BROK3N

BROK3N
23. Cinta Hanan



Senja sudah beralih dengan bulan purnama nan indah di hiasi bintang-bintang. Namun handphone ku belum ada satu pesan pun dari Zaki.


'Apa yang membuatmu tak memberi ku kabar hari ini. Apa kemarin aku membuat kesalahan?' Batin ku.


"Del ayo makan sayang." Dibalik pintu kamar ibu mengetuk pintu sembari memanggilku. Ku buka pintu ku. Tapi aku yang BT sejak pagi menunggu kabar Zaki membuatku kehilangan nafsu makan.


"Ibu duluan aja nanti kalau Adel laper Adel ambil sendiri."


"Kamu sakit?" Ibu memegang dahi ku dengan tangannya. Lalu ku pegang tangan ibu dan menggelengkan kepala. Tapi dibalik pintu lain ada seorang laki-laki yang sedang mengetuk pintu.


"Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumsalam. Siapa Bu?" Kami saling bertatapan. "Biar Adel aja yang buka pintunya Ibu makan aja dulu sepertinya Adel tau itu siapa." Akhirnya ibu kembali ke dapur dan aku menuju ruang tamu dan membuka pintu.


Benar saja aku tau itu suara Hanan.


"Hai Del cuacanya bagus mau jalan-jalan gak?" Hanan tersenyum penuh harap.


"Boleh. Apa aku perlu ganti baju?" Aku hanya pakai piama dengan tangan dan celana panjangnya tapi Hanan menggeleng kan kepalanya.


"Gini aja udah cantik banget."


Deg...


Kata-katanya membuat jantung ku kaget. Pasalnya selain Ayah dan Zaki gak pernah ada yang memuji kecantikan ku.


"Sebentar aku bilang ibu dulu ya." Hanan pun menganggukkan kepalanya.


Ku melangkah sedikit lebih cepat untuk meminta ijin pada Ibu yang sedang di dapur. Tak butuh waktu lama aku pun kembali ke ruang tamu lalu keluar dari rumah bersama Hanan.


Belum jauh kami melangkah dari rumah Hanan membuka obrolan.


"Kamu betah kan disini Del?" Tanya Hanan.


"Ah iya disini enak banget suasananya." Jawab ku sambil menarik nafas panjang merasakan udara malam karna ini pertama kalinya aku keluar dimalam hari ditempat baru ku.


"Aku sering liburan kesini kalau lagi badmood." Hanan kembali bicara tapi dengan nada sedih.


"Emang kamu bisa badmood." Sambil mencolek bahu Hanan dan tersenyum meledeknya.


Hanan menghentikan langkahnya dan tersenyum lalu menatap ku.


"Makasi ya Del."


"Hah? Buat apa kan aku gak ngapa-ngapain."


"Makasi udah mau aku ajak jalan makan angin.hahaha." Hanan berlari sambil tertawa. Aku hanya diam mematung karna kesal. "Awas Del disitu banyak mahluk halus." Hanan berteriak menunjuk ke arah ku.


"Nan kamu jangan bercanda. Tunggu aku." Aku pun segera berlari mengejar Hanan. Dan Hanan tak berhenti untuk tertawa melihat wajah seorang Adelia yang cantik berubah menjadi kesal padanya.


"Udah udah ayo duduk sini aku capek banget." Hanan duduk di kursi taman yang biasa aku kunjungi setiap pagi. "Huft sepertinya nafas ku habis buat berlari." Sambung Hanan.


"Suasana disini berbeda ya saat malam hari lebih ramai dan banyak pedagang kaki lima. Lebih Nyaman rasanya melihat keramaian." Aku masih mengatur nafas tapi aku tak bisa diam melihat suasana yang indah ini. Aku pun terdiam menatap lurus ke depan banyak pasangan sedang berjalan-jalan sambil bergandengan tangan. Aku teringat pada Zaki yang belum ku tau kabarnya. Dalam lamunan ku aku juga memikirkan Ayah ketika melihat sosok anak perempuan yang sedang berlarian dengan ayahnya.


Tapi Hanan membuat ku bingung dengan tingkahnya. Dia sedang sibuk mencari sesuatu ke bawah ke samping kemana aja entah apa yang dia cari.


"Cari apa sih kamu Nan?"


"Ini loh cari senyum seorang Adelia kok ilang sih. Kemana perginya ya."


Aku menahan tawa dengan tingkah Hanan. Tapi hanya beberapa detik dan "Hahahaha kamu ini bisa aja sih Nan hahahaha aduhh ternyata kamu lucu sih hahhaha...!"


"Nah sekarang ketemu." Hanan menatap ku dengan sangat hangat. Tapi krucuk krucuk suara perut ku berbunyi. Iya aku lapar karna belum makan malam.


"Ehekkk...Itu cacing diperut kamu minta makan Del." Kata Hanan sambil menahan tawa. "Tunggu bentar disana ada nasi goreng aku beliin dulu kamu disini aja." Aku hanya mengangguk dan Hanan berdiri berjalan menuju tukang nasi goreng yang ada di sebrang jalan.


Ku pandang punggung seorang Hanan yang melangkah menjauhi ku. Laki-laki yang belum lama aku kenal. Bahkan yang menolong ku dari perlakuan Sinta. Dia sekarang benar-benar menjadi teman ku.


Tak perlu waktu lama Hanan membawa dua piring nasi goreng. Kali ini aku menatap wajah gantengnya, cool dan bersih tanpa ada jerawat satu pun.


'Sepertinya Hanan pandai merawat diri.'


"Liat apa sih kamu. jangan-jangan kamu baru sadar ya kalau aku ini ganteng, iya kan?" Hanan meledek ku.


"Ahaha apa sih kamu geer banget ya ampun Hanan."


"Ini nasi goreng nya." Hanan memberikan sepiring nasi goreng. "Pedesnya sedeng kamu gak suka pedes kan?"


"Makasi ya kok kamu tau aku gak suka pedes." Aku menerima piring itu.


"Ya tau aja. Udah makan cepet kasian perut mu." Hanan menyantap nasi goreng yang ia pegang dan menatap lurus ke depan. Sedangkan aku sesekali menoleh menatap Hanan yang bersikap baik pada ku.


"Del."


"Hmm."


"Setelah lulus kamu mau kuliah atau kerja?"


deg


Ku telat sisa makanan yang masih belum selesai aku kunyah. Pertanyaan ini persis seperti Zaki.


"Entahlah."


"Kenapa begitu?"


"Aku pengen kuliah Nan tapi Ayah ku sudah pergi jauh siapa yang akan membiayai kuliah ku sedangkan beasiswa yang aku inginkan adanya di kota aku harus meninggalkan ibu itu tidaklah mungkin." Setelah selesai menjelaskan pada Hanan ku santap lagi nasi goreng yang masih banyak porsinya. Sambil menatap lurus ke depan ku nikmati suap demi suap nasi goreng yang rasanya tak buruk untuk mengganjal perut ku yang berisik.


"Del, Kalau kamu tau siapa yang menabrak Ayah mu apa kamu akan memaafkan nya?" Hanan kembali memberi pertanyaan yang mengejutkan ku.


"Engga akan pernah. Karna dia udah rebut lelaki yang yang menyayangi ku seumur hidupnya."


"Apa aku boleh mengganti Ayah mu walau pun aku tak pantas?"


Uhuk uhuk...


Aku sangat terkejut dengan pernyataan Hanan.


"Aduh Del pelan-pelan ini minum." Hanan memberikan sebotol air mineral.


"Nan kamu tiba-tiba bilang gitu sih. Aku kaget tau."


"Maaf Del aku terbawa suasana. hehehehe udah cepet makannya abisin udah mau larut ini nanti makin banyak makhluk halusnya yang keluar."


"Tuhh kan Hanan."


"hahaha aku cuma bercanda. Tapi memang mereka ada kan?" Hanan terus meledek ku.


"Udah Hanan nanti aku gak bisa tidur."


"Aku temenin mau?"


"Hanan!!!"


"Hahaha iya iya aku diem."


Aku pun kembali fokus dengan makanan ku dan menghabiskannya lalu kami pulang sebelum larut malam.


***


Sementara itu Zaki masih gelisah memikirkan perbincangan Ayahnya tadi. Zaki bulak-balik menatap layar ponselnya.


"Bagaimana perasaan Adel jika dia tau semua ini. Bahkan Papah ikut campur." Zaki hanya berbicara sendiri bahkan dia tidak mau keluar dari kamarnya saat Mamahnya memanggil untuk makan malam. "Apa aku harus ke rumahnya. Bagaimana aku harus mengawali obrolan ku nanti." Lagi-lagi Zaki hanya berbicara sendiri sambil memeluk bantalnya sampai akhir nya dia tertidur pulas di kasurnya yang empuk dan sangat nyaman itu.


*****


...Terimakasih dukungannya 🙏😘...


...Mohon beri masukan jika ada yang kurang pas di novel ini 😊...


...............