BROK3N

BROK3N
Bab 35 Nasi Goreng Ati Ampela



Matahari sudah berganti bulan dengan hiasan bintang berkedip bergantian. Angin malam yang sejuk menambah kesan malam yang indah.


Aku duduk di depan pintu. Mendongak kan kepala ku memandangi bulan purnama yang sangat sempurna. Awan di sekitar bulan terlihat semu biru sungguh aku menikmati cahaya nya.


Dulu aku sering sekali duduk berdua didepan pintu seperti ini bersama Ayah. Kami saling menghitung bintang yang berkedip. Ayah juga selalu menceritakan hal-hal menarik. Entah itu dongeng atau kisah Ayah dan Ibu dulu.


"Ayah Adel sungguh rindu Ayah."


Air mata ku tak kuasa terpendam dan menetes begitu saja di pipi ku. Tapi aku tak bisa berlama-lama duduk di pintu ini. Aku harus belajar karna besok masih ada Ujian sekolah. Masih ada waktu 5 hari untuk ku berperang. Selanjutnya hanya tinggal menunggu pengumuman kelulusan.


"Del makan dulu yuk." Ibu memanggil ku dari dapur.


"Iya Bu Adel tutup pintu dulu." Ku tutup pintu rumah ku dan berjalan ke dapur menghampiri Ibu. "Masak apa Bu?" Tanya ku.


"Cuma nasi goreng dengan irisan ati ampela kesukaan mu." Jawab Ibu sembari menyodorkan sepiring nasi goreng yang baru saja di angkat dari penggorengan.


"Wahh ini enak sekali Bu." Ku tiup perlahan nasi goreng yang sudah ku sendok dan memakannya. Ini adalah menu favorit Ayah juga. "Bu Adel jadi inget sama Ayah. Dulu Ayah selalu paling banyak kalau makan nasi goreng ini." Aku kembali melahap makanan ku.


"Ibu juga sedang mikirin Ayah. Tapi kita gak boleh begini kita harus selalu bahagia biar Ayah disana juga bahagia." Ibu memegang pipi ku lalu duduk dan ikut makan.


"Bu gimana tadi di pasar. Kerjanya capek pasti. Bu harus janji jangan capek-capek ya."


"Engga kok sayang, Ibu seneng banget bisa kerja disana. Bahkan ibu di kasih ati ampela ini tadi sama temen pengajian Ibu yang dagang ati ampela katanya gak abis jadi di kasih Ibu."


"Orang-orang disini baik-baik ya Bu."


"Iya Nak."


"Tadi Adel juga direbutin jadi mantu sama ibu komplek haha Adel geli."


"Itu karna anak Ibu canti sekali."


"Karna Ibu Adel juga cantik dong."


"Kamu bisa aja ayo cepet abisin makannya kamu belum belajar kan?"


"Iya Bu abis makan Adel belajar."


"Masih berapa hari lagi ujiannya?"


"Masih 5 hari lagi Bu."


"Mau kuliah?" Pertanyaan Ibu membuat ku meletakkan sendok yang ku pegang. "Entahlah Bu dipikir nanti aja."


"Ibu tau kamu sedang cari-cari beasiswa kan?"


"Bu Adel mau kerja aja, Adel mau merawat Ibu."


"Adel, Ibu senang niat mu baik Nak tapi kamu juga harus pikirkan masa depan mu Nak. Ayo habiskan makan mu."


Benar kata Ibu aku memang harus memikirkan masa depan ku tapi di sisi lain aku gak mau tinggalin Ibu sendiri dirumah.


Setelah makan ku cuci piringnya lalu ke kamar tidur untuk belajar. Pikiran ku sedikit kacau dan belajar pun tak fokus. Zaki juga belum ada kabarnya. Ahirnya ku putuskan menghubungi Zaki terlebih dulu.


tuuutttt...


"Hallo pacar lagi apa? Baru aja mau ditelfon eh udah nelfon."


"Hallo Zak kok kamu santai amat berarti Papah mu baik-baik aja ya?"


"Papah belum sadar Del. Gue cuma gak mau loe khawatir Del."


"Zak jangan nyembunyiin kesedihan mu hanya karna ingin terlihat baik-baik aja. Aku pernah ada diposisi mu bahkan aku tak sempat bicara sama Ayah. Sedangkan kamu masih ada waktu untuk merawat nya. Kamu harus sabar dan berdoa supaya Papah cepet sadar dan kembali berkumpul dengan mu dan Mamah mu."


"Thanks ya Del."


"Udah makan?"


"Belum."


"Kenapa? Jangan bilang gak selera karna kesehatan mu juga penting Zak. Kalau kamu sakit gimana perasaan Mamah mu? Segara cari makan buat Mamah mu juga. Kamu harus jadi anak yang kuat demi kedua orang mu Zak."


"Iya Del thanks ya loe udah ingetin gue. Kalau gitu gue cari makan dulu ya Del."


"Iya Zak makan nya banyak ya. Besok kamu sekolah gak?"


"Okey ku tutup ya."


"Iya sayang jangan tidur malam-malam dan jangan terlalu mikirin gue ya haha."


"Kamu tuh bisa aja. Ya udah dahh...."


Tut Tut sambungan telpon pun mati. Ku letakan handphone ku di atas meja sambil di charge baterai nya. Dan aku pun bisa belajar sedikit lebih tenang.


***


Mentari belum menunjukkan sinarnya pagi ini karna seperti biasa aku harus berangkat sekolah lebih pagi karna perjalanan jauh ku. Ibu juga harus bekerja dipasar demi segenggam beras untuk kami.


"Ibu Adel berangkat ya."


"Ini bekalnya jangan sampe lupa nanti kamu gimana sarapan nya."


"Iya Ibu sayang. Emuah assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumsalam."


Didepan pintu tentu sudah ada Hanan disana.


"Loe jahat banget sih Del."


"Pagi-pagi muka udah ditekuk. Emang jahat kenapa?"


"Kemaren gue kesini gak loe bukain pintu sih."


"Lagian kalian tu ya kalau ribut nyerocos aja udah kayak ayam bertelur aja. Udah ahh ayo jalan."


Sambil berjalan kami pun mengobrol.


"Loe udah ada kabar dari Zaki?"


"Iya semalem aku telpon dia. Katanya Pak Ibnu belum sadar gitu. Kamu kok gak khawatir sih Nan sahabat mu kenak musibah?"


"Bukan gitu Del. Perasaan gue berubah ke dia sejak loe semakin deket sama dia."


"Loh kok bisa gitu?"


"Entahlah gue bahkan males ketemu dia."


"Aneh banget sih kamu."


"Tapi gue tetep doain Om Ibnu segera sembuh. Bagaimana pun Om Ibnu selalu baik sama keluarga gue. Ya karna Ayah gue juga kerja di perusahaan Om Ibnu."


"Jadi Ayah mu juga satu perusahaan sama Ayah ku ya? Sepertinya mereka saling kenal."


Hanan terdiam.


"Kenapa?"


"Engga papa, Eh itu Bus nya dateng."


Hanan selalu bertingkah aneh jika aku membahas tentang Ayah nya. Entah kenapa tapi sepertinya ada yang tak bisa Hanan ceritakan tentang kehidupan nya. Aku tak mau kepo tapi lama-lama jadi penasaran juga. Itu bukan untuk yang pertama kali tapi udah beberapa kali Hanan selalu terdiam saat aku menyebut Ayah ku atau membahas Ayah nya.


Dalam Bus pun Hanan tak bicara sama sekali. Hanan hanya melipat kedua tangannya dan mendengarkan musik lewat earphone yang dia pasang ditelinga dengan memejamkan kedua matanya.


Aku selalu ingin tau lagu apa yang di dengar Hanan saat pikirannya sedang penat. Tapi aku tak pernah ada keberanian untuk mengambil sebelah earphone miliknya.


Mungkin Hanan sedang ada beban yang tak bisa dilepaskan pada siapa pun. Bisa saja bebasnya jauh lebih berat dari yang pernah aku terima.


Aku pun hanya menatap keluar jendela untuk menikmati perjalanan sekolah ku.


*****


...Mohon selalu dukung karya ku ya reader, jangan lupa like, komen, fav dan vote nya....


...Terimakasih 🙏...


...Mampir juga ya di karya ku...


...*CINTA SUCI ANAYA*...