
"Yumna?" Suara ku mengalihkan semua mata. Mereka menatap ku termasuk orang yang ku panggil.
"Ka Adel?"
"Siapa yang sakit?" Tanya ku pada Yumna yang masuk terisak.
"Ibu ku Ka dia tertabrak mobil." Yumna terlihat sangat sedih bahkan bagian matanya sudah bengkak. Pasti dia sudah terlalu lama menangis.
"Semoga lekas sembuh ya. Jangan sedih lagi aku bantu doakan yang terbaik untuk ibu mu. Aku permisi dulu. Mari semuanya." Aku membungkuk badan ku bermaksud pamitan pada semua orang yang ada disana.
"Terima kasih ya Nak." Kata seorang laki-laki dan sedikit membungkuk kan badannya juga.
"Paman kenapa mengucapkan terima kasih padanya?" Tanya Yumna keheranan. Hal apa yang dia lewatkan sehingga harus berterima pada orang yang telah menampar pipinya dulu.
"Dia sudah mendonorkan darahnya pada Ibu mu Yumna. Itu kenapa Ibu mu sedikit membaik sekarang. Nyawanya tertolong karna darahnya. Lihat lah sendiri." Kata Paman Yumna.
Yumna yang tak percaya pun langsung melihat keadaan ibunya dari balik kaca pintu. Terlihat kantong darah sedang di gantung di dekat infus Ibu nya. Seorang Dokter dan dua perawat masih sibuk disana.
Semua yang ada di luar belum di perbolehkan untuk masuk.
Yumna kembali menangis. Tapi menangis bahagia. Sejak dua jam yang lalu dia sibuk mencari pendonor darah tapi tak menemukan satu pun yang cocok dengan darah ibunya sedangkan disini ada malaikat yang rela darahnya di ambil.
"Yumna, Kamu kenal dengan gadis tadi?" Tanya paman Yumna.
"Iya Paman dia teman Yumna dulu. Tapi entah mungkin sekarang sudah tak anggap Yumna temannya lagi." Kata Yumna sembari duduk di kursi. Dia tertiba menjadi lemas mendengar kalau yang menolong nyawa nya adalah sosok Adelia. Orang yang pernah sengaja dia sakiti.
"Sudahlah. Yang penting sekarang ibu mu sudah melewati masa kritisnya. Paman sudah dapat satu pendonor lagi dia sedang di perjalanan menuju kemari." Yumna pun tersenyum pada paman nya lalu menyandarkan kepalanya di bahu paman nya dan melanjutkan tangisan nya.
Aku terus berjalan menuju kamar Hanan. Pandangan ku sedikit remang-remang. Mungkin efek darah yang di ambil tadi. Karna ini pertama kalinya aku mendonorkan darah ku.
"Kok lama sekali beli minumnya Nak?" Tanya Bu Selly. "Loh kok kamu sedikit pucat? Ini kenapa tangan mu? Sini duduk sini." Bu Selly menuntun ku ke sofa untuk duduk.
"Barusan Adel mendonorkan darah Adel Bu. Adel kasian stok darah di sini sedang kosong sedangkan mereka sibuk telpon sana-sini buat cari pendonor dan pasiennya kritis." Aku mencoba menjelaskan pada Bu Selly lalu menyandarkan kepala ku di sofa.
"Ya sudah kamu tiduran disini ya. Istirahat ya Ibu takut kamu kenapa-kenapa. Sini Ibu bantu." Ujar Bu Selly sambil membantu ku berbaring di sofa dan memposisikan tidur ku dengan nyaman.
Ahirnya aku pun tertidur hingga pagi.
"Nak Adel? Bangun udah pagi." Bu Selly membangun kan ku. Ternyata matahari sudah terbit.
"Maaf Bu Adel terlalu nyenyak tidurnya. Sampai kesiangan gini. Adel jadi malu."
"Gak papa kamu cuci muka dulu sana terus sarapan Ibu udah beli nasi uduk ini. Kamu liburkan kerja nya?"
"Iya Bu maaf jadi merepotkan Ibu."
"Tentu saja tidak. Kamu udah mebaikkan?"
"Masih sedikit pusing aja Bu. Kalau gitu Adel ke toilet dulu ya Bu." Bu Selly hanya mengangguk. Aku pun pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Setelah selesai aku pun sarapan dengan nasi uduk yang di belikan Bu Selly. Tentu aku sarapan di sebelah Hanan tidur.
"Nan kamu gak lapar ya udah lima bulan loh gak makan nasi. Aku kasian deh sama cacing di perut mu pasti mereka kelaparan." Aku bicara sambil menikmati suap demi suap nasi uduk yang rasanya enak ini. Apalagi ada kering tempe dan sambel tomatnya.
"Nan kalau kamu udah bangun aku janji bakal traktir kamu makan sepuasnya. Kamu mau makan apa aja aku turutin deh. Tenang aja duit ku banyak kok jadi kamu nanti pilih makanan yang mahal-mahal aja ya."
"Eh iya Nan ibu Yumna juga dirawat loh di rumah sakit ini. Dia kecelakaan ketabrak mobil kayak kamu gitu. Terus aku donorin deh darah ku. Lucu gak sih kita bisa ketemu dia lagi. Tapi walau aku tau itu Ibu nya Yumna aku akan tetap donorin darah ku kok Nan. Aku baik kan? Makanya cepet bangun terus nikahin aku. Masak kamu rela kehilangan wanita sebaik aku sih."
"Udah abis nih sarapan ku. Berat badan ku bertambah lo Nan karna aku jadi banyak makan sekarang. Kamu tau kan kalau aku lagi banyak pikiran pasti ngemil terus. Gak papa ya aku jadi sedikit gendutan? Tapi nanti aku bakal diet kalau kita nikah. hmmm aku cuci tangan dulu ya."
Aku berlalu dari Hanan. Membersihkan tangan dan membuang bungkus nasi uduk yang aku makan tadi.
"Bu Adel ke kantin dulu ya mau cari teh anget. Adel masih sedikit pusing soalnya. Sekalian minta obat tambah darah."
"Kayak aku mau pergi jauh aja Bu hehe."
Aku pun berjalan kembali menuju kantin. Kali ini tiap lorong rumah sakit ini terlihat ramai. Mungkin karna jam besuk pasien sudah di buka jadi banyak orang melintas.
Aku melihat ruangan ibu Yumna di rawat. Tak ada satu orang pun di depan pintu seperti semalam. Aku sedikit penasaran dan mengintip dari balik pintu. Ternyata mereka sedang di dalam dan Ibu Yumna sudah siuman. Beruntung nasibnya tak seperti Hanan. Hanya saja aku tak melihat adanya Yumna di dalam sana. Sepertinya dia sudah berangkat kerja.
Aku pun melanjutkan perjalanan ku menuju kantin.
Ku pesan satu gelas teh hangat dan ku minum di sebuah kursi yang letaknya di pojokan. Suasana kantin sedikit ramai karna ini juga jam orang cari sarapan.
Tegukan hangat membuat kepalaku sedikit membaik. Ku liat tiap sudut kantin itu dan ternyata ada Yumna yang sedang memesan makanan.
Aku menatap punggungnya dari kejauhan.
"Semoga dia tak melihat ku." Harapan ku.
Tapi sialnya Yumna melihat ku yang sedang memegang segelas teh anget lalu menghampiri ku. Aku berpura-pura tak melihatnya.
"Ka Adel." Panggil Yumna.
"Eh Yumna kita ketemu lagi. Gimana kabar Ibu mu?" Tanya ku basa basi padahal aku udah tau kalau ibunya udah sadar.
"Ibu udah sadar Ka, berkat darah dari Ka Adel juga." Yumna terlihat tulus mengatakan nya.
"Masak sih. Padahal aku cuma kebetulan lewat aja." Aku masih berpura-pura tak tau apa-apa.
"Aku belum sempat bilang makasih Ka. Andai Ka Adel tau itu Ibu ku pasti Ka Adel gak akan pernah donorin darah Ka Adel." Yumna terlihat sedih.
"Kamu bicara apa sih Yumna. Bukankah tolong menolong itu hal yang biasa. Aku pernah denger kata-kata bijak gini nih tolonglah orang lain untuk menolong dirimu sendiri. Kurang lebihnya seperti itu. Jadi jika aku ingin ditolong oleh orang lain aku juga harus menolong."
"Ka maaf atas kejadian di masa lalu."
"Yang lalu biarlah berlalu Yumna. Biar jadi kenangan untuk kita melangkah lebih baik lagi di masa depan."
"Adel kamu cuma abis makan nasi uduk kok jadi bijak gini sih." Gunam ku dalam hati.
"Terima kasih ya Ka. Oiya aku lupa kenapa Ka Adel di rumah sakit? Siapa yang sakit Ka?"
"Hanan."
"Hah? Ka Hanan sakit apa? Boleh aku menjenguk nya?"
"Boleh tapi apa kamu gak kerja? Pakaian mu sudah sangat rapi."
"Ya ampun iya aku lupa. Ka nanti kita sambung lagi ya aku harus buru-buru berangkat." Yumna pun pergi dengan berlarian.
Teh yang aku pegang sudah sedikit dingin. Aku terlalu banyak bicara tadi hingga lupa meneguk nya. Ahirnya ku habiskan tanpa menikmati hangatnya perjalanan masuk teh ke tenggorokan ku.
Mata ku kini menatap sebuah halaman diluar sana. Aku sedikit melamun. Tapi tak lama sebuah tepukan di bahu ku membuat ku terkejut.
"Asep?"
################################
...Hallo Reader yang budiman. Mohon dukungannya ya dengan tinggalin jejak kalian setelah membaca novel ini 😁🙏...
...Kalau kalian mau tanya seputar novel ini bisa langsung follow ig ku @deliss_aa1...
...Terimakasih banyak dukungannya terutama kepada para author yang baik hati selalu memberikan jempol dan komentar nya 😘...