BROK3N

BROK3N
26. Ujian Nasional



Ini adalah hari menegangkan untuk siswa siswi kelas 3 SMA Taruna Bangsa karna Ujian Nasional telah tiba.


Aku bangun lebih pagi dari biasanya karna perjalanan sekolah ku memakan waktu sekitar 35 menit dengan naik Bus kalau tidak macet. Aku sudah siap untuk hari ini. Aku sangat berharap dapat nilai paling tinggi supaya Ayah disana tersenyum bangga pada ku.


Cuaca masih gelap diluar sana. Tapi hawa sejuk nan segar sangat terasa saat ku buka jendela kamar ku dan memberi ku semangat yang luar biasa. Aku sudah rapih dengan baju putih abu ku dan tas ransel dengan buku mata pelajaran hari ini. Tak lupa ku pakai sweeter pink dan mengurai rambut ku agar tak kedinginan di jalan. Tali sepatu pun sudah kokoh ku ikat. Akhirnya ku berjalan keluar kamar dan menuju dapur tempat dimana Ibu sedang sibuk dengan ini itu.


"Bu bekal Adel udah siap?"


"Udah Del. Ini makannya ini air mineralnya ya." Ibu menyodorkan kotak makan dan botol air minum lalu memasukannya di paper bag.


"Makasi ya Bu doain Adel supaya ujiannya mudah dan Adel dapet nilai tertinggi disekolah."


"Aamiin Nak." Ibu memberi doa dan mengelus kepalaku.


"Adel jalan dulu ya Bu assalamu'alaikum." Kucium punggung tangan ibu dan membuka pintu rumah.


Deg


Sosok laki-laki tinggi memakai sweeter, tas, topi hitam celana abu panjang yang terlihat tampan nan cool sudah ada di depan pintu rumah ku.


"Pagi Adel baru aja gue mau ketuk pintu eh kamu buka duluan jodoh deh ini hehe."


Aku masih mematung dengan sosok Hanan. Pacar ku Zaki tapi beberapa hari ini Hanan yang selalu ada.


"Halo Adelia manis apa kamu terpesona dengan ke tampanan ku ini?" Hanan melambaikan tangannya tepat di depan wajah ku sontak membuat ku tersadar dari lamunanku.


"Eh kamu sih selalu tiba-tiba ada didepan pintu."


"Ayo buruan jalan tar ketinggalan bus kita."


"Eh iya bentar aku tutup dulu pintunya."


Dan kita pun berangkat sekolah bersama.


Bus pun datang dan aku duduk bersebelahan dengan Hanan. Rasa canggung mulai menyelimuti Ku. Bagaimana tidak selama ini aku tak pernah duduk bersebelahan dengan laki-laki bahkan dengan Zaki baru sekali kemarin di taman saat kencan pertama kita itu juga cuma sebentar. Akhirnya ku putuskan membuka buku pelajaran.


"Rajin amat sih kamu."


"Heemm..."


"Gak nanyain Asep?"


"Pasti tidur kan libur."


"Iya sih."


Tak banyak kata yang keluar karna aku sibuk dengan buku ku. Waktu yang lumayan cukup untuk aku belajar. Dan yang terpenting adalah untuk menghindari rasa canggung dan gugup ku karna duduk bersama Hanan. Kalau saja bus tidak penuh pasti aku lebih memilih duduk terpisah.


"Hei sampe nih mau turun engga?" Hanan menepuk bahu ku.


"Eh iya terlalu fokus."


Kami berjalan berdua menuju gerbang sekolah. tak jauh hanya 2 menit saja. Dan tentu saja sudah ada Zaki yang menunggu ku di gerbang sekolah.


"Loh kok kalian bisa bareng?" Zaki heran yang melihat aku dan Hanan.


"Aku duluan ya." Hanan menoleh ke arah ku dan berjalan mendahului.


"Kenapa bisa bareng kan Hanan harusnya dari arah sana?" Zaki menunjuk ke arah yang berlawanan.


"Iya dia lagi tempat Bude nya. Kamu kemana aja sih gak ada kabar beberapa hari chat ku cuma di read aja sebel." Aku merajuk pada Zaki.


"Maaf ya cantik." Zaki mencubit kedua pipi ku. "Ada hal yang buat we pusing. Ayo masuk kelas." Zaki menggandeng tangan ku.


"Ini disekolah jangan gandengan malu tau." Aku masih kikuk untuk memamerkan kalau kita pacaran.


"Biarin kan cuma gandengan aja, lagian aku kan kangen heeee....!" Zaki memasang senyum yang meluluhkan hati.


Akhirnya kami berjalan dengan bergandengan tangan. Tentu banyak mata yang melihat ke arah kami. Aku merasa risih jadi pusat perhatian. Tapi ini tak akan lama karna setelah Ujian Nasional kami sudah bebas dari sekolah ini.


"Udah belajar?" Tanya Zaki


"Udah."


"Wah bisa-bisa nilai ku terkejar ini."


"Jangan lebay."


"Kan kita emang selalu kejar-kejaran nilai nya."


"Udah jangan berisik orang-orang makin liatin kita aku risih."


Tangan Zaki yang menggenggam ku berpindah ke bahu. Sontak memuat ku kaget dan menatap nya.


"Ini apaan sih. Aku malu." Aku berbicara lirih.


"Jangan aneh-aneh turunin ini tangan."


"Kenapa sih kan aku pacarmu."


"Ini di sekolah jangan macem-macem cepet turunin."


"Iya iya gitu aja ngambek. Cantiknya ilang nanti."


"Udah ayo jalan biasa aja."


Ahirnya kami masuk kelas dan tak lama pengawas pun masuk kelas langsung hening.


***


Jam pulang sekolah.


"Kamu pindah rumah kok gak bilang sih Del." Kata Putri yang duduk di depan ku.


Aku hanya tersenyum ambil membereskan meja.


"ihh jahat banget kamu main rahasia-rahasian. udah gak di anggap nih jadi sahabat." Putri melipat kedua tangannya di dadanya.


"Bukan gitu Putri sayang nanti aku ceritain ya."


"Eh tapi bener kan gosip itu?"


"Apaan?"


"Kamu pacaran sama Zaki?"


"Heem."


"Haahh? Gila temen ku bener-bener keren tapi gimana Sinta?" Putri berbisik takut terdengar oleh Zaki yang duduk paling depan.


"Entahlah belum ku pastikan."


"OMG Adelia Putri Winata aku bangga pada mu." Putri mengacungkan 2 ibu jarinya di depan wajahku. Tentu saja itu membuat ku tertawa geli.


"Aku antar pulang ya?" Zaki sudah berdiri di hadapan ku.


"Eh Del kamu utang cerita pokoknya ya aku duluan daahhh...!" Putri yang pekak tak mau mengganggu ku dengan Zaki langsung berjalan keluar kelas dan pulang.


"Ayo mau pulang apa mau nginep di sekolah?" Zaki kembali bertanya.


"Ya pulanglah tapi kan arah kita beda."


"Apa salah nganter pacar?"


"Ya engga sih. Ya udah ayo jalan."


Baru keluar dari kelas Sinta dan kedua temannya Rosi dan Devi sudah menunggu kami.


"Ka Zaki. Pulang bareng yuk." Kata Sinta dan langsung menghampiri Zaki lalu memeluk tangan Zaki.


"Maaf Sin gue pulang bareng Adelia." Tolak Zaki sambil melepas tangan Sinta.


"Ya udah Ka makasi ya buat jalan-jalan kemaren aku seneng banget bisa seharian sama Kaka. Papah ku juga bilang abis ujian kita mau makan bersama keluarga ka. Kalau gitu aku duluan ya Ka Zaki daaahhh..." Sinta dan kedua temannya pergi tapi kata-kata masih terngiang di telinga ku.


'Seharian? Jalan-jalan? Jadi mereka? Terus WhatsApp ku cuma di read doang?'


Aku ingin sekali bertanya tapi aku menunggu Zaki menjelaskan.


"Maaf ya nanti aku jelaskan. Ayo nanti ketinggalan bus."


"Eh iya Hanan mana ya kok gak keliatan?" Ke celingukan mencari Hanan karna kita satu arah dan satu bus.


"Kenapa cari dia. Dia udah gede bisa balik sendiri." Ketus Zaki.


"Kamu cemburu ya?"


"Gak."


"Iya cemburu keliatan itu mukanya manyun."


"Engga ngapain cemburu lagian gantengan aku sama Hanan." Zaki menegakkan badannya dan memasang wajah tampannya dengan sombongnya. Aku menahan tawa tapi ternyata tak bisa.


"Wahaha kamu lucu sih cemburu nya keliatan banget." Aku berlari mendahului Zaki dan dia mengejar ku. Kami saling mengejek selama perjalanan pulang.


*****


...Terimakasih reader yang setia untuk dukungannya 🙏...