BROK3N

BROK3N
9. Ujian Akhir Sekolah



Sudah seminggu berlalu sejak kematian Ayah. Sudah selama itu juga aku tidak masuk sekolah. Senin besok ada ujian sekolah aku bahkan tidak semangat untuk berangkat.


Nenek, Kakek dan paman Dirga sudah pulang dari 2 hari lalu dan keputusan ku tetap tinggal bersama Ibu.


Ku duduk di kursi meja belajar yang menghadap ke jendela. Tatapan ku terpana pada bulan yang begitu terang ditemani ribuan bintang menyinari malam ini.


'apakah Ayah disana bahagia? Apakah Ayah bangga dengan aku yang sekarang? Aku tidak salah kan Yah mau jagain ibu? Aku akan jadi Adelia yang Ayah inginkan aku janji yah.'


Lamunan ku membawa ku ke sebuah mimpi. Dengan tangan terlipat yang menopang kepala aku pun terlelap.


Ada sosok pria tampan nan rupawan disana. Tapi aku tak tau siapa dia. Dan aku rasa ini Korea Selatan.


'Apa aku di Korea? Tidak mungkin…'


Aku terbangun dari tidur ku. Ternyata cuma mimpi. Tapi tunggu apakah mimpi ini adalah sebuah petunjuk? Petunjuk untuk ku jadi seorang TKW? Ahh tidak-tidak. Ku tatap kembali langit malam ini. Masih dengan cahaya bulan yang indah. Aku berjalan menuju tempat tidur. Dan siapa tau bisa ku teruskan mimpi ku.


.


.


.


Pagi yang cerah telah tiba. Iya aku harus memaksakan diri ku untuk berangkat sekolah. Aku harus lulus dengan nilai terbaik seperti janji ku pada Ayah aku akan jadi wanita karier aku akan menggapai cita-cita ku. Tapi pikiran ku masih dengan mimpi semalam.


'Bagaimana jika aku lulus sekolah lalu pergi jadi TKW untuk melunasi hutang Ayah? Aku jadi kacau begini sih. Tidak-tidak aku sudah janji akan jaga ibu.' pikiran ku benar-benar kacau.


Ku bergegas bangun dari tempat tidur. Merapikan tempat tidur, Menyiapkan segala keperluan sekolah. Hari ini ada ujian aku harus cepat-cepat apalagi aku harus jalan kaki. Tas ransel siap di punggung. Ku pakai lipstik sedikit jingga. Ku biarkan rambutku yang sebahu terurai.


'Bismillahirrahmanirrahim aku siap'


"Selamat pagi Bu" kucium pipi Ibu. Ku ambil roti tawar dengan selai strawberry khas olesan Ibu.


"Pagi juga sayang."


"Adel langsung berangkat aja ya Bu ada ujian sekolah jadi Adel harus cepet-cepet."


"Itu rotinya abisin dulu gak baik anak gadis makan sambil jalan. Ini susunya jangan lupa abisin juga." Ku teguk segelas susu full cream yang diberikan Ibu. Sambil mempercepat jalan ku keluar rumah.


"Udah ah Bu nanti Adelia makan di kantin aja. Adel masih punya tabungan cukup kalau cuma buat jajan Adel. Jadi ibu jangan ngomel dan jangan nangis lagi. Adelia sayang ibu emmbbhh…"


Setelah mencium pipi Ibu aku pergi masih dengan roti tawar di tangan. Berjalan keluar rumah sambil makan. Tak baik memang tapi aku harus sampai di sekolah tepat waktu.


***


Disekolah.


***


'hufttt… ahirnya sampai juga. Berjalan dipagi hari menyenangkan juga. Tapi Ayah Adelia rindu sekali senyum ayah.' batin ku.


Kutarik nafas panjang. Ku hembuskan dengan cepat. Ternyata sudah ada Putri Zaki yang menunggu ku di depan gerbang.


"Pagi Del." Zaki menyapa ku.



Aku ingat tentang Sinta yang selalu bikin onar jika aku mendekati Zaki. Aku harus menghindari dia.


"Pagi juga Zak, maaf aku tidak bisa berjalan bersama mu ke kelas. Aku yang duluan atau kamu yang duluan. Aku tidak mau bahas apapun. Tolong mulai sekarang jangan dekati aku lagi." Tegas ku pada Zaki.


"Kenapa kamu begitu Del aku cuma…"


"Tolong Zak mengerti lah maksud ku. Aku mohon aku yang duluan jalan atau kamu?"


"Baiklah kamu duluan Del."


"Terimakasih."



Aku berjalan menjauhi Zaki. Ku pegang kedua tali tas ransel ku setelah mengubah gaya rambutku yang sedikit berantakan. Tidak ada yang berubah setelah seminggu aku tidak masuk sekolah. Selain Putri juga tak ada teman ku yang berbela sungkawa ku rumah hanya beberapa guru saja karna aku memang bukan orang yang pandai bergaul sejak dulu.


Langkah demi langkah ku berjalan menuju kelas. Tak terkecuali lorong yang mengingatkan ku pada kejadian itu. Tunggu sepertinya ada mata yang mengawasi ku sejak tadi.



"Adelia ku udah datang. Ugh...tangen deh…" pelukan Putri begitu erat. Dia terlalu bahagia dengan kedatangan ku setelah libur satu Minggu.


"Iya udah cepet duduk sebentar lagi masuk. Inget jangan nyontek yah." Ku cubit bagian pinggang Putri sampai membuat dia meloncat.


Bel sekolah sudah berbunyi menandakan anak-anak harus segera ke kelas masing-masing.


Tak lama suasana hening dikelas kami rasakan. Menjawab soal demi soal. Tak ada yang berani menoleh apalagi mencontek karna pengawasnya begitu memperhatikan kami dengan seksama. Ujian sekolah ini juga akan menentukan kelulusan kami nanti jadi kami harus bersungguh-sungguh mengerjakan soal-soal.


Tak banyak soal sulit bagi ku. Karna aku sudah mempersiapkan semuanya semalam bahkan banyak soal yang materinya aku pelajari semalam.


'Ini hari baik ku semua soal bisa ku kerjakan. Alhamdulillah.' batin ku.


Jam istirahat tiba. Aku sudah begitu kelaparan sebenarnya. Tapi rasanya malas sekali mau ke kantin. Aku juga sebenarnya harus sangat berhemat.


"Del ke kantin yuk. Tadi aku gak sarapan sekarang laper banget nih." Ajak Putri.


"Aku agak males nih Put."


"Aku traktir mau?" Goda Putri.


'wah kesempatan yang tidak datang dua kali kalau ini mah' pikir ku.


"Okey boleh juga tak akan menolak aku. let's go." Ku raih tangan Putri dan kami pun berjalan bersama menuju kantin sekolah.



"Liat Del sudah ada si biang kerok disana." Putri menunjuk Sinta dengan isyarat matanya yang melirik ke arah geng yang berada dikursi pojok dengan view taman sekolah. Padahal itu adalah tempat favorit ku. Tapi aku tak mau buat masalah biarkan dia dengan urusannya.


"Ayo kita cari tempat yang tidak bisa melihat nenek lampir hehehe…"


Putri hanya tertawa kecil mendengar perkataan ku.


.


.


'Ujian hari pertama ahirnya berakhir. Berjalan lancar dan semoga untuk seminggu kedepan juga lancar dan hasilnya memuaskan.'


.


.


Di depan gerbang sudah ada Zaki yang sedang mencari seseorang. Tentu saja dia menunggu seorang Adelia. Aku meragukan langkah ku.


'Bagaimana ini pasti Zaki mau nganter aku pulang. Tidak ada jalan lain lagi.'


Aku tetap melangkah menuju gerbang keluar sekolah.


"Del tunggu." Ucap Zaki seraya tangannya mau meraih tangan ku.


"Tolong Zak aku mau pulang sendiri."


"Del, Ayah ku mengundangmu ke rumah untuk makan malam. Kemarin kata Ayah kalau kamu udah masuk sekolah ajakin main ke rumah. Dan sekarang tolong jangan tolak undangan Ayah ku. Ayo naik ke mobil." Jelas Zaki


"Tapi kenapa?" Aku terheran.


'kenapa Ayah Zaki mengajak ku makan malam. Apa karna beliau kemarin tidak datang saat Ayah meninggal.'


"Entahlah. Kalau kamu mau tau kamu harus naik ke mobil."


"Baiklah."


Aku dan Zaki naik ke mobil yang sama. Aku tau pasti sudah ada mata yang marah melihat kami bersama.


*****


...Happy reading ya gaes...


...Tolong tinggalkan like dan vote nya ya buat dukung terus karya novel ku 😀...