BROK3N

BROK3N
10. Di Rumah Zaki



"Assalamu'alaikum mah Zaki pulang. Mamah…. Zaki pulang…!" Zaki berteriak memanggil mamahnya. Memang rumah Zaki begitu besar. Wajar saja dia butuh teriakan dirumah ini.


"Silahkan duduk dulu Del. Aku mau kebelakang dulu mungkin mamah ku lagi ngurus taneman jadi gak denger panggilan ku." Zaki menunjuk sebuah sofa berwarna biru. Aku pun berjalan menuju sofa yang di tunjuk Zaki dan duduk memandangi rumah yang bagus ini. Saat pesta banyak dekorasi jadi tak bisa melihat aslinya ruang tamu yang berukuran sekitar 10 meter ini.


Aku pun terpana melihat kolam renang yang air nya berwarna biru laut. Benar-benar mengundang ku untuk berenang disana. Ku melihat sekeliling juga. Ada banyak foto terpajang. Ku langkahkan kaki ku ke sebuah foto yang sangat menarik. Iya itu adalah adik perempuan Zaki. Begitu imut nan cantik mirip sekali dengan mamahnya. Pasti mamahnya Zaki sangat sedih kehilangan putrinya.


Ku duduk di sofa lagi. Takut dikira mau mencuri nanti.


Tak butuh waktu lama untuk Zaki memanggil mamahnya.


"Maaf ya nak Adelia tadi Tante lagi nyiram tanaman dibelakang. Lama ya nunggunya." Mamahnya Zaki menghampiriku dan memeluk ku dengan penuh kasih sayang.


"Maafin Tante sama Om ya karna gak Dateng ke acara pemakaman Ayah mu. Kemarin kebetulan sekali neneknya Zaki juga masuk rumah sakit jadi kami tidak bisa hadir." Jelas Tante Dian.


"Gak papa Tante. Terimakasih sudah perhatian." Aku merasa gak enak karna sempat mikir yang aneh-aneh. Terang saja masak karyawan terlama dan terdisiplin seperti Ayah Bosnya tak datang. Aku harap bukan keluarga ini yang menabrak Ayah ku.


"Kamu ngobrol dulu ya sama Zaki. Sebentar lagi Om dateng katanya ada yang mau dibicarakan terkait Ayah mu."


"Kenapa gak bilang sama Ibu juga Te?" Aku heran kenapa cuma aku saja yang dipanggil kalau semuanya terkait Ayah.


"Kamu aja udah cukup. Katanya gak enak juga sama ibu mu karna kemarin gak dateng itu. Jadi Om meminta Zaki mengajak mu pulang. Tante ke belakang dulu ya mau beresin kerjaan Tante."


"Makasi Tan…!" Belum selesai aku bicara Tante Dian tersenyum mengangguk dan berbalik pergi ke arah belakang rumah.


"Ayo duduk Del kamu suka minum jus kan aku buatin dulu ya kamu tunggu sini." Ucap Zaki sambil menaruh tasnya di kursi yang di pakai sejak disekolah tadi.


"Loh kamu kok tau aku suka jus." Tanya ku heran.


"Aku sering liat kamu pesan jus di kantin jadi aku pikir kamu suka dengan jus. Alpukat kan?" Tanya Zaki meyakinkan ku.


"Iya makasih Zak."


"Okey tunggu dulu ya."


Zaki pun menuju Dapur.


Memang di rumah sebesar ini gak ada pembantu sampai dia bikin jus alpukat sendiri.


Pandangan ku beralih. Masih ke sebuah kolam renang yang besar di luar sana. Ku pandangi dan kubayangkan jika berenang disana.


"Hei… kamu pengen renang?" Zaki tiba-tiba udah ada dibelakang ku dan menepuk pundak ku.


"Eh kamu ngagetin aja deh. Engga kok cuma takjub aja kamu punya kolam renang segitu besar pasti asik ya bisa renang kapan pun."


"Iya aku kalau lagi sedih atau marah aku selalu menghabiskan waktu ku di kolam renang itu. Dulu memang aku yang minta dibuatkan kolam renang yang besar."


Bremm… bremm…!


Terdengar suara mobil diluar. Iya tentu itu adalah Ayah Zaki.


"Assalamu'alaikum.!" Ayah Zaki masuk rumah dan memeluk Zaki.


"Wa'alaikumsalam" jawab ku dan Zaki serentak.


"Pulang cepet Pah?" Tanya Zaki


"Iya kan mau ketemu Adelia." Jawab Ayah Zaki


"Makasih Om." Aku mengangguk tersanjung dengan kata dari Ayah Zaki.


"Sebentar Om mau ke kamar dulu ya. Diminum dulu jus nya. Itu pasti buatan Zaki sendiri." Sambil menunjuk jus alpukat yang masih dipegang oleh Zaki ayah Zaki tersenyum dan berlalu.


"Ini Del cobain jus buatan tangan ku sendiri." Zaki menyodorkan sebuah gelas langsing.


'Gelas orang kaya ini mah.' gumamku.


"Hmmm… enak Zak pas banget manisnya. Kamu juga suka jus emang kok repot-repot bikin sendiri memang kamu gak ada pembantu?" Tanya ku sambil meneguk kembali jus alpukat buatan Zaki.


"Uhukk...uhuukk…"


Aku tersedak mendengar Zaki punya 15 pembantu di rumahnya.


"Aduh pelan-pelan Del." Zaki ikut panik dan mengambil sebuah tisu untuk mengusap mulut ku. Tapi aku langsung mengambilnya.


"Biar aku aja." Henti ku


"Kenapa Del." Ayah Zaki muncul ikut panik melihat aku yang sedang batuk-batuk.


"Engga tau nih Pah tiba-tiba tersedak mungkin jusnya gak enak aja Pah." Jelas Zaki karna aku belum benar-benar bisa mengatur nafas ku.


"Duduk dulu Del. Tarik nafas lalu minum lagi." Kata Tante Dian sambil memegang tangan ku.


"Ehemm… makasih Tan udan baikan ini tadi cuma kaget saja sama ucapan Zaki." Jelas ku dengan malu-malu.


"Memang kamu bilang apa Zak." Tanya Ayah Zaki.


"Oh tadi Zaki bilang kalau ART disini ada 15 orang Pah."


"Hahaha jadi gara-gara itu." Ayah Zaki tertawa terbahak mendengar penjelasan Zaki.


"Sudah baikan nak Adel?" Kata ibu Zaki


"Sudak kok Tan."


"Jadi gini Del. Om mau minta maaf karna tidak bisa hadir di acara pemakaman Pak Winata. Om sangat menyesal. Pak Winata adalah karyawan yang teladan. Dan sudah sangat lama kerja di kantor Om. Jadi ini ada uang 25 juta sebagai tanda belasungkawa dari kantor untuk Ayah mu."


"Masyaallah" teriak ku kaget dengan jumlahnya yang begitu banyak.


"Tolong diterima ya nak Adel kami benar-benar sangat menyesal tidak bisa datang." Tambah ibu Zaki.


"Alhamdulillah Om Tante terimakasih banyak uang ini Adelia terima. Tapi apa ini tidak terlalu banyak Om."


"Tentu saja tidak. Semoga uang ini bisa membantu kebutuhan ibu mu yang hanya seorang ibu rumah tangga. Om kenal dengan ibu mu. Dia hanya seorang tanpa pendidikan tapi ibu mu orang nya pandai menyesuaikan hal apapun. Pasti berat sekali ditinggal oleh suaminya." Jelas Ayah Zaki.


"Iya nak Adel terima saja uang ini tak banyak bagi kami. Jika kamu berat menerima nya cukuplah balas dengan doa untuk kami sekeluarga." Ibu Zaki mengelus-elus punggung ku. Ku tatap seorang ibu yang penuh kasih sayang itu dihadapan ku. Lalu ku peluk.


"Terimakasih banyak Om Tante semoga uang ini berkah dan keluarga Om dan Tante selalu bahagia dalam lindungan Allah Subhanahu Wa Ta'ala."


"Aamiin. Kalau gitu kamu disini aja dulu ya kita makan malam bersama." Ibu Zaki melepaskan pelukan ku serasaya mengajak ku dinner. Tapi sayang aku gak pamit sama ibu. Kasian juga kalau aku pulang kemalaman.


"Maaf Om Tan, Adelia pulang aja ya. Kasian ibu sendiri dirumah. Pasti ibu juga udah bikin makanan buat Adelia."


"Baiklah kapan-kapan kamu harus ikut kami makan malam ya. Sampaikan maaf Om dan Tante pada ibu mu. Nanti biar di anter sama Pak Tejo saja." Kata Ayah Zaki.


"Zaki mau ikut nganter Adel ya Mah Pah." Zaki menyela.


"Iya Nak ikut aja." Kata Ayah Zaki mengiyakan permintaan Zaki.


"Kalau gitu Adelia permisi dulu ya Om Tante terimakasih sekali lagi. Assalamu'alaikum." Kucium tangan Ayah dan Ibu Zaki. Lalu berjalan keluar.


Zaki membukakan pintu mobilnya untuk ku. Aku yang tersipu malu langsung masuk mobil. Zaki berlari ke pintu sebelah dan duduk di samping ku sedangkan pak Tejo sudah siap dimobil sejak tadi.


"Supirnya ganti lagi Zak." Tanya ku pada Zaki


"Yang penting sampai rumah mu. Nanti kamu tersedak lagi kalau aku jelaskan. Ayo jalan Pak." Zaki tersenyum menatap ku.


****


...Happy Reading 😍...


...Mohon tinggalkan like dan komentar untuk mendukung karya novel ku 😊...


...Terimakasih 🙏...