
"Assalamu'alaikum Bu Adel pulang." Tak ada jawaban di dalam.
"Bu… ibu Adel pulang Bu." Masih tak ada suara dari dalam. Untung aku selalu membawa kunci cadangan takut hal seperti ini terjadi.
Setelah membuka kunci aku pun masuk ke dalam rumah. Aku berjalan ke kamar ibu tapi hanya ada Misela yang sudah tertidur di sana. Aku masuk dan membetulkan selimut yang Misela kenakan.
"Ibu kemana ya? Atau di kamar mandi? Bu… Adel pulang." Masih tak ada jawaban ahirnya aku menuju dapur dan betapa syoknya aku karna Ibu sedang terbaring di lantai. Wajahnya sangat pucat, bibirnya pecah-pecah, suhu tubuhnya sedang demam tinggi.
Aku segera berlari ke luar rumah meminta bantuan warga yang sedang ronda malam saat itu.
"Tolong Pak tolong bantu Ibu saya." Teriakkan ku membuat tiga orang warga yang sedang ronda itu berlarian ke arah ku.
"Ada apa Neng? Kenapa dengan Bu Renita?" Tanya salah satu dari mereka.
"Pak tolong bantu saya ibu saya pingsan."
Mereka pun bergegas masuk ke dalam.
"Tolong angkat ke kamar Pak." Ketiga orang itu membopong tubuh Ibu ku. Aku begitu panik dan langsung memanggil ambulance.
Sebelum ambulance datang aku pergi ke rumah Bu Romlah dulu untuk minta bantuin menjaga Misela di rumah.
"Maaf ya Bu merepotkan lagi."
"Gak papa Del, tadi selepas magrib Ibu mu memaksa ibu untuk pulang jadi ibu pulang. Maaf ibu harusnya gak pulang tadi."
"Iya Bu gak papa sekarang tolong jaga Misela dulu ya Bu."
Ambulance pun tiba dan membawa kami ke rumah sakit tempat Hanan di rawat juga.
Para perawat yang siaga langsung membawa ibu ke ruang UGD.
"Lakukan apa saja agar bisa menyelamatkan ibu saya Dok. Saya mohon dokter." Kata ku pada seorang dokter yang ikut masuk ke ruang UGD tersebut.
"Baiklah Bu tenang ya kami akan lakukan yang terbaik. Ibu tunggu disini dulu."
Dokter itu pun masuk. Lalu pintu tertutup rapat.
Penanganan ibu cukup memakan waktu lama. Aku hanya bisa gelisah menunggu keadaan ibu di luar.
Dokter pun keluar dari ruangan.
"Bagaimana keadaan ibu saya Dok?" Tanya ku dengan nada panik.
"Mari kita bicarakan di ruangan saya." Jawab Dokter itu dan berjalan menuju ruangan yang di maksud. Aku pun hanya mengekor pada pak dokter.
Kami duduk berhadapan dan menatap sebuah layar komputer. Satu per satu dijelaskan apa yang ada di layar tersebut.
"Jadi begini Bu pasien menderita kanker rahim stadium ahir. Keadaan ini sudah sangat membahayakan nyawa pasien."
Deg
Aku terdiam tanpa kata mendengar apa yang di ucapkan dokter itu.
"Kanker rahim?."
Hal yang ditakutkan selama ini terjadi. Aku selalu khawatir dengan kondisi ibu tapi Ibu gx pernah mau untuk cek up dengan alasan berhemat.
Aku baru saja menerima pelecehan seksual dan sekarang kabar sakitnya ibu menambah hati ku semakin hancur.
"Bagaimana bisa Ibu menyembunyikan rasa sakitnya selama ini."
"Semua ini salah ku. Aku tak memikirkan kesehatan Ibu malah terus meminta nya untuk mengasuh putri ku dirumah."
"Apa masih ada harapan sembuh Dok?"
"Saya tak bisa mengiyakan Bu karna kondisi nya sangat parah. Harusnya pasien sudah punya gejala sebelumnya. Tapi sepertinya pasien hanya menahan rasa sakit yang di rasakan nya."
" Bahkan jika melakukan kemoterapi Ibu saya tidak bisa sembuh Dok?"
"Maaf, kami tidak bisa memastikan kesembuhan nya tapi kami akan berusaha semaksimal mungkin. Saya hanya memperkirakan usia nya tidak kurang dari satu bulan."
"Apa maksudnya Dok?"
"Kanker yang di derita pasien sangat akut Bu. Misalnya pasien berobat dari dua tahun lalu pasti masih bisa disembuhkan dengan banyak cara seperti operasi."
"Jadi maksud dokter ibu saya menahan rasa sakit selama ini?"
"Iya benar sekali. Saya salut dengan pasien karna harus nya gejala dari kanker rahim ini sangat menyakitkan. Kita sekarang hanya bisa pasrah dengan kuasa Tuhan."
"Baik terima kasih pak dokter saya permisi."
"Baik Bu sama-sama."
Aku pun berjalan menuju ruang rawat ibu. Kulihat orang yang sudah melahirkan dan membesarkan ku sedang terbaring tak berdaya disana. Aku tak kuasa menahan air mata melihat Ibu ku menderita selama ini.
"Bagaimana ibu bisa menahan rasa sakit selama itu Bu? Anak macam apa aku tak tau penderitaan ibunya. Anak macam apa aku Bu. Tolong hukum Adel Bu hiks hiks"
Suara ku pun membangunkan ibu. Perlahan mata ibu terbuka. Dengan sedikit tetesan air ibu mencoba bicara.
"Adelia putri ibu." Ibu ku memanggil nama ku dengan nada yang sangat berat.
"Bu udah bangun? Adel panggilkan dokter ya?" Ibu menahan tangan ku. Dan menggelengkan kepalanya. Artinya Ibu menolak untuk memanggil dokter.
"Maaf ibu merepotkan mu Nak."
"Ibu bicara apa sih Bu. Ibu tak pernah merepotkan Adel. Ibu kenapa gak pernah bilang kalau Ibu sakit Bu hiks hiks…!"
"Ibu tidak pernah merasa sakit Del. Kamu jangan menyalahkan diri mu ya Nak. Kamu sudah cukup menderita selama ini. Ibu hanya bisa mendoakan mu agar kamu segera menemukan kebahagiaan mu Nak."
"Ibu jangan bicara seperti itu. Adel yang membuat ibu menderita. Maafin Adel Bu engga bisa jadi anak yang ibu harapan kan. Ibu harus sembuh Adel tak punya siapa pun Bu hiks hiks…!"
"Kamu sudah jadi yang terbaik untuk Ibu Nak. Ibu yakin Hanan akan segera bangun sayang. Berbahagialah bersama Hanan dan Misela. Sepertinya ibu tak bisa berlama-lama lagi bersama mu Nak. Ibu akan segera bertemu dengan Ayah mu."
"Ibu gak boleh begitu Bu. Ibu harus kuat kita akan berobat Bu hiks hiks…!"
Ibu menggeleng kan kepalanya dan tersenyum sebisanya. Ibu meraih tangan ku dan menciumnya.
"Adelia sayang kamu harus janji sama Ibu kamu gak akan terlalu larut dalam kesedihan karna kehilangan Ibu ya?. Kamu harus janji Nak supaya Ibu bisa pergi tenang. Bisa kan?"
"Ibu Adel mohon jangan bicara lagi. Adel akan panggilkan Ibu dokter. Ibu tunggu sini Bu jangan bicara apapun."
"Adel waktu Ibu tak banyak kamu harus janji pada Ibu Nak. Kamu mau Ibu bahagia kan? Ayo berjanjilah?"
Ibu mengangkat jari kelingkingnya.
"Bu…!"
Ibu hanya mengangguk.
"Tapi Bu Adel gak bisa."
"Kamu pasti bisa sayang. Bukankan selama ini kamu selalu melakukan semuanya dengan sempurna. Kamu anak ibu yang hebat sayang. Hmm janji gak akan sedih terus menerus?"
Ahirnya aku pun meraih jari kelingking ibu dan menyatukan dengan jari kelingking ku.
Ibu tersenyum dengan beratnya. Ibu menatap ku dengan penuh kasih sayang. Matanya menetes kan air mata.
"Ibu bisa pergi dengan tenang sekarang. Ibu yakin kamu akan segera berbahagia dengan Hanan Nak. Mendekati lah Ibu ingin memeluk mu. Anak Ibu memang hebat. Anak ibu wanita kuat."
Jari kelingking ku dan ibu masih menyatu. Aku memeluk ibu dengan terisak-isak.
Tiba-tiba tak ada suara lagi dari mulut ibu. Tangannya lemas. Mata nya tertutup rapat. Tubuhnya terasa dingin.
Pikiran ku mulai kacau. Aku melepaskan pelukan ku. Aku mencoba memanggil ibu.
"Bu…!"
Tak ada jawaban.
"Ibu jangan buat Adel takut Bu. Bicara lah Bu Adel akan mendengarkan ibu."
Ibu masih diam.
"Bu, Adel mohon buka mata Ibu."
Ibu masih diam. Aku pun memberanikan diri untuk memeriksa denyut nadi dan nafas Ibu.
Dalam beberapa detik aku mematung. Aku masih tak percaya Ibu akan meninggalkan ku secepat ini.
"I...b...u…! Jangan tinggalin Adelia Bu. Bangun Bu. Ibuuuuuu….bangunan…!" Ku peluk tubuh dingin Ibu ku.
Teriakkan ku membuat dokter dan suster berlarian menghampiri ku. Seorang suster memeluk ku. Lalu seorang dokter memeriksa keadaan ibu.
Dokter itu menggeleng kan kepalanya, melipat kedua tangan ibu dan menutup wajah nya dengan selimut.
"Innalilahi kami turut berduka cita atas meninggalnya Bu Renita."
"Ibuuuuuu….tidakkk….!"
Brug
Aku pun pingsan.
################################
...Hallo Reader yang budiman. Mohon dukungannya ya dengan tinggalin jejak kalian setelah membaca novel ini 😁🙏...
...Kalau kalian mau tanya seputar novel ini bisa langsung follow ig ku @deliss_aa1...
...Terimakasih banyak dukungannya terutama kepada para author yang baik hati selalu memberikan jempol dan komentar nya 😘...