BROK3N

BROK3N
Bab 55 Pengakuan Sinta



Sejak kedatangan Tante Dian dan Zaki kerumah beberapa hari ini yang lalu aku dibuat bingung dengan perasaanku. Aku susah tidur bahkan hampir kehilangan selera makan ku. Aku bahkan tak fokus kerja dan merawat baby Misela.


Bagaimana tidak begitu, aku dilamar oleh dua pria sekaligus. Perasaan yang belum pernah aku rasakan sebelumnya. Antara Zaki atau Hanan manakah yang bisa benar-benar menjaga dan membahagiakan ku bersama putri dan Ibu ku.


Aku harus membuat keputusan secepatnya. Aku tak mau satu di antara mereka berharap lebih dari ku. Aku hanya berharap tak ada yang merasa terbebani atas keputusan ku nanti. Tak lupa aku berdoa untuk mendapatkan yang terbaik dari keputusan ku nanti.


Malam ini aku pulang terlambat karna pengunjung toko yang ramai. Akhir-akhir ini aku dan Hanan sering lembur karna banyak pesanan juga. Memang gaji kami jadi bertambah tapi aku jadi punya waktu sedikit untuk baby Misela.


Setelah toko tutup aku dan Hanan pulang dengan berjalan kaki seperti biasa nya. Kami ngobrol dan bercanda lalu saling mengejek satu sama lain. Begitulah yang terjadi setiap hari. Hanan selalu saja membuat terhibur. Ada saja hal baru yang bisa membuat ku tertawa karna nya.


Hanya saja malam ini langkah kami terhenti tiba-tiba karna seorang wanita yang menghadang perjalanan kami.


Wanita itu tak asing. Dia memakai celana jeans hitam dan sweeter warna kuning dengan rambut di kucir kuda. Tangannya dia masukan ke dalam saku sweeter. Menatap kami sejenak lalu berjalan menghampiri kami.


"Sinta? Kamu mau apa malam-malam begini disini?" Aku memfokuskan pandangan ku di antar lampu malam yang sedikit remang-remang. Mungkin Sinta akan memaki ku kembali karna dia tau Zaki sering menemui ku. Aku hanya menerka saja.


"Gue mau ngomong sama elo tapi tanpa dia." Kata Sinta sambil menunjuk Hanan dengan dagunya.


"Nan, Boleh kan?" Tanya ku pada Hanan yang sedari tadi sinis menatap Sinta. Walau sebenarnya aku juga malas bicara dengannya. Aku masih merasa sakit hati atas apa yang dia bicarakan tempo hari ditoko.


"Ngomong aja aku tunggu di sebelah sana. Tapi loe jangan coba macem-macem sama Adel." Hanan mengancam Sinta dengan nada sedikit ditekan.


"Iya gue gak akan macem-macem. Gue cuma pengen ngomong aja. Kan loe bisa liatin gue. Tenang aja gue dateng baik-baik kali ini. Gue janji gak bakal ngapa-ngapain selain ngomong." Sinta meyakinkan Hanan.


Hanan percaya lalu berjalan menjauhi kami.


"Ayo kita duduk disana." Aku berjalan bersama Sinta menuju kursi kayu yang tak jauh dari tempat kami berdiri.


"Ada yang harus gue kasih tau ke elo. Gue tau loe pasti sekarang lagi bingung sama perasaan elo kan?" Sinta memulai pembicaraan nya. Tapi kali ini Sinta terlihat berbeda bahkan dari gaya bicaranya. Padahal sebelumnya Sinta menghina ku tanpa dipikir panjang.


"Bilang aja kalau itu emang penting."


"Gue sama Ka Zaki udah pernah berbagi badan Del. Bahkan sering sekali hal itu kami lakukan selama ini."


Deg


Jantung... Jantung ku seperti akan jatuh dari tempatnya mendengar apa yang Sinta katakan.


"Selama di Singapura gue sering ke apartemen nya, tadinya cuma niat mau main tapi malah keterusan. Ka Zaki sering mabuk Del. Dia juga memakai obat terlarang disana. Dia tak benar-benar kuliah selama setahun ini."


Lagi-lagi aku mendengar keburukan Zaki. Dada ku terasa sesak mendengarnya. Sepertinya itukah Zaki yang sebenarnya.


"Tiap malam Ka Zaki selalu pergi ke diskotik dan bermain dengan wanita-wanita disana. Pulangnya mabuk dan meniduri ku." Sinta terus saja bicara dan aku merasakan hal yang tak beres dengan tubuh ku.


Sinta memberikan handphone nya pada ku dan menunjukan sebuah rekaman Vidio Zaki sedang berciuman dengan wanita di diskotik. Vidio kedua Zaki sedang menikmati tubuh Sinta.


Aku meletakkan handphone yang Sinta berikan pada ku. Aku tak sanggup lagi melihat tingkah laku Zaki. Aku pun tak kuasa menahan tangis ku.


"Gue mohon jangan pernah jadikan putri kalian alat untuk kalian kembali. Biarkan Zaki sama gue Del. Gue sayang sama Zaki. Loe juga gak mau kan suami loe bertingkah seperti itu. Contoh aja loe ditiduri Ka Zaki dengan cara minum mu di campuri obat. Aku yakin itu. Gue gak masalah loe pernah tidur dengannya."


Aku menarik nafas dalam-dalam dan menenangkan pikiran ku yang berantakan.


"Tapi di taman hiburan itu bukannya kamu sama Om Om ya? Kalian bukan pasangan? Aku liat kalian sedang berciuman soalnya."


"Itu gue cuma main-main aja. Om-om itu adalah klien di kantor Papah gue. Gue disuruh jalan sama Om itu supaya Papah gue dapetin proyeknya. Gue ya harus nurutin mau nya tu Om Om kecuali hubungan badan. Gue cuma mau keperawatan gue buat suami gue aja."


Aku menutup mulutku. Aku udah berburuk sangka pada Sinta waktu itu.


"Sorry gue gak maksud nyindir loe. Gue tau loe masih sayang kan sama Zaki, tapi lihatlah laki-laki disayang jauh lebih sayang sama loe dari pada Zaki. " Sinta melirik Hanan yang sedang duduk menatap ku dan Sinta dari kejauhan. Yang Sinta katakan memang benar.


"Gue tau Tante Dian menyukai loe dan menyuruh loe jadi menantu nya. Hati gue sakit banget. Gue baru tau kemaren di rumah sakit mereka sedang ngomongin loe. Gue diem-diem nguping. Padahal Tante Dian yang paling semangat saat perjodohan gue sama Ka Zaki. Sekarang tiba-tiba Tante Dian pengen loe jadi mantunya setelah melihat putri kalian. Ahirnya gue putusin buat ketemu loe dan kasih tau semua tentang Ka Zaki saat di Singapura. Gue yakin orang tua Ka Zaki juga tak tau masalah ini."


"Apa? Maksudnya Zaki disana mengabiskan waktunya dengan hal-hal yang buruk?"


"Iya kurang lebihnya begitu. Tapi gue gak papa kok kalau Ka Zaki hanya nengokin anaknya tapi gue gak akan biarin dia milikin loe. Udah cuma itu yang mau gue omongin. Intinya gue minta sama loe jangan terima Zaki jika dia maksa buat nikahin loe. Sejak dulu cuma Zaki cowok yang gue suka."


"Terimakasih Sin udah kasih tau aku semua ini. Aku gak akan ganggu hubungan kalian. Aku juga sedang berusaha untuk mencintai pria itu." Aku melirik Hanan.


"Kalau gitu aku pamit dulu. Kamu hati-hati pulang nya."


Sinta mengangguk.


"Gue juga makasi sama loe."


Aku pun berdiri dari tempat duduk ku lalu memeluk Sinta sebentar dan berjalan menjauhi Sinta.


"Eh Ka Adel." Sinta memanggil ku dengan sopan. "Thanks udah ngertiin perasaan gue." Aku mengiyakan perkataan Sinta lalu melanjutkan langkah ku untuk pulang kerumah karna ini sudah larut malam.


"Kalian ngomongin apa sih kok serius banget keliatannya." Hanan bertanya tentang obrolan kami.


"Malah ngeledek. Serius nih aku penasaran." Hanan mendesak ku untuk mengatakan yang aku dan Sinta obrolkan tadi.


"Itu rahasia perempuan haha jangan kepo ribet nanti urusannya haha." Aku pun berlari mengalihkan pertanyaan Hanan.


"Awas ya main rahasia-rahasian sama aku?"


"Iya dong kan kamu cowok. Cowok itu gak akan ngerti perasaan cewek hahaha."


"Siapa yang berani bilang seperti itu?"


"Aku barusan yang bilang haha....!"


"Dasar kamu...! Gelitikin nih kalau kenak." Hanan hendak mencubit pinggang ku tapi aku berhasil menghindari nya.


"Gak kenak weekkk...!"


Aku terus mengejek Hanan hingga kami pun sampai rumah.


"Haduh capek ya lari-lari tengah malam gini hahaha." Kata Hanan yang sibuk mengatur nafasnya.


"Kamu nya aja itu yang lebay haha. Udah ah aku masuk dulu ya. Baby Misela pasti udah tidur lelap." Kata ku sambil membuka pintu rumah.


"Kita sih kemaleman pulang nya Papi jadi gak bisa gendong deh." Ada sedikit penyesalan dihati Hanan.


"Udah buruan pulang sana."


"Kok aku di usir sih tega banget."


"Ya terus kamu mau tidur disini?"


"Mau banget...!"


"Mau di grebek warga satu kampung ini?"


"Hehe engga dong. Nanti pasti ada waktu nya. Ya udah aku pulang ya. Sampai besok lagi. mimpi indah calon istri ku." Hanan mencubit sebelah pipi ku. "Daahhh...!" Kemudian Hanan pergi dan melambaikan tangannya.


Ku perhatikan punggung Hanan sampai benar-benar tak terlihat.


Sinta benar aku tak boleh bingung lagi dengan perasaan ini. Aku akan memperjuangkan cinta Hanan juga. Dia yang sudah menemani ku selama ini.


***


Pagi yang cerah untuk berjemur bersama baby Misela. Memasuki usia 3 bulan baby Misela makin aktif dan sudah mulai merespon karna matanya sudah bisa melihat. Aku sangat bahagia memiliki putri yang pintar seperti nya.


Dari kejauhan ada sebuah mobil mewah putih menghampiri kami.


"Sepagi ini bertamu kayak gak punya kerjaan aja. Tapi sepertinya aku mengenal mobil itu." Gunam ku.


Setelah mobil itu berhenti sosok laki-laki dengan setelah jas navy menghampiri ku yang sedang duduk santai bersama baby Misela.


Laki-laki itu adalah Zaki. Dia terlihat mempesona dengan setelah jas nya itu.


"Selamat pagi anak Papa." Sapa nya.


"Pagi-pagi begini udah kesini? Ada hal penting?" Aku bertanya padanya.


"Engga gue cuma mau kasih ini. Keperluan Misela. Mamah yang beliin dan gue disuruh pagi ini juga nganterin nya."


Zaki memberikan sekotak kardus besar. Aku tau tau apa isinya tapi Zaki langsung masuk kerumah dan meletakkan kardus itu di meja ruang tamu.


Baru semalam aku membicarakan nya dengan Sinta dan sepagi ini dia ada di hadapan ku.


"Bilang sama Tante makasih pemberian nya."


"Iya gue langsung pergi ya gue mau ke kantor Papah."


"Iya hati-hati dijalan."


Zaki pun pergi dengan mobil Pajero nya.


Aku heran sekali setiap aku memikirkan Zaki dia selalu muncul begitu saja di hadapan ku. Atau mungkin ini sebuah petunjuk untuk aku lebih memilih dia dan meninggalkan Hanan? Oh tidak aku tak kan terbuai. Aku sudah berjanji pada Sinta.


*****


...TERIMAKASIH READER ATAS DUKUNGAN NYA. TERUS BANTU AKU DENGAN TINGGALIN LIKE KOMEN DAN VOTE NYA SUPAYA AKU LEBIH SEMANGAT UP NYA 😍...