
Author POV
Ponsel Adelia terus saja berdering sedang kan sang pemilik ponsel masih belum sadarkan diri dan sedang menerima perawatan intensif.
Wajah Adelia telah disiram air keras oleh seseorang yang belum di ketahui pelaku nya. Wajah dan kedua kaki Adelia sedang di balut perban seorang perawat karna mengalami patah tulang akibat tertabrak mobil.
Salah satu perawatan itu pun mengangkat ponsel milik Adelia.
"Hallo selamat malam."
"Selamat maaf ini siapa ya? Pemilik ponsel ini kemana?"
"Selamat malam Pak saya dari pihak rumah sakit. Pemilik ponsel ini mengalami kecelakaan dan sekarang belum sadarkan diri."
"Apa? Rumah sakit mana sus?"
"Rumah sakit Bakti Indah Pak. Di ruang melati no tiga ya."
"Baik sus terima kasih."
Hanan langsung menitipkan kembali Misela pada Bu Retno. Dan dia bergegas ke rumah sakit yang di maksud.
Sementara itu luka Adelia sudah selesai menjalani pengobatan. Kini Adelia terbaring di sebuah brankar rumah sakit. Perlahan Adelia membuka matanya. Dia masih merasakan rasa panas di wajahnya.
"Anda sudah sadar Bu?" Tanya seorang perawat yang masih memasang infus untuk Adelia.
"Saya dimana?" Adelia balik bertanya.
"Ibu sekarang sedang di rumah sakit Bakti Indah." Jawab suster itu.
"Wajah saya sangat panas sekali sus." Adelia mengusap wajahnya yang sudah terbalut perban.
"Ibu baru saja mengalami kecelakaan. Ada yang menyiram wajah ibu dengan air keras dan kedua kaki ibu mengalami patah tulang. Kemungkinan akan butuh waktu lama untuk sembuh kembali."
"Bagaimana dengan wajah saya sus?"
"Wajah ibu tidak akan bisa kembali seperti sebelumnya tapi akan membaik jika melakukan perawatan."
"Adelia…?" Hanan masuk ke ruang rawat Adelia dengan terengah-engah. "Kamu baik-baik saja sayang? Kenapa tubuh mu penuh dengan perban? Sus bagaimana keadaan Adelia?" Tanya Hanan dengan penuh kekhawatiran.
"Sekarang pasien sudah mendapatkan perawatan Pak, silahkan temui Dokter untuk lebih jelasnya. Mari ikut saya." Kata seorang suster yang merawat ku tadi.
"Sayang kamu tunggu sini ya aku mau ketemu dokter dulu." Ujar Hanan.
Hanan pun menemui dokter.
"Dokter bagaimana keadaan Adelia?"
"Begini Pak pasien akan mengalami cacat di bagian wajahnya karna air keras yang di siramkan."
"Apa air keras Dok? Bagaimana bisa?"
"Iya air keras ini akan meninggalkan bekas luka di bagian wajah dan lehernya nanti Pak. Tapi jika mau perawatan khusus bisa hilang. Beruntung nya air keras itu tak mengenai matanya. Kalau iya bisa terjadi kebutaan."
"Lantas kakinya kenapa Dok?"
"Jadi pasien saat di siram air keras oleh seseorang yang belum di ketahui identitas itu pasien sedang berada di bibir jalan, saat penyiraman terjadi pasien kehilangan keseimbangan diri lalu berjalan ke tengah jalan dan tertabrak mobil. Dua kakinya patah tulang. Akan butuh waktu lama untuk masa penyembuhan nya. Tapi untungnya sang penabrak langsung membawa nya ke rumah sakit dan sekarang sedang berada di kantor polisi."
Hanan menangis. Musibah ini datang ketika mereka akan segera menikah. Belum lagi Hanan memikirkan perasaan Adelia. Luka atas kehilangan ibu nya saja belum sembuh seutuhnya sekarang Adelia harus menerima cobaan lagi.
Tapi Adelia mendengar semua percakapan mereka di balik pintu dengan kursi roda yang di dorong oleh suster. Setelah mendengarkan semuanya Adelia kembali ke kamarnya.
Adelia berpura-pura tidur dengan tertutup kain selimut nya. Adelia menangis tiada henti tanpa suara di balik selimutnya itu.
Sedangkan Hanan masih belum berani menemui Adelia lagi. Hanan masih terduduk di kursi depan ruang rawat Adelia. Hanan bingung harus dengan cara apa Hanan menghibur Adel. Dan bagaimana dengan rencana pernikahan mereka? Apa yang harus dia katakan pada keluarga nya di kampung? Hanan sangat bingung saat ini.
Hanan pun menghubungi Yumna.
"Assalamu'alaikum Ka Hanan kenapa malam-malam begini telepon?"
"Wa'alaikumsalam Yumna. Adelia kecelakaan." Suara Hanan sangat berat.
"Apa? Bagaimana keadaan nya Ka?"
"Keadaan nya sangat buruk. Aku mau minta tolong sama kamu Yumna, apa kamu bisa bantu aku?"
"Apapun itu Ka katakan saja! Akan aku bantu semampuku."
"Tolong kamu cek cctv di sekitar kantor mu, minta bantuan polisi juga. Cari pelaku yang udah nyiram air keras ke wajah Adel."
"Air keras? Ka Adel di siram air keras Ka? Astaga Ka Adel. Iya Ka nanti Yumna bantu."
"Terima kasih Yumna."
"Sama-sama Ka kalau gitu Yumna tutup dulu assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam."
"Husft...semoga saja segera ketemu pelakunya." bathin Hanan.
Hanan pun masuk dan melihat Adel sedang menutup dirinya dengan selimut. Hanan tau itu artinya dia belum ingin bertemu dengan siapa pun saat ini.
"Adel sayang apa kamu tidur?"
Hening.
"Baiklah aku tunggu di luar, tadi Misela aku titipin Bu Retno. Aku ke luar dulu kamu istirahat. Kalau butuh apa-apa teriak saja ya."
Hanan pun menunggu Adelia di luar ruangan. Hanan tau Adel pasti sangat terpukul dengan kejadian ini. Terlebih lagi rencana pernikahan mereka sudah dekat.
***
Hingga pagi menjelma Hanan masih belum memejamkan matanya.
Pagi ini akan ada pemeriksaan dokter lagi. Hanan ikut masuk saat para dokter dan perawat masuk.
Setelah pemeriksaan selesai Hanan memberanikan diri untuk mendekati Adelia.
"Del kamu mau makan sesuatu?"
Adelia hanya menggeleng kan kepalanya.
"Adel sayang apa yang sedang kamu pikirkan? Jangan buat aku semakin sedih melihat mu seperti ini."
"Hanan?"
"Iya sayang kata kan kamu mau apa?"
Hanan menggenggam tangan Adelia dan menciumnya.
"Batalkan saja pernikahan kita."
Deg
Hanan merasa seperti ada ribuan batu yang memukuli dirinya. Hanan tak pernah berpikir untuk membatalkan pernikahan yang sudah di rencanakan dengan sangat baik. Tapi Hanan masih berusaha untuk tetap tenang.
"Bukan di batalkan sayang tapi di undur. Tunggu kamu sembuh ya."
Hanan kembali mencium tangan Adelia.
"Hanan aku akan jadi seorang wanita yang cacat, bahkan wajah ku tak kan secantik dulu. Kaki ku juga akan butuh waktu berbulan-bulan lamanya untuk sembuh. Aku hanya akan menyusahkan mu Hanan. Jika aku menikah dengan mu keluarga mu hanya akan menanggung malu dengan wajah cacat ku ini hiks hiks."
Adelia tertunduk dengan tangisan nya.
Hanan sangat terpukul dengan pernyataan Adelia. Hanan tau pasti Adelia saat ini sangat sedih.
"Sayang… Aku tak kan pernah meninggalkanmu sekalipun kamu cacat. Aku akan menerima apapun keadaan mu. Sama seperti kamu selalu menunggu saat aku sedang koma. Kamu setia menemani ku setiap harinya bahkan saat kamu lembur kerja kamu tetap menyempatkan diri untuk menemani ku."
Hanan mencoba meyakinkan Adelia.
"Hanan kejadian itu berbeda. Kamu hanya tidur kamu tak menyusahkan ku Hanan. Lihat lah aku sekarang. Kedua kaki ku patah tulang. Wajah ku Hanan wajah ku akan meninggalkan bekas luka yang mengerikan. Aku hanya akan terlihat seperti monster. Aku hanya akan membuat mu malu Hanan. Pergilah Hanan cari wanita lain yang bisa membuat mu bahagia. Bukan aku. Tinggalkan aku dan Misela hiks hiks."
"Itu gak akan pernah terjadi Del. Aku gak akan pernah meninggalkan mu sedetik pun. Kamu satu-satunya wanita ku saat ini."
Hanan memeluk Adel dengan penuh kehangatan. Hanan ingin menenangkan Adelia.
"Aku gak mau wanita lain. Aku hanya mau kamu yang jadi istri ku. Seburuk apapun wajah mu kamu tetaplah Adelia cinta pertama dan terakhirku. Tidak akan ada wanita lain yang akan ku nikahi selain kamu. Engga akan terjadi Del. Aku cuma mau kamu, cuma kamu Del."
Adelia hanya bisa menangis di pelukan Hanan. Adelia sendiri tak mau kehilangan Hanan tapi keadaan nya yang memaksa dia untuk pergi dari hidup hanan.
Tak berapa lama Yumna dan Asep datang menemui mereka.
"Selamat pagi Ka Hanan Ka Adel." Sapa Yumna.
Hanan pun melepaskan pelukannya dan mengusap air matanya.
"Kenapa kalian menangis?" Tanya Yumna.
"Yumna tolong bantu aku. Adelia ingin membatalkan pernikahan kita. Aku tak mau menikahi wanita lain selain dia."
"Apa?" Yumna dan Asep berteriak bersama.
"Ka Adel…!" Yumna menghampiri Adelia dan duduk di sampingnya. "Yumna kesini mau memberikan kabar siapa yang udah buat Ka Adel begini."
"Siapa Yumna?" Adelia terkejut karna ahirnya tau siapa pelaku yang membuat semenderita ini.
"Pak Romi Ka."
"Apa? Setelah apa yang dia lakukan tempo hari sekarang dia hiks...hiks…!"
"Aku harusnya tau Pak Romi akan berbuat nekat karna dia dipecat secara tak hormat. Maafin Yumna Ka Adel hiks…"
"Ini bukan salah mu Yumna." Adelia berusaha tersenyum pada Yumna.
"Siapa Pak Romi itu Yumna? Apa dia sudah di tangkap?" Tanya Hanan.
"Pak Romi adalah manager sebelum Yumna Ka. Dia telah melecehkan Ka Adel di kamar mandi saat rapat tempo hari. Untung Yumna tau. Ahirnya Pak Romi di pecat dan seperti nya dendam dengan Ka Adel."
"Apa? Adel di lecehkan oleh orang itu?"
"Iya sejak awal dia memang suka dengan Ka Adel. Sekarang Pak Romi sedang dalam pengejaran polisi. Pak direktur juga ikut membantu Ka Adel, aku udah laporin semua masalah ini."
"Brengs*k." Umpat Hanan. "Berani sekali dia menyentuh wanita ku."
"Sabar Ka kita serahkan semuanya pada polisi. Aku yakin dia gak bisa pergi atau sembunyi dari kota ini." Ujar Yumna.
"Terima kasih banyak Yumna." Kata Adel sambil terisak.
"Ka Adel harus sabar Ka Adel kan wanita yang kuat." Asep pun memberikan Adelia semangat.
Suasana di dalam sana menjadi haru.
###############################
...Duhh author ngetiknya sambil berkaca-kaca bayangin mereka akan batal menikah karna kejadian ini 🥺...
...Hallo Reader yang budiman. Mohon dukungannya ya dengan tinggalin jejak kalian setelah membaca novel ini 😁🙏...
...Kalau kalian mau tanya seputar novel ini bisa langsung follow ig ku @deliss_aa1...
...Terimakasih banyak dukungannya terutama kepada para author yang baik hati selalu memberikan jempol dan komentar nya 😘...