
"Assalamu'alaikum Bu Renita."
Ada suara salam di luar rumah ku. Ku coba melihat dari jendela kamar tapi tak terlihat. Ku buka pintu kamar ku ternyata Ibu yang sibuk di dapur tak mendengar ada tamu di luar.
"Wa'alaikumsalam" Jawab ku sambil membuka pintu rumah. "Eh Pak RT silahkan masuk". Pak RT menatap tajam pergelangan tangan ku lalu masuk rumah dan duduk. "Saya panggilkan Ibu sebentar ya." Entah kenapa Pak RT hanya diam saja.
Aku pun kembali ke ruang tamu bersama Ibu.
"Ada keperluan apa Pak RT kemari. Saya buatkan kopi dulu ya Pak." Tanya Ibu.
"Tidak perlu repot-repot Bu. Ada hal penting yang mau saya bicarakan." Pak RT memasang wajah tak biasa.
Aku dan Ibu saling menatap. Karna wajah Pak RT sangat serius.
"Iya Pak silahkan." Kata Ibu.
"Saya sudah dengar dari Hanan Bu." Kata Pak RT yang sontak membuat ku menganga.
Ku peluk sebelah lengan Ibu. Hati ku mulai gelisah mencerna ucapan Pak RT.
"Maksudnya dengar apa ya Pak?" Ibu memperjelas pertanyaan Pak RT.
"Dengar kalau Nak Adelia sedang hamil Bu." Jelas Pak RT.
Aku dan Ibu sontak menangis tanpa suara. Air mata mengalir deras di pipi kami begitu saja.
"Bu maaf saya harus bilang ini tapi keberadaan Bu Renita dan Nak Adel sangat sulit sekarang. Kalian bisa di usir dari kampung ini. Itu yang saya takutkan. Warga masih belum tau masalah ini tapi jika masalah ini sampai bocor saya gak bisa banyak bantu Bu saya hanya seorang RT. Saya tak bisa banyak membela nantinya. Saya akan bantu cari tempat tinggal dan menawarkan rumah ini nantinya. Belum ada yang tau kan Bu masalah ini?" Pak Iskandar sangat sedih masih mencoba mencari solusi karna masih terpikir tentang ulah Pak Hanif adiknya itu.
"Pak saya mohon bantu keluarga saya. Kalau kami di usir secara mendadak kami tak tau harus tinggal dimana Pak. Saya tak punya uang untuk pindah tempat lagi hiks hiks..." Ibu terisak. Hampir tak mampu untuk bicara.
"Begini Bu..."
"Usir usir usir...."
Suara bising dari luar terdengar makin mendekati rumah ku. Kaki tangan ku mulai gemetar. Ibu pun mengalami hal yang sama.
Kami berdiri dari tempat duduk dan keluar dari rumah melihat apa yang terjadi.
"Pak RT disini?" Kata seorang Bapak paruh baya menyapa Pak RT.
"Ada apa ini sore-sore kok ribut-ribut bergerombol begini?" Ucap Pak RT seolah tak tau apa-apa.
"Pak jangan pura-pura gak tau ya Pak." Seseorang dari belakang gerombolan berteriak.
"Iya betul betul." Suara ramai saling membenarkan teriakan tersebut.
"Gadis itu sudah bawa bencana ke desa kita. Jadi harus kita usir sekarang juga." Sambung seorang Ibu dari arah gerombolan tersebut.
"Iya betul usir usir usir." Serentak suara itu sangat kompak terdengar ditelinga ku.
Warga diam saling menatap dan mengangguk kan kepala mereka. Berkomat-kamit satu sama lain. Sesekali menunjuk ke arah ku.
"Jadi Bapak dan ibu harus sabar harus tenang jangan sampai omongan yang belum kalian dengar sepenuhnya malah jadi bencana baru untuk kita semua." Sambung Pak RT.
Sementara Hanan dan Asep yang tau kabar bahwa aku akan di usir dari kampung ini segera bergegas menuju rumah ku. Dengan nafas terengah-engah Hanan berdiri di depan segerombolan orang-orang yang akan mengusir ku.
"Maaf Pak Bu saya menyela saya akan menjelaskan apa yang terjadi. Saya saksi mata. Saya Hanan keponakan Pak RT. Jadi sebenarnya Adelia ini hamil bukan kemauannya Pak Bu. Adel dinodai oleh laki-laki tak bertanggung jawab. Dan laki-laki tersebut sudah kabur ke luar negri. Kalau Adel yang menginginkan semuanya Adel tak mungkin akan bunuh diri Pak Bu." Hanan mengambil nafas panjang dan siap untuk melanjutkan bicaranya.
"Ini buktinya Adel mencoba bunuh diri karna tak mau menjadi beban Ibu nya kalau ibunya tau Adel telah dinodai laki-laki tak bertanggung jawab itu." Hanan mengangkat tangan ku yang masih terbalut perban.
"Saya dan Asep yang membawa nya ke rumah sakit bahkan kami mendonorkan darah kami karna Adel sangat kritis. Coba Bapak Ibu bayangkan jika itu terjadi pada anak Bapak Ibu sekalian? Apalagi Bu Renita ini janda beliau tak bisa kerja capek karna suatu riwayat penyakit. Jika kalian usir dari rumah ini tanpa uang sepeser pun bagaimana nasib mereka diluar sana. Kalian akan jadi pembunuh bagi mereka. Bukan hanya Bu Renita dan Adel yang akan menderita tapi anak yang tak berdosa yang ada di rahim Adel juga akan menanggung nya. Bagaimana jika itu cucu Bapak Ibu semua? Apa kalian semua siap bertanggung jawab penuh dihadapan Tuhan."
Hanan menatap segerombolan Bapak Ibu yang masih saling berdiskusi itu. Dengan nafas yang masih tak beraturan Hanan nyaris meneteskan air matanya. Mereka masih saling berbisik dan mengangguk-angguk.
Aku tak menyangka Hanan bisa sebijak itu. Bisa selancar itu menjelaskan pada mereka semua yang menolak kehamilan ku. Aku bersyukur mempunyai teman sebaik Hanan.
Padahal perbuatan ku ini memang pantas untuk menerima semua perlakuan mereka. Tapi Hanan mati-matian membela ku dihadapan mereka semua.
"Tuhan apa yang sedang Engkau merencanakan untuk ku yang kotor dan hina ini?"
Aku dan Ibu masih berpelukan dan saling menguatkan. Pak RT terdiam tapi tetap berdiri tegak menghadap segerombolan Bapak Ibu yang masih sibuk berdiskusi.
"Baiklah Pak RT kami tidak akan mengusir Bu Renita beserta anaknya." Ucap seorang Bapak dengan nada memelas.
Hati ku lega. Ibu memeluk ku sangat erat. Ku tatap Hanan yang kebetulan juga sedang menatap ku dengan tersenyum bahagia. Pak RT pun ikut tersenyum mendengar jawaban dari warganya.
"Terimakasih Bapak Ibu sekalian. Kita ambil hikmah dari kejadian ini untuk semakin menjaga keluarga kita masing-masing. Diluar sana banyak sekali orang yang tak berniat jahat tapi melihat sebuah kesempatan jiwa jahatnya muncul tiba-tiba. Mari semuanya bubar karna hari sudah semakin sore. Terimakasih kembali saya ucapkan pada kalian semua untuk tidak menghakimi sendiri." Pak RT pun ikut pergi bersama mereka. Sedangkan Hanan dan Asep ikut masuk ke dalam rumah.
Aku dan Ibu duduk di sofa bersama Hanan dan Asep. Kami semua menarik nafas dalam karna berhasil membujuk mereka.
"Terimakasih Nan kamu selalu membantu ku dan Ibu."
"Kalau Asep tak membangunkan ku tadi aku juga gak tau akan apa yang terjadi nantinya."
"Terimakasih juga Sep kamu juga sangat membantu keluarga ku."
"Jangan begitu Ka Adel kita kan memang harus saling membantu. Bukankah membatu orang lain sama saja membantu diri kita sendiri."
Benar kata Asep membantu orang lain sama dengan membantu diri kita sendiri. Itu juga pernah Ayah ucapakan pada ku. Aku sangatlah bersyukur dikelilingi orang-orang yang menyayangi ku padahal aku sudah menyusahkan mereka.
Aku semakin yakin dan akan semakin kuat menjalani semua ini. Dengan semangat dari Ibu, Hanan, Asep dan sahabat ku Putri.
Aku berharap tak akan ada masalah lagi untuk kedepannya. Tapi mungkin aku harus menebalkan telinga ku dari gunjingan para warga apalagi saat perut ku semakin besar nanti.
*****
...TERIMAKASIH READER ATAS DUKUNGAN NYA. TERUS BANTU AKU DENGAN TINGGALIN LIKE KOMEN DAN VOTE NYA SUPAYA AKU LEBIH SEMANGAT UP NYA 😍...