
"Adel ayo masuk kita lihat rumahnya."
Aku pun berjalan melewati Zaki yang sedari tadi tersenyum menatap ku. Sepertinya dia juga bahagia melihat ku bisa nyaman dengan tempat baru ini. Ibu membuka pintu rumah dan pyar tatapan ku pecah melihat rumah yang walaupun kecil tapi udah terasa nyaman sekali. Cet dinding dengan warna ke kuningan juga masih bagus. Walau bukan warna kesukaan ku.
"Maaf ya Del kita tinggal di rumah yg lebih kecil dari sebelumnya. Kita harus berhemat kan?." Ibu menatap ku dan tersenyum. Lalu kembali melihat sekeliling. Ruang tamunya memang cuma ukuran 3x4 M. Lagi pula kita jarang terima tamu karna aku dan Ibu tidak terlalu banyak sodara.
"Ibu Adel udah bersyukur kita bisa tinggal bersama. Doakan Adel nanti bisa punya pekerjaan bagus dan uang yang banyak supaya bisa belikan rumah yang lebih besar ya?" Aku menggenggam kedua tangan Ibu. Ibu tersenyum membalas perkataan ku.
"Ayo kita turunkan barangnya. Keburu malem." Ibu kembali keluar rumah. Tapi tiba-tiba ada segerombolan orang menuju rumah kami. Aku berjalan ke belakang tubuh ibu dan memegang pundak ibu.
"Bu, mereka mau apa. Kok banyak sekali itu. Adel takut Bu. Apa kita buat salah?" Aku gugup dan takut orang-orang yang sudah berada di halaman rumah. Sementara Zaki berdiri sejajar dengan Ibu.
"Assalamu'alaikum Bu saya Mamat RT di sini."
"Wa'alaikumsalam. Iya Pak tapi ada apa ya ini ramai-ramai. Apa kami berbuat salah?" Ibu bertanya dengan sedikit gugup juga.
"Oh bukan begitu Bu. ini kami mau membantu Ibu menurunkan barangnya dari mobil. Kebetulan Pak Rudi tadi sudah laporan sama saya kalau akan ada warga baru di desa kami. Jadi saya mengumpulkan bapak-bapak ini untuk membantu Ibu dan keluarga." Kata Pak RT.
"Masyaallah." Jawab ku bersama Ibu.
"Saya sempet gugup Pak maaf saya berpikir yang tidak-tidak tadi. Mari silahkan. Terimakasih banyak." Ibu bernafas lega padahal sebelum sama-sama gugup.
Karna menurunkan barang dari mobil di bantu para warga jadi hanya butuh waktu tak lebih dr 10 menit saja semua yang ada di mobil sudah masuk rumah.
"Saya sangat berterima kasih sekali Pak RT dan para warga sekalian sudah membantu. Maaf ini saya belum bisa memberi apa-apa bahkan segelas air. Semoga kita bisa jadi tetangga yang rukun." Ibu menundukkan kepala.
"Tidak Bu tidak perlu repot-repot kami semua memang senang bergotong royong. Kami senang kedatangan Ibu. Rumah ini baru saja ditinggal tapi sudah ada yang membeli." Jawab Pak RT. "Baik karna sudah selesai kalau begitu kami pamit dulu sudah waktunya sholat magrib." ahirnya Pak RT dan bapak-bapak yang lainnya pergi. Mobil yang mengantar kami juga pergi.
Kami pun masuk kerumah. Tak terkecuali Zaki.
"Istirahat dulu Del." Kata Ibu. "Oiya Nak Zaki pulangnya bagaimana ya?" Ibu bertanya pada Zaki.
"Saya udah minta supir buat jemput Tante jadi gak perlu khawatir." Jawab Zaki.
"Syukurlah kalau begitu. Maaf ya Nak Zaki bisa sholat di mushola keadaan rumahnya masih berantakan dirumah begini." Ibu meminta Zaki untuk ke mushola bersama bapak-bapak yang tadi.
"Iya Tante saya juga berpikir begitu. Kalau gitu saya ke mushola dulu ya." Zaki berjalan menuju mushola yang tak jauh dari rumahku.
"Bu Adel kamarnya yang depan ini ya." Aku berjalan ke kamar yang bersebelahan dengan ruang tamu.
"Iya Del. Gak papa ya lebih sempit dari kamar mu sebelumnya?" Ibu terlihat sedih.
"Ya gak papa lah Bu. Oiya pak Rudi kesini nya besok Buk?" Aku mengalihkan pembicaraan ku dengan Ibu.
"Sepertinya begitu. Ini juga udah malam gak mungkin Pak Rudi jauh-jauh kesini malam-malam."
"Pak Rudi bisa aja ya Bu Carikan rumah yang bagus gini?"
"Ibu yang meminta untuk dicarikan di area yang asri seperti ini. Tapi ibu gak nyangka bakal dapet rumah yang masih sangat bagus belum lagi Pak RT dan tetangganya ramah seperti tadi."
"Iya ya Bu kita beruntung sekali." Aku kembali memeluk Ibu.
"Ibu mau solat dulu ya. Kamu beresin kamarnya nanti biar dibantu Zaki masukin yang berat-berat."
.
.
Derrr....
Zaki mengagetkan ku. Dia tiba-tiba saja datang tanpa mengeluarkan suara sedikit pun.
"Jail nih?" Ucapku sedikit cemberut pada Zaki.
"Hmmm... Ada yang bisa di bantu nona cantik?" Zaki mulai menggoda ku.
"Ada lah banyak banget malah." Aku masih ngambek.
"Kalau ngambek gitu makin imut tau."
"Iiihhh kamu tu bikin gregetan." Aku memukuli bahu Zaki.
Kami malah saling menggoda satu sama lain. sedangkan Ibu masih sibuk di dapur membereskan perlengkapan masak.
Aku sudah selesai membereskan kamar ku tentu saja karna bantuan Zaki. Mana mungkin aku bisa mengangkat tempat tidur dan meja-meja sendirian.
Dari kamar lalu kami beranjak ke ruang tamu. menata sofa dan mejanya. Belum selesai kami mengerjakannya sudah ada bunyi mobil. Artinya supir Zaki sudah datang menjemput.
"Kamu pulang aja gih, nanti Tante khawatir." Aku menyuruh Zaki pulang karna ini juga sudah lewat Isa'. "Makasi ya udah mau bantuin." Ku berikan senyum termanis ku untuk Zaki sebelum dia pulang.
"Iya cantik." Zaki pun membalas dengan tersenyum. "Tante Zaki mau pulang dulu ya?" Zaki berpamitan pada Ibu lalu mencium punggung tangan Ibu. "Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam." Jawab ku dan Ibu.
Zaki berjalan menuju mobil yang menjemputnya. Lalu perlahan meninggalkan halaman rumah ku.
"Bu Zaki baik kan?" Tanya ku pada Ibu sambil menutup pintu rumah.
"Iya. Kamu beneran suka sama dia."
"Tentu saka Bu."
"Sebenernya ibu gak mau kamu pacar-pacaran. Ibu takut seperti diberita-berita yang gak enak itu. Apalagi Ibu tau kamu masih sangat trauma dengan kejadian waktu itu. Itu juga jadi alasan kita pindah rumah."
"Iya Adel tau. Tapi Adel akan jaga diri baik-baik Bu. Doakan saja Adelia yang terbaik ya Bu." Aku merajuk sambil memeluk Ibu lagi.
"Tentu saja. Ibu selalu mendoakan yang terbaik untuk mu Nak." Ibu membelai rambut ku. "Sekarang sebaiknya kita istirahat ada banyak hal yang harus kita lakukan besok." Ibu melepaskan pelukannya dan menatap ku.
"Iya Bu." Aku pun ke kamar ku.
Malam ini begitu dingin. Aku berdiri di balik jendela kamar. Ku buka sedikit gorden ku untuk melihat keadaan diluar. Masih ada beberapa orang yang lewat. Bulan dan bintang pun tak terlihat. Sepertinya hujan akan turun malam ini. Ku rapikan kembali gorden ku dan beranjak ke tempat tidur. Ku tarik selimut dan terpejam.
*****
...Mohon terus dukung novel ini 🙏😘...