BROK3N

BROK3N
Bab 85 Buka Perban



Hari pun berganti bulan. Dan hari ini genap satu bulan Adelia di rawat di rumah sakit. Perban wajahnya akan di buka. Perasaan Adelia tak karuan karna dia ketakutan.


"Bu Adel waktunya buka perban ya." Kata seorang suster.


"Aku takut sus." Adel mengepalkan kedua tangannya dan meremas seprei tempat dia terbaring selama ini.


"Sayang tenang lah." Hanan memeluk kedua bahu Adelia. "Kan cuma buka perban. Disuntik aja gak takut masak buka perban takut. Hahaha." Hanan malah meledek Adelia.


"Hiss jangan kencang-kencang ketawa nya." Ujar Adel.


"UPS…!" Hanan menutup mulutnya dengan kedua tangannya.


"Siap ya Bu saya buka. Kalau sakit bilang ya."


Seorang perawat itu pun membuka perban wajah Adel sedikit demi sedikit.


"Mas Hanan aku pasti akan terlihat seperti monster kan?" Adelia masih memejamkan matanya. Dia begitu berdebar karna balutan perban itu mulai menipis.


"Tenanglah kamu akan tetap cantik di mataku." Ucap Hanan merayu Adelia.


"Jangan mulai deh Mas." Bukannya suka Adelia malah kesal dengan ucapan Hanan.


"Beruntung sekali Bu Adel punya suami yang begitu sabar." Kata perawat itu dan perbankan hanya tinggal satu balutan lalu selesai.


"Tuh kan suster aja tau. Terima kasih banyak atas pujiannya sus haha."


"Mas aku cubit nih." Adelia melirik suaminya yang kegenitan itu.


"Sudah selesai Bu mau saya ambilkan cermin?"


"Mas aku takut. Aku begitu buruk rupa kan?" Adelia menatap Hanan. Tapi Hanan malah tertawa. "Kenapa kamu tertawa?" Adelia pun cemberut.


"Ini Bu cerminnya." Suster itu pun memberikan ku sebuah cermin dan di terima oleh Hanan. "Saya permisi dulu ya Bu Pak sebentar lagi dokter akan kemari."


"Terima kasih sus." Kata Hanan.


Perawatan itu pun pergi dari ruangan.


"Aku tak mau melihat wajah ku. Letak kan saja cerminnya." Adelia menutup matanya.


"Baiklah. Terserah kamu."


Tak berapa lama dua dokter menghampiri Adelia dan Hanan.


"Selamat pagi Pak Bu."


"Pagi Dok" sapa Hanan.


"Wahh ternyata tak begitu buruk ya wajah Bu Adel. Saya pikir nanti bakal ninggalin bekas luka yang cukup parah."


Dokter itu memeriksa wajah Adelia. Lalu kakinya.


"Nanti kakinya di CT scan ya Bu kalau sudah membaik hari ini juga boleh pulang. Saya permisi dulu."


"Terima kasih Dok." Kata Hanan.


Adelia hanya diam tak berani bersuara.


"Ahirnya kita udah boleh pulang sayang. Aku boleh ya nanti tidur sama kamu?"


Adelia masih cemberut.


"Aduh istrinya kali ini benar-benar terlihat seperti monster hih aku sangat takut. Tuhh lihat tangan ku merinding liat kamu Del."


"Mas kamu jahat." Adelia melempar bantal ke arah Hanan.


"Tuh kan makin serem ihh aku pasti salah masuk kamar ini. Dimana kamar istri ku ya?"


Hanan kembali meledek Adelia.


"Mas bercanda lagi aku bakal cubit kamu."


"Jangan di cubit dong di cium aja ya. Aku maunya ciuman yang lembut."


"Tuh kan."


"Hahaha istri ku kamu tetap menggemaskan aku boleh cubit pipi mu kan? Uluh-uluh kangen banget sama pipi ini…!"


Hanan mencubit gemas kedua pipi Adelia dan menggoyang kan ke kanan-kiri.


"Udah ah sakit tau."


Cup.


Hanan mencium bibir Adelia.


Mereka tak menyadari kehadiran Yumna dan Asep disana.


"Sayang apa kita pergi saja dari sini." Ucap Yumna pada Asep.


"Iya sayang seperti kita salah masuk kamar. Ini adalah tempat mesum." Keluh Asep.


"Hei kalian kapan datang?" Sapa Hanan pada Yumna dan Asep.


"Sayang seperti kita hanya obat nyamuk disini." Sambung Asep.


"Hahaha sini masuk aku baru saja menggoda istriku yang menggemaskan itu." Hanan melirik Adelia yang masih cemberut.


"Kamu serius Yumna wajah ku tak begitu parah bekas lukanya?" Adelia memastikan lagi ucap pan Yumna.


"Loh memang Ka Adel belum lihat wajah Ka Adel?"


Adelia menggeleng kan kepalanya.


"Tanya aja sama Asep dia selalu jujur." Yumna melirik Asep.


"Iya kok Ka wajah Ka Adel hanya butuh skincare yang mahal." Ujar Asep malah membuat Hanan tertawa.


"Hahaha gimana dong suami mu ini belum punya uang buat beli skincare." Hanan tersenyum menunjukan giginya.


"Tuh liat kan kalian Hanan itu menyebalkan sekali." Adelia kembali cemberut.


"Kalian seperti anak kecil saja." Ledek Asep.


"Hahaha." Hanan hanya bisa tertawa.


"Permisi saya mau membawa sodara Adelia untuk pemeriksaan kakinya." Kata seorang perawat laki-laki.


"Oiya sini aku saja yang gendong ke kursi roda." Hanan dengan sigap membopong tubuh Adelia. Tentu saja dia tak mau laki-laki lain yang melakukan walau dia seorang perawat.


"Duh cemburu nya minta ampun. Keliatan banget Ka Hanan." Kata Yumna sontak membuat kedua perawatan laki-laki itu tersenyum.


"Istri gue ini." Hanan pun mengekor pada kedua perawatan laki-laki tadi.


Setelah melalui banyak pemeriksaan Adelia pun kembali ke kamarnya bersama Hanan.


"Gimana?" Tanya Asep.


"Katanya suruh tunggu dulu tar dokternya yang kesini. Kalau kondisinya bagus bisa pulang hari ini." Jawab Hanan sambil menggendong tubuh istrinya kembali ke tempat tidur.


"Syukurlah Ka Adel tak perlu berlama-lama lagi di rumah sakit." Ujar Yumna sambil menggenggam tangan Adelia.


"Iya aku udah kangen juga sama Misela." Kata Adelia.


Dokter pun masuk ruangan.


"Syukurlah tulangnya mulai membaik. Mungkin sekitar satu atau dua bulan lagi sodara Adelia akan bisa berjalan dengan normal." Jelas sang dokter.


"Secepat itu Dok?" Adelia terkejut.


"Iya saya pikir akan butuh waktu hingga satu tahun tadinya. Tapi ternyata bisa lebih cepat. Yang penting jangan dipaksakan untuk berjalan dulu ya. Hari ini sudah boleh pulang. Saya permisi dulu." Dokter itu pun pergi dan seorang suster yang mengikutinya tadi memberikan selembar kertas.


"Ini resep obatnya silahkan ke apotik terlebih dahulu ya pak. Saya permisi."


"Baik sus terima kasih."


Suster itu pun pergi.


"Sayang aku tebus obatnya dulu ya. Yumna tolong bantu bereskan barang-barang Adelia." Hanan pun keluar dari ruangan.


"Okey."


"Tidak usah Yumna biar nanti tunggu Mas Hanan saja." Cegah Adel.


"Gak papa Ka Adel aku bukan lah atasan mu disini." Jawab Yumna.


"Apa aku akan diterima bekerja lagi setelah sembuh nanti?"


"Tentu saja Ka, Pak Direktur sudah berpesan pada ku untuk menerima Ka Adel kembali jika sudah sembuh total."


"Terima kasih ya Yumna kamu sudah banyak membantu ku."


"Ka Adel bilang apa sih kita kan sekarang sodara. Bukannya harus saling membantu."


"Aku benar-benar tak salah pilih pacar." Kata Asep sambil menatap hangat Yumna.


"Duhh aku jadi obat nyamuk bakar ini." Keluh Adel.


"Haha Asep emang begitu Ka tiap hari ngegombal aja. Aku jadi khawatir kalau di kampus juga begitu." Yumna menatap sinis Asep.


"Kan udah sering aku bilang aku selalu menolak mereka. Di hati ku cuma ada kamu Yumna." Asep menatap Yumna dengan wajah memelas.


"Eitz udah jangan bertengkar kalian pasangan yang sangat serasi. Satunya ganteng satunya cantik dan baik hati." Puji Adel.


"Nanti anaknya pasti bakal manis banget ya Ka Adel hahaha." Kata Asep sambil tertawa bangga.


Yumna pun mencubit pinggang Asep.


"Belum juga jadi sarjana udah mikirin anak." Yumna kembali menatap sinis Asep.


Mereka pun saling meledek satu sama lain.


###############################


...Hallo Reader yang budiman. Mohon dukungannya ya dengan tinggalin jejak kalian setelah membaca novel ini πŸ˜πŸ™ ...


...like, komen , favorit dan vote-nya....


...Kalau kalian mau tanya seputar novel ini bisa langsung follow ig ku @deliss_aa1...


...Terimakasih banyak dukungannya terutama kepada para author yang baik hati selalu memberikan jempol dan komentar nya 😘...