BROK3N

BROK3N
Bab 38 Adel Hamil



Trotoar hari ini terlihat sepi. Mungkin karna sudah lewat jam makan siang juga. Matahari begitu terik hingga membuat tenggorokan ku kering dan pandangan ku sedikit kabur. Aku berjalan sempoyongan layaknya orang yang sedang mabuk. Entah apa yang terjadi aku tak pernah mengalami hal ini sebelum nya.


Melihat hal yang tak beres pada diriku Hanan bergegas menuntun ku ke sebuah kursi di bawah pohon dan duduk bersama.


"Loe yakin kuat kerja Del? Kayaknya kita pulang aja nanti gue minta ijin sama Bu Dania." Tanya Hanan dengan menggenggam erat tangan ku.


"Aku cuma pusing aja Nan mungkin karna cuacanya terik, di toko kan pake AC jadi seperti aku kuat."


"Tunggu gue beliin loe minum dulu ya."


Hanan pergi ke sebuah minimarket di sebrang jalan lalu kembali dengan membawa sebotol air mineral.


"Loe minum dulu Del."


Kirain air mineral yang Hanan sodorkan, membukanya lalu meminumnya.


Teguk demi teguk air membasahi tenggorokan ku yang sedari tadi kering, aku bahkan menghabiskan setengah botol minum. Rasanya begitu menyegarkan.


Kutarik nafas panjang dan menghembuskan dengan perlahan. Ku pejamkan mata ku beberapa detik dan membuka nya.


"Ayo Nan kita jalan lagi."


"Loe beneran gak papa?"


Aku hanya tersenyum menatap Hanan lalu mengangguk kan kepala ku dengan semangat.


Aku dan Hanan kembali berjalan, kali ini aku merasa lebih baik setelah minum. Sepertinya aku memang sedang kekurangan cairan apalagi di musim pancaroba seperti ini. Kadang panas menyengat tapi tiba-tiba bisa hujan deras.


Kami pun tiba di toko. Hanan tak langsung pulang, dia menunggu ku bekerja. Aku tak bisa menolaknya karna Hanan memaksa. Padahal dia sedang libur harusnya dia beristirahat dirumah bukan malah menemani ku bekerja.


Hari menjelang sore. Kebetulan toko sangat ramai pembeli. Aku dan Yumna sedikit kewalahan hingga aku kelelahan dan tubuhku makin lemas. Pandangan ku tiba-tiba kabur lalu gelap dan bruuukkkk aku pingsan.


"Ka Del bangun Ka. Ka Hanan.... cepet kesini Ka Adel pingsan." Teriak Yumna.


Hanan yang mendengar teriakkan Yumna langsung bergegas menuju ruang kasir dan membopong ku ke bagian produksi dibelakang. Hanan merebahkan ku disebuah kursi. Dan mengolesi leher ku dengan minyak kayu putih.


"Del bangun." Hanan menggosok-gosok tangan ku dengan penuh kecemasan. "Del gue mohon bangun, loe kenapa gak dengerin gue sih tadi udah gue suruh pulang aja kan malah maksa kerja jadinya begini kan." Hanan semakin cemas melihat ku pucat dengan keringan dingin.


Bu Dania yang turun dari lantai dua kaget melihat karyawan sedang berkumpul tanpa tau aku sedang pingsan disana.


"Kenapa ini pada kumpul-kumpul? Haha Adelia kenapa Nan?" Bu Dania kaget dan menyuruh Hanan membawa ku ke mobilnya untuk diantar pergi ke klinik.


Aku pun diperiksa oleh seorang Dokter. Bu Dania dan Hanan gelisah menunggu kabar ku di luar ruangan. Tak begitu lama Dokter memeriksa keadaan ku lalu tabung infus terpasang di dekat tempat ku berbaring.


Dokter pun keluar menemui Bu Dania dan Hanan.


"Dengan keluarga pasien?" Tanya Dokter.


"Iya Dok saya kakaknya." Jawab Hanan.


"Sodara Adelia kekurangan cairan dan vitamin bahkan tekanan darah nya sangat rendah. Sebaiknya pasien dirawat dulu paling tidak selama 2 hari disini. Tolong juga jangan biarkan dia capek dan stres takutnya mengganggu kehamilan nya nanti." Kata terakhir Dokter itu membuat Bu Dania dan Hanan terkejut.


"Apa Dok Adelia hamil?" Jawab mereka serentak.


"Iya usia kandungan sodara Adelia memasuki Minggu ke 5. Jadi ingat pesan tadi dan saya permisi dulu."


"Ini Bu tagihan sodara Adelia untuk dua hari kedepan." Seorang suster memberikan tagihan biaya klinik pada Bu Dania.


"Hanan apa kamu menghamili Adel?" Tanya Bu Dania sedikit marah pada Hanan.


"Tidak Bu kami hanya berteman." Jelas Hanan.


"Lalu siapa yang menghamili Adelia bukannya dia belum menikah dan baru lulus?"


"Baiklah kamu tunggu disini saya mau kebagian administrasi dulu." Bu Dania pergi dan Hanan pun masuk ke ruangan dimana aku masih memejamkan mata ku.


"Del apa yang kalian perbuat?" Hanan hanya membatin dan memelas sambil mengusap sebagian rambut ku.


Aku tersadar karna sentuhan tangan Hanan. Aku mencoba mengontrol pandangan ku yang masih sedikit suram. Badan ku masih sangat lemas dan tanpa menggerakkan tubuhku aku membuka perlahan mata ku.


"Hanan..." Panggil ku dengan lirih.


"Del loe udah sadar? Gimana masih pusing?"


"Iya. Aku dimana Nan?"


"Loe di klinik Del. Tadi Bu Dania sama gue yang bawa loe kesini."


"Makasih ya Nan, terus Bu Dania dimana sekarang?"


"Lagi urus administrasi loe karna loe harus dirawat selama dua hari disini."


"Aku sakit apa Nan?"


"Loe hamil Del."


Aku tak bisa menanggapi ucapan Hanan. Bagai disambar petir mendengar perkataan Hanan. Badan ku gemetar, Lidahku kaku, mata ku berkaca-kaca, hati ku seperti gelas yang jatuh dari meja, hancur berantakan dan tidak bisa kembali seperti semula.


"Del apa Zaki yang buat loe hamil? Apa kalian melakukan nya atas dasar suka sama suka atau Zaki maksa loe buat nurutin nafsunya?"


"Tidak Zaki gak maksa aku, bahkan aku menikmati nya. Tapi kenapa jadi seperti ini. Ya Tuhan baru saja aku bahagia atas kelulusan dan beasiswa ku tapi sekarang aku sedang mengandung anak Zaki."


"Del jawab gue?" Hanan memegang kedua tangan ku, tapi tatapan ku masih kosong dengan air mata yang sudah menetes. Aku bahkan tak tau harus menjawab apa.


"Del please!"


"Nan tinggal in aku sendiri."


"Del..."


"Please Nan."


"Okey gue tunggu di luar. Kalau loe butuh apa aja panggil gue."


Hanan pun pergi meninggalkan ruang rawat ku dan menutup pintu.


Aku tak bisa berpikir jernih. Zaki tak ada kabar sudah hampir satu bulan. Dan sekarang aku mengandung anaknya. Bagaimana dengan Ibu jika tau hal menjijikkan yang pernah aku lakukan dengan Zaki bahkan di rahim ku sedang ada bayi yang belum terbentuk sempurna.


Aku hanya bisa menangis tanpa suara. Ku gigit selimut mencoba untuk berteriak tapi tetap tak ada suara yang keluar. Dada ku sesak. Ku pukul-pukul dengan keras tapi tak menghilangkan rasa sesak yang aku rasakan.


"Ayah apa yang harus Adel lakukan sekarang? Adel benar-benar minta maaf Ayah Adel sudah melakukannya dengan Zaki. Ayah Adel pengen ketemu Ayah, jemput Adel Yah..." Aku hanya bisa membatin. Lidah ku tak sanggup mengatakan sepatah kata pun. Sedangkan mata ku terus saja membasahi pipi ku.


*****


...Hai Reader bantu dukung karya ku ya dengan tinggalin like, komen dan vote nya ya. Jangan lupa bungannya juga 😍🙏...


...Terimakasih yang setia memberikan aku support kalian the best pokoknya 😘🙏...


..


..


..


..