BROK3N

BROK3N
Bab 51 Bertemu Orang Tua Hanan



Ini mungkin akan jadi hari yang membahagiakan untuk Hanan karna hari ini kami janjian dengan kedua orang tuanya. Kami juga diberi waktu libur satu hari oleh Bu Dania. Memang Bu Dania yang terbaik.


Pagi ini setelah mengurus baby Misela aku bersiap-siap untuk menemui kedua orang tua Hanan. Masih ada rasa belum siap memang cuma aku harus mencobanya.


Setelah keperluan baby Misela siap tak lupa aku pumping asi ku dulu untuk baby Misela hari ini. Untung nya asi ku lancar jadi baby Misela tak pernah kekurangan makanan pokoknya saat ini.


Baby Misela aku letakkan di ruang tamu dengan ayunannya. Dia selalu suka jika di naikan ke ayunan yang terbuat dari rotan itu. Tentu saja itu hadiah dari Hanan.


Aku kembali ke kamar ku untuk berdandan. Ku pakai gamis nuansa hitam polos dengan dipadukan jilbab warna maroon instan variasi serut dibagian kanan dan kirinya. Tentu saja jilbabnya menutupi dada ku. Ku olesi bibir ku dengan lipmatte warna nude. Ku pakai tas ransel warna navy kebanggaan ku dan sepatu sneaker warna putih.


Aku tak tau bagaimana cara berpenampilan untuk bertemu dengan Ayah dan Ibu mertua. Maksudnya calon mertua. Tapi aku rasa penampilan ku udah sopan. Aku tak mau berpakaian seperti biasanya. Walau begitu aku sudah ada tekad untuk hijrah.


Selama aku bersiap-siap ternyata Hanan sudah menunggu ku di ruang tamu bersama Misela. Dia masih sibuk berbicara tak jelas pada anak ku. Walaupun begitu aku sangat menyukai sikap ke bapak-an Hanan. Sangat terlihat jelas dari sorot matanya.


"Ayo jalan aku udah siap nih." Sapa ku pada Hanan yang tak menyadari kalau aku sudah lama memperhatikan nya.


Hanan malah melamun menatap ku penuh kagum. Ini memang pertama kalinya bagi dia melihat penampilan ku dengan balutan jilbab dan berpakaian gamis.


"Kamu cantik sekali sayang." Kata dia tanpa berkedip.


"Hust jangan mulai deh. Buu...!"


"Udah mau berangkat ya? Duh Putri ibu cantik banget sih. Ibu kira mau kerja. Liat Bunda nak mau kemana ya Bunda gak ajak aku nih." Ibu pasti gx nyangka kalau aku akan bertemu dengan kedua orang tua Hanan.


Ibu pun menggendong Misela dan duduk di sebelah Hanan.


"Bu Hanan ijin bawa Adelia kerumah ya. Hanan mau kenalin Adelia ke orang tua Hanan dulu ya Bu. Hanan janji gak akan pulang larut malem dan akan jaga Adelia sepenuhnya."


"Masyaallah Ahir kalian bisa saling menerima satu sama lain. Ibu bahagia sekali. Kamu hati-hati ya dijalan. Jangan ngebut-ngebut. Adel jaga sikap mu ya." Pesan Ibu pada Hanan.


"Iya Bu insyaallah." Jawab Hanan.


"Kami pamit dulu ya Bu assalamu'alaikum." Sebelum pergi aku mencium kedua pipi anak ku dan mencium punggung tangan ibu. Begitu juga dengan Hanan.


"Wa'alaikumsalam. Hati-hati Lo ya."


"Iya Bu iya jangan terlalu khawatir. Kami berangkat ya daaahhh...." Kata ku pada Ibu yang selalu posesif. Namanya juga orang tua. Tapi aku yakin ibu sedang bahagia.


Hanan meminjam motor matic milik Asep. Kebetulan Asep sekolah nebeng dengan temannya. Kami pun berangkat dengan mengendarai motor itu.


Dalam perjalanan Hanan terus saja memainkan gas motornya. Aku tau itu sengaja dia lakukan supaya aku berpegangan padanya. Ahirnya aku mengalah. Dan menyelipkan tangan ku di di pinggangnya. Aku yakin sekarang dia sedang tersenyum menang.


Perjalanan kita cukup memakan waktu lama. Karna kata Hanan Bapak nya selalu berpindah rumah untuk urusan bisnisnya. Harusnya jika belum pindah rumah lagi sudah sampai dari tadi.


"Nan kamu yakin udah kasih kabar mereka? Apa mereka udah tau tentang status ku?" Tanya ku sedikit berteriak karna anginnya lumayan kencang.


"Tenang saja jangan khawatir ya."


"Tapi aku jantung ku berdetak kencang banget nih. Apa mereka bener-bener bisa terima aku?"


"Iya sayang mereka malah antusias sekali mau ketemu calon mantunya. Apalagi kamu berpenampilan begini pasti mereka sangat menyukai mu." jawab Hanan dengan sesekali melihat ku dari kaca spion motor lalu tersenyum. Tapi Aku memukul bahunya jika dia mencuri pandang dari spion motor.


Setelah perjalanan hampir dua jam kami pun sampai di sebuah rumah kecil dan sedikit terpencil dengan bangunan yang tak begitu bagus tapi cukup nyaman untuk di tinggali.


"Kita udah sampai. Ayo masuk mereka pasti sudah menunggu kita." Kata Hanan lalu memarkirkan motornya di bawah pohon yang rindang.


Aku pun hanya mengekor pada Hanan karna aku masih saja gugup akan bertemu dengan kedua orang tua Hanan.


"Assalamu'alaikum Bu. Bu ini Hanan." Hanan sedikit berteriak.


"Emang harus teriak-teriak ya kayak di hutan aja kamu nih." Gerutu ku pada Hanan.


"Iya emang harus begitu karna rumah ini kelihatannya aja kecil tapi dalamnya lebar loh." Kata Hanan mencolek lengan ku.


"wa'alaikumsalam anak ibu udah dateng. Pak Hanan udah dateng nih sini Pak."


Terlihat seorang wanita membuka kan pintu rumah dengan wajah sedikit keriput dan mata panda yang lebar, rambutnya sudah banyak memutih.


"Itukah Ibu Hanan." Bathin ku


Hanan dan Ibu nya saling berpelukan melepaskan rasa rindu. Sepertinya Hanan sudah sangat lama tak pulang kerumah ini. Hanan lalu melirik ku seperti sebuah kode dan aku pun mencium punggung tangan Ibu nya Hanan. Mungkin itu yang dia maksud.


Tak lama dari itu seorang pria paruh baya menghampiri kami. Rambutnya hampir semuanya putih. Wajahnya terlihat banyak kerutan. Ada sedikit cucuran keringan di ujung kepalanya.


Pak Hanif dan Bu Selly adalah kedua orang tua Hanan. Karna terlalu banyaknya beban pikiran mereka jadi terlihat sangat tua.


"Oiya ayo masuk Nak. Ayo duduk sini. Maaf ya rumahnya agak berantakan dan jelek." Kata Bu Selly.


"Engga Bu rumahnya nyaman kok. Sejuk disini masih asri ya Bu. Aku suka suasananya." Kata ku sembari duduk di sebuah kursi kayu berwarna coklat tua.


Kami semua berkumpul di satu ruangan.


"Oiya kami belum tau nama kamu lo Nak. Siapa nama mu Nak?" Kata Bu Selly menepuk bahu ku.


"Memang Hanan belum cerita ke Ibu?"


"Hanan jarang bicara pada kami. Makanya Ibu selalu kesepian apalagi sekarang Hanan jauh dari kami."


Ternyata Hanan berbohong tentang apa yang kita bahas di jalan tadi.


"Nama saya Adelia Bu. Panggil saja Adel."


"Adelia?" Pak Hanif sedikit terkejut mendengar nama ku.


"Iya Pak Adelia Putri Winata nama lengkap saya."


"Apa?" Pak Hanif tiba-tiba berdiri dari duduknya.


"Pak tenang dulu. Duduk lagi Pak duduk." Kata Bu Selly yang menarik lengan Pak Hanif tapi pak Hanif masih belum mau duduk.


"Maaf Pak kenapa Bapak begitu terkejut mendengar nama saya?" kata ku yang heran dengan expresi Pak Hanif.


"Duduk dulu Pak biar Hanan jelaskan." Kata Bu Selly.


"Pak, Bu ini Adel perempuan yang akan Hanan nikahi. Memang Adel ini anaknya Pak Tomo. Status Adel juga sudah punya anak satu. Tapi Hanan akan menerima apapun keadaan Adel. Hanan juga menyayangi anaknya." Jelas Hanan tapi kenapa Hanan bawa-bawa nama Ayah ku. Aku semakin heran dengan keluarga ini.


"Kamu gila Nan mau menikahi janda anak satu sedangkan kamu masih bujang dan masih perjaka apalagi dia anak dari Pak Tomo Nan?" Pak Hanif kembali berdiri dengan kedua tangannya di pinggang.


"Pak...!" Bu Selly menghentikan ucapan Pak Hanif. "Cukup Pak. Jangan diteruskan. Biarkan Hanan bicara dulu Pak." Bu Selly kembali duduk.


"Kenapa Pak? Apa yang salah. Cinta tidak akan memandang apapun. Hanan mencintai Adel. Begitu juga sebaliknya. Semuanya bisa di mulai dari awal." Tegas Hanan sambil mendongakkan kepalanya menatap Bapak nya yang sedang berdiri dihadapannya.


"Kamu pikir menikah itu cuma makan cinta? Sekarang kamu cinta dia setelah menikah kamu bisa mencintai wanita lain. Kamu masih anak bau kencur gak usah bahas cinta." Kata Pak Hanif.


"Hanan tidak akan jadi seperti Bapak." Kata Hanan dengan berteriak.


"Duduk Pak." Kata Bu Selly.


"Maaf sebenarnya ada apa ini kenapa kalian begitu marah mendengar nama Ayah saya?"


"Sudah kamu diam saja. Jangan ikut campur urusan kami." Pak Hanif membentak ku.


"Pak jangan keterlaluan. Kenapa Bapak malah membentak Adelia Dia tak tau apa-apa." Kata Hanan.


"Bapak tak akan pernah merestui hubungan kalian sampai kapan pun. Ingat itu? Dan sekarang kalian pergi dari rumah ini. Bapak tau mau lihat wajah kalian lagi." Kata Pak Hanif yang sukses membuat mulut ku menganga karna sangat terkejut.


"Tanpa restu Bapak Hanan anak tetap menikahi Adelia. Bapak jangan lupakan apa yang udah Bapak lakukan di masa lalu. Kami juga gak akan kembali kesini lagi." Hanan kembali berteriak dan menekan kan kata menikahi.


"Maksud kamu apa? Kamu mau jadi anak durhaka?" Plakk Pak Hanif menampar sebelah pipi Hanan.


"Pak...." Aku dan Bu Selly kompak berteriak dan berdiri.


"Hanan tetap akan melanjutkan hubungan ini dengan atau tanpa perlu persetujuan Bapak Hanan akan tetap menikahi nya." plakk Hanan kembali mendapatkan tambahan dari Bapak nya.


"Cukup Pak. Ibu gak kuat melihat Bapak memukul Hanan Pak hiks hiks..." Bu Selly menangis dan menarik tubuh Pak Hanif agar menjauhi Hanan. "Nak Adel sebaiknya kalian segera pulang sekarang juga sebelum semuanya jadi tambah rumit." Kata Bu Selly yang sedang memegang erat lengan Pak Hanif.


"Maafkan saya Bu jika saya ada kesalahan. Maafkan saya Pak kami pamit dulu assalamu'alaikum." Aku dan Hanan pun hendak keluar dari rumah tersebut tapi kembali Pak Hanif berbicara dengan nada sangat keras dan menunjukan jarinya ke arah kami.


"Aku tak sudi punya anak pembangkang seperti mu. Jangan pernah menemui kami lagi." setelah mengucapkan itu Pak Hanif pun pergi ke rumah bagian belakang.


"Pak... Pak jangan bicara begitu Pak. Pak tunggu Ibu." Bu Selly menyusul Pak Hanif.


Kami pun menutup pintu rumah dan pergi.


*****


...TERIMAKASIH READER ATAS DUKUNGAN NYA. TERUS BANTU AKU DENGAN TINGGALIN LIKE KOMEN DAN VOTE NYA SUPAYA AKU LEBIH SEMANGAT UP NYA 😍...