BROK3N

BROK3N
Bab 59 Penyesalan Zaki



(Flashback Zaki)


Author POV


Zaki meninggalkan Adelia malam itu setelah mereka mengobrol panjang lebar. Sebenarnya Zaki sangat ingin memeluk Adelia saat Adelia mengatakan lebih memilih Hanan dari pada dirinya. Tapi Zaki terlalu rapuh untuk itu. Bahkan untuk menyentuh Adelia Zaki merasa dirinya adalah naj*s mugholadoh.


Sebelum keluar dari rumah sakit Zaki menjenguk putrinya terlebih dahulu. Zaki hanya bisa meraba kaca transparan dan menitikkan air matanya melihat putrinya yang sedang tidur pulas dengan beberapa alat di tubuhnya.


"Maafin Papa mu ini Nak. Gara-gara Papa kamu dan Bunda menderita selama ini. Sedangkan Papa mu selalu bersenang-senang menghabiskan uang. Papa harap kelak kamu menjadi anak sekuat dan setegar bunda mu. Papa mungkin tak akan pernah sanggup untuk menemui mu lagi Nak. Berbahagialah bersama Papi Hanan. Papa pergi dulu."


Baby Misela terlihat menggeliat seolah dia merasakan kehadiran Papanya itu. Zaki tersenyum lebar. Dia terharu putri kecilnya merespon apa yang barusan dia katakan walau hanya dari balik kaca.


Zaki pun berlalu menuju parkiran mobil dan melaju dengan kecepatan tinggi di kegelapan malam yang sunyi. Waktu menunjukkan pukul 1 am saat itu. Tentu saja jalanan sudah sepi.


Zaki menghentikan mobilnya di sebuah persimpangan jalan dengan sebuah kegelapan yang mencekam. Berkali-kali ia memukul stir mobil mewah yang ia kendarai. Amarah dan penyesalan menjadi satu dalam diri Zaki saat ini.


"Aaacckkkkk….! Loe bodoh Zak loe bodoh banget. Aaacckkkkk….!" Zaki berteriak sekuat mungkin untuk meluapkan rasa yang tak karuan pada dirinya. Zaki mengacak-acak rambutnya. Lalu kembali menitikkan air mata.


Zaki mengingat kembali niat awalnya mendekati Adelia adalah untuk membalas kan dendamnya pada Pak Tomo, Ayah Adelia yang sudah meninggal. Niatnya adalah menghancurkan masa depan Adelia.


Sayang seribu sayang setelah Zaki berhasil meniduri Adelia Zaki bukan nya senang tapi terjebak dengan perasaan nya. Zaki jadi tergila-gila pada Adelia. Zaki terjebak dalam perasaan cinta.


Ia pun menyesali perbuatannya itu.


Kejadian yang sudah Zaki justru mengundang amarah Pak Ibnu, Papahnya Zaki. Zaki dikirim paksa ke negeri yaitu Singapura. Zaki bahkan dipaksa untuk menikahi Sinta demi perkembangan perusahaan Papahnya itu.


Tapi Zaki tak bisa mencintai Sinta. Zaki yang sudah dibutakan cintanya kepada Adelia hanya bisa melampiaskan di diskotik. Berfoya-foya dan memakai obat terlarang.


Hari berganti bulan dan tahun, Zaki makin menyesali perbuatannya kepada Adelia karna Zaki berhasil menghancurkan masa depan Adelia.


Obrolan Zaki dengan Adelia membuat nya merasa makin bersalah karna Adelia tak mau menerima nya kembali.


Kali ini Zaki membenturkan kan kepala pada stir mobilnya. Zaki terus-menerus menyesali perbuatannya. Zaki memang menerima keputusan Adelia dan Zaki merasa lega Adelia sudah memaafkan nya tapi rasa bersalah Zaki tak bisa ia lupakan begitu saja.


Zaki kembali menginjak gas mobil Pajero nya itu, kali ini menuju sebuah bangunan yang ramai akan lampu berkedip. Dimana lagi Zaki bisa menenangkan pikirannya kalau bukan di diskotik.


Zaki memasuki ruangan yang masih ramai di jam yang hampir pagi. Suara musik menggema. Teriakan orang-orang disana membuat Zaki menikmati musik yang terdengar mengasyikan di telinga Zaki.


Zaki duduk di sudut ruangan. Teguk demi teguk Zaki menikmati minuman yang disuguhkan oleh seorang pelayan wanita yang sangat cantik nan sexy. Zaki terus saja minum hingga menghabiskan beberapa botol. Zaki berjalan sempoyongan menuju sebuah ruangan yang sudah ia pesan sebelumnya.


Di ruangan yang cukup luas itu ada sebuah televisi berukuran besar dengan musik DJ yang terdengar begitu keras tentu saja sudah ada dua wanita yang menunggunya di sana. Mereka berteriak senang menyambut Zaki.


Zaki menghampiri mereka. Menciumi bibir wanita-wanita itu silih berganti. Tertawa terbahak-bahak tanpa sebab. Zaki seperti orang gila yang kehilangan tujuan hidupnya. Zaki pun menikmati permainan yang sangat menyenangkan baginya. Meraba satu persatu tubuh mulus wanita sewaan itu. Tapi sebelum Zaki mejelajah lebih jauh Zaki pingsan dan tertidur pulas di sofa.


Pagi harinya Zaki pulang kerumah dengan keadaan masih pusing dan mual karna terlalu banyak minum. Zaki pun membersihkan diri lalu pergi ke rumah sakit tempat Papah dan putrinya dirawat.


Zaki hendak menemui putrinya terlebih dahulu tapi Zaki melihat pemandangan yang lagi-lagi membuat hatinya semakin hancur berantakan.


Zaki melihat Adelia yang sedang sarapan berdua dan saling tertawa bersama Hanan. Zaki melihat keceriaan dan kebahagiaan Adelia disana. Akhirnya Zaki mengurungkan niatnya untuk menemui baby Misela dan memutuskan untuk pergi ke kantor Papahnya.


Sore hari setelah pekerjaan nya selesai Zaki kembali ke rumah sakit setelah berganti pakaian. Zaki sudah sangat rindu akan putri nya Misela. Tapi lagi-lagi Zaki melihat Hanan yang sedang menggendong putrinya itu dan sedang asyik mengobrol.


Zaki makin merasa tak berguna sebagai seorang Papa. Zaki pergi ke ruang rawat Pak Ibnu. Sebelum masuk Zaki melihat Adelia dari kejauhan. Zaki tak mau menemui nya, Zaki pun masuk dan bersembunyi di balik sofa di ruang rawat Papahnya itu.


Zaki mendengar semua yang Adelia katakan pada Pak Ibnu. Bahkan Zaki sempat menangis ketika Adelia mengatakan Pak Ibnu merespon perkataan Adelia.


Setelah Adelia keluar dari kamar bersama Mamahnya Zaki mengikuti mereka. Zaki hanya bisa melihat mereka dari kejauhan. Zaki tak mampu untuk bertemu dengan mereka.


"Gue akan berusaha untuk melupakan mu Del. Gue harap loe bener-bener bisa bahagia bersama Hanan dan putri kita Misela. Gue yang breng*** ini memang gak pantes buat dapetin loe yang sebaik itu. Bahkan loe mau maafin gue yang udah buat loe menderita." Sekali lagi Zaki menyalahkan dirinya sendiri.


(Flashback off)


***


Sesampainya dirumah aku menidurkan baby Misela di ayunan. Kemudian aku membersihkan diri.


Hanan tak mau pulang. Dia mau menunggu baby Misela bangun untuk bermain.


"Kamu nanti dicariin Pakde Nan balik sana betah banget dirumah ini."


"Sayang Papi di usir sama Bunda tolongin Papi." Hanan mengadu pada Misela yang masih tertidur pulas. Tapi Misela menggerakkan kedua tangan nya yang membuat Hanan kembali memelas. "Tuh kan Misela gak mau Papi pergi."


"Bu Hanan di usir nih." Hanan mengeraskan suaranya mengadu pada ibu yang sedang di dapur.


"Biarkan saja Del ini juga masih sore kan?." Ibu merespon ucapan Hanan. Perkataan Ibu membuat Hanan tersenyum menang. Aku pun hanya memutar bola mata ku lalu meninggalnya dengan baby Misela.


Satu jam berlalu, Hanan masih menunggu baby Misela bangun sambil memainkan ponselnya. Aku tak menemani dia karna sibuk beres-beres.


"Yakin nih gak mau balik?" Aku kembali meledek Hanan.


"Sayang anak Papi kamu gak mau ya main sama Papi kok gak bangun-bangun sih?" Hanan terlihat cemberut menatap putri ku. "Ya udah deh Papi ngalah aja dari pada Bunda mu ngomel terus nanti malah kuping Papi sakit kan ya? Papi pulang dulu ya besok sebelum berangkat kerja Papi pastikan kesini dulu. Emuah!" Hanan mencium sebelah tangan Misela lalu beranjak dari duduknya.


"Beneran mau pulang nih?" Ejek ku lagi.


"Terus aja usir teroosss…!" Hanan terlihat sangat lucu dengan gaya bicaranya itu.


"Hahaha udah buruan sana pulang pulang hust…" aku mendorong tubuh Hanan menuju pintu depan.


"Sampai ketemu besok calon istri ku." Hanan memasang wajah mempesona. Aku cukup terkesima mendengar ucapan Hanan.


"Iya udah sana pulang istirahat. Assalamu'alaikum"


"Wa'alaikumsalam sayang ku daahh…!"


Aku pun menutup pintu rumah ku.


***


Dirumah Pak Iskandar.


"Assalamu'alaikum Pakde." Hanan masuk rumah ternyata Pak Iskandar sudah menunggu nya duduk di sofa ruang tamu.


"Wa'alaikumsalam. Hanan pakde mau ngomong sesuatu duduk dulu sini."


"Ada apa Pakde kok keliatan serisu banget." Hanan pun duduk berhadapan dengan Pak Iskandar.


"Gini Nan akhir-akhir ini Pakde selalu dapet omongan yang gak enak dari warga sini." Pak Iskandar memulai pembicaraan nya. "Jadi apa kamu memang mau menikahi Nak Adelia?"


"Memang kenapa Pakde? Apa Pakde gak setuju Hanan menikahi Adel?"


"Bukan begitu, Pakde gak berhak atas kebahagiaan mu Nan, tapi Pakde mendengar dari warga kalau Adelia menggoda mu. Makanya kamu sering kesana-kemari bersamaan. Pakde khawatir warga akan berbuat yang tidak-tidak lagi pada Nak Adel nantinya."


"Pakde sebenarnya Hanan ingin Pakde melamar kan Adel untuk Hanan. Hanya saja Hanan punya sedikit tabungan. Tapi sebentar lagi gaji Hanan naik insyaallah Hanan akan segera mengikat hubungan Hanan dengan Adel."


"Nan kemarin Bapak kamu telepon. Dia mengatakan kalian sudah bertemu. Tapi Bapak mu marah-marah tak merestui hubungan kalian."


"Hanan tau Pakde."


"Nan apakah kamu tau masalah Bapak mu yang selalu berpindah tempat tinggal?"


Hanan tak langsung menjawab. Hanan tau apa yang di maksud Pakde nya itu.


"Masalah apa maksud Pakde?" Hanan berpura-pura tak mengetahui apapun.


"Sudahlah besok kita bicara lagi. Sekarang istirahat lah. Jangan lupa makan dulu. Dan jangan beritahu Bude mu dulu tentang rencana mu melamar Nak Adelia."


"Iya Pakde Hanan permisi dulu."


Pak Iskandar hanya mengangguk. Sementara Hanan kedatangan rasa takut.


*****


...Happy reading ya!...


...Jangan lupa like, fav, komen dan vote-nya....


...Terima Kasih kepada para reader dan author yang selalu setia membantu mendukung karya ku ini 😘🙏...


...LUV BUAT SEMUANYA...


...❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️...