
Sirine mobil terus berbunyi menandakan sang supir minta diberi jalan agar segera sampai tujuan. Rumah sakit yang akan kami datangi memang jauh oleh karna itu mobil perlu membunyikan sirine agar melaju lebih kencang.
Hati dan pikiran ku masih belum tenang. Aku hanya terbayang sosok ayah yang tadi pagi mengantarku sekolah. Dengan senyumannya ayah melambaikan tangannya. Memberi sebuah kepercayaan bahwa aku akan baik-baik saja tanpanya.
Tangan ku masih memeluk tubuh ibu yang lemas. Sambil sesekali ku usap-usap bahu ibu untuk menenangkan pikirannya. Ku tengok kaca mobil sesekali untuk melihat keadaan jalan raya yang memang saat itu sedikit ramai.
Ada rintikan hujan yang membasahi kaca jendela mobil. Tapi mobil tetap melaju kencang.
Setelah 25 menit berlalu sirine yang tadinya berbunyi begitu nyaring tiba-tiba berhenti. Ternyata kami sudah sampai dirumah sakit yang dimaksud. Ada seseorang yang membukan pintu, iya tentu orang itu adalah polisi yang kerumah kami tadi. Ibu belum berani beranjak dari tempat duduknya. Begitu pula dengan ku. Keraguan mencengkram perasaan ku. Tidak kami harus turun dan memastikan nya.
"Mari Bu kami antar ke kamar jenazah"
Deg seketika jantung ku serasa mau copot dari tempatnya. Kamar jenazah? Apakah benar Ayah ku berada disana?
Akhirnya aku dan ibu keluar dari mobil. Memberanikan diri melangkah memasuki rumah sakit yang begitu besar. Langkah demi langkah itu begitu berat. Aku dan ibu mengikuti arah yang ditunjukkan pak polisi dan oleh seorang dokter.
Sekarang kami Persis di depan pintu bercat hijau bertuliskan *kamar jenazah*. Dan dibukalah pintu itu oleh seorang penjaga dengan pakaian serba hijau dan memakai masker putih.
"Silahkan masuk." Ucap penjaga itu mengarahkan kami ke sebuah mayat yang sudah ditutupi kain putih.
Aku memberanikan diri untuk membuka kain itu. Akan ku pastikan bahkan itu bukan Ayah.
"Ayahhhhh…."
Tangis Ibu pecah. Ibu memeluk Ayah dan menggoyangkan badan ayah yang terbujur kaku. Benar mayat itu adalah ayah. Dengan kepala berlumur darah yang masih segar. Bahkan hampir semua darah itu menutupi wajah Ayah.
Aku tak berani menatapnya terlalu lama. Ku urungkan langkah ku mendekati mayat itu. Berjalan mundur menjauhi Ibu yang masih terisak-isak memeluk tubuh yang sudah kaku dan terbungkus kain serba putih.
"Yang sabar nak. Semua ini sudah takdir. Ayahmu jadi korban tabrak lari. Kami masih mengejar pelakunya."
Deg…
Ayah ku korban tabrak lari?
Kaki ku seketika langsung lemas. Aku yang akan jatuh ke lantai langsung ditolong oleh pak polisi yang sedari tadi dibelakang. Aku dituntun ke arah kursi yang berjejer di samping pintu kamar jenazah Ayah.
Tangis ku kali ini tak bisa ku tahan lagi. Bagaimana bisa dia kabur setelah merenggut nyawa ayah ku?
Jika bertemu dengannya aku tak akan pernah memaafkannya.
Ibu keluar dari kamar jenazah. Berlari memeluk kaki ku yang masih lemas terduduk dikursi.
"Del, Ayah mu benar-benar sudah pergi meninggalkan kita.hiks hiks….!" Kelapa ibu yang tadinya tengadah menatap ku kini lemas di pangkuan ku. Sambil memukul-mukul kursi yang kududuki ibu terus menangis.
Tidak. Aku harus kuat. Aku harus menenangkan hati Ibu. Aku harus jadi Adelia yang tegar seperti pesan Ayah terakhir kali.
"Bu, ini sudah takdir. Kita harus bener-bener menerima semua ini. Adelia tau ini berat untuk kita tapi ini semua sudah terjadi Bu." Kata yang sebenarnya berat untuk ku ucapkan akhirnya membuat ibu sedikit tenang. Ku angkat badan ibu dan kami duduk bersebelahan.
"Bu, kita harus kuat. Ibu pasti gak maukan Ayah makin sedih melihat kita yang menangis tiada henti disini. Ayah pasti jauh tambah sakit jika melihat kita gak ikhlas melihat kepergian Ayah. Adelia mohon Ibu juga harus kuat. Adelia juga sedih Bu." Sekali lagi aku harus berusaha setegar mungkin menghadapi semua kenyataan pahit ini.
"Bagaimana dengan masa depan mu Del, ayah sudah pergi sedangkan ibu bukan seorang wanita karier. Selama ini kita hanya mengandalkan Ayah seorang."
"Bu, jangan pikirkan hal yang belum terjadi. Rezeki itu sudah ada yang mengatur tinggal kita yang berusaha mendapatkan nya. Semua ini pasti ada hikmahnya Bu. Jadi ibu udah ya nangisnya. Adelia juga akan berusaha untuk kuat supaya Ayah bisa pergi dengan tenang." Ku usap air mata yang masih menetes dipipi ibu. Berat atau tidak kita memang tidak boleh terus-menerus menangisi kepergian Ayah.
"Nak kami akan mengurus jenazah ayah mu. Nanti akan di anter sama mobil ambulan. Apa sudah bisa kami mandikan jenazahnya untuk segera kami antar ke rumah?" Seorang dokter menghampiri dan membahas masalah jenazah Ayah.
"Baik kalau begitu silahkan tunggu di ruang yang ada di sebelah sana." Dokter itu menunjukan ruangnya yang lebih terang dari ruangan kami sekarang.
Akhirnya aku dan Ibu berjalan ke ruangan yang dimaksud dokter tersebut. Belum sempat kami duduk seorang polisi yang mendatangi rumah kami tadi juga menghampiri.
"Bu, mau ikut mobil ambulance atau mau kami antar lagi kerumah?"
"Tidak usah pak, kita naik ambulance saja. Kita sudah sangat merepotkan. Terimakasih semuanya pak." Aku dan ibu membungkukkan setengah badan memberikan hormat pada polisi yang sudah menolong kami.
"Itu sudah tugas kami. Kami akan berusaha sebaik mungkin mencari pelaku yang telah menabrak Bapak Winata."
"Terimakasih sekali lagi Pak"
"Baik kalau begitu saya permisi dulu. Semoga Bapak Winata pergi dengan tenang." Polisi itu pun membalikkan badan dan melangkah keluar dari rumah sakit.
"Bu, begitu tega sekali orang yang udah nabrak Ayah. Apakah Adelia bisa memaafkan kesalahannya jika suatu hari nanti Adelia bertemu dengannya."
"Tidak nak jangan pernah memaafkan orang yang telah merenggut kebagian kita."
"Baik Bu."
.
.
"Dengan keluarga pasien Bapak Winata?" Tiba-tiba ada seorang perawat yang menegur ku dari belakang.
"Iya saya anaknya sus."
"Jenazah sudah selesai dimandikan dan dikafani. Sekarang sedang menuju ambulan di depan UGD." Jelas suster itu.
"Terimakasih sus. Kami akan segera menyusul."
"Baik sama-sama."
Aku dan ibu berjalan keluar rumah sakit dan mencari ambulance yang akan kami naiki.
Ibu sudah meneteskan air mata lagi melihat Ayah yang sudah terbungkus kain kafan. Aku mengelus punggung ibu. Menggelengkan kepala menandakan jangan memberi tangisan lagi. Ibu mengerti maksudku kami menaiki mobil ambulance itu dan menuju rumah.
Aku lupa memberi kabar nenek dan kakek. Iya ayah masih punya orangtua lengkap. Kakek dan nenek tinggal di perkotaan yang jaraknya sangat jauh dengan kami. Aku hanya mengirimkan pesan WhatsApp kepada paman Dirga. Adik satu-satunya Ayah yang tinggal dengan nenek dan kakek. Semoga mereka juga tidak begitu terkejut dengan semua ini.
Sirine ambulance sudah berbunyi menandakan mobil akan segera melaju.
'Ayah… Adelia janji akan menjaga Ibu'
Kutatap jazad yang terbungkus kain putih didepan ku. Kutahan dengan sekuat mungkin agar aku tak meneteskan air mata kembali.
.
.
...Mohon terus mendukung karya ku 😊🙏...