
Sebentar lagi sudah adzan magrib. Mobil yang kami naiki melaju perlahan. Padahal jarak rumah ku masih cukup jauh. Karna ini sudah termasuk jam sibuk jadi dijalan sangat ramai. Bahkan tidak ada celah untuk menyalip.
Tak ada pembicaraan diantara aku dan Zaki saat di mobil. Aku juga canggung untuk memulai pembicaraan. Zaki hanya sesekali menengok ku dengan tersenyum lalu kembali menatap ke luar jendela melihat kemacetan. Entah apa yang sedang iya pikirkan. Matanya mengatakan bahwa ada banyak hal yang perlu dibicarakan. Tapi dia memilih diam.
Akhirnya mobil terparkir di depan rumah ku tepat setelah adzan di mushola belakang rumah ku selesai. Zaki buru-buru keluar dari mobil untuk membukakan ku pintu. Udah seperti pacarnya saja aku diperlakukan begitu.
"Mari Tuan Putri" Zaki menundukkan kepala dengan tangan di perut.
"Apaan sih kamu Lebay deh…!" Aku hanya tersipu. Pasti pipi ku merah karna malu. Jika begini aku benar-benar merasa jadi pacar dia.
"Emh… Kamu gak masuk dulu Zak?." Ajak ku untuk mampir bertemu Ibu.
"Engga Del udah jam segini gak enak juga sama Ibu mu. Emm… sebenarnya ada sesuatu yang belum aku katakan Del. Tapi aku bingung mulainya." Zaki tiba-tiba gugup.
"Apa Zak? Bilang aja atau kita bicara di dalam." Tanya ku.
"Jangan Del nanti aku malah gak bisa berkata apa-apa kalau di dalam." Zaki mencoba menahan ku untuk masuk ke rumah.
"Terus kamu mau bilang apa Zak." Entah kenapa jantung ku berdetak lebih cepat dari sebelumnya. Sudah seperti orang yang sedang jatuh cinta dan sedang menunggu orang yang kita cintai mengungkapkan perasaannya.
'Apa sih aku ini' gumamku.
"Sebenernya aku suka sama kamu Del."
Zaki benar-benar nembak Aku. Dia terdiam sesaat. Dan jantung ini benar-benar tak karuan detaknya.
"Aku mau ngomong di mobil tadi tapi aku malu. Bahkan sekarang tangan ku gemetar nih." Sambungnya. Zaki nembak aku dengan tangannya yang gugup dia memberanikan diri mengungkapkan perasaannya.
"Apa?" Aku syok. Aku juga menyukai Zaki tapi apa aku pantas menerima nya. Sedangkan kasta kita sangat berbeda. Bahkan dengan perlakuan Ayah dan Ibu nya yang sangat baik aku merasa hanya perlu dikasihani.
"Iya Del aku suka sama kamu sejak di bangku kelas dua. Kamu ingat kan kita satu kelompok di acara kemah waktu itu. Aku selalu mengagumi senyummu. Sejak saat itu aku memendam rasa ku pada mu Del. Aku gak ada keberanian buat nembak kamu. Kamu bisa pikirkan dulu kata-kata ku Del. Aku gak minta jawaban buru-buru. Jujur aku sedih banget liat kamu kehilangan Ayah mu. Aku pengen menghibur mu Del. Tapi ada keterbatasan diantara kita. Dengan aku jadi pacar mu aku bisa menghibur dengan leluasa. Aku pikir ini saat yang tepat buat aku ungkapin perasaan ku. Karna aku yakin kamu butuh sosok laki-laki selain Ayah. Aku siap Del. Karna memang aku sangat menyukai mu. Aku udah jujur sama kamu Del selanjutnya terserah padamu. Aku langsung pulang ya. Aku sangat gugup sekarang."
Zaki nyerocos gak karuan. Dia bicara udah seperti ibu-ibu komplek yang sedang bergosip.
Dengan rasa malu campur gugup Zaki mengungkapkan semua perasaannya pada ku. Tanpa menatap wajah ku dia begitu saja masuk mobil dan pergi. Bahkan aku belum sempat berkata apa pun.
'Apa aku harus menerimanya?
Zaki sudah menyukai ku dan memendam perasaan selama satu tahun ini.' Aku benar-benar belum memikirkan pacaran.
sambil melamunkan perkataan Zaki aku berjalan menuju pintu rumah ku. Sebelum Ibu benar-benar khawatir karna aku tak kunjung pulang.
"Assalamu'alaikum Bu Adelia pulang nih." Ku ucapakan salam sambil ku buka pintu rumah yang memang jarang dikunci jika ada keluarga yang belum pulang.
"Wa'alaikumsalam kenapa baru pulang sih Del." Ibu hampir mengomel tapi aku langsung memeluknya.
"Nanti Adelia jelasin ya Bu sekarang Adel mau mandi dulu udah bau keringet nih." Ku lepaskan pelukan ku lalu berjalan menaiki tangan menuju kamar.
"Beres Ibu sayang….!" Ku buka pintu kamar. Ku nyalakan lampu dan bergegas mandi lalu beribadah.
***
"Adel cepet turun nanti makanan nya keburu dingin." Teriakan Ibu membuatku menyudahi untuk membaca Alquran.
"Sodakallahuladzim. Iya Bu Adel turun sebentar lagi ya."
Kurapikan mukena ku. Ku ambil amplop coklat pemberian Ayah Zaki di tas ransel ku. Ku sisir rambut ku dan mengikatnya lalu beranjak turun.
"Bu makan sama apa nih? Apakah ibu membuatnya dengan penuh cinta…!" Aku berada persis di belakang Ibu. Mengikutinya kesana-kemari. Agar amplop yang aku pegang tak terlihat oleh ibu. Masih ku sembunyikan kejutan yang pasti akan buat Ibu senang. Aku berusaha menggoda ibu ku dulu.
"Masih ada ayam di freezer jadi ibu goreng. Terus ada sambel terasi dan lalap pokcay kesukaan mu." Bener-bener menggugah selera makan menu yang dimasak ibu.
"Bu sini deh duduk dulu." Ku tuntun tangan ibu dan mendudukkan ibu dikursi meja makan.
"Ada apa sih kok kayaknya serius gitu." Ibu terheran lalu duduk sesuai arahan ku.
"Bu. Ini ada titipan dari Bapak Ibnu Alamsyah. Bos tempat Ayah bekerja Bu. Jumlahnya 25 juta. Katanya ini uang tunjangan dan bela sungkawa untuk Ayah karna Ayah adalah karyawan yang teladan dan penurut." Kusodorkan amplop coklat ke tangan ibu. Ibu ku meneteskan air mata. Terdiam melihat isi amplop dengan uang warna merah semua.
"Del. Apa uang ini nyata?" Ibu masih tidak percaya dengan apa yang Ibu pegang.
"Tentu saja Bu. Awalnya Adelia juga gak percaya tapi ini uang benar-benar nyata Bu. Ini sedang ibu pegangkan?" Aku masih perlu meyakinkan Ibu.
"Ayah mu memang orang baik nak. Bahkan setelah pergi untuk selamanya Ayah masih membawa rejeki untuk kita." Ibu terharu dengan jumlah uang yang memang sangat besar buat kami. Ibu masih meneteskan air matanya.
"Alhamdulillah Bu. Allah memberi jalan terbaik untuk kita. Bukankan uang ini cukup untuk membayar hutang Ayah?" Aku menghapus air mata di pipi Ibu.
"Iya nak semoga saja cukup. Supaya Ayah mu benar-benar tenang disana. Tapi bagaimana kamu bisa bertemu dengan bosnya Ayah?"
"Kan Adelia satu sekolah dengan anaknya Bu. Apa ibu lupa kemarin Adelia diundang ke pesta ulang tahun Zaki bahkan Adelia dijemput sama Pak Tarjo supir nya Pak Ibnu." Jelas ku pada Ibu.
"Iya kenapa Ibu bisa lupa dengan itu."
"Ibu kan memang sudah tua." Goda ku.
"Dasar kamu ini. Ya sudah sekarang kita makan dulu ya." Dan ahirnya kami menyudahi pembicaraan yang mengharukan lalu makan bersama.
*****
...Mohon untuk selalu meninggalkan like dan jangan lupa favorit nya 😍😊🙏...
...Terimakasih yang setia membaca novel Brok3n 😊🙏...
...Maafkan author yang masih remahan ini jika jalan ceritanya kurang menarik 😊🙏...