
"Duhh anak Emak yang ganteng-ganteng udah pada pulang nih." Ucap Bu Jamilah berjalan menuju Hanan dan Asep sambil membentangkan tangan hendak memeluk mereka. Tapi Hanan dan Asep langsung jongkok dengan kompak menghindari Bu Jamilah sambil tertawa. "Loh gimana sih anak Emak gak mau dipeluk?" Kesal Bu Jamilah sambil membalikan badan melihat mereka pergi menjauhinya.
"Abis liat yang bening liat Emak aduh merinding deh." Kata Asep langsung masuk kamar.
"Ehh apa itu maksudnya Sep." Teriak Emaknya pada Asep yang udah masuk kamar dan mengunci pintunya, Bu Jamilah pun mengetuk-ngetuk pintu kamar Asep memaksa hendak keluar. "Asep awas kamu ya." Sambung Bu Jamilah dengan teriak kembali.
"Engga Mak Asep mau mandi biar makin ganteng." Teriak Asep dibalik pintu kamar yg ia kunci.
"Ada-ada tu bocah tingkah keselnya. Tapi anak Emak emang ganteng sih." Bu Jamilah tersenyum bangga lalu melihat Hanan yang sedang duduk di depan sofa tv. "Cah ganteng gimana lari paginya? Enak kan suasana disini?" Tanyanya pada Hanan sambil memegang bahu Hanan.
"Iya Bude disini asri banget ya. Gak berisik kendaraan juga. Hanan kayaknya bakal betah disini." kata Hanan pada Bude nya.
"Bude seneng banget kalau kamu tinggal lama disini. Pasti cewek-cewek disini bakal makin ramah sama Bude hahaha." Bu Jamilah tertawa membanggakan dirinya sendiri karna dia punya dua anak cowok yang rupawan. "Eh Bude ke dapur dulu ya masakin sarapan buat kalian belum selesai itu." Kata Bu Jamilah sambil berjalan menuju dapur.
"Iya Bude. Yang enak ya." Sahut Hanan singkat.
"Pastilah masakan Bude kan selalu enak makanya Pakde mu gak pernah makan diluar hahahah." Bu Jamilah kembali membanggakan dirinya.
Hanan pun masih menyalakan TV dan bulak-balik mengganti Chanel TV nya. Dia tak suka dengan siaran pagi ini. Hanan yang bosan pun memutuskan untuk ke kamar mandi dan membersihkan diri karna keringat yang tadinya bercucuran sudah hilang.
Rumah Pak Iskandar tergolong besar. Rumah dengan ukuran 12x15 M dengan tiga kamar tidur, satu ruang tamu yang lebar, 2 kamar mandi dan dapur bahkan ada garasi mobil. Selain menjadi RT Pak Iskandar adalah seorang pebisnis rintisan yang bergerak di bidang kuliner tapi sudah punya 2 cabang. Walaupun masih merintis tapi pengunjung nya sangat ramai berdatangan. Pak Iskandar tergolong keluarga yang bisa dibilang kaya karna usaha mereka terus maju.
Bu Jamilah selalu exis dengan gunjingan di kampungnya. Kesana-kemari selalu kepo, hal kecil bisa jadi besar bagi Bu Jamilah.
Sedangkan Pak Iskandar sendiri adalah orang yang ramah tamah, mengedepankan orang lain dari pada dirinya, tak suka dengan gaya Bu Jamilah yang setiap hari ngomongin orang. Sudah sering Pak Iskandar menerima laporan warga kalau Bu Jamilah suka mencampuri urusan orang lain tapi bagaimana lagi itu sudah sifat itu sudah melekat di dirinya.
Pak Iskandar sangat menyayangi putra semata wayangnya Asep Iskandar karna istrinya tak bisa hamil lagi setelah rahimnya di angkat. Apapun yang diminta Asep selalu dituruti bapaknya. Tapi kasih sayang yang berlebihan tak membuat Asep foya-foya. Bahkan Asep termasuk anak yang sangat baik dan banyak cewek-cewek yang suka dengannya. Bu Jamilah kerap menerima sogokan dari mereka entah itu makanan atau pakaian.
"Ganteng-ganteng Emak ayo pada makan udah siap nih." Teriak Bu Jamilah memanggil Hanan dan Asep.
Tak butuh waktu lama mereka langsung datang dan memposisikan duduk mereka.
"Ini piringnya makan yang banyak biar sehat." Bu Jamilah menyodorkan piring pada anak dan suaminya. Lalu mengambilkan nasi dan lauk secara bergantian.
"Pakde Hanan boleh tinggal lama disini?" Sambil menyantap makanannya Hanan memulai pembicaraan.
"Ya...." belum Pak Iskandar bicara istrinya sudah mendahului nya.
"Kamu gimana sih ganteng tentu aja boleh. Kamu kan udah lama banget gak main-main sini juga. Berangkat sekolah dari sini aja tinggal ujian aja kan ya?" Ucap Bu Jamilah.
"Iya Bude Minggu depan ujiannya." Jawab Hanan. Asep dan Pak Iskandar sibuk dengan makanan mereka. "Rasanya aku tak mau pulang kalau setiap hari melihat mereka bertengkar."
Sontak pernyataan Hanan membuat semua menatapnya.
"Aku juga gak tau Pakde. Akhir-akhir ini mereka selalu bertengkar hemat. Bahkan Ayah Ibu tak segan untuk memecahkan barang dirumah." Hanan seketika sedih bahkan hampir meneteskan air matanya jika ingat orang tuanya.
"Biar nanti Pakde coba bicara dengan ayahmu. Kamu boleh sesuka hati tinggal disini. Rumah Pakde biar rame." Kata Pak Iskandar sambil memegang kepala Hanan.
"Aku juga seneng bakal punya adek ganteng macem loe hahaha." Asep meledek Hanan supaya tak bersedih lagi.
"Udah ayo lanjutin makannya." Kata Bu Jamilah.
***
Aku sedang sibuk dengan buku-buku ku dikamar. Sesekali mencuri perhatian pada handphone ku. Tentu saja aku sedang menunggu WhatsApp dari pacar ku. Sudah hampir tengah hari tapi belum ada kabar darinya. Aku merasa gengsi kalau harus menghubungi dia dulu. Secara kita baru pacaran beberapa hari ini.
Merasa udah bosan dan cukup belajar ku berjalan menuju tempat tidur ku. Jiwa rebahan mengundang ku. Lama ku tatap room chat Zaki tapi dia tak online juga akhirnya mata ku pun terpejam tanpa sadar.
***
Sementara dirumah Zaki.
".......bagaimana lagi Pak saya tak mau masuk penjara." Sepenggal kata yang Zaki tangkap dari obrolan antara Pak Ibnu dengan Pak Hanif ayah Hanan.
Pak Hanif sendiri adalah sahabat sekaligus partner Pak Ibnu sejak merintis usahanya. Tapi Pak Hanif tak pernah menjalankan bisnis yang dipercayakan Pak Ibnu dengan baik yang membuatnya tak punya kekayaan berlimpah seperti halnya keluarga Pak Ibnu. Jika bukan karna kebaikan dari Pak Ibnu sendiri pasti Pak Hanif sudah jatuh bangkrut dan terpuruk.
"Saya tak bisa banyak membantumu." Kata Pak Ibnu.
"Tolong saya Pak saya mohon. Saya akan mengakuinya tapi tolong ringankan hukuman saya nanti." Begitu kata Pak Hanif.
"Saya akan minta tolong pengacara saya nanti. Pulanglah dulu." Ucap Pak Ibnu sambil menepuk bahu Pak Hanif.
Pak Hanif pun berdiri dari tempat duduknya dan membalikan badan hendak pulang ke rumahnya. Tapi begitu terkejutnya Pak Hanif yang melihat Zaki berdiri kokoh dibelakang mereka.
"Za-Zaki..." Pak Hanif memanggil nama Zaki dengan gugup.
Pak Ibnu langsung berdiri dan memandang Zaki dengan tajam. Lalu menoleh ke arah pak Hanif dan mengangguk kan kepala. Pak Hanif pun melewati pintu dan pulang.
Pak Ibnu berjalan menghampiri Zaki lalu menepuk bahu Zaki menandakan untuk tak mencampuri urusan orang dewasa. Zaki hanya bisa mematung. Mencerna setiap kata demi kata yang ia dengar tadi. Tapi ia hanya bisa melihat Papah nya yang berjalan menuju kamar dengan murung.
*****
...Terimakasih reader untuk dukungannya 🙏...