BROK3N

BROK3N
20. Cita atau Cinta



"Pak permisi ke sebelah mana ya arah taman." Tanya Zaki pada satpam yang ada diluar supermarket.


"Ke sebelah sana Dek." Satpam itu mengangkat tangan kanannya menunjukkan arah menuju taman.


"Terimakasih Pak." Kami membungkukkan sedikit badan.


Aku dan Zaki berjalan ke arah yang ditunjuk satpam tadi. Benar saja tak lama kami berjalan kami melihat sebuah taman yang sangat luas. Tak ramai orang. Tapi view nya bener-bener menakjubkan. Warna hijau beberapa pohon membuat mata ku tak berkedip. Banyaknya bunga dengan warna yang berbeda tak membuatku bergerak. Apalagi udaranya yang segar berbuat ku membentang kan kedua tangan ku dan memejamkan mata kemudian menarik nafas dalam untuk merasakan sejuknya suasana ini. Bagaimana bisa ada taman sebagus ini di tengah bangunan tinggi. Ku buka mata ku lalu ku peluk boneka Minnie yang sedari tadi aku bawa.



Zaki mencolek bahu ku menyadarkan ku dari hayalan yang sedang ku nikmati.


"Aku terhipnotis oleh suasana yang seperti ini Zak. Aku suka sekali melihat pemandangan hijau begini. Dulu Ayah sering sekali ngajak jalan kalau weekend. Tapi sekarang gak ada lagi yang ngajak aku melihat pemandangan indah seperti ini." Aku jadi murung karna teringat akan kenangan bersama Ayah.


"Kan sekarang ada aku yang ngajakin kamu. Aku janji akan selalu ngajak kamu ke tempat yang kamu suka." Zaki menunduk menatap ku dengan penuh kehangatan. Dia terlihat begitu tulus. Matanya tak ada kebohongan sama sekali.


"Terimakasih Zak." Aku pun membalas tatapan Zaki. "Kamu baik sekali. Tapi sampai saat ini aku bahkan gak tau aku pantas untuk mu atau tidak." Aku membuang muka kembali melihat ke sekeliling taman. Aku tak tau kata-kata ini terlalu dewasa atau tidak.


"Kamu ngomong apa sih. Itu ada tempat duduk kosong kesana yuk." Zaki menunjuk ke arah sebuah tempat duduk kosong di bawah pohon. Ahirnya kami berjalan bersama menuju kursi tersebut.


Kami duduk menikmati apa yang ada di depan kami. Hanya ada beberapa orang di taman ini. Mungkin karna ini bukan hari libur jadi suasananya sepi. Aku yakin kalau ini hari libur atau weekend pasti sangat ramai.


Aku menunduk terfokus dengan boneka Minnie.


"Zak...!" Panggil ku tanpa melihatnya.


"emh." Zaki menoleh menjawab panggilan ku.


"Setelah lulus sekolah kamu mau kemana? Kuliah atau...?"


"Aku punya cita-cita jadi Dokter Del." Belum ku selesaikan pertanyaan ku Zaki sudah menjawabnya. "Tapi aku harus meneruskan perusahaan Papah. Aku cuma anak satu-satunya. Kalau kamu?" Sambung Zaki dan memberi ku pertanyaan kembali.


"Aku belum terpikirkan Zak. Hutang Ayah masih harus dilunasi. Mungkin aku akan mencari kerja." sahutku.


"Kenapa kamu gak coba minta kerjaan sama Papah biar kita nanti bisa ketemu tiap hari." Zaki malah menggoda ku.


"Aku gak bisa Zak. Ada banyak alasan mengapa aku gak bisa kerja di kantor Ayah mu. Zak, aku menyukai mu tapi mungkinkah kita akan selalu bersama? Zak aku sudah berjanji pada Ayah aku akan mengejar cita-cita ku dan menjadi wanita karier yang sukses." Ku tatap mata Zaki yang memang sejak tadi dia melihat ku.


"Aku sudah janji akan menjaga mu dan menghibur. Walau kita masih muda tapi aku sangat menyayangimu Del. Aku berharap kita akan selalu bersama." Zaki tersenyum dan memegang kepala bagian belakang ku.


"Tapi Zak aku anak seorang janda yang miskin. Sedangkan kamu?" Aku terdiam tak meneruskan perkataan ku. Zaki hanya tersenyum. Dia menatap kembali apa yang ada di depannya.


"Del semoga kita berjodoh ya. Harta tak bisa mengukur sebuah cinta. Aku benar-benar menyayangi mu." Kata-katanya membuat ku tenang. Seolah dia adalah sosok yang sudah sangat dewasa. Aku seakan mendapatkan kembali malaikat pelindungi ku.


"Terimakasih Zak." Zaki kembali memegang kepala bagian belakang ku dan mengelus hijab ku.


"Mau pulang sekarang? Atau kita cari makan dulu? Mie Ayam yuk? Atau Nasi Padang?" Tanya Zaki.


Aku mengangguk mengiyakan pertanyaan Zaki. Entah Mie Ayam atau Nasi Padang keduanya adalah makanan terfavorit aku. Lagi-lagi Zaki membuatku makin menyukai nya karna dia selalu tau apa yang aku suka.


Kami berjalan kembali ke parkiran dimana Pak Tarjo tadi berhenti.


Sambil berjalan aku masih melihat-lihat sekeliling taman. Masih enggan rasanya untuk beranjak dari tempat seindah ini. Entah kapan aku bisa kesini lagi.


"Loh kok hujan ayo Del cari tempat berteduh." Padahal langit lumayan cerah tapi turun hujan lebat. Zaki menggenggam tangan ku dan mengajak ku berlari ke sebuah Ruko tutup yang tak jauh dari taman. "Aduhh...basah jadinya. Sini bonekanya masukin aja ke kantong baju. Untung aja kamu pake baju rajut ya." Zaki menyodorkan sebuah Tas belanja yang berisi gamis dan hijab ku tadi karna masih cukup untuk sebuah boneka berukuran kecil yang sedari tadi tak ku lepaskan.


Zaki melihat sekeliling. "Harusnya Pak Tarjo bisa jemput kita disini." Dia pun merogoh saku celananya dan mengambil handphone. Zaki memfoto kesana-kemari. Aku yakin pasti dikirim ke Pak Tarjo untuk menjemput kita.


Dan benar saja tibalah sebuah mobil putih Pajero didepan kami. Pak Tarjo keluar dan berlari dengan membawa sebuah payung.


"Ini Den payungnya. Ayo masuk ke mobil." Pak Tarjo menyodorkan sebuah payung grey dengan motif polos. Zaki menerima payung itu lalu membukanya.


"Ayo Del masuk mobil." Ajak Zaki.


Hanya untuk beberapa detik saja bahu ku harus menempel dengan bahu Zaki karna payungnya tak cukup besar. Zaki lalu membukakan pintu mobil sambil tetap memayungi ku. Sedangkan Pak Tarjo masih harus berlari untuk masuk ke mobil.


*Didalam mobil.*


"Kenapa jadi tiba-tiba hujan deras gini." Zaki bergunam sambil menoleh ke luar jendela mobil. "Pak kita cari makan dulu ya Mie Ayam. Cari yang tempatnya enak buat bersantai sejenak." Kata Zaki pada Pak Tarjo.


"Baik Den." Jawab Pak Tarjo. Lalu mobil pun berjalan ke arah yang tak aku tau.


Tak lama Pak Tarjo melambatkan mobilnya dan masih tengok kanan kiri dan berhenti di sebuah kedai Mie Ayam Bakso yang saat itu cukup ramai pengunjung nya.


"Den disini aja mau?" Zaki pun menoleh dan dia setuju.


Zaki membuka pintu mobil dan kembali membuka payungnya.


"Pak cari tempat parkir yang aman ya. Itu dibelakang kursi masih ada satu payung lagi."


"Bapak tunggu di mobil saja Den masih kenyang soalnya." Kata Pak Tarjo.


"Okey kalau begitu kita makan dulu ya Pak." Zaki pun keluar dari mobil dan berjalan ke arah belakang lalu membukakan ku pintu. "Hati-hati Del agak licin." Kami pun beradu bahu lagi dan berjalan perlahan menuju kedai.


Didepan pintu kedai Zaki menutup kembali payungnya dan menaruhnya di pojok pintu lalu kami masuk ke dalam.


Zaki celingukan mencari tempat duduk. Untungnya masih ada kursi kosong yang lumayan nyaman. Kami pun duduk berhadapan.


"Pesan apa Dek?" Kata pelayan di kedai itu.


"Dua porsi Mie ya Mas sama jus alpukat jangan pake es." Pesan Zaki pada Mas-mas yang menghampiri kami.


Tak butuh waktu lama pesenan kami datang. Kami pun menikmati nya sambil menunggu hujan reda.


*****


...Yang masih setia membaca novel ini author sangat berterima kasih sekali 🙏❤️...


...Jangan lupa selalu meninggalkan dukungannya ya 🥳...