
Malam ini ada yang aneh dengan baby Misela. Tidurnya tak nyenyak. Aku merasakan kalau baby Misela berguling terus. Ahirnya ku gendong untuk menenangkan nya. Tapi suhu badannya ternyata panas sekali. Aku khawatir lalu membangun kan ibu.
"Bu... Bu bangun Bu!." Aku mengetuk-ngetuk pintu kamar Ibu.
"Ada apa Nak?" ibu kaget karna ini masih pukul 3 dini hari.
"Bu badan Misela panas banget ini Bu. Gimana dong. Bu ambilin termometer itu." Aku menunjuk P3K yang terletak di dekat kulkas. "Aduh Bu suhunya 39,3 nih tinggi banget." Aku semakin khawatir dengan keadaan putri ku.
"Coba kita kompres dulu semoga panasnya bisa turun. Besok pagi kita bawa ke bidan." Kata ibu sambil memasak air hangat.
"Bu gimana ya Adel takut Misela kenapa-kenapa. Apa sekarang aja kita bawa ke bidan Bu?"
"Kamu tenang jangan panik. Ini juga masih gelap udaranya gak baik buat dia."
"Sayang anak Bunda badan kamu panas tapi kok kamu diem aja sih Nak gak nangis gak rewel sama sekali." ku usap lembut pipi putri ku yang masih memejamkan matanya.
Satu jam berlalu. Tapi suhu tubuh Misela tak turun juga. Aku dan Ibu semakin khawatir.
"Del apa kamu telpon aja Hanan buta anter ke bidan. Kalau naik motor walau gelap begini tapi cepet sampai nanti."
"Jangan Bu. Adel gak mau terus-menerus merepotkan Hanan. Kita kompres aja terus Bu tunggu sampai besok pagi."
Aku mengendong baby Misela sembari sesekali duduk dan mengganti handuk kompresnya.
Pagi pun menjelma. Aku dan Ibu buru-buru jalan ke Bidan terdekat untuk memeriksa kan baby Misela.
"Bu Bidan tolong anak saya. Badannya panas tinggi."
"Sini Bu silahkan ditidurkan disini."
Saat aku turunin Misela dari pangkuan ku Misela langsung nangis padahal semaleman dia gak mau nangis.
Setelah selesai di periksa ku gendong kembali baby Misela dan dia pun tertidur lagi.
"Bu panasnya terlalu tinggi untuk usianya. Silahkan bawa ke rumah sakit dan temui dokter anak biar di cek darahnya." Perkataan Bu Bidan membuat ku khawatir. Aku pun segera menelepon Zaki.
tuuttt
"Halo Del ada apa pagi-pagi nelpon?"
"Zak Misela demam tinggi dan harus di bawa ke rumah sakit untuk cek darah. Kamu bisa jemput aku?"
"Apa Misela sakit? Iya gue jemput loe sekarang juga."
"Aku masih di Bidan Andriani nanti kamu tanya aja sama warga sekitar."
"Oke tunggu gue jalan sekarang juga."
Tak butuh waktu lama Zaki pun datang menjemput kami dengan sebuah mobil.
"Ayo cepet masuk." Zaki membuka pintu mobilnya aku dan ibu segera naik lalu Zaki melaju kan mobilnya menuju rumah sakit.
Kami tiba dirumah sakit yang sama dengan tempat Pak Ibnu dirawat.
Zaki pun menuntun ku ke ruang periksa anak. Dan Misela pun di tangani oleh Dokter.
Cukup lama pemeriksaan itu. Selagi kami menunggu Misela Bu Dian pun menghampiri kami dengan perasaan gelisah dan khawatir.
"Gimana keadaan Misela Del?" Tanya Bu Dian dengan menggenggam kedua tangan ku.
"Tenang Bu Misela masih di periksa. Kita doakan supaya Misela baik-baik saja."
Zaki hanya mundar mandir menunggu kabar Dokter di dalam ruangan. Sedangkan aku, ibu dan Bu Dian duduk dengan rasa gelisah yang mendalam.
Sekitar 40 menit Misela diperiksa dan di bawa ke laboratorium akhir sudah bisa diputuskan hasilnya.
"Dengan keluarga pasien?" Tanya seorang Dokter yang ke luar di ruangan. Zaki langsung menghampiri Dokter tersebut.
"Saya Dok saya Papa nya, bagaimana keadaan putri saya Dok?" Tanya Zaki dengan gugup.
"Untung nya tidak ada yang serius, tadinya kami pikir pasien infeksi ginjal tapi ternyata bukan. Hanya saja pasien harus di infus sampai kondisi benar-benar stabil." Penjelasan Dokter itu membuat kami semua membuang nafas lega.
"Lakukan yang terbaik untuk kesembuhan putri saya Dok." Kata Zaki.
"Kami akan melakukan yang terbaik Pak, silahkan tunggu disini dulu nanti pasien akan di pindah ke ruang ICU. Saya permisi dulu."
"Iya Dokter terimakasih banyak."
Dokter itu pun pergi.
Misela pun di bawa ke ruang ICU oleh seorang perawat. Kami pun mengekor pada perawat tersebut. Setelah sampai di ruang ICU kami hanya bisa melihat Misela dari balik jendela.
Misela diletakkan di sebuah tabung bayi berukuran kecil. Lalu sebuah jarum infus menancap di tangan Misela dan seketika dia pun menangis dengan keras. Tangan itu pun di balut oleh perban supaya tak lepas saat Misela bergerak.
Seorang perawat pun keluar dan menyuruh ku masuk untuk memberikan asi.
"Bu nanti asi nya di pumping aja ya. Bisa di letakkan di sini." Perawatan itu menunjukan sebuah lemari es berukuran sangat kecil yang terletak di dekat baby Misela. Rumah sakit ini lengkap sekali alat medisnya. Aku yakin pasti biayanya sangat mahal.
"Kalau sudah selesai silahkan ditidurkan lagi ya Bu." Setelah selesai menyiapkan semua peralatan perawatan untuk baby Misela selesai perawatan itu pun keluar.
Aku menyusui Misela hingga dia terlelap. Sesuai pesan perawatan tadi aku pun menidurkan Misela di tabung bayi lagi dan meninggalkan nya.
"Gimana Del udah tidur?" Tanya Bu Dian yang masih terlihat sangat cemas.
"Udah tidur Tan udah lelap. Suhu badannya juga udah mulai turun."
"Iya Tante."
Bu Dian pun pergi.
"Bu udah pada sarapan belum?" Tanya Zaki pada Ibu ku.
"Belum Nak." Jawab ibu.
"Kalau gitu kalian tunggu sini gue cari sarapan dulu sekalian ke bagian administrasi." Aku hanya mengangguk dan Zaki pun berlalu pergi.
Sejak tadi handphone ku bergetar terus di dalam tas ku. Aku belum sempat melihatnya. Setelah ku lihat ternyata panggilan Hanan lebih dari 20x menelepon ku. Dan ku telpon balik.
Tuuutttt...
"Halo Del kalian dimana sih kok rumah kosong?" Nada bicara Hanan terdengar sangat khawatir.
"Maaf Nan kami ada di rumah sakit sekarang, Baby Misela sedang di rawat karna demam tinggi."
"Apa? Kenapa gak kasih kabar?"
"Ini kan udah di kasih kabar."
"Bukan waktunya untuk bercanda Del, dirumah sakit mana Misela dirawatnya?"
"Yang gak jauh dari tempat toko Bu Dania Nan."
"Ya udah gue kesitu sekarang. Gue tutup dulu sampai ketemu."
Tut Tut
Hanan pun menutup telponnya.
Tak berapa lama Zaki pun kembali membawakan dua bungkus nasi uduk untuk aku dan Ibu sarapan.
Dan di saat yang sama Hanan pun muncul.
"Kenapa ada dia?" Hanan menatap sinis wajah Zaki.
"Gue Bapak nya. Sedangkan elo siapa?" Zaki membalas tatapan sinis Hanan.
"Udah jangan berisik. Zaki yang jemput kita tadi dan membawa Misela kesini Nan."
"Apa? Dia jauh-jauh yang jemput kalian?"
Hanan pun pergi.
Aku tak tau kenapa Hanan semarah itu. Aku pun pergi menyusul Hanan.
"Bu tunggu sebentar ya Adel mau nyusul Hanan dulu."
"Ngapain sih di ikutin segala." Kata Zaki.
"Bisa aja dia salah paham Zak."
Aku segera mengikuti Hanan.
Ku lihat Hanan sedang duduk tertunduk di sebuah kursi taman rumah sakit. Aku pun duduk di sebelah nya. Hanan menoleh dan kembali tertunduk dengan kedua tangannya menyangga kepala nya.
"Apa gunanya aku sebagai Papi nya jika dia sakit kamu malah menghubungi orang yang jauh."
"Maaf Nan aku terlalu panik, aku pikir Misela akan sangat butuh Papa kandung nya Nan."
"Tapi kan bisa kamu telpon aku dulu Del? Kenapa kamu malah langsung telpon dia?"
"Aku kan udah bilang aku panik."
"Jadi saat kamu panik yang ada dalam pikiran mu adalah Zaki?"
"Bukan begitu maksudnya Zak, Eh maaf Nan!"
"Bahkan saat kita sedang bersama pun kamu memikirkan laki-laki itu Del!"
"Nan jangan salah sangka dulu, maksudnya gini bukan begitu Nan, maksudnya…."
"Sudahlah, bagaimana keadaan Misela sekarang?"
"Demamnya udah turun dan sekarang lagi tidur. Gak boleh dijenguk masuk kedalam ruangan. Aku cuma boleh liat dari balik pintu."
"Biaya rumah sakit apa Zaki yang bayar semuanya?"
"Emh iya Nan."
"Kalau gitu aku kerja dulu. Kalau ada apa-apa cepet telpon aku."
"Tapi Nan…!"
"Sudahlah aku pergi dulu. Nanti aku bilangin ke Bu Dania kamu ijin. Jangan lupa sarapan mu tadi. Kamu harus sehat."
Hanan pun pergi begitu saja. Raut wajahnya penuh kekesalan dan kekecewaan. Sepertinya Hanan terlalu cemburu dengan Zaki.
*****
...TERIMAKASIH READER ATAS DUKUNGAN NYA. TERUS BANTU AKU DENGAN TINGGALIN LIKE KOMEN DAN VOTE NYA SUPAYA AKU LEBIH SEMANGAT UP NYA 😍...