
Pagi ini seperti biasa aku berangkat kerja bersama Hanan. Tapi kali ini sebelum berangkat Hanan menyempatkan diri untuk menggendong baby Misela. Padahal sejak baby Misela lahir Hanan tak menunjukkan tanda-tanda ingin menggendong nya.
"Sini gue mau belajar gendong Misela. Dari bayi belum berani ini udah gemoy kayaknya gue udah bisa gendong dia." Hanan mengulurkan tangannya hendak menggendong baby Misela.
"Yakin Nan?" Aku masih belum percaya padanya karna posisi tubuhnya begitu kaku.
"Iya kan namanya juga belajar. Makanya sini. Yuk sayang ikut Papi ya Papi jahat banget ya belum pernah gendong kamu Nak?" Ucap Hanan sambil menggendong baby Misela.
Aku dan Ibu saling menatap karna ucapan Hanan.
"Hah? Papi?" Ku ulangi panggilan Hanan untuk anak ku.
"Iya mulai sekarang panggil Papi ya Misela gemoy. Ya ampun kamu bener-bener lucu deh. Iihhh… liat Del dia senyum sama Papi nih. Kamu suka ya sama Papi Anan? Papi ganteng kan? Tuh tuh Del senyum-senyum terus. Papi bakal tiap hari kesini ya biar kamu gak kesepian. Papi janji sama Misela." Hanan terus bicara sendiri sambil mengusap pipinya dengan jari telunjuknya.
Sedangkan aku dan Ibu saling bertatapan dan tersenyum mendengar perkataan Hanan.
"Udah ayo berangkat kerja nanti kita telat lo." Ajak ku pada Hanan.
"Duh masih pengen gendong lo Papi mu ini tapi Papi sama Bunda harus kerja dulu ya buat beli pempes nanti. Hehe Misela sama Oma dulu ya jangan rewel gak boleh nakal harus nurut sama Oma ya nanti Papi kesini lagi buat main sama Misela. Okey emuah…! Dah anak Papi..." Hanan melambaikan tangan pada anak ku dan menyebut nya kalau dia anaknya. Antara bahagia dan sedih tapi ucapannya begitu hangat didengarkan.
Baru kali ini memang dia mengatakan demikian. Sebelum nya dia hanya mengusap-usap pipi Misela aja karna setiap aku minta dia menggendong dia bilang belum berani karna tubuhnya masih mungil.
Tapi kali ini beda. Sepertinya Hanan menyiapkan diri untuk anak ku. Apa iya aku harus menerima tawarannya yang sedari dulu mengajak ku untuk menikah.
Aku pun memulai obrolan dengannya sambil berjalan menuju tempat kerja kami.
"Nan?"
"Emh…"
"Kenapa Papi?"
"Gak papa kan?"
"Tapi orang akan mikir dia anak mu Nan?"
"Biarin dia emang anak gue."
"Nan?"
"Sudahlah gue gak keberatan sama sekali. Gue kan udah bilang kalau gue sayang sama dia sejak loe hamil dulu."
Itu memang benar.
"Tapi Nan aku gak mau kamu jadi bahan gunjingan tetangga dan Ibu-ibu kompleks nantinya."
"Biarin aja Del toh yang dosa juga mereka karna ngomongin orang."
"Nan kamu serius mau dipanggil Papi oleh Misela?"
"Gue gak pernah main-main dengan apa yang gue katakan Del. Dan gue bakal nunggu loe terima cinta gue. Loe satu-satunya wanita yang gue sayang Del."
"Nan aku ini udah kotor. Aku gak pantes buat kamu. Dan aku yakin ortu mu gak akan terima status ku yang udah punya anak satu."
"Kalau mereka setuju apa loe mau jadi istri gue? Gue bakal sesegera mungkin buat ajak mereka ngelamar loe. Loe jangan bilang kalau loe itu kotor. Kotor kan bisa mandi?"
"Nan aku serius!"
"Gue juga serius Del. Bukannya loe bilang kalau loe ngelakuin itu dengan Zaki atas dasar tanpa sadar?"
Aku pun menghentikan langkah ku. Benar ya Hanan kata kan. Aku dulu merasakan hal aneh setelah minum jus alpukat itu. Dan setelah keluar dari rumah Zaki aku seperti orang yang kehilangan arah tujuan.
Aku terdiam. Jangan memang berulang kali mengatakan bahwa Hanan ingin menikahi ku dan akan menjaga ku beserta anak ku. Tapi aku pikir itu hanya sebuah kata-kata untuk menghibur ku saja. Jadi tak pernah ku tanggapi serius. Cuma semakin kesini aku memang merasakan Hanan semakin tulus pada ku juga pada anak ku. Hanya saja aku belum siap untuk semua itu.
Aku belum siap untuk memulai nya. Aku belum siap untuk bertemu dengan kedua orang tuanya. Aku takut akan ada penolakan yang membuat ku semakin hancur nantinya.
"Gimana?" Hanan mengulangi pertanyaannya. "Apa loe gak suka sama gue?" Hanan menekankan bagian pertanyaan ini.
"Bukan, bukan begitu Nan!"
"Terus kenapa? Loe masih menyukai Zaki yang brengs*k itu?" Kata Hanan yang kesal harus menyebut nama Zaki.
"Nan?"
"Jujur aja."
"Kemaren aku ketemu Zaki disana!" Sambil ku tunjuk sebuah kursi tempat dimana aku dan Zaki kemarin duduk berdua.
"Apa? Loe masih mau ketemuan sama si brengs*k itu Del? Sadar Del sadar dia udah ngancurin hidup loe Del!" Hanan memegang kedua bahu ku dan menatap ku penuh kemarahan.
"Dia bilang kalau dia di ancam oleh Papah. Kalau dia menemui ku Papahnya bakal celakain aku Nan."
Aku menunduk kan kepala ku.
Hanan melepaskan tangannya dari bahu ku dan mengacak-acak rambutnya.
"Haaacchhh si*l." Hanan menendang angin beberapa kali. "Kenapa sih dia harus kembali ke sini?" Hanan meluapkan kemarahannya karna mendengar nama Zaki dari mulut ku. Dia seolah-olah sangat ingin memukul Zaki. "Terus loe percaya sama apa yang dia katakan?"
"Entahlah. Dia bilang Papahnya sedang koma sekarang."
"Loe tau dimana dia sekarang? Biar gue abisin tu orang!" Hanan kembali menendang angin.
Aku diam. Aku masih mematung. Bahkan aku belum menjawab lamaran Hanan tadi, tapi gara-gara nama Zaki Hanan jadi marah pada ku.
"Maafin gue kalau gue marah-marah gak jelas. Gue akui gue cemburu. Gue gak mau kehilangan loe Del, gak mau. Jangan pernah temui orang yang udah buat loe menderita begini Del. Kalau loe ketemu dia lagi loe harus bilang sama gue. Gue bakal kasih dia pelajaran. Okey?"
Pelukan Hanan berbeda. Aku merasa kan tubuh yang benar-benar tulus mendekap ku. Bukannya melepaskan pelukan Hanan aku malah memejamkan mata ku dan menyelinap kebagian tangannya karna aku merasa sangat tenang dalam pelukan nya.
" Loe udah gak papa kan sekarang?"
Aku hanya mengangguk-angguk. Rasanya tak rela melepaskan pelukan dari Hanan ini.
"Nanti gue peluk lagi sekarang ayo kita berangkat kerja sebelum telat." Hanan malah menggoda ku.
Aku jadi tersipu malu dan pipi ku memerah. Aku pun mencubit lengan Hanan.
"Aaww sakit. Iihh pipi loe kayak udah rebus tuh." Hanan terus saja menggoda ku.
"Bodo amat." Aku pun berbalik dan mempercepat langkah ku karna aku sangat malu mentapnya.
"Tunggu Del pelan-pelan dong jalannya udah kayak dikejar setan aja sih." Hanan berusaha mengejar ku tapi aku semakin mempercepat langkah ku.
"Iya kamu setannya." Jawab ku.
"Mana ada setan seganteng gue Del hahaha…" Hanan malah tertawa setelah sukses membuat ku malu padanya.
"Adalah setan jadi-jadian." Umpat ku.
"Awas loe ya kalau kenak gue remes-remes jadi rengginang."
"Awas apa sih kamu yang tak bikin jadi perkedel. Udah ayo cepetan."
"Pelan-pelan dong gue ngos-ngosan nih."
"Letoy amat sih jadi cowok."
"Hahaha dasar loe Del."
Kami terus terus saling mengejar layaknya anak kecil yang sedang bermain-main. Bahkan sesampainya di toko kami saling tertawa karena kejadian tadi. Dan saat memasuki toko disana sudah ada Yumna yang memperhatikan kami.
Pagi ini aku satu sif dengan Yumna karna yang lain ada acara pagi hari jadi mereka tak bisa saling tukar sif dengan Yumna.
"Hai Yumna." Sapa ku pada Yumna tapi dia malah membuang muka dan masuk ke ruang produksi. Aku pun mengikuti nya dari belakang.
"Pagi Ka Hanan." Sapa Yumna pada Hanan sambil tersenyum dan memeluk sebelah tangan Hanan. Aku terkejut melihat sikap Yumna pada Hanan. Jadi selama ini Yumna menyukai Hanan dan dia cemburu pada ku.
Ku abaikan Yumna dan membuka gerbang toko lalu masuk kembali.
Klingg….
Lonceng pintu toko berbunyi itu artinya ada pelanggan yang datang.
Deg
Itu Zaki.
"Kenapa harus kesini lagi sih?" Gunam ku.
Aku melirik Hanan dan Yumna yang masih mengobrol. Ahirnya ku tutup pintu ruang produksi supaya Hanan tak melihat Zaki ada disini.
Aku pun menghampiri Zaki.
"Mau cari apa Zak?"
"Gue cari bolu ketan hitam sama bolu pisang ada gak?"
"Ada. Mau berapa?"
"Gue ambil masing-masing dua loyang."
Aku pun mengambil kan pesanan Zaki lalu memasukkan kedalam kantong plastik khas toko kami.
"Totalnya jadi Rp.180.000. Mau cas apa debit?" Tanya ku pada Zaki sembari menyodorkan kantong plastik pesanannya.
"Cas aja ini uang buat bolunya." Zaki memberikan uang ratusan dua lembar. Lalu memberika amplop coklat yang aku tau itu juga isinya uang. "Ini buat anak gue tolong terima. Gue gak mau anak gue kekurangan itu aja."
"Maaf aku gak tau siapa anak yang kamu maksud. Ini kembaliannya. Dan segera lah pergi dari sini." Aku pun tertunduk. Aku tak mau menatap wajahnya. Aku takut hati ku akan luluh karenanya.
"Gue tau loe marah sama gue tapi ini buat anak gue. Buat kebutuhan nya. Tolong jangan di tolak." Zaki menggapai satu tangan ku dan menggenggam kan amplop berwarna coklat itu di tangan ku lalu pergi begitu saja.
Aku memang sudah berjanji pada diri ku tak akan membatasi hubungan antara anak dan Ayahnya. Tapi kali ini aku ragu karna sikap Hanan pada ku.
Yumna melihat Zaki memberikan amplop berwarna coklat itu pada ku. Yumna mengakhiri ku. Dia menatap tajam sesuatu yang aku pegang. Segera aku masukan ke dalam tas.
Klingg….
Seorang pelanggan masuk ke dalam toko. Aku pun menghindari Yumna yang penuh dengan tanda tanya pada ku.
"Selamat datang ditoko kami. Mau cari apa ya Pak Bu biar saya bantu."
Aku berusaha seakan tidak terjadi apa-apa. Tapi Yumna masih menatap ku dengan sinis dan penuh curiga. Entah apa yang dia pikirkan saat ini.
*****
...TERIMAKASIH READER ATAS DUKUNGAN NYA. TERUS BANTU AKU DENGAN TINGGALIN LIKE KOMEN DAN VOTE NYA SUPAYA AKU LEBIH SEMANGAT UP NYA 😍...