BROK3N

BROK3N
21. Pertemuan Tanpa Sengaja



Pagi ini terlihat cerah. Masih dengan kicauan burung aku bangun dan memakai training biru serta kaos oblong putih favorit ku. Tak lupa juga sepatu sneaker putih dan ku ikat talinya dengan kencang supaya tak mengganggu lari ku.


"Bu Adel jalan dulu ya." Aku berteriak pamit kepada Ibu yang masih sibuk di dapur.


"Iya jangan lama-lama ya." Jawab ibu dengan berteriak juga. Rumah ku sudah seperti istana harus saling berteriak karna kebiasaan Ibu sekarang suka menyalakan musik di dapur untuk menghilangkan kesunyian.


Pelan ku berlari. Rambut yang ku ikat jadi satu dibelakang bergoyang ke kanan-kiri karna lari ku. Sesekali aku menyapa Ibu-ibu yang ku temui di jalan. Tentu saja tujuan ku adalah taman yang kemaren tak sengaja ku lihat tapi tak bisa berlama-lama disana karna seorang yang genit.


'semoga hari ini tak bertemu cowok kemarin.' Batin ku.


Tak butuh waktu lama untuk ku sampai di taman. Suasananya masih sedikit sepi karna aku berangkat lebih pagi dari kemarin.


"Wahh masih belum terlalu banyak orang nih. Aku bisa menikmati udara yang lebih segar dan lebih nyaman ini." Ku hirup nafas panjang menikmati udara dan kicauan burung yang ramai di pepohonan.


"Adelia." Ada yang memanggil ku dari belakang. Khayalan ku terhenti dan berbalik badan.


"Hah? Hanan? Kok bisa kamu disini." Telunjuk ku menunjuk kesana-kemari karna kaget dengan sosok Hanan.


"Ah ternyata benar aku pikir kamu hanya orang yang mirip. Beruntung nya aku pagi-pagi begini ketemu cewek cakep." Kata Hanan.


"Rumahmu disini Nan?" Tanya ku.


"oh engga aku kesini cuma liburan aja. Rumah Nenek ku di sekitar sini Del. Kamu sendiri liburan juga ya kan rumah mu bukan disini?" Jelas Hanan.


"Aku baru pindah Nan. Bagaimana kamu tau tempat tinggal ku sebelumnya?" Tanya ku lagi keheranan.


"Aku pernah anter Zaki ke tempat Tante nya terus dia nunjukin rumah kamu." Terang Hanan.


"Oo begitu." Aku pun mengangguk-angguk.


"Ayo lari bareng." Senyum Hanan menghiasai wajahnya yang imut dan cool.


"Yuk." Aku pun berlari kecil bersama Hanan. Sesekali kami saling menoleh dan tersenyum.


"Kamu tinggal disebelah mana nanti aku mau main ya?" Tanya Hanan.


"Di deket Mushola Al-Ikhlas Nan. Rumah dengan cet kuning hijau. Main aja kalau kamu gak sibuk." Jawab ku.


"Oh jadi itu rumah kakak cantik. Aku juga mau main dong." Kata seseorang yang diam-diam mengikuti ku dan Hanan tapi dia merangkul bahu Hanan sambil tersenyum tipis dan menunjukan lesung pipinya yang mempesona.


Aku sontak menghentikan langkah mendengan suara itu dan kaget karna itu adalah cowok yang kemarin.


"Loh kalian kenal?" Tanya ku karna dia kelihatan akrab dengan Hanan hingga dia merangkul Hanan.


"Iya dia anak Bude ku. Tapi hati-hati dia reseh jail dan cerewet kayak cewek." Aku terkejut mendengar jawaban Hanan.


"Betul banget kemaren aku sudah bertemu dengannya." Ketus ku sedikit sinis meliriknya.


"Ohh jangan gitu dong Kaka cantik. Kalau ngambek gitu makin cantik aja deh." Dia kembali tersenyum.


Asep Iskandar namanya. Dia adalah anak dari Bapak Iskandar yang tak lain adalah Pak RT disini sekaligus Pakde nya Hanan. Oiya Ibunya bernama Bu Jamilah. Wanita berdaster merah super kepo yang aku temui kemaren.


"Udah ah aku mau jalan lagi." Aku berpaling dari Asep dan Hanan menakutkan lari pagi ku.


"Tuh kan Lo muncul dia pergi. Elu emang biang keladi." Kata Hanan sambil mendorongnya menjauh. "Tunggu Del." Teriak Hanan dan mengejar ku. Aku tak menghiraukan nya karna pasti Asep juga mengikutinya.


"Aku ikut ihh." Kata Asep mengejar Hanan.


Akhirnya kami berlari bersama.


Asep berada disebelah kiri ku dan Hanan disebelah kanan ku. Aku jadi merasa punya pengawal. Aku yang tersenyum sendiri membayangkannya menyita perhatian Asep.


"Ih Kaka makin cantik loh kalau senyum-senyum begitu jadi makin suka deh." Ku hentikan pikiran aneh ku dan tetap berlari.


"Brisik si Lo." Kata Hanan pada Asep sambil mendengarkan kepalanya ke belakang menatap Asep. Tapi Asep malah mengeluarkan lidahnya.


Asep yang berlari terlalu semangat malah melewati ku.


"Ehh.... Kenapa berhenti mendadak ka?"


Hanan hanya menatap ku.


"Tolong jangan ikuti aku lagi. Kalau mau lari pagi bersama jangan mengatakan satu kata pun. Aku mau menikmati udara pagi yang tenang dan damai." Tegas ku.


Hanan dan Asep mengangguk. Ahirnya kami berlari tanpa sepatah kata pun. Tapi Asep dan Hanan masih terus saling melirik sesekali merubah bentuk mulut dan mata mereka.


Sebenernya aku ingin tertawa merasakan tingkah mereka tapi mood ku yang tak beraturan karna tamu bulanan membuatku terdiam.


Matahari sudah makin tinggi dari sejak aku berangkat tadi. Aku melihat jam tangan ku sudah pukul 6.40 am ahirnya aku memutuskan untuk pulang dan berlari lebih cepat. Hanan dan Asep mengimbangi lari ku. Asep bulak-balik menoleh pada ku. Tapi aku fokus dengan pandangan ku di depan.


'kalau saja ni bocah gak ganteng habis deh.' gunam ku


Ahirnya aku tiba disebuah rumah kecil dengan cat dasar hijau berpadu dengan wana kuning kunyit. Lalu membuka pintu. Ya itu rumah ku.


"Ini Del rumah mu." Hanan membuka pembicaraan yang sedari tadi dia gak sabar ingin bertanya.


"Iya masuk aja." Ajak ku.


Asep hanya berdiri di depan pintu melihat ku dengan wajah melas.


"Kamu mau masuk juga apa mau berjemur? Ku tutup nih pintunya." Tanya ku menghadap pada Asep dengan nada setengah teriak.


"Asiikkkk...!" Asep kegirangan seperti mendapat kan undian.


"Adel kamu udah pulang nak.? Tanya ibu yang berjalan dari arah dapur. "Lohh ganteng-ganteng banget ini temen-temen kamu Del?" Ibu sumringah melihat dua sosok laki-laki yang wajah mereka memang cool.


"Iya buk yang ini namanya Hanan." Hanan mencium punggung tangan Ibu. "Dan yang ini namnya..."Aku terdiam karna memang aku belum berkenalan dengannya. Tapi Asep langsung respect dan mencium punggung tangan Ibu.


"Asep Tante, saya anaknya pak RT." Ibu tersenyum.


"Wah ibu senang Adelia punya kenalan disini. Ayo duduk dulu Tante ambilkan minum ya." Ibu lalu kembali berjalan ke dapur.


"Oo jadi nama Kaka cantik ini Adelia." Kata Asep


"Brisik amat sih Lo." Hanan beradu bahu dengan Asep.


"Lo gak mau ngenalin cewek secakep ini sih ke gue Nan." Bisik Asep.


"Heh dia itu setaun lebih tua dari Lo. Dia temen satu sekolah gue." Hanan kembali berbisik pada Asep.


"Kalian bisik-bisik apa sih." Tanya ku penasaran dengan tingkah mereka.


"Si Asep brisik sih Del." Jawab Hanan.


"Seru amat sih ngobrolnya. ini diminum dulu pasti haus kan abis lari pagi." Ibu menyuguhkan 3 jelas sirup cocopandan di atas meja.


"Ya ampun Tante ini sih seger banget." Tanpa basa-basi Asep langsung meneguk sirup yang baru saja ibu buatkan. Teguk demi teguk Asep meminumnya dan ahirnya dia menghabiskannya.


"Ya ampun ni bocah gak ada sopan santun nya deh." Kata Hanan sambil mengacak-acak rambut Asep.


"Makasi Tante seger banget ini. Lo mau minum gak Nan. kalau engga gue yang minum sayang kan." Kata Asep sambil memegang gelas sirup Hanan.


"Eh sembarangan ni bocah." Hanan merebut kembali gelas sirupnya.


Aku dan ibu hanya tertawa melihat tinggal mereka.


*****


...Terimakasih reader untuk dukungannya 😊🙏...