BROK3N

BROK3N
Bab 39 Kekecewaan Ibu



"Adel sayang anak ibu kamu gak papa Nak?"


Ibu ku tiba-tiba masuk disaat aku sedang menangis. Aku tak tau apa yang harus aku katakan pada Ibu. Bisa-bisanya aku mengecewakan ibu seperti ini.


"Huuu....huuu Ibu maafin Adel Bu Adel anak yang tak berguna huu.... maafin Adel Bu!" Air mata ku pecah dipelukan Ibu. Dengan sangat erat aku memeluk Ibu dan ibu membelai rambutku yang terurai.


"Kamu bicara apa sih Del, Adel adalah anak ibu dan ayah yang kami banggakan." Perkataan Ibu membuat tangis ku semakin menjadi. Aku yakin Ibu bilang seperti itu karna belum tau kalau aku sedang hamil muda. "Sudah-sudah kamu tenangkan pikiran mu dulu ya. Kamu istirahat dulu tadi ibu kaget di telpon Bu Dania katanya kamu pingsan. Ibu Carikan makan dulu ya buat kamu. Nak Hanan tolong bantu Ibu jaga Adel ya." Hanan mengangguk dan Ibu pergi begitu saja.


"Hanan....huuu Ibu pasti belum tau kan kalau aku hamil?" Ku pegang erat tangan Hanan dan menatapnya dalam-dalam. "Bagaimana jika ibu tau Nan bagaimana..... Huuuu.... aaacckkkkk....." Aku berteriak sekuat mungkin dan pingsan.


"Dokter... Dokter tolong Adelia Dok." Hanan sangat panik mencari Dokter dan kebetulan Dokter yang memeriksa ku tadi di dekat ruang rawat ku.


"Tenanglah Nak. Tunggu diluar dulu ya akan kami periksa keadaan pasien."


Hanan hanya mondar mandir. Sesekali melihat ku dari jendela. Ahirnya Dokter selesai memeriksa ku dan keluar.


"Pasien hanya syok, usahakan jangan banyak tekanan ya karna kandungan nya masih sangat lemah."


"Baik Dok terimakasih."


"Kami permisi dulu."


Ibu yang melihat Dokter keluar dari ruangan ku ikut panik dan bertanya ada Hanan.


"Nak kenapa Dokter keluar dari ruangan Adel?"


"Adel pingsan lagi Bu."


"Apa? Sebenernya Adel sakit apa Nak?"


"Nanti biar Adel saja yang jelasin ke Ibu ya tapi setelah pulang kerumah."


"Kenapa kamu bilang seperti itu? Apa yang kamu sembunyikan?"


"Bu yang terpenting sekarang Adel sembuh dulu ya Bu."


Ibu mengerti maksud Hanan. Ibu dan Hanan menjaga ku selama dua hari di klinik. Selama itu pula Ibu belum tau apa yang terjadi dan aku sakit apa.


****


Keadaan ku sudah membaik. Aku mencoba menerima apa yang terjadi. Aku mencoba mengikhlaskan apa yang sedang aku alami. Aku hanya berharap Zaki bisa dihubungi agar dia tau kalau dia sudah menjadi seorang Ayah.


Hari menjelang sore dan aku sudah diperbolehkan pulang oleh Dokter. Untung nya Dokter hanya menyarankan aku untuk Istirahat tanpa membahas kehamilan ku pada Ibu. Aku tak tau aku bisa atau tidak menceritakan semua ini padanya setelah dirumah nanti.


"Ini resepnya silahkan tebus di apotik ya." Hanan yang menerima resep itu dan Ibu membantu ku berjalan.


Hanan sudah memesan sebuah taksi untuk kami pulang. Tak ada pembicaraan selama pulang. Ibu juga tak berani untuk bertanya.


Aku belum berterima kasih pada Bu Dania karna udah bantu biaya perawatan ku. Bahkan Hanan juga mengobarkan uangnya demi aku. Sedangkan laki-laki yang telah membuat ku seperti ini entah dimana keberadaan.


Sesampainya dirumah Ibu mengantar ku ke kamar dan membantu ku duduk di tempat tidur ku. Asep dan Putri juga sudah menunggu kedatangan ku. Mereka menemani ku di kamar. Aku duduk ditemani Putri sedangkan Asep dan Hanan duduk di kursi dekat jendela lalu Ibu menyiapkan cemilan untuk kami.


"Del kamu baik-baik aja kan sekarang? Aku bener-bener kaget waktu ditelpon Hanan." Aku tak menjawab. Aku hanya memandang Putri dengan hati yang pilu.


"Ka Adel harus sembuh ya. Aku bakal jaga Ka Adel 24 jam." Kata Asep tapi kepala Asep ditepis oleh Hanan.


"Sembarangan aja loe kalau ngomong mau jagain 24 jam sedangkan loe aja biang molor." kata Hanan. Sepertinya mereka akan beradu mulut lagi.


"Yah kan gue sayang sama Ka Adel. Iya kan Ka?" Kata Asep dengan wajah memelas sedikit mendorong kursinya mendekati ku. Asep bahkan belum tau aku sedang hamil bagaimana kalau dia tau gak mungkin dia bisa berkata seperti itu.


"Ini cemilannya datang cuma ubi rebus sama teh manis. Seadanya ya. Ibu harap kalian bisa jadi penyemangat Adel."


"Jangan sok ganteng deh loe." Protes Hanan.


"Putri juga siap ada di samping Adel setiap Adel butuhkan Bu."


"Terimakasih ya kalian baik sekali. Ibu senang Adel punya teman seperti kalian."


Aku sudah tak tahan dengan ini semua. Akankah mereka masih tetap disamping ku jika tau apa yang sebenarnya terjadi. Bagaimana dengan Ibu ku sendiri.


Ku tarik nafas panjang. Ku coba menguatkan lidahku untuk berkata hal yang sebenarnya pada mereka.


"Bu..." Ku mulai perkataan ku.


"Iya Nak kamu butuh sesuatu?"


"Engga Bu Adel cuma mau bilang sesuatu sama ibu, Putri dan Asep."


"Kok kayak serius banget Del?" Tanya Putri dan aku mengangguk kan kepala ku seraya meneteskan air mata ku.


"Bu Adelia hamil."


"Apa?" Ibu ku syok luar biasa lalu mendekati ku dan plak sebuah tamparan mendarat di pipi ku. Aku memang pantas mendapatkan nya. Asep dan Putri langsung berdiri karna kaget.


"Jadi selama di klinik kamu dirawat karna hamil? Dengan siapa kamu berbuat seperti itu Del, Jawab dengan siapa?" Ibu menggoyangkan badan ku dengan keras. Aku belum berani menjawab nya aku bahkan hanya bisa menunduk dengan sebuah air mata yang mengalir deras. "Jawab ibu Adelia." Plak... Ibu kembali menampar ku. Aku benar-benar seperti sampah tak berguna. Untuk pertama kalinya Ibu sangat marah pada ku.


Ku turun dari tempat tidur ku dan bersimpuh di kaki ibu.


"Adel minta maaf Bu Adel gak sengaja Adel mohon ampun Bu huuu....."


"Siapa yang menghamili mu? Jawab?"


"Zaki Bu dan sekarang dia engga ada kabarnya huuu....." Aku masih memeluk kaki ibu.


"Singkirkan tubuh kotor mu dari kaki Ibu."


jleb... Hati ku sakit bahkan lebih sakit dari sebelumnya.


"Ibu... Adel mohon maafin Adel Bu huuuu."


Ibu melepaskan tangan ku lalu keluar dari kamar ku.


"Del ayo bangun duduk sini." Putri menolong ku dan menuntun ku untuk duduk kembali ke tempat tidur ku. "Del kamu harus sabar. Kamu harus kuat."


"Put...huuuu" Aku memeluk sahabat ku Putri yang ternyata masih mendukung ku.


"Sudah Del nanti biar aku bantu cari kabar Zaki. Kamu harus jaga kesehatan mu. Dan jaga anak yang kamu kandung juga Del." Putri membelai rambut ku, memberikan ku semangat sedangkan Hanan dan Asep hanya menatap ku tanpa kata.


"Makasi ya Put kamu masih dukung aku."


"Aku yakin Ibu hanya marah sesaat. Tunggulah sebentar biar aku bicara dengan Ibu nanti. Kamu tidurlah."


"Bagaimana aku bisa tidur Put dengan keadaan ku yang seperti ini?"


"Tenangkan pikiran mu, Kami keluar dulu." Putri mengangguk kan kepalanya pada Hanan dan Asep, mereka pun paham lalu keluar dari kamar ku.


Aku sangat putus asa. Tak ada yang bisa aku lakukan sekarang. Ibu ku sangat marah. Aku tau aku membuat ibu kecewa bahkan akan jadi bahan gunjingan tetangga nantinya. Mungkin Ibu juga tidak akan bisa kerja lagi atau pengajian dengan ibu lainnya.


Aku tak akan jadi beban itu terlalu jauh. Aku akan menyusul Ayah.


*****