BROK3N

BROK3N
Bab 64 Pergi Ke Jakarta



Hari sudah menjelang sore. Urusan ku dengan kardus yang berisi pakaian dan sembako sudah selesai. Aku pergi ke beberapa tempat entah itu panti asuhan atau panti jompo.


Rencananya sepulang dari panti aku akan memesan tiket untuk keberangkatan ku ke Jakarta besok sore.


"Pak kita mampir ke pool damri dulu ya nanti. Saya mau beli tiket ke Jakarta dulu." Kata ku sambil menutup pintu mobil.


"Iya mba siap." Jawab Pak supir taxi.


Mobil yang aku sewa seharian itu terus melaju hingga tiba di tempat yang kami tuju. Loket itu terlihat ramai pengunjung.


"Ibu di mobil aja ya, kasian Misela kepanasan nanti disana."


"Iya Nak."


"Bunda beli tiket dulu ya sayang kamu mainan sama Oma di mobil."


Misela tak menjawab, di belum terlalu paham dengan kalimat panjang.


Aku pun turun dari mobil dan ikut mengantri di loket. Setelah lumayan lama akhirnya giliran ku tiba.


"Untuk berapa orang mbak?" Tanya penjaga loket itu.


"Untuk dua orang ke Jakarta ya."


"Untuk hari ini mbak?"


"Bukan untuk besok."


"Totalnya Rp. 900.000 mbak. Berangkat pukul 2 ya mbak. Usahakan 30 menit sebelumnya sudah di sini."


Aku memberikan beberapa lembaran uang kepada penjaga loket itu lalu menerima tiketnya dan pergi.


"Mahal ya Bu harga tiketnya. Ini bisa buat makan kita satu bulan hehe." Keluh ku pada Ibu


"Namanya juga jauh Nak." Jawab Ibu.


"Tapi harga tiket semuanya emang melonjak mbak karna kenaikan bbm ini." Kata Pak supir taxi.


"Oo gitu ya Pak. Soalnya kami belum pernah pergi ke Jakarta jadi baru tau. Ya udah ayo pulang Pak."


"Iya mbak."


"Pak masih inget kan rumah saya?"


"Ya masih mbak."


"Siapa tau karna kita muter-muter jadi lupa jalan."


"Saya sudah 10 tahun jadi supir taxi mbak."


"Apa Pak 10 tahun? Gak salah Pak?"


"Ya engga lah mbak, karna cuma ini pekerjaan yang saya bisa untuk menghidupi istri dan kedua anak saya."


"Anaknya udah besar semua ya Pak."


"Paling besar kelas 2 SMA mbak. Dia masuk SMA tanpa biaya sepeserpun karna dapet beasiswa.


"Wah Alhamdulillah Pak."


"Yang paling kecil masih SD kelas 5."


"Sehat terus ya Pak. Hati-hati kalau bawa mobil karna selalu ada yang menunggu Bapak pulang."


"Iya Mbak."


Percakapan dengan Pak supir itu membuat kita waktu berjalan begitu saja dan kami tiba di rumah.


Setibanya di rumah aku dan Ibu sudah di sambut oleh Hanan. Entah sudah berapa lama dia disana tapi wajahnya terlihat bahagia melihat kami pulang.


"Bu jangan katakan apapun nanti ibu langsung masuk begitu Adel buka pintu ya." Ibu mengangguk dan kami membuka pintu mobil lalu keluar.


Aku berjalan seolah menghampiri Hanan padahal aku hanya akan membuka pintu rumah ku.


"Bu cepet masuk tidurin Misela di kamar."


Saat aku akan masuk rumah tangan ku di tahan oleh Hanan.


"Tolong lepaskan." Kata ku pada Hanan tanpa berbalik badan.


"Del aku mohon beri aku kesempatan untuk memperbaiki semua ini. Aku sungguh gak bisa begini terus Del." Hanan memohon dengan wajah melas.


"Tolong lepaskan tangan mu dari tangan ku." Kembali aku mengatakan kata yang sama tapi Hanan masih menggenggam erat telapak tangan ku.


"Del beri aku 5 menit saja." Hanan masih terus memohon.


Ahirnya ku lepas dengan paksa tangan Hanan lalu menutup pintu rumah rapat-rapat.


"Del aku sungguh mencintaimu mu Del aku mohon tolong beri aku kesempatan untuk memperbaiki semua ini." Hanan mendekati wajahnya ke balik pintu rumah. Hanan tau aku masih berada di balik pintu itu.


Tentu saja aku menangis disana. Aku masih bingung untuk menyikapi perasaan ku. Aku membiarkan Hanan tetap di luar dengan sesuka hatinya. Hingga hari berganti malam Hanan masih tetap di depan pintu rumah ku.


"Del apa gak sebaiknya kamu bicara dulu dengan Nak Hanan. Kasian dia itu pasti perutnya laper banget." Bujuk ibu pada ku tapi aku tetap pada pendirian ku untuk tak akan bertemu dengannya saat ini.


"Nak bicara lah sebentar saja dengarkan dia. Lagian kita akan meninggalkan tempat ini. Ibu gak mau kamu terlalu menyesal nanti karna mengacuhkan Hanan." Ibu kembali membujukku.


"Baiklah Bu, adel menemui nya hanya karna besok kita akan pergi saja."


"Nan." Panggil ku tanpa menatap nya dan menyilang kan tangan ku di dada.


Hanan yang mendengar suara ku seketika langsung bangun.


"Del akhir nya kamu mau bicara sama aku."


"Kamu mau ngomong apa cepet aku gak mau buang-buang waktu."


"Del tolong maafin aku. Aku gx bermaksud berbohong padu mu. Sungguh Del. Aku sudah menyukai mu sejak kita bertemu di pesta itu. Sejak saat itu aku selalu memikirkan mu Del tapi kamu dekat dengan Zaki. Tadinya aku akan melupakan mu dan melarikan diri karna aku tau bapak yang menabrak Ayah mu saat itu. Tapi kita malah bertemu disini. Aku semakin tak mau melepaskan mu. Aku menyayangimu dan juga Bapak ku. Aku tak bisa berbuat apa-apa. Aku tak mau kehilangan kalian dan Misela. Aku mohon Del ijinkan aku memperbaiki semua ini. Aku janji tidak akan merahasiakan hal sekecil apapun dari mu." Hanan terus berusaha meyakinkan ku. Tapi sayang hati ku masih belum bisa menerima apa yang sudah terlanjur terjadi.


"Udah selesai bicaranya? Aku udah ngantuk."


"Del kamu gak mau maafin aku?"


"Pulanglah dan istirahat lah ini sudah malam. Jangan lupa makan yang teratur, jaga kesehatan mu."


Ku tutup kembali pintu rumah ku. Mungkin saat ini aku terlalu kejam untuk nya. Tapi aku tak peduli dia menggap ku egois atau apapun. Yang jelas aku akan berusaha untuk melupakan semua yang telah terjadi ini.


***


Sore ini aku akan berangkat ke Jakarta. Segala sesuatunya udah siap. Aku kembali memesan sebuah taxi untuk mengantar kami menuju pool damri.


Sebelum taxi yang aku pesan datang, aku memastikan semuanya beres dan tak ada yang tertinggal termasuk tidak ada Hanan yang melihat kepergian kami. Tak ada satupun yang tau disana kalau kami akan pindah ke Jakarta.


Aku chat Bu Dania untuk menanyakan keberadaan Hanan di toko ternyata Hanan masih lembur. Aku lega. Dia tak akan menahan kepergian ku nanti.


Aku menelpon Asep untuk memastikan Pak RT sedang tidak memperhatikan kami.


Tut


Tut


"Hallo assalamu'alaikum Ka Adel cantik ada yang bisa Hanan bantu?"


"wa'alaikumsalam Asep apa kabar?"


"Tentu saja baik Ka, berbeda dengan Hanan aku selalu baik-baik saja hehe."


"Apa Hanan tidak sedang baik-baik saja Sep?"


"Sepertinya dia begitu patah hati."


"Maaf ya Sep selama ini aku selalu mengabaikan mu juga selalu merepotkan mu."


"Ka Adel bicara apa. Aku tak merasa di abaikan dan direpotkan."


"Makasih ya Sep. Oiya gimana rencana kuliah mu?"


"Masih berangkat bulan depan Ka. Aku berencana kuliah di Jakarta."


"Benarkah? Wah selamat ya sebentar lagi jadi mahasiswa."


"Ah biasa aja Ka. Aku bakal rindu sama Ka Adel dan Misela nanti."


"Semoga kita bisa sering bertemu ya."


"Emang Ka Adel juga mau ke Jakarta haha."


"Bisa aja kan hehe. Oiya Pak RT lagi rumah gak Sep?"


"Oo Bapak sama Ibu lagi kondangan ke tetangga desa Ka. Paling pulangnya nanti malem."


"Baiklah kalau begitu sekali lagi makasih ya Sep."


"Buat apa Ka?"


"Ya buat semuanya hehe. Aku tutup dulu ya assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumsalam."


Tut


Tut


Telepon terputus.


Semuanya udah aku pastikan tak ada yang tau kepergian ku nanti.


Taxi yang ku pesan pun datang. Ku masukan semua barang dan koper ku lalu sesegera mungkin pergi dari kampung ini.


Sebelum masuk ku tatap dalam rumah yang sudah ditempati selama dua tahun itu. Sebenernya sangat berat karna disini aku sudah merasa nyaman. Tapi aku tak bisa bertemu dengan mereka yang sudah melukai hati ku.


"Selamat tinggal rumah."


Aku masuk mobil dan bersiap untuk memulai hidup baru lagi.


###############################


...Hallo Reader yang budiman. Mohon dukungannya ya dengan tinggalin jejak kalian setelah membaca novel ini 😁🙏...


...Kalau kalian mau tanya seputar novel ini bisa langsung follow ig ku @deliss_aa1...


...Terimakasih banyak dukungan 😘...