalami masa yang sulit. Bahkan dia harus tetap bekerja saat hamil tua." Kata Bu Renita menjelaskan pada Zaki.


"Zaki yang harusnya minta maaf. Zaki yang bodoh udah buat Adelia terluka dan menderita selama ini." Zaki pun duduk kembali.


Suasana yang tadinya bahagia tiba-tiba berubah. Bu Dian pun tak lagi membahas masalah pernikahan. Semua keputusan di serahkan sepenuhnya pada Adel.


Bu Dian sadar tak bisa berlama-lama di rumah Adel. Dia harus menjaga suaminya yang masih koma di rumah sakit. Setelah puas memeluk dan mencium baby Misela Bu Dian dan Zaki berpamitan. Tapi Adelia tak menghampiri mereka hingga mereka pergi.


*****


...TERIMAKASIH READER ATAS DUKUNGAN NYA. TERUS BANTU AKU DENGAN TINGGALIN LIKE KOMEN DAN VOTE NYA SUPAYA AKU LEBIH SEMANGAT UP NYA 😍...