BROK3N

BROK3N
6. Kejutan yang Terkejut



ttrrrr…


ttrrrr…


ttrrrr…


Handphone ku bergetar di jam pelajaran. Aku penasaran siapa yang WhatsApp sepagi ini. Tapi fokus ku tak teralihkan. Masih ku tulis kata demi kata yang diajarkan Bu Uke mata pelajaran Bahasa Inggris di depan.


Mengingat sebentar lagi sudah ujian kelulusan aku tak mau nilai ku turun bahkan berangan-angan bisa mengalahkan Zaki yang selalu juara kelas.


Sudah waktunya jam istirahat. Waktu menunjukkan pukul 9.30.


"Del, kamu mau ke kantin gak?" ucap Putri.


"Eh bentar Put aku liat HP dulu tadi bergetar pas jam pelajaran." Aku langsung cek pesan masuk.


//Sepulang sekolah nanti ikut ibu ke supermarket ya nak. Ibu mau buat kejutan untuk Ayah//


Ternyata Ibu. Aku ingat ini adalah aniversary Ayah dan Ibu yang ke 27 tahun.


'baik Bu tunggu Adelia pulang ya. Sekitar jam 3 sore.'


"Dari siapa Del kok kamu senyum-senyum gitu hayo aku curiga? Jangan-jangan dia yang memeluk mu tadi pagi cie cie..." Tanya Putri penasaran.


"Ahh kamu apa sih Put ini dari Ibu, katanya nanti minta temenin ke supermarket. Oiya kamu nanti malam ikut dinner dirumah ku aja ya sekalian nginep."


"Memang kamu ulang tahun Del kok ada acara dinner?"


"Bukan ini aniv Ayah sama Ibu. Biar rame aja kamu ikut. Toh kamu juga udah di anggap anak sama Ayah Ibu ku."


"Boleh deh nanti aku ijin orang tua ku dulu Del."


"Okey. Ayo ke kantin."


"Tapi aku bener-bener masih terbawa suasana tadi pagi Del." Putri terus saja menggoda ku atas kejadian antara aku dan Zaki tadi pagi.


"Kalau kamu gak diem aku cubit nih."


Putri berlari kecil sambil trs menggoda ku


Obrolan ku dengan Putri hanya sebatas obrolan kosong, kita saling tertawa dan saling cubit pinggang. Tapi ada yang menghentikan tawa kita ditengah jalan. Tentu saja siapa lagi kalau bukan Sinta.


"Gaes bawa dia" tangan Sinta menunjuk ke arah ku. Tiara dan Devi menghampiri ku lalu menarik tangan ku dan membawa ku ke Toilet yang tak jauh dari tempat kami bertemu. Sedangkan Putri ditahan oleh dua lainnya yang aku gak tau namanya.


"Del. Adelia" Putri terus memanggil ku. Tapi aku hanya bisa mengangguk menandakan kalau semua akan baik-baik saja.


"Mau mu apa Sin?"


"Hahahaha gaes dia tanya mau gue apa katanya hahaha heh Adelia sok kecakepan gue udah bilang berkali-kali bahkan loe lupa dipesta semalem? Jangan pernah deketin Zaki lagi atau gue bakal gangguin elo terus. Ngerti gak?" Sinta menjambak rambut ku. Rasanya begitu sakit tapi aku juga tak mau melawan karna aku tak mau ada keributan.


"Hal tadi bener-bener gak sengaja Sin. Dan juga aku gak pernah deketin Zaki karna kita juga satu kelas jadi gak mungkin..." Belum selesai aku bicara Sinta menjambak kembali rambut ku lalu mendorong tubuh ku ke tembok.


"Gue gak mau tau elo harus bisa jaga jarak sama dia. Karna Zaki itu milik gue. Ayah Zaki dan ayah gue udah jodohin kita loe ngerti gak sih?"


"Iya aku akan berusaha."


"Awas loe macem-macem."


Sinta dan teman-temannya pergi dari toilet. Aku merapihkan rambut ku tak bersikap tak terjadi apapun. Tiba-tiba putri masuk dan memeluk ku.


"Kamu gak papa kan Del?"


"Engga Put cuma rambut agak berantakan aja nih. Ayuk kita ke kantin aku udah laper."


Ahirnya kita keluar dari tiolet dan menuju kantin.


.


.


.


"Del, ayo aku anter pulang."


"Maaf ya Zak aku pulang sendiri aja." Aku melihat mata yang mengawasi. Aku pun melangkah lebih cepat untuk menghindari Zaki. Tapi Zaki tetap mengejar ku.


"Apa aku punya salah sama kamu Del?"


"Engga sama sekali Zak. Tapi tolong mulai sekarang jangan anterin aku pulang lagi dan tolong jangan deketin aku lagi." Ku lanjutkan perjalanan ku karna aku juga harus buru-buru mungkin ibu sudah menunggu ku dirumah.


Ku liat sesekali ke belakang, untungnya Zaki tak terus mengejar ku.


.


.


.


"Ibu Adelia pulang. Mau ganti baju dulu ya."


"Iya ibu juga udah siap-siap. Buruan ya nanti keburu sore."


Aku dan ibu pergi ke swalayan yang jaraknya lumayan jauh dari rumah. Kita naik bus dan makan waktu 30 menit perjalanan.


Pulang dari swalayan aku dan ibu langsung memasak, menyiapkan semuanya untuk acara dinner nanti malam. Tak banyak yang kami siapkan. Hanya beberapa sayur dan opor ayam kesukaan Ayah. Tak lupa sambel Pete yang selalu jadi favorit keluarga kami.


Semua sudah beres. Kami tinggal menunggu ayah pulang. Putri juga menepati janjinya untuk datang.


Jam sudah menunjukkan pukul 7 pm tapi ayah belum juga pulang. Aku dan Putri menunggu di ruang TV sedangkan ibu sibuk menelpon Ayah yang tak kunjung di angkat. Ada kecemasan di mata Ibu. Tidak biasanya memang Ayah pulang telat. Kalaupun iya pasti ayah kabarin kita dulu.


Tok


Tok


Tok


"Ibu itu ayah pulang Adelia aja yang buka pintunya ya."


"Syukurlah. Ya udah cepat sana buka pintunya."


"Bentar ya Put aku buka pintu dulu."


"Heem"


Aku berlari menuju pintu depan. Perlahan membuka pintu rumah ku.


"Ayah kenapa…"


Tidak itu bukan Ayah ku. Tapi itu adalah 2 orang berseragam dengan badan yang tinggi dan tegak. Aku terdiam melihat mereka. Aku melihat ada 2 mobil dengan lampu berkedip biru dan merah.


"Maaf ada apa ya pak polisi malam-malam kerumah kami?" Kata ibu ku yang juga terkejut melihat 2 polisi di depan pintu.


"Apa ini kediaman Bapak Winata?"


"Iya betul saya istrinya. Kenapa dengan suami saya pak? Tidak terjadi hal yang buruk kan?"


"Sebelum kami Mohon maaf Bu, suami anda mengalami kecelakaan dan sudah meninggal. Sekarang jasadnya dirumah sakit. Mari kami antar ibu sekeluarga kesana."


Bagai disambar petir berita kematian Ayah. Bukan bahkan seperti langsung hujan darah.


"Apa ini tak mungkin ayah meninggal bu? Gak mungkin kan ayah janji akan berumur panjang Bu sampe Adelia sukse Bu hiks hiks..."


Aku langsung memeluk ibu di susul putri yang memeluk kami. Air mata ku tak bisa ku sembunyikan.


Kabar ini membuat ibu lemas tak berdaya dan hampir pingsan tapi di bantu oleh bapak polisi yang berdiri di depan kami. Ahirnya ibu di bopong masuk ke dalam mobil. Aku tak bisa percaya Ayah yang sedari tadi kami tunggu sudah tidak ada. Tidak aku tak bisa terima ini sebelum aku benar-benar melihat jasadnya.


Kami menaiki mobil dan menuju rumah sakit yang dimaksud kedua polisi tadi.


*****