BROK3N

BROK3N
Bab 69 Hanan Kecelakaan



Tttrrrr…


Tttrrrr…


"Handphone mu bunyi terus tuh kenapa gak di angkat?" Kata ku menunjuk saku Hanan dengan isyarat mata.


"Biarin aja palingan juga si Asep mau nanya kenapa gak sampe juga." Hanan tak mau melepaskan tangan ku dan masih terus memandangi wajah ku.


"Angkat aja dulu takutnya penting lagi." Aku terus mendesak Hanan agar mengangkat telepon nya.


"Baiklah. Tuh kan Asep." Hanan menunjukan layar ponselnya. "Si*l… Ganggu aja si Asep ni." Gerutu Hanan lalu menekan tombol hijau di handphone nya itu.


"Emm ada apa loe telpon gue terus, loe kangen sama gue?" Tanya Hanan ketus.


"Loe dimana sih Nan dari tadi gue telpon gak di angkat loe udah sampe Jakarta belum sih bikin gue jantungan aja."


"Gue lagi kencan udah jangan gangguin gue nanti malem gue kesitu. Bye."


Tut


Tut


Hanan menutup telponnya begitu saja dan menonaktifkan.


"Galak amat sih sama Asep."


"Berisik sih dia."


"Ngapain di matiin segala." Kata ku sambil senyum-senyum melihat tingkah Hanan.


"Biarin aja, biar dia gak ganggu kencan kita. Pasti gak sampe sepuluh menit dia nelpon lagi nanti." Jawab Hanan kembali menatap ku dengan menyangga kepalanya dengan kedua tangannya.


"Udah jangan dilihat terus kan aku jadi mau." Ku usap wajah agar berhenti menatap ku Hanan karna aku mulai salah tingkah.


"Aku gak mau kehilangan kamu lagi." Hanan menggeleng kan kepalanya.


"Aku gak akan pergi lagi. Kamu udah makan?"


"Udah kenyang liatin kamu."


"Dasar gombal."


"Aku beliin makan ya."


"Gak usah. Aku liatin kamu aja."


"Jangan menyiksa diri kasian cacing di perut mu."


"Iya iya nyonya sana beliin makan."


"Mau makan apa?"


"Apa aja. Aku mau nyusul putri ku."


"Okey."


Lama kami bermain di Monas. Hanan juga sangat antusias menemani Misela bermain hingga sore hari kami memutuskan untuk pulang ke kontrakan ku.


Dengan sebuah taxi online kami menelusuri jalan kota Jakarta di senja hari. Hanan dan Misela masih melanjutkan pembicaraannya bersama Misela ya walau pembicaraan itu tak jelas arahnya.


Menjelang magrib kami pun tiba di kontrakan.


"Jadi selama ini kalian tinggal disini?" Tanya Hanan sambil melihat di sekeliling kontrakan.


"Iya disini cukup nyaman. Para tetangga juga bukan orang yang tukang gosip. Mereka ramah-tamah." Jawab ku sambil membuka pintu kontrakan. "Ayo masuk. Mau aku buatkan teh anget?"


"Apa aja asal buatan tangan mu." Hanan merogoh saku celananya dan menghidupkan kembali ponselnya yang sedari pagi di nonaktifkan. Aku hanya tersenyum Hanan lalu pergi ke dapur.


Ttrrrr…


Ttrrrr…


"Loe ngapa sih nelpon mulu Sep?" Tanya Hanan dengan nada kesal.


"Dimana sih loe Nan. Ponsel pake mati segala. Loe kenala gak nyampe-nyampe sini perasaan gue gak enak nih."


"Gue lagi di rumah Adel."


"Hah yang bener? Dimana gue susul."


"Jangan ganggu gue. Loe diem aja di situ dan jangan telpon gue lagi."


Tut


Tut


Lagi-lagi Hanan mematikan telpon nya secara sepihak. Lalu tersenyum sinis.


"Asep lagi?" Tanya ku.


"Iya siapa lagi emangnya."


"Suruh kesini aja share lokasi gak begitu jauh sih kalau jalan kaki. Dia di asrama putra kan?"


"Ahh jangan yang ada dia jadi nyamuk."


"Kok nyamuk?"


"Ya kan nyamuk sukanya berisikin kuping nguuuunggg….!" Hanan begitu lucu mempraktekkan suara nyamuk.


"Ada-ada aja kamu. Di minum teh nya."


"Putri kecil ku udah tidur?"


"Udah tidur sama Ibu. Aku mau mandi dulu ya. Kamu mau mandi juga?"


"Mandi bareng mau deh."


"Timpuk sandal nih."


"Haha lagian ngajakin mandi. Kan seru mandi bareng."


"Resehhh…!" Aku pun membalikkan badan dan pergi mandi.


Setelah mandi dan berganti pakaian Hanan pun mandi lalu mengajak ku jalan-jalan keliling kompleks.


"Keluar yuk cari udara segar."


"Udara malam gak baik bukan segar."


"Ya jalan aja sih berduaan biar kayak orang pacaran."


"Maunya aja itu mah."


"Hehehehe."


"Sekalian beli nasi goreng ati ampela yuk di sebrang jalan aku laper nih."


Aku membujuk Hanan sambil ku usap-usap perut ku.


"Sini aku yang pegang pasti langsung kenyang."


"Modus itu sih. Jalan kaki aja ya kedepan nya aku gak punya kendaraan.


"Apapun itu sayang."


"Jangan mulai deh."


"Aku kangen loh. Eh tunggu bentar aku lupa sesuatu."


Terlihat Hanan sibuk membongkar tas nya dan mengambil sebuah kotak kecil. Hanan mengambil sebuah cincin.


"Kamu bawa cincin itu kemana pun Nan?"


"Iya dong karna aku yakin akan bertemu dengan mu dan memasang nya kembali di jari manis mu. Aku pasang ya?"


"Em."


Aku begitu terharu dengan sikap Hanan yang menyematkan cicin di jari manis ku.


"Cantik kan? Jangan pernah di lepas lagi ya." Kata Hanan dan mencium kening ku. "Love you." Aku hanya tersenyum membalas nya.


"Jalan yuk udah laper banget." Aku meraih lengan Hanan dan memeluknya. Harusnya aku memang tak meninggalkan nya begitu saja.


"Disini lumayan enak ya suasana nya. Kamu pasti betah disini?" Hanan terus saja melihat ke kanan-kiri.


"Iya Putri yang carikan tempa disini. Walau cukup mahal tapi ibu suka."


"Kamu kerja dimana?"


"Di perusahaan kosmetik. Jadi sales hehe. Tapi aku dapet libur 2x dalam seminggu. Jadi aku masih punya banyak waktu untuk menemani Misela bermain."


"Emm gemes deh. Udah lama gak cubit pipi mu ini." Hanan mencubit kedua pipi ku dengan sedikit tekanan karna terlalu gemes.


"Sakit tau." Aku menempelkan tangan ku pada pipi ku dan mengusap nya perlahan.


"Hehe iya maaf deh. Masih jauh tukang nasi gorengnya?" Tanya Hanan


"Engga sih di depan sana ada taman kecil nanti di sebrang jalannya banyak pedagang kaki lima." Sambil ku tunjuk ke arah depan.


"Ya udah yuk jalan takut kamu jadi busung lapar. Hahaha…!"


"Iihh jahat banget sih kamu."


Malam itu terasa sangat hangat bagi ku. Suasana kota Jakarta yang biasanya pengap dan panas hilang seketika dengan adanya Hanan di dekat ku. Kendaraan yang biasanya rame juga terlihat sedikit renggang. Pengunjung taman juga tak terlalu banyak mungkin karna ini juga bukan weekend.


"Nah ini taman nya. Walau kecil tapi disini rame banget kalau pagi."


"Tapi harus hati-hati kalau sama Misela kan banyak mobil dan motor yang melintas."


"Iya kan kalau sama Misela di dalam pagar. Ayo duduk dulu di kursi itu."


Kami berjalan mendekati kursi yang ku tunjuk tadi.


"Iya ya nyaman. Aku pikir Jakarta itu kalau bukan di gedung-gedung tinggi disana bakal panas karna jarang pepohonan."


"Ini kan masih ada satu dua pohon besar dan kecil ya mungkin memang sengaja di buat cuma buat nongkrong aja."


"Del?"


"Emm."


"Kamu beneran mau kan kita mulai lagi dari awal?"


"Engga mau ah."


"Adelia…!"


"Hehe emang dari tadi aku terlihat menolak mu Mas Hanan?"


"Del kok kamu gemesin banget sih, coba sekali lagi."


"Mas Hanan sayang."


Aku mendekati wajah Hanan dan mengedipkan beberapa kali mata ku.


Cup.


Aku menjauhi wajah Hanan karna malu.


"Kenapa menjauh coba kayak tadi lagi." Hanan mencolek dagu ku.


"Kamu main cium aja sih."


"Kamu yang macing sih."


Aku tertunduk beberapa saat karna malu.


"Del."


"Iya."


Langsung ku angkat kepala ku menatap nya. Hanan mendekati wajah ku lalu memegang dagu ku dan menempel kan bibirnya pada bibir ku. Aku terkejut dan gugup tapi tak bisa ku pungkiri aku menikmati ciuman Hanan itu dan memejamkan mata ku.


Hanan menyudahi ciumannya. Lalu tersenyum menatap ku.


"Aku sangat mencintaimu mu Del. Maukah kamu menikah dengan ku secepatnya mungkin?"


Ku anggukan kepala mengiyakan.


Hanan tersenyum lebar. Dia terlihat bahagia. Hanan menyelipkan tangannya kanannya di pinggang ku dan tangan kiri nya di tengkuk ku. Hanan kembali memberikan ciumannya dengan sedikit permainan yang membuat ku merasakan hangatnya bibir Hanan.


Tak lama permainan itu. Hanan tak mau hanyut terlalu dalam dan menyudahinya.


"Kamu tunggu sini biar aku yang beli nasi goreng disana."


Aku hanya mengangguk karna masih malu dengan permainan Hanan tadi.


Hanan berlalu menyebrangi jalanan. Aku terfokus dengan punggung Hanan.


"Tuhan terima kasih kau kembali dia di hadapan ku."


Antrian disana membuat ku sedikit lama menunggunya. Rasanya aku sudah tak sabar ingin berada di dekatnya kembali.


Handphone Hanan di tinggal di kursi tempat kami duduk. Ku ambil handphone Hanan dan menyalakan layarnya. Senyum lebar menghiasi wajah ku. Disana terlihat wallpaper dengan foto ku dan Hanan saat pertunangan kami satu tahun lalu.


Aku bahagia Hanan tak merubah hatinya untuk wanita lain setelah aku meninggalkan nya tanpa kabar.


Aku kembali menatap Hanan dan dia melambaikan tangannya ke arah ku.


Sekitar 20 menit aku menunggu nya Hanan pun terlihat membawa kantong plastik yang berisi dua bungkus nasi goreng dan mengangkat nya menunjukkan ke arah ku dan siap kembali.


Terlihat senyum Hanan yang begitu memancarkan kebahagiaan.


Tapi Hanan tak fokus dengan jalanan hanya sibuk melihat ku dari kejauhan. Sedangkan dari arah lain terlihat sebuah mobil dengan kecepatan tinggi dan sedang hilang kendali.


Ciiittt…. brakkkk…. brug


Hanan tertabrak mobil. Badannya terlempar hingga lima meter. Semua orang yang berada di sekitar kecelakaan langsung berdiri dan menghampiri mobil itu.


Mobil yang menabrak Hanan hendak melarikan diri tapi langsung di hadang oleh warga yang sedang nongkrong disana.


"Tidaaaakkkk Hanan… Hanan."


Aku berteriak histeris melihat kejadian itu.


Aku pun berlari menghampiri Hanan. Hanan bersimbah darah dibagian kepala dan kakinya. Tubuhnya tak ada gerakan sama sekali. Matanya pun terpejam.


"Haa-haanan Hanaaaannn tidak Hanan... hiks hiks aku mohon Hanan bertahanlah demi aku." Tubuh ku tiba-tiba kaku. Aku tak berani menyentuh nya. Aku takut semakin membuat nya sakit.


"To-tolong Pak telponkan ambulance." Aku mendongak kan kepala ku mengarah ke bapak yang sedang berdiri disamping ku hendak melihat keadaan Hanan.


Bapak tersebut langsung mengambil ponselnya.


##############################


...Hallo Reader yang budiman. Mohon dukungannya ya dengan tinggalin jejak kalian setelah membaca novel ini 😁🙏...


...Kalau kalian mau tanya seputar novel ini bisa langsung follow ig ku @deliss_aa1...


...Terimakasih banyak dukungannya terutama kepada para author yang baik hati selalu memberikan jempol dan komentar nya 😘...