
Saat Mereka sibuk dengan perdebatan aku pun keluar secara diam-diam.
"Ugh mereka berdebat sampe gak sadar aku pergi dasar cowok-cowok aneh. Kok bisa Pak RT yang baik itu punya anak dan keponakan seperti itu. Awas aja kalau nanti main gak ku bukain pintu." Aku hanya bicara sendiri sambil memandangi rumah Pak RT lalu pulang.
Dalam perjalanan aku banyak bertemu Ibu-ibu komplek dan mereka sangat ramah menatap ku. Aku pun menyapa mereka dengan senyum seramah mungkin.
Tiba-tiba ada dua ibu yang menghentikan langkah ku.
"Eh neng kamu kan anaknya Bu Renita?" Tanya seorang ibu bergamis salur hitam putih berpadu dengan jilbab hitam.
"Iya Bu salam kenal saya Adelia panggil saja Adel." Jawab ku.
"Ya ampun kamu cantik banget sih neng ramah juga gemes Ibu pengen ngangkat kamu jadi mantu deh." Kata Ibu satunya dengan gamis polos Lilac dan jilbab senada.
'Iya aku tau itu Bu kalau aku cantik.' Bathin ku dengan senyum jahat.
"Ih anak mu masih kecil jeng. Mending jadi mantu Ibu aja neng anak ibu udah kerja di Jakarta loh di kantoran." Kata Ibu bergamis salur hitam.
"Jangan neng anak ibu ini playboy jangan mau." Kata Ibu bergamis Lilac.
"Iih jeng tapi kan kamu juga suka liatin anak aku yang ganteng mapan lagi." protes ibu bergamis salur hitam.
Aku hanya tertawa kecil mendengar ucapan ibu-ibu itu yang memperebutkan ku jadi menantu mereka. Jaman sekarang mana ada anak yang mau dijodohin.
"Sudah Bu saya belum mau menikah. hmm Saya permisi dulu Bu assalamu'alaikum."
"Eh neng kapan-kapan main dong, kerumah ibu ya." Kata ibu bergamis salur hitam.
"Iya Bu insyaallah assalamu'alaikum Bu."
"Wa'alaikumsalam." jawab mereka kompak.
'ada-ada aja tuh emak-emak.'
***
Author POV
"Loh Ka Adel mana?" Asep tersadar kalau Adelia sudah tak duduk di sisinya lagi.
"Loe sih ngajak ribut." Sahut Hanan.
"Kan loe yang mulai." Asep mulai berdebat lagi.
"Udah ah gue mau kerumah Adel dan loe jangan ikut." Ancam Hanan dengan menunjuk Asep.
"Enak aja gue kangen Ka Adel malah gak boleh ikut."
"Bocil gak usah ngomongin kangen."
"Kita cuma beda satu tahun jangan panggil gue bocil terus."
"Ah terserahlah."
"Heh tungguin gue mau ganti baju dulu."
"Ogah."
"Sus pasien atas nama Pak Ibnu yang kecelakaan tadi siang di ruang mana ya." Zaki bertanya dengan cepat tapi tangannya bergetar kakinya bahkan lemas nafasnya pun tak teratur. Sedangkan Bu Dian hanya menangis sedari di rumah tadi.
"Adek jalan aja lurus ke sana nanti belok kiri lurus lagi kamar paling ujung itu ruang Pak Ibnu." Jawab seorang suster penjaga resepsionis.
"Terimakasih."
Zaki dan Mamahnya bergegas ke ruang yang di arahkan suster tersebut. Tibalah mereka di sebuah ruang dengan 2 pasien disana. Tentu satunya adalah Pak Tarjo. Tak ada siapa pun disana. Banyak alat terpasang di bagian tubuh Pak Tarjo dan badannya penuh dengan perban putih. Sedangkan berbeda dengan Pak Ibnu kepalanya terlihat dibalut sedikit perban dan kakinya terbungkus dengan kain putih tapi terbalut jadi satu dengan balok kayu. Artinya Pak Ibnu mengalami patah tulang.
"Ya ampun Pah kok bisa begini sih hiks hiks." Tangis Bu Dian pecah saat melihat kondisi suami dan supirnya itu. Bu Dian memeluk tubuh suaminya yang terbaring tanpa daya. Zaki hanya bisa mengusap punggung Mamahnya.
"Sabar Bu jangan ganggu Papah. Ayo kita tunggu di luar dulu. Kita tunggu Dokter. Biar Papah istirahat Bu."
Bu Dian berjalan dituntun oleh Zaki dan mereka menunggu di luar ruangan. Tak berapa lama Dokter pun datang untuk memeriksa Papahnya.
Saat Dokter keluar dari ruangan Zaki langsung menghampirinya.
"Dok apa Papah saya baik-baik saja." Zaki sangat menanti kabar baik.
"Pak Ibnu mengalami patah tulang dibagian kakinya dan benturan di kepala yang cukup hebat, memang tidak banyak luka di luar seperti pasien satunya tapi harus kami periksa lebih lanjut lagi semoga Pak Ibnu lekas sadar agar kami mudah mengambil keputusan." Jelas Dokter tersebut.
"Terus bagaimana dengan supir kami Pak Tarjo Dokter?" Tanya Bu Dian.
"Pak Tarjo tak mengalami hal serupa dengan Pak Ibnu, tapi luka di bagian luarnya butuh waktu lama untuk proses sembuhnya."
"Tolong Dok lakukan yang terbaik untuk suami saya hiks berapa pun biayanya hiks... Dan pindahkan suami saya diruang VVIP Dok say tak tega liat suami saya di ruangan kecil seperti ini hiks..." Bu Dian tak sanggup menahan tangisnya lagi dan duduk lemas di kursi depan kamar pasien.
"Kami akan berusaha yang terbaik Bu. Nanti biar perawatan kami yang memindahkan pasien ke ruang VVIP Bu. Kami permisi dulu." Dokter pun berjalan pergi.
"Terimakasih Dok." Jawab Zaki.
Zaki dan Bu Dian kembali duduk. Zaki mencoba menenangkan Mamahnya.
"Sudah Mah jangan nangis terus Papah akan baik-baik saja Mah Dokter sudah berusaha Mamah harus sabar kita doakan supaya Papah cepet sadar Mah."
Bu Dian hanya mengangguk.
Tak berapa lama para perawat memindah Pak Ibnu ke ruang yang diminta Bu Dian. Dan Pak Tarjo di biarkan saja. Pak Tarjo tak punya siapa pun. Sejak anak dan istrinya meninggal Pak Tarjo kerja sebagai supir dirumah Pak Ibnu.
Hari sudah sore. Matahari hampir tenggelam tapi Pak Ibnu belum sadarkan diri. Zaki dan Bu Dian sedang memandangi wajah yang masih menutup rapat matanya itu di sofa.
Pikiran Zaki sudah sangat kacau. Dalam hati terdalam nya Zaki memang membenci Papah nya. Tapi bagaimana pun orang yang sedang dia pandangi itu adalah Papah nya.
Sejak masuk SMP Zaki kehilangan sosok Papah yang menyayanginya. Pak Ibnu sibuk dengan perusahaan yang di rinitis nya bersama dengan Pak Hanif dan Pak Tomo Ayah Adelia. Papah Zaki tak pernah lagi memikirkan Zaki bahkan saat Zaki sakit Pak Ibnu tak pernah menengoknya dengan alasan banyak pekerjaan. Zaki selalu memaksakan dirinya untuk jadi yang terbaik di sekolah agar Papahnya yang selalu ada untuknya kembali seperti dulu.
Tapi tidak, bahkan saat Pak Tomo menabrak Zaki dan membuat Zaki kehilangan kesempatan untuk lomba lari di Jepang Pak Ibnu malah membiarkan Pak Tomo tetep berkerja dengan alasan tak ada yang bisa menggantikan posisi Pak Tomo tanpa memikirkan perasaan Zaki.
Dari situlah Zaki mulai memendam rasa benci pada Papahnya dan dendam dengan Pak Tomo.
****
...Terimakasih reader atas support nya 🙏...
...jangan lupa mampir juga di...
...CINTA SUCI ANAYA...