
Pagi ini terasa begitu dingin. Pasti karna hujan deras yang mengguyur semalam.
Tapi dinginnya udara pagi tak kan menyurutkan semangat ku untuk bangun dari tempat tidur ku. Karna ujian hari kedua sudah menanti ku.
Seperti halnya kemarin aku masih memakai seragam putih abu ku. Tapi kali ini aku memakai sweater hitam. Bekal untuk ku juga sudah siap. Aku berpamitan dan keluar rumah.
Masih sama dengan hari sebelumnya Hanan sudah menungguku di depan pintu untuk berangkat sekolah bersama.
"Tuh kan kamu selalu setia menunggu pintu rumah ku hmm." Canda ku pada Hanan.
"Aku bahkan akan setia menunggu cintamu Del." Sahut Hanan
"Isshh paan sih pagi-pagi udah gombal."
"Hahaha lagian loe yang mancing kan?"
"Udah ah yuk berangkat."
Sebenarnya ada hal yang harus aku tanyakan pada Hanan tapi aku ragu untuk memulai nya. Dan hanya hening yang ada saat perjalanan kami menuju halte. Hanan pun biasanya bicara tapi kali ini dia menutup rapat bibirnya.
Kami pun tiba di halte karna memang tak jauh jaraknya dengan rumah ku. Hanya perlu 2 menit berjalan. Dan lagi-lagi dalam Bus aku dan Hanan duduk bersandingan. Ku remas jari jemari ku karna bingung mau mulai dari mana tentang pertanyaan yang ada di otak ku.
"Loe kenapa kedinginan?" Tanya Hanan.
"Emh engga sih biasa aja."
"Tumben gak belajar loe?"
"Semalem udah."
"Apa ada hal yang mau loe tanyain ke gue?"
"Loh kok kamu tau?"
"Haha dari expresi wajah loe itu." Hanan mencubit pipi sebelah ku.
"Ihh sakit tau."
"Jangan Lebay. Loe mau tanya apa emang? Tentang Zaki ya?"
"Eh kamu dukun ya?"
"Emang apa lagi yang mau ditanyakan kalau bukan dia."
"Hehe."
"Tapi kalau gue ceritain keburukan dia apa loe percaya?"
"Hah? Keburukan?"
"Misal aja."
"Oh… Kamu sama Zaki udah kenal lama ya?"
"Engga juga. Gue kenal dia gara-gara lomba lari waktu kelas satu."
"Oh iya waktu turnamen ke Jepang itu ya? Aku inget."
"Hmm."
"Terus sekarang kalian sahabat?"
"Kurang lebih begitu. Soalnya Ayah kita juga satu perusahaan."
"Zaki gimana sih orangnya?"
"Dia gak macem-macem kan sama loe?"
"Hah?"
"Ya kali ngapa-ngapain tubuh loe."
"Ihh kok gitu. Katanya dia sahabat mu."
"Kan gue nanya aja markonah."
"Haha itu nama Ibu komplek di rumah ku sebelumnya."
"Dasar loe Del untung muka loe imut."
"Apa hubungan?"
"Kalau gak usah gue remes-remes terus buang ke tong sampah."
"Tega banget sih."
"Jadi cewek jangan terlalu polos Del."
"Emang kenapa?"
"Ntar dimanfaatin cowok."
"Hah jangan-jangan…" Telunjuk ku mengarah ke wajah Hanan.
"Ya kecuali gue lah. Turunin tu tangan."
"Buat paan?"
"Buat apa aja hmm."
Obrolan kita terhenti ketika Bus ternyata sudah sampai di halte deket sekolah. Hanan orangnya asik walau kadang dia agak jutek.
Hanan berjalan turun duluan. Aku pun mengekor tapi entah kenapa kaki ku tersandung saat mau turun dari mobil dan dengan sigap Hanan mencegah hal buruk terjadi.
Badan ku dan Hanan saling berpelukan wajah kami saling menatap bahkan hidung kami saling menempel. Tapi sikut Hanan terbentur pintu mobil seperti nya tidak dia rasakan. Kami saling bertatap beberapa detik sebelum klakson bus yang kami tumpangi berbunyi.
Tiinnn….
"Gak papa Neng?" Tanya Pak supir.
"Ah iya maaf Pak saya gak papa. Terimakasih Pak."
"Loe bener gak papa kan? Kaki gimana ada yang sakit?" Hanan begitu mengkhawatirkan keadaan ku.
"Aku gak papa coba liat tangan mu." Kuraih tangan Hanan dan melihat sikutnya. "Ya ampun sikut mu memar Nan.?" Aku terkejut tapi Hanan langsung menarik kembali tangannya.
"Udah ini sih gak seberapa nanti juga sembuh. Udah ayo jalan ntar telat."
"Tapi kamu harus ke UKS dulu ya nanti aku olesin obat."
Hanan hanya mengangguk dan tersenyum. Lalu kami berjalan menuju sekolah.
"Sepertinya Zaki sudah menunggu mu. Aku duluan aja takut dia salah paham." Hanan menunjuk Zaki dengan dagunya.
"Udah biarin yang penting luka mu dulu di obatin takut pas ngerjain soal kamu kesakitan. Ini kan karna aku juga."
"Gue bisa sendiri."
"Udah ayo cepet."
Ku raih tangan Hanan dan menariknya untuk berjalan bersama.
"Zak maaf ya aku obatin luka Hanan dulu ke UKS ya nanti kita ketemu dikelas okey?" Aku pun berjalan begitu saja melewati Zaki yang entah udah berapa lama menunggu ku di gerbang sekolah.
Tak ada jawaban dari Zaki. Dia hanya menatapku dan Hanan dengan wajah datar. Bukan dia menatap tangan ku yang memegang tangan Hanan.
"Apa ada hubungan spesial diantara mereka?" Cerca Zaki.
***
Luka Hanan sudah terbalut kasa. Aku merasa lega akhirnya aku pamit duluan ke kelas.
"Aku duluan ya Nan. Kalau sakit bilang ya."
"Thanks Del."
Aku berjalan menuju kelas. Tapi dalam perjalanan aku di hadang oleh Sinta.
"Ya ampun princess Adelia ternyata dibalik wajah lugu loe itu menyimpan aura breng***."
"Maksudnya?"
"Ya iyalah loe deketin Ka Zaki dan sekarang loe berduaan sama Ka Hanan. Bener-bener lont* Lo ya."
"Jaga mulut mu."
"Apa loe hah? Sinta membusungkan dadanya. "Berani sama gue. Asal loe tau tau ya Ka Zaki itu udah dijodohin sama gue dan setelah kelulusan kita mau sekolah bisnis di Singapura. Jadi loe inget baik-baik jangan pernah deketin jodoh gue. Ngerti gak loe?" Tangan Sinta mendorong dahi ku hingga aku mundur sedikit menjauhinya. Setelah itu Sinta pun pergi.
Tidak aku tak bisa bergerak. Sepertinya aliran darah ku berhenti. Bagaimana mungkin Zaki pacarku tidak menceritakan apapun.
Putri menghampiri ku disaat yang tepat.
"Del, kamu gak papa? Del?" Putri menepuk bahu ku untuk menyadarkan ku dari dunia kelam yang sedang aku pikirkan. Baru beberapa hari aku merasakan indahnya mencintai seseorang tapi detik ini aku merasakan hancurnya patah hati.
"Put bisa papah aku ke kelas. Aku tiba-tiba lemes dan pusing."
"Iya ayo aku bantu jalan."
Putri menuntun ku ke kelas dan mendudukkan ku di kursi. Tatapan ku masih kosong. Aku memikirkan ciuman Zaki kemarin.
Zaki yang melihat ku melamun pun menghampiri ku. Tapi sebelum dia terlalu dekat dengan ku aku menghentikan langkahnya.
"Tolong jangan dulu bicara sama aku. Aku mau fokus mengerjakan ujian sekolah hari ini. Kembali lah ke tempat duduk mu." Tanpa menatapnya aku tau Zaki sedikit kecewa.
Bel sekolah berbunyi menandakan untuk semua siswa masuk ke kelas masing-masing.
Ku usap-usap wajah ku. Dan sesekali memukul kepala agar aku bisa fokus dan mendapatkan nilai bagus.
"Sadar Adelia kamu harus fokus. kamu harus ingat tujuan mu."
*****
...Terimakasih reader 😊...
...Tolong bantu aku dong buat ninggalin like dan komen atau vote nya biar aku semangat update tiap hari....
...Aku sangat menerima masukan nya ya....
...Aku doakan semoga kalian yang baca novel ini selalu diberikan kesehatan Aamiin 🤲...