
Cuaca hari ini begitu terik terasa hingga ke dalam bus. Di tambah penumpang Bus cukup padat hingga membuat suasana makin gerah.
Aku yang ketiduran tak berfikir apapun karna entah kenapa melihat Hanan tidur aku jadi ikut mengantuk.
Laju Bus berjalan perlahan. Sedangkan sorot matahari yang sudah condong cahayanya mulai menyinari wajah ku. Aku terganggu akan sinar itu tapi tidak lama. Ku geser sedikit tubuh ku menyesuaikan posisi yang lebih nyaman untuk tidur. Tapi suara keributan emak-emak gibah mengganggu ku hingga terpaksa harus ku buka mata yang terpejam ini.
Perlahan dengan sedikit mengucek ku buka mata ku dan aku langsung melotot melihat wajah Hanan yang begitu dekat. Ku bertanya pada Hanan hanya dengan kedipan mata dan Hanan menunjuk dengan dagunya ke arah tangan yang sedang menempelkan buku di jendela supaya aku tak kenak sorotan matahari dan tidur dengan nyaman. Sweet banget gak sihhhh....!
ciiittt.....
Suara Bus berhenti mendadak. Entah apa yang terjadi di depan tapi karna kejadian tubuhku terdorong, karna wajah ku yang terlalu dekat dengan Hanan tadi ahirnya aku berciuman dengan Hanan lewat bibir. Hanan tersenyum sedangkan aku terkejut lalu mencoba mendorong tubuh Hanan.
"Sorry salahin aja supirnya."
"Gak papa."
"Ya ampun kasian banget." suara Ibu yang duduk di depan ku.
"Iya itu kok gak ada yang nolongin ya." Sahut Ibu yang lainnya.
Aku penasaran langsung berdiri dari duduk ku dan celingukan. Ternyata ada sebuah kecelakaan. Mobil minibus dan sebuah mobil Pajero.
'Tunggu Nan itu bukannya mobil Zaki?' Bathin ku. "Haaa....Nan bener itu mobil Zaki Nan." Mulut ku menganga tangan ku menepuk bahu Hanan. "Ayo kita turun."
"Loe yakin Del?" Hanan pun ikut terkejut. Kami bergegas turun dari Bus.
"Aku yakin banget aku hafal plat nya 7271. Ayo cepet." Tangan ku gemetar tak karuan melihat mobil yang ringsek itu adalah mobil yang pernah aku naiki dengan Zaki.
"Pak kita turun sini aja." Supir Bus pun menekan tombol dan pintu pun terbuka.
"Ayo Nan lihat makin deket cepet."
"Iya ayo ke arah sana."
"Astaghfirullah...Itu Pak Ibnu Nan dan Pak Tarjo. Ya Allah apa mereka baik-baik saja. Apa ada Zaki juga Nan coba kamu cek cepet Nan." Aku melihat ada 2 orang sedang di bopong keluar dari dalam mobil dengan bersimbah darah. Sedangkan ada bapak-bapak yang sedang sibuk menjelaskan lokasi kejadian di telpon. Pasti sedang memanggil ambulance.
"Del."
"Gimana Nan ada Zaki."
"Gak ada Del."
"Syukurlah. Aku akan coba hubungi Zaki."
"Gak di angkat Del barusan gue telfon dia."
"Terus kamu gak tau nomor Bu Dian?"
"Engga."
"Terus gimana ini."
"Biar polisi yang urus Del kita jangan ikut campur."
"Kamu yakin?"
"Gue yakin Del. Ayo kita naik Bus lagi mumpung belum jalan."
"Okelah."
Kami menaiki Bus lagi karna perjalanan pulang masih lumayan jauh. Tak lama terdengar suara sirine ambulance dan akhir nya mobil pun membawa para korban ke rumah sakit. Suasana macet di sekitar pun mulai kondusif di atur oleh polisi yang juga datang melihat kecelakaan itu.
Sesampainya di halte tujuan kami pun turun.
"Loe masih gelisah aja."
"Iya Zak, eh iya Nan."
"Loe lagi mikirin Zaki?"
"Iya Nan pasti dia terpukul banget dan butuh dukungan saat ini."
"Loe tenang aja Pak Ibnu pasti baik-baik aja tadi gue liat lukanya gak parah."
"Serius?"
"Iya gue liat deket banget tadi, kayaknya Pak Tarjo yang parah."
"Aku jadi ingat Ayah ku Nan. Aku melihat nya sudah diruang jenazah waktu itu. Aku tak tau seperti apa dan bagaimana keadaan saat Ayah masih di jalanan seperti tadi. Pasti Ayah saat kesakitan." Dan air mata ku pun menetes diantara dua pipi ku.
Mendengar kata dari ku Hanan langsung terdiam menghentikan langkahnya dan menundukkan kepalanya.
"Kamu kenapa Nan?"
"Del apa loe bakal maafin orang itu jika loe tau yang nabrak Ayah loe?"
"Kamu bicara apa sih Nan ya gak mungkin lah aku maafin. Dan ya kamu kan udah pernah tanya hal ini."
"Benarkah? Gue lupa. Kalau gitu gue pulang dulu. Jangan lupa makan dan istirahat ya."
"Thanks ya udah anter sampe depan pintu." Ku lepaskan senyum manis ku untuk Hanan sebagai ucapan terimakasih dan Hanan pun membalasnya lalu dia pergi.
"Assalamu'alaikum Bu Adel pulang. Bu...." Tak ada jawaban. Mungkin Ibu belum pulang dari pasar padahal ini sudah hampir jam 3.pm.
Ahirnya ku putuskan untuk mandi lalu makan dan tidur.
Ku ambil handphone ku dan melakukan panggilan pada Zaki.
tuttt.....
"Hallo Del loe udah sampe rumah?"
"Zak kok bahasa kamu santai amat kamu belum tau Papah mu kecelakaan?"
"Apa Del?"
"Iya Zak Papah mu kecelakaan aku liat sendiri tadi."
"Tapi belum ada yang...."
"Zakii hiks hiks Papah kecelakaan sekarang dirumah sakit ayo cepat kita harus kesana." Itu suara Bu Dian dan Tut Tut sambungan telepon ku terputus.
"Aku saat khawatir dengan Zaki. Sebaiknya aku telpon Hanan buat cari tau Pak Ibnu di rawat dimana. Ya ampun aku gak punya nomor Hanan. Aku kerumah Pak RT sajalah biar pikiran ku tenang."
Aku pun berjalan menuju rumah Pak RT. Setelan bertanya pada beberapa warga yang aku temui karna aku tiba dirumah Pak RT, aku belum pernah kesini dan gak tau rumah Pak RT jadi harus tanya sana-sini.
"Assalamu'alaikum."
Lama ku menunggu jawaban ahirnya ku ulangi salam ku.
"***...."
Belum selesai aku mengucap salam pintu terbuka dan Asep lah yang membukanya.
"Ka Adel ya ampun aku kangen sama Ka Adel ayo masuk cepet kan sini duduk sini." Asep memegang lengan ku dan mengajak ku duduk di sebuah sofa bagus warna maroon. "Ka Adel tau gak sih aku tu selalu ke rumah Ka Adel tiap pagi tapi pasti Ka Adel udah berangkat sekolah."
"Kamu dari tadi nyerocos aja sih. Aku mau ketemu Hanan."
"Ya ampun Ka Adel kan aku yang kangen kok malah yang dicari si Hanan sih Kak kau melukai hati ku. Ini disebelah sini sakit Kak sakit sekali." Asep mengepal kan tangannya dan menempelkannya di dada.
"Asep hati bukan disitu tempatnya kamu salah tempat."
"Hah terus hati di mana?"
"Kamu sekolah dimana sih letak hati aja gak tau haha."
"Tapi biasanya orang-orang kalau patah hati yang di pegang bagian ini Kak." Asep lagi-lagi memegang bagian dadanya.
"Kamu bucin Sep haha kamu...."
"Dia emang bucin Del gak usah loe ladenin dia."
Tiba-tiba Hanan nongol dan memotong pembicaraan ku.
"Eh Nan."
"Loe ngapain kesini?" Tanya Hanan.
"Iihh jahat banget sih Lo Nan Ka Adel jauh-jauh kesini Lo sinis gitu." Sahut Asep.
"Diem Loe bocil." Hanan kembali sinis.
"Aku mau minta tolong Nan coba cari info Pak Ibnu dirawat dimana."
"Ogah ah."
"Tuh kan Ka dia ni emang ngeselin tau Ka." Kata Asep yang sebal dengan jawaban Hanan. "Orang minta tolong juga malah jawab kayak gitu. Pengen nimpuk tu wajah sok gantengnya." Sambung Asep.
"Apa gue emang ganteng." Jawab Hanan.
"Gantengan juga gue nih lesung pipi yang menarik banyak cewek." Asep menyombong.
"Songong loe banyak cewek tapi masih jomblo hahaha." Hanan menertawakan kesombongan Asep.
"Gue jual mahal. Cinta ku buat Ka Adel aja ya." Asep menoleh ke arah ku dan memegang tangan ku. Aku hanya mengangkat satu alisku.
"Heh singkirin tu tangan sebelum gue potong." Kata Hanan.
"Jangan...." Asep mau bicara tapi langsung aku potong.
"Kalian ini tiap hari ribut ya. Pusing aku."
"Gara-gara loe Nan Ka Adel pusing. Sini Ka bagian mana yang pusing biar Asep pinjit." Kata Asep.
"Heh bocil loe bisa diem gak?" Kata Hanan yang makin kesal.
"Apa sih." Jawab Asep.
Dan aku yang gak mau lagi mendengar pertengkaran mereka memilih beranjak dari tempat duduk ku dan pulang tanpa mereka sadari.
*****
...Terimakasih sekali yang setia dengan novel ini semoga kebaikan kalian yang selalu dukung karya ini dibalas oleh Allah SWT. 🤲🤲🤲...
...Jangan lupa tengok story'...
..."Cinta Suci Anaya"...